Kamis, 22 Oktober 2009

Resah Yang Mengusik Kesadaran

“Anak-anak dengan siapa kalau ibu pergi ke luar kota beberapa hari?. Pertanyaan ini mengusik perasaan saya ketika hendak berangkat. Perasaan yang awalnya ringan tiba-tiba menjadi berat. Saya termenung memikirkan pertanyaan ini. Mencoba untuk mengurai, kenapa saya merasa resah? Sebenarnya perasaan ini bukan kali ini saja saya rasakan. Beberapa kali kondisi ini menghampiri, namun saya selalu menyimpannya dan tidak memikirkannya. Bagi saya selama kegiatan yang saya lakukan positif kenapa tidak saya mengikutinya.

Sebagai seorang ibu yang mengajar kadang kala ada beberapa tugas yang menuntut saya pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Tidak sering memang, mungkin hanya beberapa kali dalam setahun. Setiap kali saya hendak meninggalkan keluarga saya akan mempersiapkan segala halnya, mulai dari urusan dapur, anak, suami dan hal-hal lain yang akan saya tinggalkan. Sebenarnya setiap kali akan pergi mengajar pun saya melakukan hal yang sama. Saya jadi berfikir kenapa hal tersebut saya lakukan? Apakah itu memang kewajiban saya? Kenapa suami saya tidak sesibuk saya kalau hendak mengajar dan bebergian ke luar kota. Dia lebih bebas melakukan aktivitas yang dijalaninya. Padahal aktivitas kami sama.

Saya teringat dengan pembagian kerja secara seksual yang dijelaskan oleh Arif Budiman. Ia mengatakan bahwa pembagian kerja secara seksual memang sudah terjadi semenjak jaman berburu dan meramu. Sebelum jaman itu perempuan dan laki-laki memiliki pekerjaan yang sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di alam. Sumber makanan di alam melimpah sehingga perempuan dan lelaki mudah mendapatkannya. Tiba-tiba jumlah manusia semakin banyak sedangkan sumber daya alam semakin terbatas. Munculah kompetisi untuk medapatkan bahan makanan. Perempuan dengan potensi reproduksinya mengandung dan melahirkan anak. Pada saat itu gerak perempuan terbatas. Lama kelamaan penguasaan perempuan terhadap alam juga terbatas bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di masa reproduksi perempuan tergantung dengan laki-laki. Muncullah ketergantungan yang pada akhirnya melahirkan dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Sejak jaman berburu meramu itu perempuan memiliki peran domestic, sedangkan laki-laki memiliki peran public. Pembagian kerja ini terus di lanjutkan selama perjalanan sejarah manusia. Sampai hari ini di mana saya merasakan keresahan akibat pertanyaan di atas. Pembagian kerja ini menjadi sesuatu yang dianggap baku oleh masyarakat. Sehingga bila ada perempuan yang berperan di dunia public tetap saja dia peran utamanya adalah peran domestic. Peran public lebih dianggap berharga karena domestic merupakan bagian dari public. Selain itu juga peran public menghasilkan uang sehingga diangap penting.

Pelanggengan kerja secara seksua ini juga dikuatkan oleh pemahaman masyarakat tentang agama. Dimana perempuan dianggap sholehah kalau sepenuhnya berada di rumah dan tidak melakukan apa-apa selain mengurusi keluarga. Saya jadi teringat sebuah syair Syeikh Nefzawi yang merepresentasikan perempuan Ideal Islam di Timur Tengah pada abad pertengahan

Perempuan yang jarang bicara atau ketawa
Dia tak pernah meninggalkan rumah,
Walaupun untuk menjenguk tetangganya atau sahabatnya.
Ia tidak memiliki teman perempuan
Dan tidak percaya terhadap siapa saja
Kecuali kepada suaminya
Dia tidak menerima apapun dari orang lain
Kecuali dari suami dan orang tuanya
Jika dia bertemu dengan sanak keluarga
Dia tidak mencampuri urusan mereka
Dia harus membantu segala urusan suaminya
Tidak boleh menuntut atupun bersedih
Ia tak boleh tertawa selagi suaminya bersedih
Dan senantiasa menghiburnya
Dia menyerahkan diri hanya kepada suaminya.
Meskipun control itu akan membunuhnya
Perempuan seperti itu adalah yang dihormati semua orang.

Kembali saya bertanya apakah memang seperti itu perempuan ideal dalam Islam? Harus selalu berkutat dalam peran domestiknya? Kalau pun dia berperan di wilayah public maka peran domestic tetap utama? Alangkah beratnya kalau itu harus dilakukan seorang perempuan. Ah…saya kira pembagian peran merupakan hal yang sangat fleksibel. Sangat mungkin dikompromikan sebagai bentuk kasih sayang antara suami dan istri. Siapa yang sempat dan mau dia bisa saja mengambil peran itu. Karena peran apapun juga semuanya sama berharganya.

Saya kembali merenung bagaimana dengan Khadijah istri nabi? Apakah seperti perempuan yang digambarkan dalam syair di atas? Menurut sejarah yang pernah saya dengar dia adalah seorang saudagar yang sukses. Apakah mungkin seorang saudagar sukses mengisolasi dirinya dan berperan di wilayah domestic saja? Padahal khadijahlah perempuan yang selalu mendapat pujian dari nabi bahkan setelah kematiannya.

Saya mengambil nafas lega. Untuk apa saya merasa resah? Bukankah selama ini saya terbiasa berbagi peran dengan suami? Kalaupun seorang laki-laki suatu saat berperan di wilayah domestic atau rumah, bukankah itu juga rumahnya? Siapapun yang tinggal di rumah, ia wajib merawatnya? Untuk urusan anak, bukankah anak juga anak bersama dan sebagai orang tua kami berkewajiban merawat bersama? Ya sudahlah saya hentikan saja keresahan ini dan focus pada materi pelatihan yang sedang saya jalani. Semoga saya tidak resah lagi kalau pertanyaan ini kembali muncul. Mungkin orang yang melontarkan pertanyaan ini masih mengikuti pola lama yang sebenarnya juga tidak menguntungkan buat dirinya apakah dia perempuan atau lelaki.

Ada Uang Abang Sayang, Gak Ada Uang Abang Saya Tendang

“Ada uang abang sayang, gak ada uang abang saya tendang”, perkataan ini sering saya dengar baik di sinetron maupun kehidupan keseharian. Perkataan yang menjadi stereotype seorang perempuan yang orientasi hidupnya hanya untuk uang. Sterotype ini begitu melekat pada perempuan. Seolah untuk tujuan inilah perempuan hadir dimuka bumi. Tak segan-segan perempuan menggadaikan hak dan harga dirinya hanya untuk mendapatkan uang. Kenapa pemahaman seperti ini yang muncul? Benarkah stereotype tersebut hanya bisa dialamatkan pada perempuan?

Sebelum mengungkap kenapa pelebelan negative ini ditujukan pada perempuan, saya teringat pada kondisi perempuan dalam sejarah yang selalu menjadi property dan didominasi oleh laki-laki. Seperti dijelaskan oleh Ashgar Ali Engineer (1994:55):

Secara historis telah terjadi dominasi laki-laki dalam semua masyarakat di sepanjang zaman, kecuali dalam masyarakat-masyarakat matriakhal, yang jumlahnya tidak seberapa. Perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki. Dari sini muncullah doktrin ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan tidak cocok memegang kekuasaan ataupun memiliki kemampuan yang dimiliki laki-laki, karena dianggap: tidak setara dengan laki-laki. Laki-laki harus memiliki dan mendominasi perempuan, menjadi pemimpinnya dan menentukan masa depannya, dengan bertindak sebagai ayah, saudara laki-laki ataupun suami. Alasannya untuk kepentingannyalah dia harus tunduk kepada jenis kelamin yang lebih unggul. Dengan dibatasi di rumah dan di dapur, dia dianggap tidak mampu mengambil keputusan di luar wilayahnya.

Dominasi peran kaum laki-laki itu menurut Ashgar dibenarkan oleh norma-norma kitab suci yang ditafsirkan oleh kaum laki-laki untuk mengekalkan dominasi mereka. Secara umum semua agama menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dari kaum laki-laki (Muhammad Asadi, 2002: 7-34), termasuk di antaranya Islam. Meski di awal kedatangannya Islam dianggap sebagai kabar gembira karena merubah pandangan terhadap perempuan. (Muhammad Anis Qasim Ja’far, 1998:16-17). Namun selanjutnya posisi perempuan hampir tidak berubah bahkan semakin terpuruk.

Dominasi ini mengakibatkan munculnya pemahaman bahwa laki-laki menjadi sumber pengetahuan (the knowers). Pemahaman tentang perempuan baik diri maupun lingkungannya juga berasal dari pandangan laki-laki. Akibatnya pengalaman dan pengetahuan perempuan ditiadakan. Dari sinilah menurut saya pelebelan negative bahwa perempuan adalah makhluk yang matrealis muncul.

Ada hal yang membuat saya lebih meyakini bahwa pelabelan negative ini muncul dari kaum laki-laki yang memang ingin mengekalkan dominasi dan membuat perempuan tergantung kepadanya. Ini tergambar dalam syair lagu Indonesia tempo dulu yaitu:

Wanita d jajah pria sejak dulu.
Dijadikan perhiasan sangkar madu.
Namun ada kala pria tak berdaya.
Tekuk lutut dibawah kerling wanita”.

Lagu ini merupakan satu dari sekian banyak syair yang menceritakan kondisi ketertindasan perempuan. Pencitraan perempuan yang lemah. Kalaupun perempuan dianggap kuat maka itu adalah karena keutamaan tubuhnya. Laki-laki akan bertekuk lutut hanya karena kerlingan mata seorang perempuan. Bukan karena kualitas perempuan tersebut. Perempuan dianggap memiliki nilai hanya karena fisiknya.

Nilai perempuan hanya karena fisik ini berdampak pada orientasi perempuan pada materi. Seolah untuk mendapatkan uang/materi, perempuan hanya membutuhkan potensi fisik semata. Ini tergambar dalam kegeraman yang diucapkan oleh Nawal el-Saadawi:

Pria Arab dan dalam hal ini kebanyakan laki-laki, tidak suka kepada perempuan yang berpengalaman dan cerdas. Seolah-olah laki-laki takut kepadanya. Karena… ia tahu betul bahwa kelaki-lakiannya tidak real, bukan kebenaran hakiki, tetapi hanya kulit luar disematkan dan dipaksakan atas perempuan oleh masyarakat yang didasarkan atas diskriminasi tekstual dan kelas. Pengalaman dan kecerdasan perempuan adalah ancaman bagi struktur kelas patriakal ini. Pada gilirannya, suatu ancaman bagi posisi palsu yang ditempati laki-laki, posisi raja atau wakil Tuhan berhadapan dengan perempuan. (Ghada Karm, 2000: 105-106).

Kegeraman ini menurut saya sangat beralasan. Kegeraman yang muncul karena pelebelan negative bahwa perempuan adalah makluk matrealis. Sehingga dicitrakanlah dalam sejarah bahwa perempuan yang disukai adalah perempuan yang tidak berpengalaman (kalaulah tidak disebut bodoh) asalkan cantik. Ia bisa saja mendapatkan materi yang diinginkannya. Karena kalau perempuan cerdas dan berpengalaman, maka ia hanya kan jadi ancaman bagi dominasi laki-laki.

Pemahaman ini juga mengendap dalam bawah sadar perempuan dan terus-menerus dikonstruk secara social lewat media. Sehingga yang terpenting bagi perempuan adalah penampilan bukan isi kepala apalagi kualitas spiritual. Pemahaman perempuan yang seperti ini sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dibandingkan pemahaman budaya. Karena musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang ada dalam diri. Bukan di luar diri. Karenanya sebelum kita membenahi pemahaman yang bersliweran di luar diri, alangkah lebih baiknya kita benahi pemahaman diri bahwa perempuan adalah makhluk yang samam mulianya di hadapan Tuhan. Yang membedakannya hanyalah ketaqwaannya.Wallahu ‘alam

(Tulisan ini di buat untuk menjawab perlakuan diskriminasi yang penulis alami saat mengikuti ekspose hasil penelitian Diktis Depag RI di puncak tanggal 16 Oktober 2009, yang penulis alami hanya karena penulis perempuan muda di forum itu)

Daftar Pustaka

Ashgar Ali Engineer, Hak-Hak Perempan Dalam Islam, terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1994
Asadi, Muhammad, Penulisan Ulang Sejarah Perempuan: al-Qur’an dan Masalah Kebebasan Perempuan, Jurnal al-Huda vol.2 No 5, 2002
Anis, Muhammad Qasim Ja’far, Perempuan dan Kekuasaan Menelusuri Hak Politik dan Persoalan Gender dalam Islam, Bandung : Zaman, 1998
Ghada Karm, “Perempuan, Islam dan Patriarkalisme” dalam Mai Yamani (ed.), Feminisme dan Islam, Bandung : Yayasan Nuansa Cendekia, 2000.

Perubahan Sebuah Kemestian

“100 orang aktivis adalah pemberontakan, satu orang terdidik merupakan awal dari perubahan”. Kata-kata Chiko Mendes ini terus terngiang-ngiang di kepala saya. Mengedor-gedor kesadaran untuk tidak selalu mementingkan kepentingan diri. Menjalari semangat untuk bertindak melakukan perubahan.

Chiko Mendes anak seorang penyadap getah karet di Brazil telah menorehkan tinta emas dalam sejarah dunia. Dia berhasil mengorganisir masyarakat untuk sebuah perubahan. Bukan kedudukan dan materi yang ia dapatkan dalam hidupnya, melainkan kembalinya hak rakyat yang telah dibayar dengan nafas terakhirnya.

Akankah perjuangannya bisa menjadi inspirasi dalam hidup ini?. Hmm…butuh perjuangan mewujudkannya.
Seorang pengorganisir masyarakat itulah julukan orang bagi seseorang yang memutuskan untuk terjun langsung mewujudkan perubahan social yang transformative dengan berangkat dari apa yang dimiliki masyarakat. Pengorganisir masyarakat bukanlah “Kerja Cari Makan”, bukan semacam hobi yang bisa berubah, bukan proyek pribadi yang bisa kita permaklumkan dan akui sebagai milik. Bahkan seorang pengorganisir masyarakat memang telah disiapkan ke arah suatu proses ‘bunuh diri’. Perkataan ini terujar begitu saja dalam sebuah buku yang ditulis oleh Jo Hann Tan dan Roem Topatimasang yang telah melakukan pengorganisasian masyarakat selama lebih dari 20 tahun di Malaysia, Indonesia dan di beberapa Negara Asia Tenggara.

Mengapa harus ada perubahan? Mengapa tidak menerima apa adanya kondisi saat ini? Mengapa harus mengambil resiko dalam kehidupan? Pertanyaan ini menjejali kepala saya yang biasa hidup di zona status quo di dunia akademis. Saya teringat dengan filsafat Freire yang bertolak dari kenyataan bahwa ada sebagian manusia yang menderita sedemikian rupa. Sebagian lagi justru menikmati jerih payah orang lain dengan cara yang tidak adil. Kenyataan di dunia ini, kelompok manusia pertama adalah kelompok mayoritas dan yang kedua adalah minoritas. Kondisi ini merupakan kondisi yang tidak seimbang. Inilah yang disebut situasi penindasan. Pada saat kita mengetahui adanya situasi ini apakah kita akan berdiam diri saja?

Situasi penindasan bisa terjadi di mana-mana. Terjadi dalam berbagai relasi di dunia ini. Namun yang jelas situasi ini sangat tidak memanusiakan manusia. Apakah ia perempuan atau lelaki. Situasi ini menjadikan pihak yang di tindas menjadi objek karena hak-hak mereka dinistakan. Sedangkan penindas menjadi subjek yang telah mendustai hakekat keberadaanya dan hati nuraninya dengan memaksakan penindasan bagi sesama manusia.

Kembali pada kata-kata Chiko Mendes di awal tulisan, “100 orang aktivis adalah pemberontakan, satu orang terdidik merupakan awal dari perubahan”. Di sini kunci perubahan terletak pada satu orang terdidik. Apa makna terididik disini? Apakah seseorang yang memiliki berderet gelar namun tak melakukan apa-apa yang disebut terdidik? Freire mengatakan sistem pendidikan harus menjadi kekuatan penyadar dan pembebasan umat manusia. Sistem pendidikan mapan selama ini telah menjadikan anak didik sebagai manusia yang terasing dan tercerabut dari realitasnya sendiri dan realitas dunia sekitarnya. Karena ia telah dididik menjadi ada dalam artian menjadi seperti yang berarti menjadi seperti orang lain, bukan menjadi dirinya sendiri.

Pendidikan menurut Freire memang harus menjadi proses pemerdekaan, bukan penjinakan social budaya. Pendidikan bertujuan mengarap realitas manusia dan karena itu secara metodologis bertumpu atas prinsip-prinsip aksi dan reffleksi total, yakni prinsip bertindak untuk merubah kenyataan yang menindas. Pada stimultan lainnya seecara terus menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas itu. Jadi si terdidik disini dimaknai seseorang yang memanunggalkan karsa, kata dan karya atau bersifat “praxis”. Praxis juga sudah bermakna emansipatoris atau pemberdayaan.

Situasi penindasan dengan si tertindas adalah perempuan banyak terjadi di masyarakat. Meski bukan satu satunya objek dari situasi penindasan dan masih banyak objek-objek penindasan lainnya. Namun karena saya memang focus pada permasalahan perempuan, maka hal inilah yang sedang menari-nari di kepala saya.
Kondisi perempuan yang menjadi objek penindasan bisa kita lihat pada Suseda Jawa Barat tahun 2006 yang menggambarkan rendahnya kualitas hidup perempuan dibanding patnernya laki-laki. Dalam bidang pendidikan rata-rata tingkat partisipasi sekolah perempuan dalam jenjang SMA masih rendah hanya 50,46% dibanding laki-laki 52,48%. Dalam bidang ekonomi tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan hanya 27% dibanding laki-laki 73%. Jumlah perempuan yang mengurus rumah tangga 7.528.132 orang dan laki-laki 232.236 orang, (BPS Jawa Barat Tahun 2006)

Rendahnya kualitas hidup perempuan ini semakin diperburuk dengan munculnya berbagai persoalan yang menindas perempuan. Diantaranya adalah meningkatnya perempuan yang menjadi korban tindak kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Seperti laporan yang dimiliki Komnas Perempuan dimana sepanjang tahun 2005 dari 20.391 kasus kekerasan terhadap perempuan, 82%nya (16.615) merupakan KDRT. (Komnas Perempuan, 2006:3-5). Angka kematian ibu di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara yaitu 307/100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002/2003). Dari seluruh penduduk buta huruf di atas 10 tahun, 67,9% adalah perempuan (Republika Onine.Com 2006). 48.8% penduduk Indonesia adalah miskin dimana sebagian besarnya adalah perempuan (Sinar Harapan.com 2005)

Kondisi ini jelas tak bisa didiamkan saja dan menerima apa adanya. Harus ada perubahan. Perubahan bisa dilakukan dengan pendidikan yang membebaskan. Inti dari pendidikan ini menurut Freire adalah dengan penyadaran. Penyadaran bahwa perempuan merupakan subjek dalam hidupnya. Sebagai subjek, perempuan harus aktif bertindak dan berfikir dengan terlibat langsung dalam permasaahan yang nyata, dalam suasana yang dialogis. Sehingga perempuan memang benar-benar telah menyadari realitas dirinya dan dunia sekitarnya. Inilah yang disebut dengan penyadaran kritis.

Penyadaran kritis merupakan hal yang harus dilakukan bila ingin menciptakan kondisi ideal yang dicita-citakan. Tanpa kesadaran bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan lelaki dalam berbagai bidang, maka perjuangan perempuan untuk membebaskan dirinya serta masyarakatnya dari ketertindasan sukar dilakukan. Perjuangan perempuan untuk membebaskan dirinya serta masyarakatnya dari ketertindasan tidak mungkin berhasil jika perempuan tidak mampu mengorganisir diri mereka. Karenanya dibutuhkan pengorganisir untuk perjuangan ini. Saat ini saya masih berusaha berjuang untuk mengasah kesadaran kritis saya agar kelak saya bisa menjadi pengorganisir masyarakat, khususnya perempuan. Semoga !!!

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...