Resah Yang Mengusik Kesadaran

0 Comments
“Anak-anak dengan siapa kalau ibu pergi ke luar kota beberapa hari?. Pertanyaan ini mengusik perasaan saya ketika hendak berangkat. Perasaan yang awalnya ringan tiba-tiba menjadi berat. Saya termenung memikirkan pertanyaan ini. Mencoba untuk mengurai, kenapa saya merasa resah? Sebenarnya perasaan ini bukan kali ini saja saya rasakan. Beberapa kali kondisi ini menghampiri, namun saya selalu menyimpannya dan tidak memikirkannya. Bagi saya selama kegiatan yang saya lakukan positif kenapa tidak saya mengikutinya.

Sebagai seorang ibu yang mengajar kadang kala ada beberapa tugas yang menuntut saya pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Tidak sering memang, mungkin hanya beberapa kali dalam setahun. Setiap kali saya hendak meninggalkan keluarga saya akan mempersiapkan segala halnya, mulai dari urusan dapur, anak, suami dan hal-hal lain yang akan saya tinggalkan. Sebenarnya setiap kali akan pergi mengajar pun saya melakukan hal yang sama. Saya jadi berfikir kenapa hal tersebut saya lakukan? Apakah itu memang kewajiban saya? Kenapa suami saya tidak sesibuk saya kalau hendak mengajar dan bebergian ke luar kota. Dia lebih bebas melakukan aktivitas yang dijalaninya. Padahal aktivitas kami sama.

Saya teringat dengan pembagian kerja secara seksual yang dijelaskan oleh Arif Budiman. Ia mengatakan bahwa pembagian kerja secara seksual memang sudah terjadi semenjak jaman berburu dan meramu. Sebelum jaman itu perempuan dan laki-laki memiliki pekerjaan yang sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di alam. Sumber makanan di alam melimpah sehingga perempuan dan lelaki mudah mendapatkannya. Tiba-tiba jumlah manusia semakin banyak sedangkan sumber daya alam semakin terbatas. Munculah kompetisi untuk medapatkan bahan makanan. Perempuan dengan potensi reproduksinya mengandung dan melahirkan anak. Pada saat itu gerak perempuan terbatas. Lama kelamaan penguasaan perempuan terhadap alam juga terbatas bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di masa reproduksi perempuan tergantung dengan laki-laki. Muncullah ketergantungan yang pada akhirnya melahirkan dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Sejak jaman berburu meramu itu perempuan memiliki peran domestic, sedangkan laki-laki memiliki peran public. Pembagian kerja ini terus di lanjutkan selama perjalanan sejarah manusia. Sampai hari ini di mana saya merasakan keresahan akibat pertanyaan di atas. Pembagian kerja ini menjadi sesuatu yang dianggap baku oleh masyarakat. Sehingga bila ada perempuan yang berperan di dunia public tetap saja dia peran utamanya adalah peran domestic. Peran public lebih dianggap berharga karena domestic merupakan bagian dari public. Selain itu juga peran public menghasilkan uang sehingga diangap penting.

Pelanggengan kerja secara seksua ini juga dikuatkan oleh pemahaman masyarakat tentang agama. Dimana perempuan dianggap sholehah kalau sepenuhnya berada di rumah dan tidak melakukan apa-apa selain mengurusi keluarga. Saya jadi teringat sebuah syair Syeikh Nefzawi yang merepresentasikan perempuan Ideal Islam di Timur Tengah pada abad pertengahan

Perempuan yang jarang bicara atau ketawa
Dia tak pernah meninggalkan rumah,
Walaupun untuk menjenguk tetangganya atau sahabatnya.
Ia tidak memiliki teman perempuan
Dan tidak percaya terhadap siapa saja
Kecuali kepada suaminya
Dia tidak menerima apapun dari orang lain
Kecuali dari suami dan orang tuanya
Jika dia bertemu dengan sanak keluarga
Dia tidak mencampuri urusan mereka
Dia harus membantu segala urusan suaminya
Tidak boleh menuntut atupun bersedih
Ia tak boleh tertawa selagi suaminya bersedih
Dan senantiasa menghiburnya
Dia menyerahkan diri hanya kepada suaminya.
Meskipun control itu akan membunuhnya
Perempuan seperti itu adalah yang dihormati semua orang.

Kembali saya bertanya apakah memang seperti itu perempuan ideal dalam Islam? Harus selalu berkutat dalam peran domestiknya? Kalau pun dia berperan di wilayah public maka peran domestic tetap utama? Alangkah beratnya kalau itu harus dilakukan seorang perempuan. Ah…saya kira pembagian peran merupakan hal yang sangat fleksibel. Sangat mungkin dikompromikan sebagai bentuk kasih sayang antara suami dan istri. Siapa yang sempat dan mau dia bisa saja mengambil peran itu. Karena peran apapun juga semuanya sama berharganya.

Saya kembali merenung bagaimana dengan Khadijah istri nabi? Apakah seperti perempuan yang digambarkan dalam syair di atas? Menurut sejarah yang pernah saya dengar dia adalah seorang saudagar yang sukses. Apakah mungkin seorang saudagar sukses mengisolasi dirinya dan berperan di wilayah domestic saja? Padahal khadijahlah perempuan yang selalu mendapat pujian dari nabi bahkan setelah kematiannya.

Saya mengambil nafas lega. Untuk apa saya merasa resah? Bukankah selama ini saya terbiasa berbagi peran dengan suami? Kalaupun seorang laki-laki suatu saat berperan di wilayah domestic atau rumah, bukankah itu juga rumahnya? Siapapun yang tinggal di rumah, ia wajib merawatnya? Untuk urusan anak, bukankah anak juga anak bersama dan sebagai orang tua kami berkewajiban merawat bersama? Ya sudahlah saya hentikan saja keresahan ini dan focus pada materi pelatihan yang sedang saya jalani. Semoga saya tidak resah lagi kalau pertanyaan ini kembali muncul. Mungkin orang yang melontarkan pertanyaan ini masih mengikuti pola lama yang sebenarnya juga tidak menguntungkan buat dirinya apakah dia perempuan atau lelaki.


You may also like

Tidak ada komentar: