Senin, 22 Februari 2010

Anakku Totto-chan

Hari minggu adalah hari yang menyenangkan karena banyak hal bisa saya lakukan. Mulai dari bermain dengan anak-anak di rumah, beres-beres, sampai kegiatan silaturahmi dengan beberapa sahabat. Malam harinya saya sempat membaca buku Totto-chan. Buku itu belum selesai saya baca, baru tiga perempatnya saja, tapi buku itu sangat berkesan buat saya. Lima tahun lalu isi buku ini sudah pernah diceritakan seorang teman pada saya, namun membaca sendiri saat ini memberikan sensasi yang berbeda yaitu saya merasakan sesuatu yang luar biasa.

Totto-chan seorang anak 7 tahun yang aktif dan cerdas. Selalu ingin tahu dan senang melakukan hal-hal baru dan penuh tantangan. Sempat dikeluarkan dari sekolah karena membuat keonaran di kelas hanya karena tertarik membuka dan menutup meja belajarnya, berbicara dengan sepasang burung wallet yang sedang membuat sarang dan memanggil pengamen jalanan untuk menyanyikan lagu mereka disamping kelasnya. Ibu guru totto-chan menganggap kejadian- kejadian yang berulang tersebut tidak bisa ditolelir lagi dalam proses belajar mengajar dan hanya akan mengganggu murid lain yang belajar.

Setelah dikeluarkan Totto-chan bersekolah di Tomoe Gakuen sebuah sekolah yang unik. Sebuah sekolah yang mempergunakan gerbong kereta sebagai kelas mereka. Sebenarnya bukan hanya gerbong kereta yang membuat unik sekolah itu, justru prinsip pendidikannya. Sekolah Tomoe Gakuen menjadikan anak didik mereka sebagai subjek dalam hidupnya. Saat Totto-chan pertama kali datang ke sekolah itu, kepala sekolah menempatkan dirinya sejajar dengan Totto-chan dan memancing Totto-chan untuk mengungkapkan dirinya dengan mendengarkan semua cerita Totto-chan dengan tulus dan penuh perhatian. Waktu yang dihabiskan hampir setengah hari hanya untuk mendengar cerita seorang anak kecil yang baru dikenal. Luar biasa saya pikir, saya pun kadang merasa bosan bila anak pertama saya yang seusia Totto-chan terus bercerita tanpa mengenal waktu. Saya harus belajar banyak dari kepala sekolah ini.

Kegiatan belajar di Tomoe Gakuen sangat menarik. Semua anak dibebaskan untuk memilih pelajaran apa yang ingin dipelajari. Boleh duduk di mana saja. Boleh bermain apa saja. Boleh menari dan menyanyi. Setiap anak memiliki pohon yang akan mereka rawat sebagai milik mereka. Sangat menyenangkan saya pikir. Saat itu juga terlintas pengalaman masa kecil yang saya alami dimana belajar di sekolah bukanlah hal yang menyenangkan. Saya harus memakai seragam rapi, duduk dengan manis dan belajar sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Saya pikir saat ini pendidikan seperti inilah yang sebagian besar masih diberlakukan.

Memang ada beberapa sekolah yang sudah mengadopsi prinsip pendidikan seperti Tomoe Gakuen namun hanya sedikit dan itupun mahal. Kata mahal sebetulnya sangat relative tergantung dihubungkan dengan seperti apa prinsip pendidikan dan fasilitasnya. Atas dasar prinsip pendidikan seperti inilah saya memasukan anak saya ke sebuah sekolah yang paling tidak saya anggap memahami psikologis seorang anak. Sehingga anak saya tidak usah mengalami nasib malang yang dialami ibunya. Terpasung kreatifitasnya dan menjadi robot yang dikendalikan oleh guru-guru mereka. Menjadi manusia yang menyebalkan.

Membaca buku Totto–chan dengan kondisi saya sebagai seorang ibu yang memiliki anak seusianya membuat buku ini serasa hidup. Sangat nyata saya rasakan. Ekspresi totto-chan adalah ekpresi anak saya sendiri. Namun sedihnya saya belum bisa bersikap seperti ibu Totto-chan yang begitu memahami anaknya. Ibu Totto-chan selalu menganggap penting apa yang dilakukan anakknya. Menghargai dan mendengarkan pendapat dan keinginan anaknya. Mempercayai keputusan yang dilakukan anakknya sambil terus membimbing dan mengarahkan. Saya saat ini kadang masih bersikap otoriter. Kurang mau mendengarkan dan menghargai suara anak saya. Bahkan beberapa saat kami terlibat perdebatan panjang dalam memutuskan suatu hal, dan bisa dipastikan sebagian besar saya yang memutuskan.

Saya harus terus belajar menjadi seorang ibu. Melihat anak-anak saya sebagai seorang individu otonom dan unik. Mendengarkan mereka untuk mengetahui apa yang mereka inginkan agar saya bisa mengarahkan mereka pada hal yang baik dan benar. Merasakan kehadiran mereka sebagai anugerah yang harus saya rawat dengan sebaiknya. Agar kelak mereka bisa jadi generasi yang lebih baik dari orang tuanya saat ini. Semangat meng-ibu harus tetap dikobarkan. Semoga!!!

Rabu, 17 Februari 2010

Autothelic

Kata ini pertama kali saya dengar dari senior saya di aqidah filsafat. Saat itu ia mengisi in house training yang pertama kali digelar pada LSM yang saya rintis bersama beberapa sahabat. Autothelic entah bagaimana cara penulisan yang benarnya, namun makna yang dijelaskan oleh seniorku tadi sangat berkesan dalam hatiku. Menurutnya autothelic adalah mendasari semua pekerjaan karena cinta. Berorientasi pada tujuan dengan tidak meninggalkan proses. Cinta menjadi kerangka dan fondasi dalam melakukan apapun. Maka apapun yang akan kita kerjakan akan terasa menyenangkan.

Saat ini sudah hampir dua tahun saya dan teman-teman merintis LSM yang kami berni nama RESIC. Suka duka mewarnai perjalanannya. Kalau diibaratkan bayi maka LSM yang kami rintis ini baru bisa berjalan dengan tertatih. Masih belum seimbang dan masih sangat tergantung. Namun dalam waktu yang terus berjalan ini RESIC terus bergerak dan belajar. Menguatkan kaki untuk memperkokoh langkah.

Kali ini sebuah tawaran menyelenggarakan sebuah event outbond RESIC terima. Ini adalah kali ketiga buat kami melaksanakannya. Sekali lagi kami ingin berusaha dan belajar profesional.Dan untuk itu uang bukanlah prioritas utama. Prioritas utama adalah membangun kekompakan antara anggota resic dan memberikan kesan baik pada pengguna jasa kami. Kami yaqin dengan pelayanan yang optimal, maka mereka akan menginformasikan keberadaan kami dengan positif. Ini bisa menjadi strategi pengiklanan secara gratis.

Apa maksud tulisan ini ya? tulisan ini saya tulis karena baru saja saya selesai negosiasi harga yang ternyata lebih rendah 5000 perorang yang kami anggarkan. Tidak rugi memang, keuntungannya masih ada, hanya tidak leluasa kalau mau mengajak teman-teman RESIC sekalian refresing. Hmmm saya yaqin esok akan mendapatkan project yang lebih baik dari hari ini. Bismillah.

Minggu, 14 Februari 2010

Malam Minggu Yang Panjang

Lewat tengah malam saya belum bisa tidur. Sebenarnya bukan karena tidak ngantuk, rasa ngantuk itu ada…namun entah kenapa otak saya masih terus semangat berfikir. Berfikir tentang berbagai hal yang ada di dunia ini. Pernah mungkin sekitar 3 bulan lalu saat saya mempraktekan sebuah metode mengaktifkan alam bawah sadar dengan panduan sekedar buku psikologi yang kebetulan saya temukan di perpustakaan komersial. Beberapa malam saya tidak tidur seperti biasa. Fisik saya tidur namun entah kenapa jiwa saya tetap terjaga. Dalam kondisi itu saya mampu membaca hafalan qur’an saya dengan lancar. Lebih lancar dari pengulangan hafalan yang biasanya saya lakukan pada saat tahajud. Saat tahajud kadang ada jeda dan otak saya berfikir untuk menyambungkan ayat yang dihafal. Tapi saat saya mengaktifkan alam bawah sadar saya…betapa jernih semua terasa. Esok harinya saya tetap fresh dan semangat. Saya agak takut juga dengan pengalaman yang baru dijalani ini.

Saya sempat berkonsultasi dengan beberapa orang yang faham psikologi dan tasawuf. Ada yang menyarankan dihentikan. Ada yang menyarankan diteruskan sampai saya menemukan dan mengendalikan pengaktifan alam bawah sadar tersebut. Karena ternyata energy alam bawah sadar lebih dahsyat dari sekedar energy sadar yang hanya mengaktifkan pikiran kita. Kunci mengupgrade otak ternyata dengan mengistirahatkannya dan menggantinya dengan alam bawah sadar seseorang.

itulah konon kabarnya kunci dari kesehatan dan kesegaran fisik. Lagi-lagi tanpa sengaja saya menemukan buku yang terselip di bagian buku novel chiklit buku itu berjudul Inner beauty….he he sebagai perempuan penasaran dong dengan buku semodel begitu. Saya baca dengan semangat….buku itu tidak sistematis…berputar-putar sampai membuat saya pusing. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penulis buku. Mengapa hanya untuk mebicarakan inner beauty saja mesti berbicara tentang berbagai simbol huh…tapi seolah saya menemukan jawaban dari buku yang tanpa sengaja juga saya temukan. Dan saya sepakat…isi hati lah yang mencerminkan seseorang terlihat seperti apa. Energy kebaikan ini yang akan memancar dan dirasakan oleh hati kecil manusia yang lain. Tersambung frekuensinya dengan frekuansi yang sama…au ah…jadi kebawa lieur….

Ya…ya…berburu buku-buku yang unik dan menarik memang menyita perhatian saya. Untuk menjadi selingan ditengah aktifitas ritual sebagai ibu, istri dan pengajar. Meski hanya perpustakaan komik yang kecil dan usang saya suka sekali mengunjunginya. Saya sering anggap itu sebuah petualangan mencari harta karun dan saya tidak usah mengeluarkan terlalu banyak uang untuk mendapatkan buku-buku unik dan bagus yang bisa saya temui. Saat saya menemukan perpustakaan baru…serasa saya mendapatkan augerah melebihi permata. Saat membaca buku bagus seolah saya bertemu dengan penulisnya. Bercakap-cakap dalam berbagai tanya yang memenuhi kepala saya. Atau terpana karena indah serta bagusnya tulisan yang dibuat oleh sang penulis. Itulah dunia yang menyenangkan. Saya bisa berkelana sampai kemanapun juga. Seolah saya lah yang mengadakan perjalanan tersebut.

Imajinasi saya berkelana mengikuti alur setiap buku yang saya baca. Dimana sebenarnya letak imajinasi? Apakah ia ada dalam pikiran atau ada dalam jiwa? Atau antara keduanya…ah…biarkanlah ia ada dimana. Tak penting itu menentukan imajinasi ada di sebelah mana atau masuk dalam kategori apa. Lepaskan saja…kalau masih memikirkan itu apa bedanya dengan seseorang yang masih memakai teralis modernism untuk melihat berbagai hal. Stop think just feel, can I? Hmmmm…I don’t think so

Ya malam ini baru saja saya menonton filem kartun yang diproduksi oleh Walt Disney. Filem tersebut berjudul “UP”. Filem keluaran tahun 2009 ini menceritakan tentang pengalaman seorang kakek tua bersama seorang anak mewujudkan mimpinya. Mimpi ini sebenarnya sebuah mimpi yang dibangun kakek Frederickson dengan Istrinya Ellie. Sebuah mimpi yang telah menyatukan mereka berdua dalam sebuah pernikahan yang romantis meski tanpa kehadiran seorang anak. Namun ternyata Ellie lebih awal menemui Sang pencipta. Saat Ellie tak ada justru keinginan untuk mewujudkan mimpi itu semakin berkobar. Tanpa sengaja seorang anak terlibat dalam proses mengejar mimpi tersebut. Dengan balon gas yang jumlahnya ribuan, kakek tua ini menerbangkan rumahnya dan berpetualang mewujudkan mimpinya dengan perjuangan yang berat.

Namun ternyata ada yang lebih berharga dari sekedar mewujudkan mimpi pribadi kakek Frederickson dan Ellie istrinya. Hal tersebut adalah menyelamatkan persahabatan dan nyawa teman yang terancam. Kakek Frederickson telah memutuskan sebuah keputusan terbaik. Sebuah keputusan mulia. Ya…filem ini sangat bagus ditonton anak-anak. Besok aku akan menemani kedua anakku menonton filem ini betapa karena mengejar sebuah mimpi, seseorang yang tua…sakit-sakitan bisa melakukan berbagai hal yang mungkin tidak masuk nalar sehat. Apalagi seseorang yang masih sangat muda tentunya peluangnya akan lebih besar kalau mereka memiliki pola piker yang positif dan baik.

Senin, 08 Februari 2010

Mengawali Semester Genap

Baru kali ini dapat jadwal ngajar yang menyenangkan di UIN. Selama satu semester ini cuma dikasih satu kelas. Satu kelas yang saya ajar ini mahasiwanya cuma 1 orang. Ai Rosmiati nama mahasiswa yang akan saya ajar semesteri ini. Seorang mahasiswi aqidah filsafat yang kritis, cerdas tapi pemalas. Saya pernah mengajarnya selama setahun lalu. Sepertinya saya harus memikirkan cara yang kreatif agar perkuliahan dengannya menyenangkan dan bisa membuat saya dan dia bersemangat belajar bersama meski hanya berdua. Hmm...thanks God...saya bisa konsen sekolah dan keluarga.

Minggu, 07 Februari 2010

Semangat Baru

Kemarin baru saja mimi mengikuti sebuah pelatihan motivasi Man Jadda Wajada dengan Motivator Akbar Zainudin. Pelatihan ini cukup men-charge mimi untuk lebih konsisten lagi mengisi dan menjalani Action Power yang setahun ini sudah dijalankan.

Mimi kembali membuka buku mimpi yang sudah dituliskan 4 tahun lalu untuk dilihat dan diperbaharui lagi menuju mimpi selanjutnya. Kembali mengecek resolusi untuk tahun ini...juga menuliskan action power perbulan untuk mencapai resolusi tersebut.

Saat ini mimi kembali bersemangat untuk melakukan muhasabah sebelum tidur untuk menuliskan Action power esok hari. Agenda yang tersusun rapi setidaknya bisa membuat sifat pelupa mimi berkurang.

Bismilah ya Allah...Man Jadda Wajada

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...