Jumat, 24 April 2009

Memangnya Kenapa Dengan Perempuan?

Sepasang bidadari kecil tersenyum di balik selimut hangatnya. Setelah cerita seekor anak lebah mencari induknya mengantar mereka tertidur lelap. Keduanya putih bersih menunggu tinta apa yang akan digoreskan untuk mengisi lembaran yang masih kosong. Sepasang bidadari kecil itu anak perempuanku. Anak perempuan yang akan menghadapi dunia yang tidak bersahabat dengan mereka. Kelak kondisi inilah yang akan membuat mereka kuat menghadapi apapun.
Kenapa dunia tidak bersahabat dengan perempuan? Sejarah mengatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan sudah dilakukan bahkan pada perempuan yang baru lahir. Ini terabadikan dalam al-Quran surat al-Hijr ayat 58-59:
Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuannya, hitamlah mukanya dan ia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menaggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”.
Sejarah juga menceritakan bahwa salah seorang sahabat utama yaitu Umar bin Khattab r.a. pernah melakukan kekerasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa anak perempuannya dan setelah masuk Islam dia sangat menyesalinya. Sejarah selalu berulang, saat ini pun di abad modern anggapan hinanya memiliki anak perempuan masih ada. Sebuah surat kabar di Jepang pernah menuliskan bahwa pasangan suami istri di sana tidak segan-segan mengaborsi janin yang ada dikandungan bila sudah diketahui ternyata janin tersebut perempuan. Mereka tetap melakukan hal itu sampai mendapatkan janin berjenis kelamin laki-laki. Di negeri kita pun anggapan tersebut masih ada. Sebuah keluarga dianggap belum lengkap kalau belum memiliki anak laki-laki. Sehingga ada seorang ibu yang terus-terusan melahirkan karena belum mendapat anak laki-laki.
Kekerasan terhadap perempuan yang di ceritakan di atas saat ini masih ada dengan berbagai bentuk yang semakin beragam. Mulai dari kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan seksual sampai pada penelantara ekonomi. Para pelaku kekerasan pun beragam, namun justru yang paling banyak adalah orang terdekat dari perempuan itu sendiri. Kekerasan ini semakin mencengkram hidup perempuan. Dunia seolah semakin berbahaya buat perempuan.
Di samping kekerasan di atas, sebetulnya ada bentuk kekerasan lain yang tak kasat mata. Kekerasan ini oleh Pierre Bourdieu di sebut kekerasan simbolik.[1] Kekerasan semacam ini oleh korbannya (kaum perempuan) bahkan tidak dilihat atau dirasakan sebagai kekerasan. Tetapi sebagai sesuatu yang alamiah dan wajar. Bahwa hidup perempuan harus tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak dan rumah tangga sebagai sesuatu yang sudah semestinya.
Jauh sebelum seorang manusia lahir, lingkungan sudah membentuknya. Lingkungan masyarakat sudah menyiapkan harus seperti apa menjadi perempuan dan laki-laki. Sehingga berbagai sifat, peran, fungsi dan posisi dilekatkan kepada dua jenis kelamin ini. Perempuan diantaranya dibentuk dengan sifat yang lembut, halus, pasif, emosional dan sabar. Lelaki diantaranya dibentuk dengan sifat kasar, berani, aktif, rasional dan lincah. Untuk fungsi keduanya pun dibagi secara ketat. Dimana perempuan memiliki fungsi reproduktif yang berperan sebagai ibu rumah tangga. Kalau pun mencari nafkah ia hanya dianggap pencari nafkah tambahan. Lelaki memiliki fungsi produktif yang berperan sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah utama. Bentukan masyarakat ini sebenarnya tidak menjadi permasalahan bila tidak terjadi muncul ketidakadilan. Namun yang terjadi adalah maraknya ketidakadilan yang berbentuk kekerasan terhadap perempuan.
Pembedaan laki-laki dan perempuan merupakan proses social yang sangat kompleks dan lama. Menurut Arif Budiman dalam bukunya Pembagian Kerja Secara Seksual sebenarnya pembedaan ini bisa dilacak sampai ke zaman prasejarah. Pada saat zaman pra-sejarah berburu dan meramu perempuan mempunyai akses yang sama terhadap penguasaan alam. Makanan masih tersedia banyak, belum ada kompetisi dan penguasaan satu pihak terhadap pihak yang lain. Lambat laun persediaan makanan menipis sedangkan manusia semakin banyak. Munculah kompetisi untuk mendapatkan makanan. Karena perempuan memiliki alat reproduksi, otomatis ia hamil, melahirkan dan menyusui anaknya. Aktifitas reproduksi ini mengkondisikan perempuan untuk lebih banyak tinggal di rumah (gua). Sehingga perempuan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Laki-lakilah yang memenuhi kebutuhan hidup perempuan selama masa reproduksi. Semakin lama akses perempuan terhadap alam semakin sedikit. Sebaliknya dengan laki-laki yang tidak hanya penguasaan alam saja yang semakin besar tetapi juga semakin besar control terhadap perempuan dikarenakan tergantungnya perempuan pada apa yang diperoleh laki-laki.
Zaman berburu dan meramu yang diceritakan di atas memunculkan pembagian kerja secara seksual. Perempuan bekerja di lingkungan tempat tinggal (domestic). Semantara laki-laki bekerja dilingkungan luar tempat tinggal (public). Pembagian kerja yang ketat ini sebenarnya tidak menguntungkan baik bagi perempuan maupun bagi laki-laki karena masing-masing tidak bebas memilih peran lawan jenisnya. Namun dampak tersebut lebih tidak menguntungkan lagi bagi perempuan karena adanya perbedaan status antara domestic dan public. Ruang domestic merupakan bagian dari public sehingga yang dimilikinya pun lebih rendah. Konsekuensinya pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di ruang domestic/rumah kurang dihargai masyarakat karena tidak memberikan nilai ekonomis, padahal jenis pekerjaanya begitu beragam, padat dan menguras tenaga. Lain hal dengan pekerjaan di ruang public/luar rumah karena bernilai ekonomis maka dipandang lebih berharga.
Perbedaan pandangan ini sangat terlihat di masyarakat. Dimana seorang ibu rumah tangga merasa minder saat ditanya apa pekerjaanya. Kebanyakan ibu ini berkata, “saya tidak bekerja, saya di rumah saja yang bekerja bapak, saya mah gimana bapak saja”. Pekerjaan rumah yang mulia dianggap tidak sebanding dengan apa yang dilakukan di luar rumah merupakan bentukan masyarakat tentang pekerjaan yang berjenis kelamin. Pekerjaan rumah tangga yang berat dianggap bukan pekerjaan. Sehingga banyak ibu rumah tangga yang malu dan ingin keluar rumah agar dihargai.
Demikian pula dengan ibu yang bekerja di luar rumah yang seringkali didera oleh rasa bersalah karena meninggalkan pekerjaan rumah. Sehingga ia menganggap pekerjaan rumah yang dia kerjakan adalah tanggung jawabnya padahal dia juga harus bekerja di luar. Sehingga semakin beratlah beban yang harus dia tanggung. Padahal hal ini sangat mungkin di kompromikan dengan pasangan sebagai bentuk kasih sayang.
Pembagian kerja secara seksual yang dibentuk masyarakat cenderung menguatkan satu pihak dan melemahkan yang lain. Hubungan yang tidak berimbang ini merupakan bentuk hubungan kekuasaan. Karena ada pihak yang berdaya ada yang kurang atau tidak berdaya. Munculah kondisi ketidaksetaraan. Kondisi ketidaksetaraan yang diakibatkan oleh pembagian kerja secara seksual ini berlaku universal, namun dalam masyarakat yang pembagian kerja secara seksualnya tidak tegas, ketidaksetaraan ini tidak terlalu tampak. Oleh karena itu agar tercipta suasana keseimbangan kekuasaan dan kesetaraan perempuan dan laki-laki maka perubahan system pembagian kerja seksual seharusnya terjadi.
Pada saat sistem pembagian kerja secara seksual berubah, maka ruang public tidak tertutup untuk perempuan. Apakah sudah selesai masalah ketidaksetaraan ini? Jawabnya belum tentu. Bergesernya peran perempuan dari ruang domestic ke public memang memberikan harapan pada perempuan untuk lebih berdaya, karena terbukanya berbagai akses. Namun pergeseran tersebut tidak berarti banyak tanpa diikuti dengan pergeseran peran laki-laki.
Pembagian kerja secara seksual yang tak adil terhadap perempuan termasuk ke dalam kekerasan simbolis yang berurat akar sangat lama. Hal ini merupakan bentuk pembedaan bukan perbedaan. Pembedaan merupakan proses sengaja untuk membeda-bedakan atau diskriminasi. Sedangkan perbedaan terberi begitu saja sebagi ketentuan Tuhan. Pembedaan inilah yang mengkrangkeng perempuan sehingga sulit untuk melakukan apapun. Selain itu pembedaan ini juga melahirkan penilaian yang merendahkan perempuan.
Sebuah lagu negeri kita tempo dulu menggambarkan kondisi ini: wanita di jajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu. Namun ada kala pria tak berdaya. Tekuk lutut dibawah kerling wanita”. Lagu ini merupakan satu dari sekian banyak syair yang menceritakan kondisi ketertindasan perempuan. Pencitraan perempuan yang lemah. Kalaupun perempuan dianggap kuat maka itu adalah karena keutamaan tubuhnya. Laki-laki akan bertekuk lutut hanya karena kerlingan mata seorang perempuan. Bukan karena kualitas perempuan tersebut. Perempuan dianggap memiliki nilai hanya karena fisiknya. Tidak yang lainya. Apa bedanya dengan hewan? Atau memang dianggap bukan manusia?. Anggapan ini muncul diantaranya berangkat dari pemahaman bahwa keberadaan perempuan adalah untuk laki-laki. Sedangkan keberadaan laki-laki untuk dirinya sendiri. Karenanya bila ada perempuan yang berusia belum menikah maka dianggap hidupnya belum lengkap dan salah. Ketidaklengkapan dan salah ini juga bisa juga dialamatkan pada keluarga yang hanya memiliki anak perempuan saja.
Setiap manusia perempuan dan laki-laki memiliki potensi dan kesempatan yang sama dalam hidupnya. Lingkunganlah masyarakat telah membentuk yang satu lebih istimewa dari yang lain. Sehingga untuk membuktikan bahwa perempuan pun bisa berkualitas, membutuhkan energy dua kali lebih banyak dari laki-laki. Karena selain berperang melawan konsep diri yang lemah akibat bentukan budaya, juga berperang melawan budaya itu sendiri.
Ketika perempuan berjuang untuk menciptakan kondisi adil yang diidamkan dengan memasuki wacana laki-laki, dia tunduk pada kategori-kategori yang telah ditetapkapkannya. Bila perempuan menerapkan skema pemikiran yang merupakan hasil dominasi, maka dia kalah sebelum berperang. Ketika pemikiran dan persepsi perempuan terstruktur dengan stuktur dominasi, upaya untuk mengetahui sama saja dengan sebuah pengakuan dan ketertundukan. Karena itu maka perempuan mesti belajar menilai apaun dengan cara pandang mereka sendiri dan bukan melalui mata laki-laki.



[1] Pierre Bourdieu, La Domination Masculine, Paris: Seuil, 1998 hal 7.

Kartini dan Kesehatan Reproduksi

25 tahun usia Kartini saat ia menutup matanya untuk terakhir kali. Hanya empat hari setelah melahirkan ia bisa merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Atau mungkin Kartini belum sempat merasakan kebahagiaan itu diakhir hidupnya. Muncul pertanyaan dibenak penulis kenapa Kartini meninggal dalam usia yang begitu muda dan habis melahirkan? Jangan-jangan kematian kartini berhubungan erat dengan peristiwa melahirkan yang dialaminya.
Melahirkan merupakan peristiwa reproduksi perempuan, dimana pertaruhan hidup dan mati seorang ibu ditentukan. Setelah mengandung selama 9 bulan, seorang ibu harus berjuang sekuat tenaga mengeluarkan seorang bayi yang dikandungnya. Kesehatan reproduksi tidak sekedar berkaitan dengan hamil dan melahirkan. Kesehatan reproduksi merupakan keadaan kesejahteraan fisik, mental dan social yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan system reproduksi dan fungsi serta proses-prosesnya.
Kondisi mental dan social sangat berkatan erat dengan kondisi fisik seorang perempuan dalam proses kehamilan dan melahirkan. Bila kita membaca surat kartini yang menceritakan kondisi social di jaman itu betapa kondisi social yang feodal telah merampas kebebasan dan kesehatan mental setiap individu. Sebagai contoh, Kartini sebagai anak perempuan tertua seringkali merasa tidak enak bila adik-adiknya berpapasan dengannya maka mereka harus berjalan dengan berjongkok. Tindakan berjalan jongkok merupakan symbol penghormatan dan kepatuhan kepada yang lebih tua. Dia mengakhiri semua itu dan membolehkan adik-adiknya berjalan sejajar bila berpapasan dengan Kartini.
Semua adik perempuan Kartini sudah menikah. Tinggal kartini yang belum menikah. Sudah beberapa kali ayahnya menjodohkan Kartini namun semua ditolaknya dan ia tetap berkonsentrasi mengajar para perempuan disekitar rumahnya. Sampai suatu saat usia Kartini memasuki 24 tahun, ayahnya sakit. Saat itupula seorang adipati yang beristri 3 melamar Kartini sebagai istri ke-4. Dengan terpaksa Kartini menerima lamaran itu karena khawatir dengan kesehatan ayahnya. Hanya 10 bulan pernikahan itu berlangsung karena harus dihentikan yang Kuasa dengan memanggil Kartini dipelukan-Nya.
Usia singkat kartini ini telah menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa Indonesia. Dimana Indonesia pernah memiliki perempuan terbaik di zamannya yang telah membaktikan dirinya untuk pendidikan terutama pendidikan perempuan. Dimana pendidikan kaum perempuan menurut Kartini bukan untuk menyaingi kaum laki-laki. Pendidikan bagi perempuan sangat besar artinya untuk kehidupan. Karena bila perempuan sudah terdidik maka dia akan mudah melaksanakan kewajibannya mendidik anggota keluarganya.
Realitas Kesehatan dan Reproduksi Perempuan di Indonesia
Saat ini bermunculan Kartini-Kartini di Indonesia. Jumlah mereka tertinggi seAsia Tenggara. Lho apa maksudnya? Ya perempuan Indonesia yang meninggal setelah melahirkan tenyata sangat tinggi. Setiap 100.000 kelahiran 307 perempuan meninggal di negri yang katanya makmur ini . Sebagai perbandingan di Singapura AKI (Angka Kematian Ibu)6/100.000 kelahiran, Malaysia 39/100.000 kelahiran, Thailand 44/100.000 kelahiran, Vietnam 160/100.000 kelahiran Filipina 170/100.000 (Kompas 21 Juni 2005). Menurut Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) penyebab utama AKI adalah pendarahan (46,7), eklamsia (14,5) dan infeksi.(Kompas 3 November 2003).
Hampir semua perempuan di belahan dunia tak terkecuali Indonesia menerima berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan yang berakibat tidak sehatnya sistem dan fungsi reproduksi mereka. Seperti dalam kasus kekerasan seksual yang terjadi dalam rumah tangga (marital rape). Banyak Istri yang mengeluh mengalami sakit di vagina mereka akibat hubungan seksual yang dipaksakan. Menurut penelitian Dr. Wimpie Pangkahila, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana terdapat sedikitnya 17 kasus kekerasan seksual dalam pernikahan (1989-1997). Sementara yang masuk ke LBH Apik Jakarta 12 kasus (1998-2003)antara lain: suami memasukan balsam cincau kedalam vagina istri, memaksa istri melayani hubungan seksual dalam keadaan haid ataupun suami dalam keadaan mmabuk memaksa istri berhubungan seksual.
Faktor Penyebab Tingginya AKI
Beranjak pada tingginya Aki di Indonesia, penulis menyadari bahwa masalah AKI merupakan permasalahan yang sangat kompleks dan multidimensi. Semestinya masalah kesehatan reproduksi perempuan membutuhkan keterlibatan dan kepedulian banyak pihak, keluarga, masyarakat, agamawan, ahli medis, aparat hokum, maupun para pembuat kebijakan.
Setidaknya ada empat aspek yang menyebabkan tingginya AKI di Indonesia. Pertama, budaya patriarki. Budaya ini menempatkan laki-laki sebagai pihak yang sangat diuntungkan, diutamakan bahkan dilayani, atau lebih sebagai makhluk yang aktif dalam hubungan seksual. Hal ini tercermin dari pola asuh anak laki-laki yang dididik aktif dan bekerja keras. Hal itu terkait anggapan bahwa anak laki-laki akan menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab member nafkah keluarga.
Sedangkan perempuan diposisikan sebagai pihak yang harus melayani, berbakti dan patuh. Implikasi dan penerapan budaya ininanak perempuan senantiasa dididik untuk melayani segala kebutuhan ayah, kakak dan adik laki-laki. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bersikap sabar, lemah lembut dan pasrah. Pola sasuh ini terkait dengan pelebelan bahwa anak perempuan nantinya akan menjadi ibu rumah tangga yang mendapat nafkah dari suaminya.
Karena pola asuh seperti itu yang terinternalisasi dan menjadi budaya, maka saat perempuan hidup berumah tangga, akan melakukan hal yang sama yang menurutnya merupakan kewajaran untuk dilakukan. Misalnya karena dididik untuk menghormati dan melayani suami maka dalam mengkonsumsi makanan, istri senantiasa mendahulukan suaminya. Kebiasaan ini juga terjadi saat hamil, sehingga suami mengkonsumsi makanan yang bergizi lengkap sedangkan istri hanya mengkonsumsi sisanya. Selain itu keputusan untuk memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu atau perencanaan memiliki anak ditentukan suami. Akibatnya istri dipaksa untuk terus hamil dan melahirkan jika ketentuan jumlah anak dan jenis kelamin tertentu belum didapat.
Kedua, factor kesehatan. Hal ini ditandai dengan minimnya fasilitas kesehatan. Misalnya biaya kesehatan yang mahal, minimya tenaga medis, akses informasi atau penyuluhan kesehatan belum kasimal, minimnya puskesmas didaerah-daerah terpencil.
Ketiga, Sistem hukum dan kebijakan public yang tidak berpihak pada perempuan. Misalnya keberadaan UU no 23 tahun 1992 tentang Kesehatan pada pasal yang melarang aborsi dalam segala bentuknya. Sehingga semakin banyak aborsi illegal. AKI yang sangat tinggi ini diantaranya juga 35-50% disumbang oleh praktek aborsi yang tidak aman. (Sumber: Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat Depkes). Diperkirakan setiap tahun terjadi 1 juta aborsi akibat kegagalan KB maupun karena tidak pakai alat KB. Selain itu factor seperti larangan laki-laki (pasangan) untuk hamil, keluarga, masyarakat, atau aturan hukum (KUHP), kurang informasi dan akses kepada layanan kesehatan, menyebabkan banyak perempuan pada kasus Kehamilan yang Tidak Diinginkan(KTD) melakukan upaya sendiri atau minta bantuan tenaga yang tidak kompeten sehingga terjadilah aborsi yang tidak aman yang kemudian mengakibatkan kematian ibu. Sesungguhnya aborsi banyak dilakukan oleh perempuan yang terikat dengan pernikahan.
Keempat pemahaman agama yang bias gender. Misalnya masih kuatnya anggapan bahwa kematian ibu akibat peproduksi adalah semata karena takdir tuhan sehingga dianggap mati syahid. Mati syahid ini termanifestasi dari hadis nabi yang menyebabkan 7 kategori mati syahid, terbunuh dalam perang fisabilillah, orang yang mati karena keracunan lambungnya, tenggelam dalam air, pinggangnya terkena virus, terkena lepra, terbakar api, tertimbun bangunan dan perempuan yang mati karena melahirkan.
Jika kita melihat konteks hadis secara detail maka yang tampak 5 unsur diatas antara penyakit dan musibah adalah factor ketidak sengajaan, atau setelah dilakukan upaya penyembuhan yang maksimal. Begitu juga dengan perang, seperti latihan perang, strategi dan persiapan fisik. Sedangkan kematian perempuan yang melahirkan disebabkan oleh hak-hak perempuan hamil yang diabaikan atau tidak dipenuhi, misalkah kurangnya asupan gizi, beban ganda (mengerjakan pekerjaan rumah tangga juga bekerja keras mencari nafkah di luar) atau secara psikologis tertekan karena pernikahan atau kehamilan. Sehingga apakah kematian yang diciptakan dengan sengaja layak disebut syahid?
230 tahun sudah Kartini meninggalkan bumi pertiwi. Namun namanya masih terus diingat oleh bangsa Indonesia. Semoga bukan cara kematian kartini yang diikuti oleh para perempuan di Indonesia, melainkan semangatnya untuk terus menjadikan kaum perempuan di negeri ini mendapatkan kondisi kehidupan yang lebih baik. AKI yang tinggi harus kita hentikan. Hal ini bisa diwujudkan mulai dari keluarga. Dengan berbagi peran seimbang antara suami, istri, anak perempuan dan anak laki-laki. Selain pembagian peran yang seimbang, juga poisis tawar istri harus diperjuangkan. Selanjutnya peningkatan pelayanan dan akses informasi kesehatan reproduksi perempuan, menciptakan peraturan hukum terutama mengamandemen UU no 23 tahun 1992 dengan pembahasan yang mengikutsertakan anggota masyarakat diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan perempuan dan anak. Yang tak kalah penting juga melakukan reinterpretasi terhadap tafsir ayat-ayat keagamaan dengan kacamata yang lebih ramah perempuan

Selasa, 14 April 2009

Mewujudkan Hidup Penuh Makna


Sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat buat manusia yang lain. Hadis nabi ini setidaknya menjadi inspirasi buat saya dalam menjalani hidup. Saya ingin hidup ini bisa memberikan manfaat positif bagi orang lain sehingga saya bisa mendapatkan makna. Makna disini hadir bukan karena dianggap berjasa oleh manusia lain, melainkan makna itu hadir karena secara spiritual saya menjalankan kehidupan dengan baik sesuai dengan keinginan Zat yang menciptakan semua makhluk.
Sebagai seorang yang dilahirkan berjenis kelamin perempuan, saya merasakan pengalaman yang unik karena keperempuanan saya. Kenapa saya katakan unik? Karena dalam hal apapun juga jenis kelamin ini sangat mempengaruhi orang lain memandang saya. Sebagai contoh sejak kecil saya sudah ditugasi membantu ibu mengurus rumah mulai dari mencuci, menyapu dan lain-lain. Sedangkan adik laki-laki saya bebas bermain tanpa di tugasi apapun, bahkan dia sering diistimewakan dengan selalu dipenuhinya segala keinginannya. Saat dewasa pun hal itu terulang lagi. 6 tahun lalu saat saya masih kuliah di pasca, saya mengajukan diri mengajar di jurusan almamater saya. Keinginan ini ditolak mentah-mentah hanya karena saya seorang perempuan. Adik tingkat yang laki-laki boleh mengajar meski dia baru lulus sebagai seorang sarjana. Selalu saya mencoba berfikiran positif. Mungkin inilah proses Allah mendidik saya agar menjadi orang yang senantiasa bersungguh-sungguh.
Ada satu perkataan yang saya ingat bahwa untuk menjadi seorang perempuan dibutuhkan energi dua kali lipat dibanding menjadi seorang laki-laki. Selain seorang perempuan harus bisa mengatasi budaya yang tidak bersahabat, ia juga harus mengatasi konsep diri yang lemah akibat bentukan budaya tersebut. Saya merasakan kebenaran dari perkataan itu. Semakin usia saya bertambah, pengalaman-pengalaman sebagai perempuan yang saya alami ternyata juga dialami oleh semua kaum perempuan. Tak heran kalau kita lihat dari 48,8% penduduk miskin Indonesia mayoritas adala perempuan. 67,9% penduduk buta huruf adalah perempuan. Ini baru data yang mungkin kebenarannya masih bisa diragukan. Tapi sebuah kenyataan telah saya temukan, alami dan rasakan. Kenyataan ini terungkap saat saya menjadi relawan di sebuah LSM yang konsen mendampingi korban KDRT.
Dari 90 kasus yang ditemukan selama 6 bulan hampir 70% hanya lulusan SD. Jangan tanya berapa penghasilan mereka. Untuk bertahan hidup mereka rela melakukan apa saja meski harga diri sebagai manusia sudah tak mereka perdulikan. Mereka banyak yang cedera, cacat, dipisahkan dari orang yang dicintai dan penderitaan lainnya. Diantara korban ada yang akhirnya menyadari bahwa dia manusia yang tak pantas diperlakukan semena-mena Perempuan korban yang berani memutuskan siklus kekerasan ini dan mencoba terus menjalani hidup tanpa suaminya, meski penuh perjuangan dan penderitaan. Dia menyadari bahwa perempuan adalah manusia dan tak boleh mengalami perbuatan semena-mena dari siapapun. Bila kesadaran seorang perempuan bisa dibangkitkan maka ia tak akan tak kan rela dirinya disakiti, dinomorduakan, dipinggirkan, dianggap negative, dibedakan atau diberikan beban berlebih dalam hidupnya. Karenanya sebagai seorang perempuan yang ingin bermanfaat untuk orang lain saya ingin mencoba membangkitkan kesadaran perempuan dilingkungan yang saya tempati. Sehingga makluk dengan jumlah lebih banyak ini juga bisa lebih banyak memberikan kontribusi positif dalam kehidupan. Ini adalah sebuah perjuangan.

Sebuah perjuangan menyadarkan dan memberdayakan orang lain khususnya perempuan, tak bermakna tanpa memberdayakan diri sendiri. Ibarat lilin yang mampu menerangi sekitarnya namun membakar diri dan akhirnya mati. Saya tak ingin demikian. Perjuangan menyadarkan dan memberdayakan perempuan yang ingin saya lakukan juga berarti menyadarkan dan memberdayakan diri saya sendiri. Karenanya mengikuti PUP sampai akhir bagi saya adalah sebuah keniscayaan. Semoga hal ini bisa menjadi bekal bagi saya menjadikan hidup penuh makna.

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...