Minggu, 18 April 2010

Minggu pagi

Minggu pagi menikmati secangkir capucino panas yang sudah saya tambahi susu bubuk instan dan coklat van houten. Rasa capucino ini sangat mantap. Capucino hotel bintang lima pun sulit menyaingi minuman buatan saya ini. Kali ini saya bingung harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang mana. Cucian menumpuk, piring kotor berserakan, rumah juga berantakan. Suasana hati yang belum membaik mungkin karena pikiran saya yang ngejlimet tak karuan. Pokok pangkalnya adalah keyakinan yang agak goyah dan mempertanyakan segala hal yang selama ini terlihat baik-baik saja.

Sakit perut…ke kamar mandi dulu ah…terus sholat dhuha dan berdoa pada yang membuat hati ini agar diberikan petunjuk dalam menjalani hidup. Sebelum sholat ada baiknya saya menyapu dan membereskan yang berantakan sambil menyalakan mesin cuci. Ya sekarang…sholat dulu.

Setelah sholat kembali duduk di depan monitor dan kembali mengisi catatan harian. Uh…andai hidup ini cukup hitam dan putih. Mungkin kebingungan ini tak kan menyapa ku. Cukup memilih putih yang aman yang bersih dan yang lurus, mudah bukan? Putih sangat berbeda dengan hitam. Garis demarkasi antar mereka mudah terlihat. Seperti baju-baju yang saya pakai saat kuliah s1 dulu. Cukup 2 warna putih dan hitam.

Saat ini mau tidak mau kedewasaan menyapa saya. Meski sebenarnya terserah saya mau menyambutnya atau tidak. Warna-warni melambaikan….(anak perempuan saya menginterupsi dengan kejailannya memeluk dan menarik-narik daster….ya sudah…main dulu) sensasinya. Spektrum warna warni terpancar begitu saja mejikuhibiniu berpendar…kilauannya menyilaukan mata. Saya ternyata boleh memilih lebih dari satu warna, bahkan semua warna pun boleh. Siapa yang akan melarang? Karena ternyata batasan itu hanya ada di kepala yang terindoktrinasi di hati dan langkah. Ya…siapapun tak kan berani memasuki akal budi saya. Perintah…ancaman… hukuman tak kan berhasil mengkrangkeng akal budi untuk terus bekerja. Bahkan terkadang saat fisik seseorang terkrangeng justru saat itu akal budi mengalir deras menghasikan karya yang brilian.

Saat ini saya suka memakai pakaian dengan aneka warna. Mulai dari warna yang soft sampai yang ngejreng. Saya perhatikan respon sekeliling dan suasana hati saat memakai warna tertentu. Ternyata effek warna tersebut ada dan nyata. Saya seringkali merasa semangat dan bergairah saat memakai baju merah meski awalnya agak sedih. Memakai warna oranye pun kadang membuat saya merasa memiliki energy tambahan dan merasa seperti matahari yang bersinar. Kalau warna pink membuat saya merasa awet muda dan girly, sehingga dalam beberapa event orang tak ada yang mengira bahwa saya seorang ibu dari 2 putri. Saya suka bermain dengan warna. Bagaimana dengan warna kehidupan saya? Masihkah hitam putih?

Saya teringat pada sebuah prisma yang putih bening. Prisma tersebur bila dipancarkan cahaya kearahnya akan membiaskan gradasi warna pelangi yang indah. Ya saya tak ingin beranjak dari putih. Namun putih yang saya pilih adalah putih yang bisa membiaskan berbagai macam warna yang indah. Bukan sekedar putih. Untuk itu saya membutuhkan cahaya. Cahaya di atas cahaya.

Senin, 05 April 2010

Embun KKN 2010

Pagi ini seperti biasa udara sejuk menyapa kota tempat tinggal saya. Kesejukan kota ini memang sudah terkenal sejak dahulu. Meski sudah tak sedingin seperti 13 tahun yang lalu saat saya pertama kali menginjakan kaki, namun tetap saja udaranya lebih sejuk dari kota lain yang pernah saya tinggali. Kesejukan udaranya terasa memasuki hati, semua ini karena keramahan dan kebaikan para penghuninya. Bandung memang kota impian semenjak saya kecil. Mimpi itu sedikit demi sedikit sedang saya wujudkan di sini.

Setelah mengantarkan kedua anak saya bersekolah, saya memacu sepeda motor menuju kampus tempat mengajar. Beberapa panggilan telefon tak sempat saya angkat menemani perjalanan. Sampai di fakultas tempat saya mengajar, saya disambut senyum manis dan tatap mata ceria seorang mahasiswa yang hendak bertemu. Bagi saya, dia merupakan mahasiswa yang istimewa. Darinya pagi ini sebuah semangat mengaliri tubuh dan menyejukan hati.

Dindin Saepudin nama mahasiswa itu. Komunikasi dan Penyiaran Islam merupakan jurusan yang ia tekuni selama hampir empat tahun ini. Dia adalah mahasiswa KKN yang saya bimbing tahun ini. Sepasang kruk kayu menjadi penyangga setia tubuhnya. Kedua kakinya mengecil akibat polio semenjak ia bayi. Namun kondisi ini tak menyurutkannya mengikuti semua proses pembelajaran termasuk KKN tahun ini.

Kali ini merupakan kali terakhir saya bertemu dengannya setelah rangkaian program KKN dijalankan. Karena keterbatasan fisiknya dia tak dapat berangkat menuju tempat KKN yang ditentukan kampus. Tahun ini, Bogor Timur dan Garut Selatan menjadi tempat lokasi KKN yang mengusung tema “Mengabdi dan Memberi Solusi dengan Gerakan Pembangunan Berbasis Lingkungan Masjid”. Dindin mendapatkan dispensasi yang istimewa dengan tetap menjalankan KKN dilingkungan tempat tinggalnya yaitu di Kelurahan Antapani Kidul Kota Bandung khususnya di mesjid at-Taqwa.

Hal yang membuat saya terkesan adalah bagaimana buku laporan harian ia tulis dengan terperinci dan menggambarkan jelas apa yang telah dia lakukan selama sebulan ini. Dari catatan harian KKN nya saya diajak melihat bagaimana kondisi tempat tinggal dan bagaimana seseorang yang memiliki keterbatasan fisik ternyata mampu melakukan apa yang mungkin sulit bagi seorang yang normal sekalipun.

Catatan harian itu mengisahkan kepada saya bagaimana ia mencoba untuk berbaur dengan jamaah masjid mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu serta bapak-bapak. Mengajar anak-anak yang lincah dan menguras energi, pertanyaan remaja yang kritis, ibu-ibu yang meminta agar dia memberikan tausiah dan bapak-bapak yang juga mengharapkan terus kehadirannya di masjid. Kelelahan ia tuliskan dengan jelas dalam catatannya, namun semangat yang dimilikinya terus berkobar karena merasa hidupnya bermakna. Semangatnya terus tumbuh saat melihat tatap bening bola mata anak-anak TPA. Membuat keterbatasan fisik bukanlah apa-apa.

Semua itu terangkai dalam perjalanan KKN yang ia lakukan seorang diri. Yang paling membuat saya terkesan adalah ternyata selama ini dia sudah tidak bergantung secara materi kepada orang tuanya. Semua biaya kuliah dan hidup ia usahkan sendiri. Meski kedua kakinya tak bisa menyagga tubuhnya namun bagi saya ialah manusia yang bisa berdiri sendiri dengan kedua kaki kesungguhan yang dimilikinya. Dari dindin saya belajar bahwa fisik atau hal material bukanlah hal utama dalam menempuh perjalanan hidup.
Blue Diamond 17 Maret 2010

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...