Senin, 17 Mei 2010

Dimanakah Kepercayaan?

Sore ini menjelang menjemput anak-anak pulang sekolah saya memasak nasi uduk. Kakap krispy sudah tersedia sejak tadi siang. Soto ayam panas melengkapi kami menutup hari senin. Malam ini saya hanya bersama anak-anak di rumah. Suami sudah dua hari berangkat ke Jogjakarta memandu mahasiswanya. Kenapa saya merasa tak karuan ditinggal beberapa hari ini? Apa karena keluar kotanya bersama mahasiswa? Tapi kan mereka dua bis jadi saya seharusnya tenang. Ya, saya percaya dengannya. Dia pun percaya saya sanggup memegang amanah menjadi istri dan ibu buat anak-anaknya. Kepercayaan telah mengikatkan kami setidaknya selama 9 tahun ini. Bagaimana sebenarnya kondisi kepercayaan dikalangan muslimin saat ini?

Kepercayaaan menurut saya merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan apapun. Tapi anehnya pikiran saya ini terbantahkan begitu saja oleh sebuah survey yang dilakukan oleh Inglehart dan diteruskan oleh Syaiful Mujani. Inglehart (1999) menunjukan hal yang menarik berkaitan dengan kepercayaan antar satu individu dengan individu lainnya. World Value Survey menunjukan bahwa kurang dari 2 orang dari 10 penduduk Negara muslim percaya kepada orang lain pada umumnya. Ini menunjukan bahwa betapa rendahnya kepercayaan yang dimiliki oleh setiap muslim saat ini. Survey ini dilakukan di Turki, Bangladesh, Azerbaijan dan Nigeria

Pertanyaan dalam World Value Survey tersebut kemudian diajukan kepada kaum muslimin Indonesia melalui survey pada tahun 2001 dan 2002. Persentasenya ternyata hampir sama. Hanya sekitar satu dari 10 muslim Indonesia yang percaya pada orang lain pada umumnya. Ini temuan Syaiful Mujani dalam rangka menyelesaikan disertasinya di Ohio Amerika. Sedemikian rendahkah saling percaya antar sesama muslim di negri ini? Bahkan lebih rendah dari rata-rata Negara muslim lainya.. Menurut Syaiful rendahnya saling percaya ini tidak hanya diakibatkan oleh factor Islam saja. Melainkan factor lain terutama factor social dan politik yang semakin menurun drastis. Kerusuhan, tindak criminal, kekerasan dan terror dalam skala luas seringkali menghiasi berita di media massa nasional kita. Keamana individu terancam. Kesalahpahaman banyak yang berujung hilangnya nyawa. Pencuri yang tertangkap basah seringkali mengundang respon brutal dari massa. Tidak jarang pencuri tersebut mati di tangan massa.

Saya membenarkan pengamatan yang dilakukan Saiful di sebuah desa di Provinsi Banten yang cenderung memperkuat asumsi tentang meningkatnya kondisi tidak aman ini. Pengamatan Syaiful ini sama persis dengan pengalaman yang terjadi di kampong halaman nenek saya di sebuah desa di Banten Selatan. Kami seringkali tidak jadi memanen hasil kebun dan ladang karena sudah dicuri orang duluan. Kami tidak dapat melindungi hak milik kami. Sehingga solusinya pada ahirnya dengan mengorganisasikan pasukan keamanan sendiri karena tidak ada perlindungan efektif dari pihak kepolisian.

Tindakan criminal meningkat karena kesulitan ekonomi. Orang-orang merasa lebih tidak aman dan tidak saling percaya, bahkan kepada tetangga mereka sekalipun. Keadaan ini menurut Syaiful mengingatkan kita pada studi hasil Banfield tentang masyarakat Italia. Ia menemukan bahwa “seseorang akan merasa lebih aman untuk percaya kepada orang lain jika ia memiliki keleluasaan secara ekonomi. Di bawah kondisi kemiskinan yang luar biasa, salah percaya pada orang lain bisa berakibat fatal” (inglehart, 1999:89). Lagi-lagi ekonomi yang rendah selalu menjadi pemicu berbagai keburukan. Tepat rasanya Rasulullah berkata bahwa kefakiran (kondisi sangat miskin) sangat dekat dengan kekufuran.

Kemiskinan sejatinya tidak mejadi penghalang seseorang untuk saling mempercayai demikian pula dengan kecukupan. Banyak cerita yang kita dengar tentang orang miskin yang bisa saling mempercayai dan orang berkecukupan yang juga saling mempercayai, juga cerita sebaliknya. Ini menunjukan bahwa keduanya hanyalah kondisi material yang merupakan pelengkap bukan subtansi. Namun bagaimana dengan fakta-fakta yang dikemukakan oleh Inglehart, Syaiful atau yang teralami di kampong halaman? Kondisi ini justru memperlihatkan bahwa apabila kepercayaan sudah menjadi barang langka maka kondisi tidak amanlah yang terjadi. Karenanya menurut saya membangun kepercayaan sangat penting dalam sebuah hubungan apapun. Apakah itu dalam keluarga, institusi, organisasi dan masyarakat pada umumnya. Untuk membangunnya banyak PR yang harus kita selesaian bersama. PR yang sangat penting adalah membangun mental positif yang terlahir dari keyakinan positif sebagai dasar utamanya. Mari!!!

Minggu, 09 Mei 2010

Jerat Filsafat

Kembali ke laptop…tak hanya identik dengan si Tukul. Kata-kata itu juga menjadi rutinitas dalam keseharian hidup saya. Mulai dari bangun tidur, kuliah, ngajar, nonton bahkan menjelang tidur. Benda ini saat ini menjadi teman dekat yang tanpa kehadirannya membuat hari ini seolah tak berarti. Menulis sambil diiringi lagu Agnes monica berjudul Awan dan Ombak…indah banget…malem ini pengennya sih nulis tugas pak bambang. Mood saya lagi bagus nih. Anak-anak juga ada yang jagain. Mudah-mudahan malam ini bisa efektif. Loh…loh…diiringi lagu kok malah nyanyi bukan nulis, saya malah pengen dengerin setiap lagu sebenarnya bercerita tentang apa? Kok jadi melo…? Huh…kalo gini ceritanya sih musti di matiin tapi ntar aja deh…kalo anak-anak emang udah tidur beneran.

Sebelum ngonsep dan baca beneran saya pengen merenungkan kejadian hari ini. Hari ini perisiwa yang sangat membahagiakan terjadi. Saya kembali bertemu dengan sahabat saya di pondok pesantren dulu. Ternyata kami sidang skripsi di bulan yang sama, wisuda di bulan yang sama dan nikah di bulan yang sama he he he. Nama kami hampir sama saya Hannah dia anah…secara fisik juga katanya kami gak terlalu jauh berbeda. Sehingga seringkali para ustadz dulu ketuker kalo berurusan dengan kami berdua. Selain persamaan nama dan fisik, juga prestasi kami hampir sama. Kami selalu cepat dan duluan dalam menghafal qur’an dan nadzam dibanding yang lain. Indah sekali waktu yang pernah kami lalui. Selama di pondok selama itu pula saya sekamar terus dengan dia. Kalau orang lain selalu berpindah kamar. Khusus untuk saya dan dia kami selalu bersama.

Pada ahirnya dia merasa sedikit gerah karena selalu disamakan dan dikaitkan terus dengan saya. Demikian pula halnya dengan saya yang kadang bête diidentikkan dengan dia. Kelas 6 kami memutuskan untuk berpisah. Dia mengambil jurusan IPS, saya mengambil jurusan IPA. Sebenarnya saya juga ingin sekali mengambil jurusan IPS, karena saya sangat suka dengan pelajaran sosiologi dan sejarah. Tapi demi harga diri kami masing-masing kami mencoba melakukan pilihan yang berbeda. Meski demikian kami tetap tinggal di kamar yang sama. Hmm indahnya masa yang telah lalu. 13 tahun bukan waktu yang sebentar banyak hal sudah terjadi dengannya dan juga dengan diri saya. Semoga persahabatan kami tetap abadi.

Benar saja bila kita menyukai sesuatu maka kita akan bersemangat menghadapinya. Segala rintangan akan dihadapi. Energy yang dimiliki senantiasa terisi penuh dan semua hal akan menyenangkan. Sebaliknya bila dari awal kita sudah merasa tak nyaman maka hasil yang diinginkan pun biasanya tak nyaman. Itulah mungkin ahir perjalanan saya di pondok. Saya memaksakan diri masuk ke kelas IPA, meski kecenderungan saya adalah ilmu social. Tidak terlalu buruk, saya tetap masuk jajaran 10 besar, bahkan di akhir di raport depag, saya meraih peringkat pertama. Tetap saja itu bukan diri saya. Saya melakukan belajar mati-matian bukan karena suka, tapi karena orang tua.

Ya saya merasa bersyukur pada akhirnya bisa kuliah di jurusan yang saya sukai dan disini saya selalu merasa bersemangat mengetahui dan membaca hal-hal baru.
Jurusan yang saya masuki adalah aqidah filsafat. Jurusan yang dari dulu jarang diminati oleh kaum saya. Sehingga saya dan teman-teman perempuan seringkali merasa istimewa karena selalu diperhatikan dan didahulukan. Kenapa saya memasuki jurusan ini? Dulu di pondok saya sangat suka membaca. Perpustakaan selalu jadi tempat pavorit saya. Selain itu saya juga suka berdiskusi atau melihat santri putra melakukan proses bahsul masail. Mengkaji sebuah masalah dengan membawa kitab sebanyak-banyaknya. Siapapun yang paling banyak referensinya dialah yang akan menguasai forum dan bisa menentukan kesimpulan terhadap permasalahan tersebut. Saya juga sangat suka mendengarkan ustad –ustad muda yang baru pulang dari kairo, dimana gagasannya selalu baru dan menarik hati saya. salah satunya adalah Ustadz Tohirin yang mengenalkan kepada saya sosok Hassan Hanafi sehingga saat itu pemikirannya sempat menari-nari di kepala. Buku dunia shopie juga sempat memukau saya…sehingga bertanya apa itu filsafat?

Saat liburan pondok, biasanya saya menghabiskan liburan di Bandung. Di kostan sepupu saya yang kuliah di jurusan sastra Indonesia. Saat itu juga saya berkenalan dengan Nawal el-Sadawi dengan novel-novelnya. Lagi-lagi saya merasa terpukau tercengang. Betapa menariknya membaca tulisan dan pemikiran seseorang yang unik dan tak biasa dengan dunia yang saya hadapi saat itu. Selain itu juga saya melahap habis buku-buku sepupu saya yang senang mengoleksi karya said hawwa, sayid qutub, abul a’la al-maududi, Muhammad qutub dan beberapa karya lain yang pada ahirnya saya ketahui mereka di kategorikan sebagai para pemikir fundamentalis.

Saat daftar di IAIN Bandung, saya terpukau dengan sebuah nama jurusan yaitu “aqidah dan filsafat” wah saya fikir sepertinya akan asik kuliah di jurusan ini, seasik saya membaca buku dunia shopie dan membaca perjuangan-perjuangan ihwanul muslimin yang menuntut aqidah yang kuat. Pikiran naïf saya saat itu berkata demikian. Dengan mantap saya memilih jurusan ini sebagai pilihan pertama. Tak salah rupanya saya memilih jurusan ini. Di sini saya menemukan diri saya, meski derai tangis ibu sempat memecah kesungguhan untuk terus bertahan kuliah di jurusan ini. Masih teringat saat itu di angkot jurusan leuwi panjang, ibu meminta saya keluar dari jurusan ini dan menyarankan masuk jurusan bahasa Inggris karena anak sahabatnya sempat tidak sholat dan tak suka mandi. Ia berkata “mumpung baru semester dua, ikut lagi aja test masuk, ambil jurusan bahasa inggris, masa depannya lebih cerah, kamu perempuan lebih baik seperti ibu jadi guru, kalau jurusan aqidah filsafat mau jadi apa? Gak jelas”, saya hanya terdiam tak berkata apa-apa. Ibu saya sampai berulangkali mengulang perkataan yang sama. Saat itu dengan lirih saya berkata ”saya mau seperti ibu mengajar…tapi bukan jadi guru melainkan jadi dosen”. Saya tak meneruskan dengan perkataan apapun. Saya hanya terus terdiam sementara ibu berbicara panjang lebar.

Saya merasa betah di jurusan ini. Membaca hal yang unik, aneh dan absurd kerap menambah asiknya berlama-lama tinggal di sini. Meski sempat terluka hebat oleh tajamnya filsafat, lagi-lagi magnet nya sangat kuat meraih saya untuk tetap tinggal di sini. Bukan berarti saya tidak sempat melarikan diri. Saya sempat melarikan diri masuk ke dunia tasawuf…lagi-lagi saya bertemu dengan tasawuf falsafi dan kembali menyeret saya ketengah pusaran filsafat dan sampai saat ini tak bisa keluar dari jeratnya. Karena teryata hidup saya juga sebuah catatan filsafat.

Senin, 03 Mei 2010

Ibu Gurita

Masih belum beranjak dari kasur. Setelah sebelumnya berjibaku menyiapkan anak-anak untuk sekolah dan sarapan bersama. Setiap hari sekolah rutinitas inilah yang kujalani. Bangun paling pagi, langsung ke dapur, memeriksa air minum, makan buat hari ini, pakaian yang dipakai semua anggota keluarga, pergi ke warung sayuran, memasak, mencuci, memandikan, menyapu, beres-beres…wih andai tangan saya seperi gurita mungin banyak hal secara bersamaan bisa saya lakukan. Saat ini, saat semua rutinitas itu berlalu, saya terpaku pada layar monitor berfikir ulang apa yang telah saya lakukan? Apa yang telah saya rasakan ? untuk apa semua hal tersebut?

Ibu rumah tangga yang kadang mengajar memang sudah jadi pilihan hidup saya. Bersyukurnya saya tidak seperti ibu saya seorang guru SD yang tiap hari pergi ke sekolah. Saya teringat bahwa rutinitas yang saya jalani selama ini mirip apa yang terjadi dahulu saat saya kecil. Ibu saya yang cekatan membereskan semua hal sendiri tanpa bantuan siapapun, termasuk ayah saya. Biasanya ayah saya cuma tau beres dan konsen dengan pekerjaannya. Begitu juga dengan saya. Saya tak pernah melihat ibu mengeluh. Tidak seperti saya saat ini yang selalu meminta pengertian suami untuk membantu dan agar anak saya juga mandiri mengerjakan keperluannya. Tapi saya bukan mengeluh, justru untuk kebaikan hubungan kami sekeluarga.

Saya pada dasarnya memang meneruskan pola yang selama ini ibu saya jalankan. Hanya mungkin dalam bentuk yang berbeda. Betapa dahulu saya tidak terlalu dibebani oleh pekerjaan rumah. Ibu saya tidak berani menganggu saya yang sedang membaca atau sedang asik menulis di kamar. Padahal yang saya baca mungkin hanya majalah bobo, novel wiro sableng, sapta siaga, pasukan mau tau, tin-tin atau bacaan lain yang saya sukai lainnya. Nah saya tidak ingin anak saya seperti saya. Mereka harus tau waktu kapan membaca buku kapan bertanggung jawab membereskan segala hal yang telah mereka lakukan. Tapi saya juga saat ini masih memiliki pola yang sama. Membaca kapan saja, di mana saja, tak peduli rumah masih berantakan kalau saya penasaran dengan sebuah buku maka buku itulah yang terpenting buat saya. Tapi saya tetap bertanggung jawab dengan apa yang saya lakukan. Kenapa pula saya bawel mengatur-ngatur anak saya? ya…ya sudahlah saya ikut saja pola yang sudah ibu saya jalani.

Menjadi seorang ibu di satu sisi memang menyenangkan. Saya bisa membuat aturan main buat semua anggota keluarga. Saat ini anak-anak saya hampir tidak pernah menonton TV. Mereka lebih suka menggambar, membuat cerita, menggunting kertas-kertas yang ada dirumah dan bermain sepeda bersama temannya. Kalaupun mereka mau menonton, maka itu hanya bisa dilakukan di ahir pekan dengan CD yang mereka pilih sendiri.

Entah konsep seperti apa yang saya jalankan untuk mendidik anak-anak saya. Namun yang terpenting bagi saya adalah pendidikan agama. Sehingga dalam urusan shalat dan mengaji tak ada kata tidak. Namun untuk urusan sekolah saya belum terlalu konsen membimbing isyqi dan ain mempelajari berbagai mata pelajaran. Karena konsep sekolah dasar yang anak saya masuki sangat berbeda dengan konsep sekolah konvensional. Anak saya tidak pernah dibebani mengerjakan PR. Mereka belajar dengan bermain. Anak saya belajar matematika bukan karena saya yang mengajaknya untuk belajar, tapi karena keinginan dia sendiri yang sedih karena kehabisan waktu mengisi soal padahal dia sangat ingin menyelesaikannya. Sehingga dia meminta saya mengajarkannya dan melatih agar bisa cepat mengerjakan soal. Ya semoga belajar dalam benaknya adalah hal yang menyenangkan sehingga dia tetap suka belajar sampai ahir hayatnya.

Eh…mungkin itu jawaban kenapa selama ini saya pun sangat suka belajar. Mungkin karena ibu saya tidak pernah melarang, mengganggu atau membebani saya saat saya membaca. Meskipun ibu saya tau yang saya baca bukan pelajaran melainkan buku cerita. Namun dia berkeyakinan kalau saya sering membaca apapun itu dan merasa itu adalah sesuatu yang menyenangkan, maka saya akan menyukai aktifitas itu meski buku yang dibaca merupakan buku yang berat. Ya semoga saja saya bisa melanjutkan pola positif yang telah ia tanamkan.

Apa yang saat ini saya rasakan dengan berbagai aktifitas dan rutinitas yang dijalani? Saya merasa menikmatinya. Setiap saat saya mengamini bahwa disinilah peran saya harus saya jalankan. Dan saat menjalankan berbagai peran bukan berarti diri saya hilang. Saya justru ada saat berada di dunia rumah tangga yang real. Di sini saya menemukan diri saya. Ya seperti apapun pasangan hidup saya, seperti apapun anak-anak saya. Saya tetaplah saya. Yang memiliki kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Hidup yang saya jalani ini merupakan sebuah pilihan sadar. Sebuah pilihan yang harus dihadapi berbagai konsekuensinya. Saat saya menikmati hidup ini maka berbagai macam rasa harus saya coba, pahit, getir, asam, manis semua menjadi satu dalam meningkatkan pengenalan terhadap diri.

Untuk apa? Tentunya sebagai bekal perjalanan abadi menghadap-Nya. Selain sebagai istri dan ibu, saya juga masih menjadi anak buat orang tua saya dan fungsi social lain yang menghubungkan saya denga dunia. Saya hadir tidak sekedar untuk keluarga kecil saya, melainkan juga untuk keluarga besar juga untuk manusia pada umumnya. Kalaulah hidup saya ini bisa bermakna dan memberikan warna yang indah dalam kehidupan ini maka semoga Allah memberikan usia yang berkualitas. Karena hidup lebih berharga dari pada mati, bila seseorang mengetahui untuk apa dia hidup. Ya…inilah yang membuat hidup saya lebih bermakna…jadi jangan takut hidup…hiduplah dengan menorehkan prestasi amal kebaikan.

Blue Diamond 3 Mei 2010

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...