Masih ingat dengan sosok Nyi Iteung? Perempuan yang ahirnya menjadi istri Kabayan dalam cerita yang berasal dari Jawa Barat. Cerita ini sudah difilemkan sampai 8 versi mulai dari tahun 1975 dengan pemeran Kang Ibing dan Leny Marlina sampai versi terahir 2010 yang diperankan Jamie Aditiya dan Rianti Cartwright. Dalam setiap versi filem ini, diperlihatkan bagaimana Abah (ayahnya Nyi Iteung) awalnya tidak setuju dengan pernikahan Kabayan dan Nyi Iteung. Kabayan yang miskin dan pemalas namun banyak akal tidak disukai Abah. Dia lebih memilih Juragan kaya meskipun sudah tua.

Kabayan berjuang untuk bisa menikahi Nyi Iteung. Nyi Iteung juga rela kabur ke kota untuk menghindari perjodohan dengan Juragan kaya di desanya. Perjuangan Kabayan bisa saja tidak ada artinya apa-apa, bila Nyi Iteung menerima perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Sosok Nyi Iteung yang berani menolak perjodohan yang akan dibicarakan pada tulisan kali ini dengan menggunakan perspektif  Islam. Bolehkan perempuan menolak pernikahan paksa seperti yang dilakukan Nyi Iteung? Bolehkan Ayah atau wali menikahkan paksa anak perempuannya?

Pernikahan paksa oleh wali/Ayah sering disebut dalam fikih Islam dengan ijbar. Berangkat dari akar kata aj-ba-ra dalam al-Quran, terdapat sepuluh kata yang muncul  dalam bentuk isim fa’il , yakni kata jabbar. Masing - masing  kata jabbar terdapat dalam Qs. Al-Ma’idah/5:22, Qs.Hud/11:59, Qs.Ibrahim /14:15, Qs.Maryam /19:14, Qs.Maryam/19:32, Qs. Al-Syu’ara /26:130, Qs.al-Qashash / 28:19, Qs. Ghafir /40:35, Qs.Qaf /50:45, dan Qs. Al-Hasyr / 59:23.

Jika dilihat dari bentuk katanya, dari kesepuluh kata tersebut, delapan kata berbentuk  singular dan hanya dua kata yang berbentuk plural, yakni jabbarin. Apabila dilihat segi penggunannya, kesembilan kata itu disandarkan  pada manusia dan hanya  satu kata saja yang dinisbahkan kepada Allah, yakni kata al-Jabbar yang berarti Dzat Yang maha Memaksa. Kesembilan kata yang disandarkan kepada manusia ternyata tidak satu pun yang menunjukan makna positif. Kesemuanya merujuk pada makna negatif, yakni sebagai representasi  sosok manusia yang ditakuti, dikecam dan dibenci. Tidak ada satu pun dari sepuluh ayat tersebut yang membincangkan perihal konsep ijbar, baik yang spesifik menyangkut konteks pernikahan maupun hukum muamalah  yang lain.

Karena tidak satu pun akar kata ijbar   yang relevan dengan konsep  ijbar  dalam fikih, maka saya mencoba menelusuri dengan padanan kata terebut, yakni ikrah. Kata ikrah sendiri merupakan bentuk mashdar dari fiil ak-ra-ha (aritnya memaksa) yang merupakan wazan tsulasi mazid. Sementara bentuk fi’il tsulasi mujarrad dari kata ikrah adalah ka–ra-ha  (artinya : membenci atau tidak menyukai).

Dalam al-Quran sendiri terdapat lima ayat yang menyantumkan kata yang berasal dari fi’il akraha, yakni dalam Qs. Al-Baqarah /2:256, Qs.Yunus/10:99, Qs.al-Nahl/16:106, Qs.Thaha/20:73, dan Qs.al-Nur/24:33. Satu dari kelima ayat tersebut, yakni Qs.al-Nur/24:33 memuat tiga kata  yang berasal dari kata fi’il ak-ra-ha. Dengan demikian ada tujuh kata dalam al-Quran yang berasal dari akar fi’il ak-ra-ha.

Dalam tujuh ayat di atas dapat dipahami bahwa kata  ak-ra-ha sendiri merupakan sebuah kata yang merepresentasikan sebuah tindakan paksaan yang cenderung menimbulkan praktik yang dalam istilah Antonio Gramsci disebut sebagai praktik dominasi dan hegemoni baik bersifat fisik maupun psikis. Dengan kata lain, beberapa ayat yang telah disebutkan tadi tidak ada satupun yang menolelir praktik ikrah (paksaan). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada satupun ayat al-Quran yang relevan dengan konsep ijbar, baik yang berhubungan dengan konteks pernikahan maupun praktik mu’amalah yang lain. Untuk itu perempuan boleh saja menolak pernikahan paksa karena tidak relevan dengan al-Quran.

Selanjutnya apakah bolehkah Ayah/ wali menikahkan paksa anak perempuannya? Dalam sebuah pernikahan, keberadaan wali nikah dari mempelai perempuan ini  menurut pandangan muslim Indonesia yang mayoritas Syafi’iyah menjadi penentu absah tidaknya akad nikah tersebut. Orang yang menjadi wali nikah terbagi atas dua kelompok yaitu wali  qarib, yaitu ayah dan kakek, dan wali ab’ad yaitu saudara atau paman dari garis ayah atau seayah, dan jika tidak ada, dapat digantikan dengan hakim.

Di dalam praktik  pernikahan paksa (ijbar)   ayah kandung seorang perempuan dapat disebut sebagai wali mujbir  yaitu : Orang –orang yang mempunyai kekuasaan untuk mengawinkan perempuan yang berada dibawah kuasa kewaliannya, meskipun tanpa izin wanita tersebut.Akan tetapi jikalau merujuk pengertian wali adalah antonim dari kata musuh (dhidh al-‘aduw), itu artinya seorang wali adalah sahabat, kekasih atau orang yang tidak membahayakan pihak yang diwalikannya. Dengan demikian   wali yang berpesan sebagai dhidh al-‘aduw  seharusnya tidak pempraktikan ijbar  karena tidak mungkin melakukan pemaksaan. Namun pada fakta lapangannya, peran ini justru dianggap sebagai peran kuasa mutlak. Lebih ironi lagi ketika hak perogratif  yang semula hanya ayah ini mengalami perluasan sampai pada level kakek, sebagaimana pendapat as-Syafi’i yang dalam istilahnya disebut sebagai wilayah i’lad. (Abdullah al-Maqdisi Ibn Qudamah, al-Kafi fi Fiqh Ibn Hanbal (Baerut:al-Maktabah al-Islami, 1988))

Manshur ibn Yunus al-Bauhuti (1402) terlihat konsisten dengan menyatakan bahwa yang boleh melakukan ijbar  hanya sebatas ayah saja, sedangkan kakek tidak boleh. bahkan  Dalam proses meminta izin pada anak peremuan, dianjurkan melibatkan ibu. Meskipun hanya sebatas dianjurkan, ini masih lebih baik, setidaknya dengan anjuran pelibatan ibu dalam proses negoisasi tersebut, perempuan memiliki sedikit kesempatan untuk melakukan bargaining, meskipun seacara ideal, perempuan seharusnya memiliki hak otonomi dalam menentukan masa depannya. Manshur ibn Yunus al-Bahuti lebih jauh mengatakan alasan perwalian hanya  pada ayah karena memang dialah orang yang dianggap tahu maslahah putrinya sebagaimana yang telah dikutip dari penjelasan Ibn Nashrullah. Bahkan ibn Qudamah menyebutkan bahwa anak perempuan diasumsikan tidak memiliki perasaan malu terhadap ayahnya ketika dia ditawari menikah. Oleh karena itu, ketika dia diam, maka sudah diduga merupakan indikasi pemberian izin. (Manshur ibn Yunus al Bauhuti,Kasyf al-Qana (Baerut: Dar al-Fikr, 1402 H))

Menurut saya, bagaimana mungkin sebuah pernikahan yang akan dijalani sepanjang hidup perempuan hanya diputuskan berdasarkan dugaan (dzann) saja, tanpa adanya upaya klarifikasi secara hati – hati. Selain itu, asumsi ayah adalah orang yang paling tahu kebaikan anaknya  tidak selamanya tepat. Kedekatan anak perempuan ketika beranjak remaja dan dewasa justru cenderung dekat kepada ibunya, meski kemungkinan kedekatan kepada ayah juga ada. Sehingga asumsi ini tidak dapat digeneralisasi  pada seluruh perempuan. Apalagi dalam konteks orang tua yang bercerai, tentu akan sangat  berbeda. Sehingga akan lebih tepat jika peran wali dalam pernikahan hanyalah sebagai pihak  yang memberikan motivasi, sebagai penasihat dan doa restu. Tidak boleh sebagai orang yang dapat dengan leluasa memaksakan kehendaknya menikahkan anak perempuannya.

Dari penjelasan di atas bisa kita lihat, ternyata apa yang dilakukan Nyi Iteung tidak bertentangan dengan Islam. Dia bukan anak durhaka yang melawan kehendak orang tuanya. Karena pernikahan sejatinya bukan sekedar aqdu tamlik (akad kepemilikan) melainkan merupakan aqdu ibahah yaitu ikatan yang ditentukan oleh pembuat hukum yang memungkinkan laki-laki dan perempuan untuk istimta (mendapatkan kesenangan seksual). Sebuah kesepakatan yang berdasarkan kerelaan bukan paksaan. Tindakan Nyi Iteung ini patut diapresiasi dan dicontoh.





Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa. Dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia (Khalil Gibran)

Bagimana pendapat Anda dengan ungkapan puitis Khalil Gibran tentang cinta di atas? Setujukah? Atau Anda merasa ungkapan di atas terlalu mengada-ada? Bukankah juga ada peribahasa jawa “Witing tresno jalaran soko kulino” yang bermakna cinta hadir karena terbiasa.

Bila kita perhatikan, keduanya memiliki sisi yang positif. Cinta merupakan anak/hasil dari kecocokan jiwa. Kecocokan jiwa mungkin saja tumbuh di awal pertemuan dan semakin menguat dalam perjalanannya, atau bisa saja awalnya belum hadir namun seiring waktu ia tumbuh. Terbiasa bertemu, terbiasa bersama-sama, kalaupun belum tumbuh maka ia akan tumbuh sedikit demi sedikit pada ahirnya terdapat kecocokan jiwa.

Cinta adalah sumber energy dalam kehidupan. Ia mampu membawa pemiliknya pada puncak kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Lalai dalam merawat dan menjaganya dapat menimbulkan malapetaka. Malapetaka terhadap keluarga, masyarakat maupun lingkungan hidup yang kita tempati.

Mencintai Pasangan
Cinta merupakan pekerjaan hati atau perasaan yang perlu terus dipupuk dan dipelihara agar tetap hadir. Cinta yang dibiarkan tak terawat ibarat tanaman yang kering, gersang, lama-lama akan mati. Merawat cinta harus merupakan keinginan dari dua belah pihak suami dan istri. Bila hanya sebelah pihak saja tentu seperti bertepuk sebelah  tangan lama-lama akan capek sendiri dan mungkin terhenti sampai disitu.

Suami dan istri dalam al-quran diibaratkan pakaian satu sama lain. Mereka (istri) itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka) (QS. al-Baqarah(2): 187) Pakaian fungsi utamanya adalah menutupi aurat, menjadikan tubuh terlihat indah dan pelindung dari segala hal yang bisa merusak tubuh. Demikian pula halnya peran suami dan istri dalam kehidupan. Kekurangan suami dilengkapi oleh kelebihan istri dan kekurangan istri dilengkapi oleh kelebihan suami. Pernikahan menjadikan hidup manusia menjadi indah dan lengkap, melindungi manusia dari perbuatan yang merugikan dirinya sendiri.

Suami/istri dalam al-quran memakai kata jauz yang berarti pasangan.  Pasangan merupakan kata yang menggambarkan 2 hal yang bila disatukan menjadi satu dalam sebuah fungsi. Kedua hal tersebut tidaklah sama, sebagai contoh sepatu. Ada sepatu kanan dan kiri. Sepatu kanan berbeda dengan sepatu kiri. Agar seseorang bisa berjalan dengan baik maka antara sepatu kanan dan kiri mesti dipakai bergantian. Bila kanan ke depan berarti kiri harus ke belakang demikian sebaliknya secara bergantian. Kalau sepatu kanan terus yang ada di depan, bisa dipastikan langkahnya tidak akan harmonis bahkan mungkin akan terjatuh. Karenanya bisa diibaratkan bahwa suami dan istri adalah mitra sejajar yang bersinergis satu sama lain untuk menuju satu tujuan.   

Untuk merawat cinta tentu kita perlu mengekspresikannya. Bila kita melihat perjalanan Ibrahim a.s. dalam mencintai Allah kita akan melihat betapa ekspresi cinta dalam bentuk pengorbanan masih dibutuhkan untuk menunjukan cinta kepada Allah, padahal  kurang apa Ibrahim dalam beribadah kepada-Nya, sehingga ia dijuluki sebagai Kekasih Allah (Khalilullah). Apalagi kita sebagai manusia biasa  tentu mengekspresikan cinta adalah hal yang sangat penting.

Bentuk ekspresi cinta diantaranya adalah: pertama  cinta itu harus benar-benar ada di dalam hati, sebab kalau kita tidak merasakannya berarti kita berbohong. Kedua, cinta itu muncul dalam bentuk perhatian dan tindakan aktif pada pasangan. Ketiga  cinta juga perlu dihidupkan dalam bentuk suasana, yaitu romantisme. Ekspresi cinta dalam bentuk lisan, tulisan, sikap atau dalam bentuk apapun akan mempunyai peneguhan yang akan melahirkan efek kenyamanan psikologis pada pasangan. Ekspresi cinta bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja asal sesuai dengan batasan syariat dan norma yang berlaku.

Mencintai Anak
Selain kepada pasangan, tentu kita juga memiliki perasaan cinta kepada anak-anak. Baik anak-anak yang kita lahirkan, maupun anak-anak ada di lingkungan kita yang bisa kita cintai kapan pun.  Cinta yang tumbuh merupakan cinta tanpa pamrih.  Cinta ini membuat perjalanan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan, menyusui sampai mengasuh dan mendidiknya bukanlah hal yang susah dan memberatkan tapi merupakan hal yang menyenangkan.  Seorang anak sebenarnya tidak berhutang apapun kepada ibunya. Apa yang dilakukan ibunya untuknya, sesungguhnya akan kembali kepada diri ibu itu sendiri. Karena sebenarnya mengandung, melahirkan, menyusui, merupakan potensi seorang ibu. Potensi ini bisa diambil atau tidak itu tergantung ibu tersebut. Kalau pun potensi tersebut tidak dipilih, seorang perempuan bisa menjadi ibu dari anak-anak lain yang memang membutuhkan kasih sayang. Anak korban kekerasan yang tidak memiliki keluarga, anak-anak jalanan yang terlantar maupun anak-anak yang menderita lainnya.

Kalau misalkan seorang anak diberikan pertanyaan apakah sebenarnya ia mau dilahirkan dari seorang ibu A atau seorang ibu B? belum tentu ia menjawab ya. Mungkin sebenarnya kalau bisa memilih ia ingin terlahir dari ibu C. Siapa tahu? Seorang anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke muka bumi ini. Ia hadir karena orang tuanya dan ketentuan Allah.

Ekspresi cinta kasih yang diberikan kepada seorang anak bukan dilihat dari hal yang bisa diukur dengan panca indra saja, tetapi lebih dari itu, pemenuhan kebutuhan psikis, intelektual dan spiritual juga harus senantiasa dihadirkan. Seorang ibu adalah sekolah pertama buat anaknya. Biasanya manusia yang paling dekat bagi seorang anak di awal kehidupannya adalah seorang ibu. Karenanya seorang perempuan sejatinya harus mempersiapkan diri untuk mengemban fungsi ini.

Mencintai Lingkungan
Mencintai lingkungan yang ditempati adalah hal yang mutlak dan perlu. Tanpa cinta yang ditumbuhkan kepada lingkungan yang ditempati, maka yang hadir adalah sikap semena-mena dan merusak. Padahal hal inilah yang merugikan manusia itu sendiri. Lingkungan memiliki pengertian yang luas. Ia tidak saja bermakna alam yang ditempati, melainkan juga hewan, tumbuh-tumbuhan, masyarakat, norma atau aturan hidup dan segala hal yang berpengaruh pada kehidupan manusia.

Deklarasi Rio Jeneiro Brasil tahun 1992 tentang lingkungan dan pembangunan sendiri dalam prinsip ke-20 menyatakan bahwa “Perempuan berperan sangat penting dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan. Karenanya, partisipasi mereka secara utuh guna perwujudan pembangunan berkesinambungan sangat penting.” Peran perempuan yang vital dalam pengelolaan lingkungan hidup ini sangat berkaitan erat dengan  pemberdayaan perempuan.

Pengoptimalan peran perempuan dalam mencintai lingkungan merupakan suatu hal yang mutlak dikarenakan beberapa faktor. Pertama jumlah perempuan hampir sama banyak dari laki-laki. Data BPS 2017 tentang jumlah penduduk Indonesia ialah 261,9 juta jiwa.  Jumlah penduduk perempuan sebanyak 130.3 juta orang atau 49,66 persen. Sedangkan penduduk laki-laki mencapai 50,34 persen setara dengan 131,6 jiwa. Karenanya, sangat penting jika perempuan dilibatkan dalam sesuatu yang berkaitan dengan dirinya dan lingkungannya. Kedua, secara psikologis pada umumnya jiwa perempuan lebih peka dan sensitive ketimbang laki-laki baik terhadap sesuatu yang baru maupun terhadap berbagai perubahan.

Jika perubahan adalah sebuah usaha untuk menjadi lebih baik, maka perempuan mesti tampil di barisan terdepan dalam setiap usaha pembaharuan. Sementara itu sensitifitas dan kepekaan yang dimiliki perempuan merupakan modal penting dalam menumbuhkan kepedulian dan kebersamaan.  Ini berarti akan menjadi modal penting dalam upaya menumbuhkan kesadaran melestarikan lingkungan.

Ketiga jiwa keibuan sangat identik dengan kemampuan dan kerelaan mendidik dan pendidikan adalah kunci utama dalam perubahan sikap. Karena itu perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam kaitannya dengan keinginan merubah pola pikir dan perilaku masyarakat ke arah yang positif salah satunya tentang pelestarian lingkungan.

Keempat, kesabaran dan keprihatinan perempuan pada umumnya lebih tinggi   dari laki-laki. Perlu disadari, jalan menuju perubahan sangat rentan dengan berbagai tantangan dan hambatan. Semua hal itu membutuhkan kesabaran dan kebersahajaan dalam menghadapinya. Berarti perempuan dinilai memiliki potensi yang lebih besar dalam pengendali program pelestarian lingkungan di masyarakat.

Kelima, secara sosiologis dapat dipahami bahwa ibu atau perempuan adalah orang yang paling mengerti kondisi dan kebutuhan keluarganya. Dalam skala yang lebih luas berarti yang paling mengerti akan kondisi dan kebutuhan masyarakatnya. Lebih jauh, mereka pula lah yang paling sensitive terhadap berbagai hal yang menimpa masyarakatnya. Jika hal ini dapat diterima, maka tentu saja mereka pulalah yang paling bertanggungjawab terhadap masyarakatnya.

Bila bagian terkecil dari masyarakat yaitu keluarga penuh dengan cinta, suami-istri serta anak-anak memiliki kecocokan jiwa, maka lingkungan yang ditinggalipun akan bahagia. Perubahan-perubahan sosial   apapun bisa dihadapi dengan waspada. Termasuk perubahan iklim yang tidak terduga. Semua hal dijadikan tantangan untuk menumbuhkan dan membuktikan cinta. Mari bercinta!


Note: Tulisan Ini Recycle dari Tulisan Penulis berjudul Februari Merah Jambu Bagi Seorang Perempuan di Kompasiana tahun 2010.  


Pada suatu hari Nabi Isa as melakukan perjalanan bersama para sahabatnya (hawariyyin). Di tengah perjalanan mereka melihat bangkai anjing yang telah mati berhari hari. Seorang sahabat berkata, “betapa baunya bangkai anjing ini. Sahabat yang lain ada yang mengatakan, “betapa rusaknya bangkai anjing ini. Ada pula yang berkata “lihat betapa menjijikannya rupa bangkai ini”. Hampir semua sahabat yang ada mencela bangkai anjing tersebut. Namun, Nabi Isa as berkata, “betapa putih dan rapi giginya”. (Habib Noval dalam bukunya Secangkir Kopi Hikmah).

Kisah ini menurut saya luar biasa. Bangkai merupakan tubuh hewan yang mati membusuk. Biasanya berbau menyengat dan dipenuhi oleh berbagai macam hewan pengurai seperti belatung dan serangga lainnya. Wajar bila para Sahabat Nabi Isa as mengeluarkan perkataan seperti kisah di atas. Mungkin kita pun akan bereaksi sama. Yang luar biasa dalam kisah ini menurut saya adalah perkataan Nabi Isa as yang bisa melihat hal baik dalam sesuatu hal yang ada dalam kondisi terburuk. Ya point inilah yang kali ini akan saya bicarakan dan dikaitkan dengan bagaimana hal tersebut bisa mendatangkan keberuntungan.

Melihat hal baik dalam kondisi terburuk apapun memang merupakan sebuah pilihan. Ini menurut saya pilihan yang tepat. Karena bila kita melihat sebaliknya, kondisi buruk tersebut tetap tidak berubah, bahkan secara psikologis kita akan semakin lemah dan terpuruk. Saat secara psikologis kita terpuruk dengan munculnya berbagai emosi negatif  maka fisik kita pun akan mengalami banyak masalah kesehatan. Hal inilah yang disebut psikosomatis.

Penelitian Edward E. Smith dkk tentang hubungan antara fisik dan emosional sangat erat sekali. Penelitian ini dilakukan tahun 2011  dengan 40 responden yang mengalami patah hati selama 6 bulan terahir. Dua rangkaian percobaan dilakukan untuk melihat hubungan tersebut. Pada percobaan pertama, responden diperintahkan untuk memandang foto mantan atau orang yang membuat patah hati untuk mengukur rasa sakit psikis. Perlakuan ini bermaksud memunculkan efek penolakan di pikiran responden. Pada percobaan kedua, mereka diberi rangsang panas di lengan sebagai parameter rasa sakit fisik.

Hasil percobaan di atas menunjukan jaringan di bawah otak yang merespon rangsang sensorik sakit fisik (korteks somatosensoris sekunder dan insula posterior dorsal) aktif pada percobaan pertama. Pengukuran oleh MRI menyatakan rasa sakit psikis akibat penolakan mantan setara dengan rasa sakit akibat kulit terbakar. Artinya otak merespon sakit rasa sakit psikis serupa dengan respon rasa sakit fisik di tubuh kita. Semakin banyak emosi negatif mempengaruhi kita, maka semakin banyak pula otak kita merasakan sakit dan ini melemahkan kesehatan.

Psikis bermasalah, fisik bermasalah, kedua hal ini juga berkaitan erat dengan keberuntungan seseorang. Orang yang selalu melihat hal buruk dengan mengeluh pada kondisi yang dihadapinya biasanya memang selalu sial. Ini merupakan salah satu hasil yang ditemukan dalam penelitian Richard Wiseman yang ditulisnya dalam buku Luck Factor. Penelitian di Inggris ini membandingkan orang yang selalu sial dan orang yang selalu beruntung selama 8 tahun.

Kebalikan dari melihat hal buruk ialah melihat hal baik dalam kondisi apapun. Mengubah kemalangan menjadi keberuntungan. Ini adalah formula keempat dalam Luck Factor nya Richard Wiseman. Kondisi buruk bisa saja dialami siapapun. Kondisi buruk ini, hanya berlangsung sesaat saja pada orang-orang beruntung. Saat dia terjatuh, maka ia bisa bangkit lagi. Semakin sering terjatuh semakin sering ia berhasil bangun lagi. Proses ini akan semakin menguatkan hidupnya. Seperti boneka Daruma dari Jepang yang selalu bangun lagi bila kita jatuhkan.

Cerita Bernie Eccelestone pendiri dan CEO Formula One (F1) Group kiranya bisa memperlihatkan kita bagaimana formula kemalangan berubah menjadi kemujuran. Suatu hari, Bernie berjalan keluar kantornya di Knightsbridge. Saat melewati tempat yang sepi beberapa orang menghadang. Mengepung Bernie, memukulnya habis habisan sampai babak belur. Mata kanannya bengkak dan menghitam. Ia dirampok. Semua barang berharganya diambil perampok termasuk jam tangan mewah Hublot yang berharga 4 miliar rupiah.

Mengalami kondisi buruk seperti itu, Bernie ternyata tidak marah-marah kepada Polisi dan memindahkan energi negatif pada orang sekelilingnya. Yang ia lakukan cukup sederhana dan aneh. Ia meminta orang untuk memfoto wajahnya yang babak belur. Mencetaknya dan mengirimkannya kepada CEO Hublot, Jean Claude Biver. Tidak lupa ia menuliskan pesan “See what people will do for a Hublot”. Ini komplain yang sederhana namun tajam.

Jean Claude Biver ketika mendapatkan komplain ternyata tidak bersikap negatif dan panik. Tidak berusaha mati-matian menutupi komplain ini. Ia malah meminta izin kepada Bernie untuk memasang fotonya yang babak belur, sekaligus meminta agar Hublot menjadi jam resmi dari Formula 1. Apa jadinya? Setelah iklan itu diluncurkan hasil penjualan jam tangan Hublot meroket. Bernie pun semakin terkenal karena menjadi bintang iklan dan mendapatkan uang yang tidak sedikit dari kejadian ini.

Apa yang dilakukan Bernie merupakan langkah pertama dari formula mengubah kemalangan menjadi keberuntungan. Langkah ini ialah melihat sisi positif dari hal buruk yang dialami. Langkah kedua adalah meyakini bahwa hal buruk yang terjadi saat ini, dalam jangka panjang akan menjadi kebaikan. Dalam buku Luck Factor banyak diceritakan bagaimana berbagai percobaan dilakukan kepada orang yang beruntung dan  sial ternyata memiliki pola yang sama. Orang yang beruntung memiliki keyakinan bahwa hal buruk yang dialami tidak pernah berlangsung lama dan dia bersyukur hal lebih buruk tidak menimpanya. Orang sial kebalikannya.

Langkah ketiga ialah tidak lama merenungi nasib buruk yang dialami. Ia akan bangkit dan berusaha keluar dari keterpurukan. Orang yang beruntung memiliki kecerdasan mengatasi kesulitan (Adversity Quotient/AQ). Ia tidak mudah menyerah dalam menghadapi kondisi seburuk apapun dan memiliki daya tahan hebat.

Ketiga langkah ini ada dalam formula ke 4 Luck Facktor yang bisa dipelajari dan diikuti oleh siapapun yang ingin menjadi orang yang beruntung dalam hidupnya. Keberuntungan sesungguhnya bukan hanya merupakan suatu kejadian kebetulan. Terlalu banyak data dalam penelitian Richard Wiseman yang menunjukan bahwa orang yang secara konsisten ‘menjemput’ keberuntungan maka ia bisa beruntung dalam hidupnya. Menjemput keberuntungan atau kesialan pada ahirnya merupakan sebuah pilihan. Semuanya dikembalikan kepada kita yang menjalani hidup. Kisah luar biasa yang mengawali tulisan ini bisa menginspirasi kita untuk selalu melihat hal baik dalam kondisi terburuk sekalipun. Inspirasi ini sejalan dengan Luck Factor yaitu mengubah kemalangan menjadi keberuntungan. Jadi siapkan diri kita menjemput keberuntungan .



Sangkuriang menendang perahu yang hampir selesai. Perahu yang akan dipakai mengarungi danau buatannya bersama Dayang Sumbi sebagai syarat pernikahan mereka. Perahu ini konon berubah menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Parahu. Kenapa Sangkuriang menendang perahu tersebut? Ia jengkel tidak bisa menikah dengan Dayang Sumbi karena ayam sudah berkokok dan ia tidak bisa membuat perahu dan danau dalam waktu semalam.


Kisah Sangkuriang ini kini banyak dikuti oleh berbagai kalangan. Mulai dari siswa, mahasiswa, guru, dosen dan profesi lainnya yang menyelesaikan tugas dalam waktu semalam. Istilah yang kadang suka dipakai ialah SKS (Sistem Kebut Semalam).  Kali ini saya menyebutnya dengan Sindrom Sangkuriang. Kenapa seseorang seringkali mengidap Sindrom Sangkuriang?

Sindrom menurut kamus besar bahasa Indonesia merupakan himpunan gejala yang terjadi serentak dan menandai ketidaknormalan tertentu. Ia biasanya terjadi berulang membentuk pola yang sama dan dapat diidentifikasi. Sindrom Sangkuriang menurut saya berupa gejala menunda mengerjakan tugas dengan berbagai alasan dan baru akan diselesaikan dalam pada waktu yang mepet hehehe....

Kenapa banyak orang mengidap Sindrom ini? Diantaranya adalah karena suka menunda-nunda pekerjaan atau procrastination.  Beberapa penyebab suka menunda-nunda pekerjaan diantaranya karena pekerjaan tersebut belum dimengerti dengan baik apakah karena kurangnya informasi yang kita miliki atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat kita. Selain itu menunda pekerjaan juga bisa terjadi karena seseorang memiliki standar yang cukup sulit untuk diraih. Orang seperti ini suka disebut sebagai perfectionis. Hal ini mengakibatkan menurunnya semangat untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan.

Hal lain penyebab suka menunda nunda pekerjaan yang merupakan akar dari Sindrom Sangkuriang ialah tidak memiliki kemampuan atau keterampilan dalam mengerjakan sebuah tugas sehingga ingin menghindari tugas tersebut atau bahkan tidak mengerjakannya sama sekali. Kecemasan juga bisa mengakibatkan seseorang menunda nunda sebuah tugas. Pada saat kita mencoba sesuatu tugas baru, kita cenderung berbuat kesalahan dan lambat dalam mengerjakannya. Hal ini bisa mengakibatkan kita menghindarinya. Selain itu penilaian orang lain terhadap tugas yang kita buat juga bisa membuat kita cemas dan pada ahirnya tidak mengerjakannya.

Pekerjaan berupa tugas, mau tidak mau harus kita selesaikan juga. Menunda-nunda membuat pekerjaan tersebut semakin sulit dan lama selesai. Muncul rasa cemas, hawatir bahkan stress bisa melanda orang tersebut. Sangat menyesakan dada dan rasanya sangat tidak enak. Seperti orang yang memiliki bisul bernanah. Kemanapun ia pergi rasa sakit dan tidak nyaman selalu menemani. Solusinya hanya satu, pecahkan bisulnya dan obati. Selesaikan pekerjaan tersebut semampu yang bisa kita lakukan.

Agar terhindar dari Sindrom Sangkuriang maka kita harus menghindari menunda nunda pekerjaan. Beberapa hal yang bisa kita lakukan diantaranya: Pertama kita memfokuskan pada satu hal yang harus dilakukan cepat dengan membuat komitmen tenggang waktunya. Tugas yang besar kita bagi bagi pada pekerjaan pekerjaan kecil yang bisa kita lakukan. Kedua mulai sekarang juga. Apa yang bisa kita lakukan untuk pekerjaan tersebut maka lakukan saja. Ketiga ialah lima menit ajaib, sekali kita memulai sesuatu kita lebih mungkin menyelesaikannya. Meski mungkin yang baru kita lakukan adalah mengidentifikasi masalah kenapa kita belum juga mengerjakan tugas tersebut. Mengidentifikasi ketakutan bisa membantu seseorang menyadari bahwa yang ditakutkan tak seburuk yang dipikirkan.

Keempat andalkan jam produktif. Jam produktif adalah waktu dimana kita bisa berfikir dengan jernih dan bisa menyelesaikan pekerjaan kita. Ada yang memiliki jam produktif malam hari setelah semua anggota keluarga beristirahat sehingga bebas dari gangguan ini biasanya dimiliki ibu-ibu. Ada yang memiliki jam produktif setelah shalat subuh, atau bahkan ada yang memiliki jam produktif di pagi hari, tinggal disesuaikan saja sesuai dengan ritme hidup kita masing-masing. Kelima lepaskan beberapa hal dengan membuat daftar agar yang dilakukan hanya tugas yang benar benar harus dilakukan. Misalnya saat kita mulai mengetik, tiba tiba terlihat notifikasi email atau pesan di medsos. Kita berusaha menjawabnya segera padahal bisa jadi mengalihkan perhatian dan membuat pekerjaan yang kita lakukan semakin lama selesai. Abaikan dulu itu semua kecuali panggilan telfon yang biasanya dilakukan seseorang untuk kondisi yang sangat penting.

Keenam kita memaafkan penundaan yang dilakukan dimasa lalu. Penundaan di masa lalu bisa memunculkan perasaan bersalah pada diri. Sehingga kita tidak yakin bahwa kita mampu berubah ke arah lebih baik dengan menjadi orang yang lebih bertanggung jawab. Bahkan lebih parah bisa menguras energi saat ini dan membuat kita stuck (berhenti) melakukan sesuatu karena tidak percaya pada diri sendiri. Yang   terahir atau ketujuh kita jadikan proses menyelesaikan tugas tersebut jadi menyenangkan. Dengan diawali pikiran bahwa kita bisa mengerjakannya. Dalam prosesnya kita bisa minta teman dekat kita, atau bisa pasangan atau anak kita untuk memiliki janji bahwa kalau tidak bisa mengerjakannya kita akan mentraktir mereka, atau mengerjakan tugas disuasana dan lokassi yang berbeda, atau sesuatu hal yang menyenangkan lainnya pokoknya apapun itu yang terpenting mengerjakan tugas dengan menyenangkan.

Ketujuh formula di atas bisa jadi berpengaruh baik bagi sebagian orang bisa juga tidak. Nah bagi yang memang tidak bisa dan masih suka melakukan Sindrom Sangkuriang dengan mengerjakan tugas selalu sistem kebut satu malam, maka ada hal lain yang bisa kita lakukan. Pada saat terdesak atau kepepet, maka adrenalin kita melonjak tinggi. Jantung berdetak lebih cepat dan biasanya panca indra bisa jadi lebih awas. Untuk melonjakan adrenalin ini kita bisa mengkondisikan pikiran kita bahwa bila tidak selesai tugas tersebut maka akan ada bahaya yang kita hadapi. Apakah berupa murka guru dan dosen sehingga nilai tidak keluar dan tidak lulus, tulisan yang sudah lelah ditulis tidak bisa dimuat karena melewati deadline, dilaporkan pada yang berwajib, uang tidak cair dan berhadapan dengan debt kolektor, uang dapur tidak ada sehingga anak-anak tidak bisa makan dan sekolah. Pokoknya hal apapun yang bisa membuat adrenalin kita melonjak naik dan membuat kita mau tidak mau mengerjakan tugas tersebut. Tapi Alangkah lelahnya bila Sindrom Sangkuriang ini menjadi sebuah kebiasaan. Kita bisa cepat tua dan tidak bisa menjalani hidup ini dengan bahagia. Jadi...katakan tidak pada Sindrom Sangkuriang yuuk

Note: Thanks to teh Irma atas obrolannya sepanjang bis menuju ACRP Diktis 18-19 juli 2018

Bergulir tanpa henti.
Tak pernah sedikitpun menoleh tuk kembali.
Peristiwa berkali kali.
Tetap tak peduli.

Menatap lurus ke depan
Melangkah perlahan
Sesekali terdengar sapaan
Hendak kemana wahai puan?

Entahlah...
Tatapan tanpa wajah pucat dan suram
berdiri di atas kaki sendiri
bergandengan tangan merangkai hari
memeluk tangis
membelai luka
mendekap iba
para perempuan dan anak dengan air mata

Menatap lurus ke depan
Bergegas ia berjalan
Kembali terdengar sapaan
Hendak kemana wahai puan?

Entahlah..
memberikan asa yang dipunya
siapapun penduduk bumi
kapanpun terjadi
dimanapun bersembunyi
temukan makna silaturrahmi
Marifat sejati







Tepat satu tahun yang lalu, pada bulan Ramadhan, sebuah peristiwa menyedihkan terjadi. Seorang ibu dengan tiga anak balitanya akan diusir dari kontrakan karena sudah tidak mampu membayar uang kontrakan selama hampir enam bulan. Kemana suaminya? Suami sirinya meninggalkannya tepat dua bulan setelah kelahiran anak  mereka.

Setahun sebelum kejadian tersebut ia dan kedua anaknya yang masih kecil membutuhkan tempat tinggal. Pihak keluarga yang juga hanya mengontrak rumah kecil sudah tidak bisa lagi menampung ibu tersebut dan anaknya. Sehingga saat ada yang mengajak menikah dengan janji akan menafkahi dan memberi tempat tingal, ia bersedia. Sungguh naas nasib ibu ini, bukannya dinafkahi, ibu tersebut justru mendapat bayi baru dan ditinggalkan begitu saja dengan kontrakan enam bulan belum dibayar.

Dengan mengandalkan media sosial dan solidaritas berbagi di bulan Ramadhan, alhamdulillah masalah tersebut bisa diatasi. Hari ini ibu tersebut bisa bekerja di laundry sambil mengasuh anaknya sehingga bisa membayar tempat dan makan untuk ketiga anak balitanya. Ia kembali menata puing kehidupannya yang berserakan dengan fondasi yang lebih baik lagi yaitu kepasrahan kepadaNya.

Ibu tersebut merupakan teman kuliah saya namun berbeda kampus. Kadang saya merenung, betapa mudah Allah membalikan kondisi seseorang pada satu kejadian yang tak terpikir sebelumnya. Ada hal yang menggelitik saya malam ini dari pola pikir yang dimilikinya sejak kuliah dulu.

Saat dulu kuliah, kami beraktifitas bersama mengelola pusat belajar anak-anak. Saat berinteraksi itulah saya mengenal pola pikirnya. Kalau kami membicarakan masa depan, maka ia selalu bercerita tentang lelaki ideal pujaanya.  Laki-laki gagah dan mapan yang akan menyelamatkannya dari segala masalah hidup yang dialaminya. Mirip seperti Cinderella yang diselamatkan oleh pangeran tampan berkuda putih. Sehingga Cinderlla si upik abu yang baik hati ahirnya bisa menjadi permaisuri dan bahagia selamanya.

Perempuan itu cukup menjadi baik hati dan mengurus diri sendiri terutama kecantikannya. Maka nanti akan ada lelaki baik dan kaya yang akan mempersunting dirinya, mungkin seperti inilah pola pikirnya saat itu. Sehingga ia sangat memperhatikan betul penampilannya. Tak jarang mengkritisi saya sebagai aktifis kampus yang berpenampilan apa adanya.

Setelah saya membaca bukunya ibu Nyai Masriah Amva yang berjudul “Rahasia Sang Maha Mengubah Derita Jadi Bahagia”, semakin saya merenungi betapa kelirunya pola pikir perempuan yang menyandarkan kebahagiaan pada makhluk yang lain terutama laki-laki. “Sungguh para wanita akan menjadi kuat dan berjaya bila hidup dengan diriNya. Tiada kekurangan, keterpurukan dan kegelapan hidup. Percayalah”. Kalimat yang menjadi pembuka buku yang didalamya terdapat 20 cerita yang dituliskan ini betul betul membuka mata hati saya bahwa inilah inti dari pemberdayaan perempuan yang selama ini dijalani.


Bu Nyai Masriah Amva dalam cerita di buku ini menyajikan tip tips bermanfaat dalam menghadapi permasalahan hidup lewat pendekatan spiritual dan iman. Tips-tips ini bukan sekedar hasil perenungan saja, melainkan dari perjalanan hidup yang dilaluinya. Nyai mengisahkan perjalanan hidupnya bagaimana saat ia bercerai dengan suami pertamanya dan terguncang dengan kematian suami keduanya. Namun disinilah ia menemukanNya. Bagaimanapun semua perpisahan memang menyedihkan, tapi akan hilang bila cinta kepadaNya memenuhi relung hati seseorang. Titik pasrah ini menjadi momentum untuk bangkit kembali.

Saya betul betul tersentak. Ini adalah Tauhid yang menjadi inti dari Islam. MenjadikanNya sebagai satu-satunya tujuan. Satu-satunya sandaran. Satu-satunya kekasih yang tak pernah pilih kasih. Bila menjadikan makhluk yang lain sebagai sandaran bagi kebahagiaan, maka Ia yang Maha Pencemburu tidak akan rela makhluknya memosisikannya seperti itu. Untuk itulah Ia menguji para perempuan termasuk teman saya tersebut dengan ujian cinta sampai melewati tiga pernikahan yang semuanya berahir tragis. Hanya untuk menunjukan...Akulah sandaran...Akulah yang layak kau cintai. Saya yakin Allah sangat mencintai teman saya tersebut. Semoga kehidupannya ke depan lebih baik lagi. 


Adakah manusia di dunia ini yang tidak menghasilkan sampah?  Manusia dari bayi sampai manusia yang udzur pasti menghasilkan sampah setiap harinya. Bayi baru lahir menghasilkan sampah minimal dari proses pencernaa tubuhnya. Apalagi kalau gaya hidup orang tuanya yang instan dengan memakaikan diapers atau memberikan susu formula, tentu sampah yang dihasilkannya lebih banyak lagi.  Semua manusia menghasilkan sampah.

Sampah yang dibicarakan di atas adalah sampah material yang nampak. Bagaimana dengan sampah emosi yang tak kasat mata? Sebagai mahluk individu dan sosial yang memiliki perasaan, manusia kerap mengalami dan menghadapi berbagai kejadian yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Ini bisa dikatakan masalah karena ada kesenjangan antara yang diharapkan dan yang terjadi. Masalah ini memunculkan  emosi negatif. Emosi negatif ini terus menumpuk bertahun tahun tanpa disadari  menjadi sumber penyakit dan bau seperti sampah. 

Sampah emosi yang menumpuk bertahun tahun ini semakin betah dengan banyaknya informasi negatif yang kita konsumsi. Informasi kriminal, informasi tentang kejelekan orang lain, informasi tentang bobroknya institusi tempat kita bekerja, serta berbagai informasi negatif lain yang hari ini sangat mudah kita temukan. Bagaimana sebenarnya dampak dari sampah emosi yang menumpuk dan tidak dibersihkan ini?

Sebuah cerita ilustatif mungkin akan mempermudah kita menyadari bahayanya menumpuk sampah emosi. Cerita ini bermula dari seorang guru yang menugaskan murid-muridnya untuk membawa satu kantong plastik besar dan mengisinya dengan tomat. Tomat-tomat tersebut mewakili setiap orang yang pernah menyakiti hati mereka. Setiap tomat dinamai dengan nama orang yang menyakiti dan semua dimasukan ke dalam kantong.

Beberapa murid memasukan banyak tomat, sebagian membawa sedikit. Para murid harus membawa kantong yang berisi tomat tersebut kemanapun mereka pergi. Menemani saat pulang, bermain, belajar, dibawa lagi ke sekolah, diletakan disamping bantal mereka tidur, pokoknya, kantong tomat itu tidak boleh jauh dari mereka.

Makin hari, makin banyak murid yang mengernyitkan hidung karena tomat-tomat tersebut mengeluarkan aroma busuk. “Apakah kalian telah memaafkan nama-nama yang kalian tulis pada tomat tersebut? Tanya sang guru.

Para murid kebanyakan sepakat untuk belum memaafkan nama-nama yang telah menyakiti mereka. “Jika demikian, kalian tetap harus membawa tomat itu kemanapun kalian pergi”.

Hari demi hari berlalu. Bau busuk yang dikeluarkan tomat-tomat itu semaki menjadi. Banyak dari mereka menjadi mual, pusing dan tidak nafsu makan karenanya. Ahirnya mereka membuang tomat-tomat tersebut ke tempat sampah. Dengan asumsi mereka juga memaafkan nama-nama yang mereka tulis di atas kulit tomat.

“Nah, muridku, sakit hati yang kalian tanam sama seperti tomat-tomat itu. Semakin kalian banyak sakit hati dan tidak memafkan maka semakin berat kalian melangkah. Semakin hari sakit hati dan tidak memaafkan itu akan membusuk dan meracuni pikiran kalian”, ujar sang guru.

Karena itu sekalipun kalian menyimpan sakit hati pada orang lain karena perilaku mereka, maafkanlah mereka dan lupakan yang pernah mereka lakukan. Sakit hati itu sama seperti tomat-tomat busuk, kalian bisa membuangnya ke tempat sampah.

Sampah emosi yang menumpuk karena sakit hati ini berakibat langsung pada kesehatan kita secara fisik. Gangguan kesehatan ini sering disebut dengan psikosomatis. Penyakit fisik yang diakibatkan oleh pikiran negatif atau masalah emosi seperti stress, kecewa, depresi, rasa berdosa dan emosi negatif lainnya.

Ketika kita stress maka hormon noradrenalin diproduksi otak kita. Ketika kita takut, adrenalin yang akan muncul. Hormon merupakan zat penyampai pesan pada tingkat sel. Artinya zat-zat ini yang menyampaikan perintah dari otak kepada tiap-tiap sel. Misalnya, pesan “marah” yang disampaikan tubuh akan bereaksi melalui ketegangan dan aktifitas. Kedua zat ini berguna untuk mempertahankan hidup namun disisi lain sangat beracun. Jika seseorang terus menerus naik darah dan didera stres hebat, dia dapat jatuh sakit karena keracunan noradrenalin, cepat tua dan meninggal dini. (Shigeo Haruyama, The Miracle of Endorphin, 31: 2014)

Kematian merupakah hal yang niscaya bagi setiap manusia. Tidak ada yang meragukan hal itu. Saat ini kita masih diberikan kesempatan hidup.  Alangkah ruginya bila dalam menjalani hidup tumpukan sampah emosi mengganggu kita. Menurut Faiz Zainuddin, ada 5 sumber penderitaan hidup yang menjadi sampah emosi sehingga seseorang menjadi tidak bahagia.

1    Menyesali masa lalu.
2    Tidak menerima kondisi saat ini.
3    Khawatir terhadap masa depan.
4    Terlalu mendengarkan omongan orang lain.
5    Tidak mau memaafkan.

Kira-kira dari 5 hal ini kita masih memiliki berapa? Kalau masih ada semoga dengan hadirnya bulan Ramadhan kita bisa membersihkan sampah-sampah emosi sampai ke dasarnya. Cara membersihkannya seperti kita akan membersihkan septik tank. Tau kan septik tank? Ya...kita harus membuka penutupnya sebelum membersihkannya. Pasti bau menyengat keluar. Kita harus tetap menghadapinya. Mengakui bahwa tumpukan sampah emosi itu ada dan ridha dengan perasaan apapun yang muncul, kemudian memasrahkan agar Allah kiranya membantu kita membersihkan sampah emosi tersebut. Prosedur ini dalam terapi SEFT disebut Personal Peace Prosedur (3P). Proses bagaimana 3P tidak akan saya share pada tulisan kali ini karena selain panjang, juga prosedur ini harus dipraktikan. Mumpung bulan Ramadhan...bersih bersih sampah emosi yuuk!

Sumber Bacaan:
Ahmad Faiz Zainuddi, SEFT for Healing+Succes+Happiness+Greatness, Jakarta: Afzan Publishing, 2011)

Shigeo Haruyama, The Miracle of Endorphin, (Bandung: Mizan, 2014)