Ada Uang Abang Sayang, Gak Ada Uang Abang Saya Tendang

0 Comments
“Ada uang abang sayang, gak ada uang abang saya tendang”, perkataan ini sering saya dengar baik di sinetron maupun kehidupan keseharian. Perkataan yang menjadi stereotype seorang perempuan yang orientasi hidupnya hanya untuk uang. Sterotype ini begitu melekat pada perempuan. Seolah untuk tujuan inilah perempuan hadir dimuka bumi. Tak segan-segan perempuan menggadaikan hak dan harga dirinya hanya untuk mendapatkan uang. Kenapa pemahaman seperti ini yang muncul? Benarkah stereotype tersebut hanya bisa dialamatkan pada perempuan?

Sebelum mengungkap kenapa pelebelan negative ini ditujukan pada perempuan, saya teringat pada kondisi perempuan dalam sejarah yang selalu menjadi property dan didominasi oleh laki-laki. Seperti dijelaskan oleh Ashgar Ali Engineer (1994:55):

Secara historis telah terjadi dominasi laki-laki dalam semua masyarakat di sepanjang zaman, kecuali dalam masyarakat-masyarakat matriakhal, yang jumlahnya tidak seberapa. Perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki. Dari sini muncullah doktrin ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan tidak cocok memegang kekuasaan ataupun memiliki kemampuan yang dimiliki laki-laki, karena dianggap: tidak setara dengan laki-laki. Laki-laki harus memiliki dan mendominasi perempuan, menjadi pemimpinnya dan menentukan masa depannya, dengan bertindak sebagai ayah, saudara laki-laki ataupun suami. Alasannya untuk kepentingannyalah dia harus tunduk kepada jenis kelamin yang lebih unggul. Dengan dibatasi di rumah dan di dapur, dia dianggap tidak mampu mengambil keputusan di luar wilayahnya.

Dominasi peran kaum laki-laki itu menurut Ashgar dibenarkan oleh norma-norma kitab suci yang ditafsirkan oleh kaum laki-laki untuk mengekalkan dominasi mereka. Secara umum semua agama menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dari kaum laki-laki (Muhammad Asadi, 2002: 7-34), termasuk di antaranya Islam. Meski di awal kedatangannya Islam dianggap sebagai kabar gembira karena merubah pandangan terhadap perempuan. (Muhammad Anis Qasim Ja’far, 1998:16-17). Namun selanjutnya posisi perempuan hampir tidak berubah bahkan semakin terpuruk.

Dominasi ini mengakibatkan munculnya pemahaman bahwa laki-laki menjadi sumber pengetahuan (the knowers). Pemahaman tentang perempuan baik diri maupun lingkungannya juga berasal dari pandangan laki-laki. Akibatnya pengalaman dan pengetahuan perempuan ditiadakan. Dari sinilah menurut saya pelebelan negative bahwa perempuan adalah makhluk yang matrealis muncul.

Ada hal yang membuat saya lebih meyakini bahwa pelabelan negative ini muncul dari kaum laki-laki yang memang ingin mengekalkan dominasi dan membuat perempuan tergantung kepadanya. Ini tergambar dalam syair lagu Indonesia tempo dulu yaitu:

Wanita d jajah pria sejak dulu.
Dijadikan perhiasan sangkar madu.
Namun ada kala pria tak berdaya.
Tekuk lutut dibawah kerling wanita”.

Lagu ini merupakan satu dari sekian banyak syair yang menceritakan kondisi ketertindasan perempuan. Pencitraan perempuan yang lemah. Kalaupun perempuan dianggap kuat maka itu adalah karena keutamaan tubuhnya. Laki-laki akan bertekuk lutut hanya karena kerlingan mata seorang perempuan. Bukan karena kualitas perempuan tersebut. Perempuan dianggap memiliki nilai hanya karena fisiknya.

Nilai perempuan hanya karena fisik ini berdampak pada orientasi perempuan pada materi. Seolah untuk mendapatkan uang/materi, perempuan hanya membutuhkan potensi fisik semata. Ini tergambar dalam kegeraman yang diucapkan oleh Nawal el-Saadawi:

Pria Arab dan dalam hal ini kebanyakan laki-laki, tidak suka kepada perempuan yang berpengalaman dan cerdas. Seolah-olah laki-laki takut kepadanya. Karena… ia tahu betul bahwa kelaki-lakiannya tidak real, bukan kebenaran hakiki, tetapi hanya kulit luar disematkan dan dipaksakan atas perempuan oleh masyarakat yang didasarkan atas diskriminasi tekstual dan kelas. Pengalaman dan kecerdasan perempuan adalah ancaman bagi struktur kelas patriakal ini. Pada gilirannya, suatu ancaman bagi posisi palsu yang ditempati laki-laki, posisi raja atau wakil Tuhan berhadapan dengan perempuan. (Ghada Karm, 2000: 105-106).

Kegeraman ini menurut saya sangat beralasan. Kegeraman yang muncul karena pelebelan negative bahwa perempuan adalah makluk matrealis. Sehingga dicitrakanlah dalam sejarah bahwa perempuan yang disukai adalah perempuan yang tidak berpengalaman (kalaulah tidak disebut bodoh) asalkan cantik. Ia bisa saja mendapatkan materi yang diinginkannya. Karena kalau perempuan cerdas dan berpengalaman, maka ia hanya kan jadi ancaman bagi dominasi laki-laki.

Pemahaman ini juga mengendap dalam bawah sadar perempuan dan terus-menerus dikonstruk secara social lewat media. Sehingga yang terpenting bagi perempuan adalah penampilan bukan isi kepala apalagi kualitas spiritual. Pemahaman perempuan yang seperti ini sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dibandingkan pemahaman budaya. Karena musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang ada dalam diri. Bukan di luar diri. Karenanya sebelum kita membenahi pemahaman yang bersliweran di luar diri, alangkah lebih baiknya kita benahi pemahaman diri bahwa perempuan adalah makhluk yang samam mulianya di hadapan Tuhan. Yang membedakannya hanyalah ketaqwaannya.Wallahu ‘alam

(Tulisan ini di buat untuk menjawab perlakuan diskriminasi yang penulis alami saat mengikuti ekspose hasil penelitian Diktis Depag RI di puncak tanggal 16 Oktober 2009, yang penulis alami hanya karena penulis perempuan muda di forum itu)

Daftar Pustaka

Ashgar Ali Engineer, Hak-Hak Perempan Dalam Islam, terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1994
Asadi, Muhammad, Penulisan Ulang Sejarah Perempuan: al-Qur’an dan Masalah Kebebasan Perempuan, Jurnal al-Huda vol.2 No 5, 2002
Anis, Muhammad Qasim Ja’far, Perempuan dan Kekuasaan Menelusuri Hak Politik dan Persoalan Gender dalam Islam, Bandung : Zaman, 1998
Ghada Karm, “Perempuan, Islam dan Patriarkalisme” dalam Mai Yamani (ed.), Feminisme dan Islam, Bandung : Yayasan Nuansa Cendekia, 2000.


You may also like

Tidak ada komentar: