Mewujudkan Hidup Penuh Makna

0 Comments

Sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat buat manusia yang lain. Hadis nabi ini setidaknya menjadi inspirasi buat saya dalam menjalani hidup. Saya ingin hidup ini bisa memberikan manfaat positif bagi orang lain sehingga saya bisa mendapatkan makna. Makna disini hadir bukan karena dianggap berjasa oleh manusia lain, melainkan makna itu hadir karena secara spiritual saya menjalankan kehidupan dengan baik sesuai dengan keinginan Zat yang menciptakan semua makhluk.
Sebagai seorang yang dilahirkan berjenis kelamin perempuan, saya merasakan pengalaman yang unik karena keperempuanan saya. Kenapa saya katakan unik? Karena dalam hal apapun juga jenis kelamin ini sangat mempengaruhi orang lain memandang saya. Sebagai contoh sejak kecil saya sudah ditugasi membantu ibu mengurus rumah mulai dari mencuci, menyapu dan lain-lain. Sedangkan adik laki-laki saya bebas bermain tanpa di tugasi apapun, bahkan dia sering diistimewakan dengan selalu dipenuhinya segala keinginannya. Saat dewasa pun hal itu terulang lagi. 6 tahun lalu saat saya masih kuliah di pasca, saya mengajukan diri mengajar di jurusan almamater saya. Keinginan ini ditolak mentah-mentah hanya karena saya seorang perempuan. Adik tingkat yang laki-laki boleh mengajar meski dia baru lulus sebagai seorang sarjana. Selalu saya mencoba berfikiran positif. Mungkin inilah proses Allah mendidik saya agar menjadi orang yang senantiasa bersungguh-sungguh.
Ada satu perkataan yang saya ingat bahwa untuk menjadi seorang perempuan dibutuhkan energi dua kali lipat dibanding menjadi seorang laki-laki. Selain seorang perempuan harus bisa mengatasi budaya yang tidak bersahabat, ia juga harus mengatasi konsep diri yang lemah akibat bentukan budaya tersebut. Saya merasakan kebenaran dari perkataan itu. Semakin usia saya bertambah, pengalaman-pengalaman sebagai perempuan yang saya alami ternyata juga dialami oleh semua kaum perempuan. Tak heran kalau kita lihat dari 48,8% penduduk miskin Indonesia mayoritas adala perempuan. 67,9% penduduk buta huruf adalah perempuan. Ini baru data yang mungkin kebenarannya masih bisa diragukan. Tapi sebuah kenyataan telah saya temukan, alami dan rasakan. Kenyataan ini terungkap saat saya menjadi relawan di sebuah LSM yang konsen mendampingi korban KDRT.
Dari 90 kasus yang ditemukan selama 6 bulan hampir 70% hanya lulusan SD. Jangan tanya berapa penghasilan mereka. Untuk bertahan hidup mereka rela melakukan apa saja meski harga diri sebagai manusia sudah tak mereka perdulikan. Mereka banyak yang cedera, cacat, dipisahkan dari orang yang dicintai dan penderitaan lainnya. Diantara korban ada yang akhirnya menyadari bahwa dia manusia yang tak pantas diperlakukan semena-mena Perempuan korban yang berani memutuskan siklus kekerasan ini dan mencoba terus menjalani hidup tanpa suaminya, meski penuh perjuangan dan penderitaan. Dia menyadari bahwa perempuan adalah manusia dan tak boleh mengalami perbuatan semena-mena dari siapapun. Bila kesadaran seorang perempuan bisa dibangkitkan maka ia tak akan tak kan rela dirinya disakiti, dinomorduakan, dipinggirkan, dianggap negative, dibedakan atau diberikan beban berlebih dalam hidupnya. Karenanya sebagai seorang perempuan yang ingin bermanfaat untuk orang lain saya ingin mencoba membangkitkan kesadaran perempuan dilingkungan yang saya tempati. Sehingga makluk dengan jumlah lebih banyak ini juga bisa lebih banyak memberikan kontribusi positif dalam kehidupan. Ini adalah sebuah perjuangan.

Sebuah perjuangan menyadarkan dan memberdayakan orang lain khususnya perempuan, tak bermakna tanpa memberdayakan diri sendiri. Ibarat lilin yang mampu menerangi sekitarnya namun membakar diri dan akhirnya mati. Saya tak ingin demikian. Perjuangan menyadarkan dan memberdayakan perempuan yang ingin saya lakukan juga berarti menyadarkan dan memberdayakan diri saya sendiri. Karenanya mengikuti PUP sampai akhir bagi saya adalah sebuah keniscayaan. Semoga hal ini bisa menjadi bekal bagi saya menjadikan hidup penuh makna.


You may also like

Tidak ada komentar: