Postingan

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosialisasi, mencari sumber informasi juga hiburan. Di Indonesia pengguna internet pada tahun 2020 mencapai 64 % dari jumlah penduduk, atau sekitar 175, 4 juta jiwa. Data riset dari We Are Social di atas juga mengatakan bahwa pengguna internet usia 16-24 tahun rata-rata menghabiskan waktu hampir 8 jam untuk berinternet.  Bayangkan anak-anak kita yang remaja ternyata sepertiga waktunya setiap hari menggunakan internet. Kondisi pandemi covid 19 menjadikan seluruh proses belajar mengajar dari tingkat dasar sampai PT menggunakan internet. Setelah belajar, ternyata para remaja ini juga berselancar di dunia maya.  Media sosial yang paling banyak diakses adalah youtube mencapai 88% dan whatshapp 83%. Banyak informasi dan hiburan langsung diakses oleh para remaja tadi. Orang tua kini tidak bisa mengontrol apa saja yang dikonsumsi oleh putra-putrinya. Sekali

Serba Serbi Daring

Semester ganjil di tahun ajaran 2020/2021 sudah berlangsung mau dua minggu. Kali ini tiga mata kuliah kembali saya ampu. Setiap mata kuliah disajikan pada dua kelas. Agama dan Gender untuk jurusan Akidah dan Filsafat Islam (AFI) semester 7, Filsafat Sosial di AFI semester 5 dan Bahasa Indonesia di jurusan Studi Agama-Agama semester 1. Sejak awal, perkuliahan dilakukan secaran daring. Menggunakan e-learning UIN Bandung dibackup dengan zoom dan wag.  Mengajar bagi saya merupakan panggilan jiwa. Hampir setiap melakukannya saya bahagia. Bertemu para mahasiwa secara daring tak menyurutkan kebahagiaan itu. Menatap wajah para mahasiswa melalui layar laptop, mendengarkan celotehan mereka yang ramai, menjawab berbagai pertanyaan juga menyimak presentasi dan ekspresi mereka semua.  Pandemi covid 19 yang melanda dunia ini membuat berbagai proses belajar mengajar dilakukan secara daring. Adaptasi yang dilakukan semester lalu, membuat semester ganjil kali ini lebih mudah dan terbiasa menggunakan si

Aisyah dan Pandemi Corona

Pertama kali mendengar lagu Aisyah Istri Rasulullah di wag dosen Fakultas Ushuluddin UIN Bandung 3 hari lalu. Saya melihat video yang dikirimkan hanya setengah saja karena merasa tidak nyaman. Video lagu tersebut dibuat dengan setting di dalam mobil dimana seorang suami menyetir sambil menikmati nyanyian empat istrinya yang cantik. Tidak hanya melihat videonya, saat menyimak syairnya juga bikin tambah tidak nyaman.   Saya berpikir kenapa saya tidak nyaman?   Jangan jangan saya termasuk orang yang julid yang tidak suka dengan istri Nabinya sendiri. Bukan, bukan itu pointnya menurut saya. Ini lebih kepada ketidaksetujuan setting video dan syair yang dilantunkan.   Saat saya berselancar di youtube untuk melihat berbagai versi lagu ini, saya bersyukur ternyata versi video yang lain lebih banyak dan bagus dari pada yang pertama saya tonton. Namun tetap saja syairnya membuat saya terganggu. Ternyata bukan hanya saya yang terganggu banyak pihak juga mengeluhkan hal yang sama. Da

Corona dan Pilihan Makna

Hari minggu kini terasa seperti hari yang lainnya. Tidak ada yang istimewa. Tetap di rumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Sesekali online untuk hiburan juga untuk memastikan informasi terbaru yang berkembang di negri ini.   Hari ini saya sempat ke swalayan terdekat untuk membeli sembako di rumah yang sudah mulai habis. Keluar rumah saat ini menjadi pengalaman yang lumayan menegangkan. Menggunakan masker dan sarung tangan sebagai upaya kewaspadaan mencegah penularan Corona. Tentunya mencegah penularan lebih baik dari pada mengobati yang sudah terjangkiti. Entah sampai kapan kondisi seperti ini akan kami jalani. Ke luar rumah dan beraktifitas sosial di tempat publik menjadi hal yang dirindukan banyak orang saat ini. Hal ini bisa menjadi kebahagiaan. Bahagia karena bisa jalan-jalan dan ngobrol bareng teman teman. Bahagia karena bisa cuci mata di mall. Bahagia karena bisa mengajar di kelas. Bahagia karena bisa meneliti di lapangan serta bahagia-bahagia yang   lain terka

Penggorengan Gosong

Penggorengan tampak gosong setelah anak-anak menggoreng ayam lumur kesukaan mereka. Api yang terlalu besar dan bumbu yang mengandung sedikit gula menjadikannya lengket mengerak hitam. Tidak hanya permukaannya saja yang hitam, apalagi bagian bawahnya. Saking sempitnya waktu untuk di dapur kemarin, membuat saya tidak mencuci dengan baik penggorengan tersebut. Sebenarnya niat untuk membuat penggorengan tadi kinclong sudah ada beberapa bulan yang lalu. Saya sudah membeli alat pembersih yang dijual di pasar pagi hari minggu. Kata penjualnya ini efektif membersihkan. Saya juga sudah membawa batu apung pemberian paman untuk membersihkan semua penggorengan dan panci di rumah. Namun belum punya waktu yang pas dan tenaga yang pas. Musibah berjamaah korona yang melanda dunia ini membuat saya memiliki waktu yang pas dan tenaga yang pas. Ahirnya niat itu saya wujudkan hari ini. Saya awali dengan membayangkan bahagianya memiliki penggorengan dan panci-panci yang kinclong. Kemudian saya gos

Cicing di Imah

Gambar
Terpat tiga minggu bekerja di rumah. Setelah pandemi korona menyebar di seluruh dunia. Sebuah musibah berjamaah yang menjadikan aktifitas sosial secara fisik bisa menjadi media virus tersebut menjangkiti manusia. Sebelum pandemi ini hadir, lima bula ritme kerja saya di kampus cukup padat. Memulai kerja jam 7.30 pagi dan selesai kerja jam 16.00 sore. Bahkan seringnya saya pulang lebih dari itu karena rapat atau berbagai urusan yang memang harus segera diselesaikan terkait amanah yang baru saya emban. Dua dari tiga anakku ada di pesantren. Sehingga ritme kerja yang padat cukup bisa diatasi. Si kecil yang tinggal di rumah bersama kami setelah sekolah TK kadang bermain di rumah Budenya atau di Day Care sekolahnya atau juga kami bawa ke kampus gantian. Tergantung kondisi dan kemauan putra kami. , Corona mengubah semuanya. Kami berlima kini berkumpul di rumah. Banyak waktu kami habiskan bersama. Tidak hanya sebagai dosen, kini saya bekerja sebagai juru masak, guru bimbel, guru TK dan b

Selamat Tahun Baru 2019

Hari pertama di tahun 2019 apa yang akan saya tuliskan di blog ini? Entahlah, belakangan ini saya mengalami kesulitan berefleksi dan menceritakan berbagai pengalaman hidup. Padahal apa yang dialami begitu mengesankan, mencerahkan bahkan berbagai pengetahuan baru rasanya masuk dalam diri ini. Mungkin saya hanya ingin mengunyahnya dulu, mengendapkannya agar menjangkiti diri ini saat mulai terinfeksi semoga saya bisa kembali bereaksi dengan menuliskannya. Atau mungkin saya merasa harus menuliskannya dalam sebuah tulisan yang saya anggap sempurna? sehingga nyaris apa yang ditulis dalam catatan harian dianggap tidak bermakna? Ahirnya tidak produktif. Hmm mungkin yaa. Seperti kebanyakan orang di awal tahun menuliskan berbagai resolusi dalam hidupnya. Demikian pula halnya saya dalam catatan harian yang saya tuliskan dalam laptop. Selain itu saya juga memiliki jurnal syukur yang saya isi sebelum tidur setiap hari. Saat ini rasanya saya memang sedang ingin pelit berbagi tentang apa yang sedan