Jerat Filsafat

2 Comments
Kembali ke laptop…tak hanya identik dengan si Tukul. Kata-kata itu juga menjadi rutinitas dalam keseharian hidup saya. Mulai dari bangun tidur, kuliah, ngajar, nonton bahkan menjelang tidur. Benda ini saat ini menjadi teman dekat yang tanpa kehadirannya membuat hari ini seolah tak berarti. Menulis sambil diiringi lagu Agnes monica berjudul Awan dan Ombak…indah banget…malem ini pengennya sih nulis tugas pak bambang. Mood saya lagi bagus nih. Anak-anak juga ada yang jagain. Mudah-mudahan malam ini bisa efektif. Loh…loh…diiringi lagu kok malah nyanyi bukan nulis, saya malah pengen dengerin setiap lagu sebenarnya bercerita tentang apa? Kok jadi melo…? Huh…kalo gini ceritanya sih musti di matiin tapi ntar aja deh…kalo anak-anak emang udah tidur beneran.

Sebelum ngonsep dan baca beneran saya pengen merenungkan kejadian hari ini. Hari ini perisiwa yang sangat membahagiakan terjadi. Saya kembali bertemu dengan sahabat saya di pondok pesantren dulu. Ternyata kami sidang skripsi di bulan yang sama, wisuda di bulan yang sama dan nikah di bulan yang sama he he he. Nama kami hampir sama saya Hannah dia anah…secara fisik juga katanya kami gak terlalu jauh berbeda. Sehingga seringkali para ustadz dulu ketuker kalo berurusan dengan kami berdua. Selain persamaan nama dan fisik, juga prestasi kami hampir sama. Kami selalu cepat dan duluan dalam menghafal qur’an dan nadzam dibanding yang lain. Indah sekali waktu yang pernah kami lalui. Selama di pondok selama itu pula saya sekamar terus dengan dia. Kalau orang lain selalu berpindah kamar. Khusus untuk saya dan dia kami selalu bersama.

Pada ahirnya dia merasa sedikit gerah karena selalu disamakan dan dikaitkan terus dengan saya. Demikian pula halnya dengan saya yang kadang bête diidentikkan dengan dia. Kelas 6 kami memutuskan untuk berpisah. Dia mengambil jurusan IPS, saya mengambil jurusan IPA. Sebenarnya saya juga ingin sekali mengambil jurusan IPS, karena saya sangat suka dengan pelajaran sosiologi dan sejarah. Tapi demi harga diri kami masing-masing kami mencoba melakukan pilihan yang berbeda. Meski demikian kami tetap tinggal di kamar yang sama. Hmm indahnya masa yang telah lalu. 13 tahun bukan waktu yang sebentar banyak hal sudah terjadi dengannya dan juga dengan diri saya. Semoga persahabatan kami tetap abadi.

Benar saja bila kita menyukai sesuatu maka kita akan bersemangat menghadapinya. Segala rintangan akan dihadapi. Energy yang dimiliki senantiasa terisi penuh dan semua hal akan menyenangkan. Sebaliknya bila dari awal kita sudah merasa tak nyaman maka hasil yang diinginkan pun biasanya tak nyaman. Itulah mungkin ahir perjalanan saya di pondok. Saya memaksakan diri masuk ke kelas IPA, meski kecenderungan saya adalah ilmu social. Tidak terlalu buruk, saya tetap masuk jajaran 10 besar, bahkan di akhir di raport depag, saya meraih peringkat pertama. Tetap saja itu bukan diri saya. Saya melakukan belajar mati-matian bukan karena suka, tapi karena orang tua.

Ya saya merasa bersyukur pada akhirnya bisa kuliah di jurusan yang saya sukai dan disini saya selalu merasa bersemangat mengetahui dan membaca hal-hal baru.
Jurusan yang saya masuki adalah aqidah filsafat. Jurusan yang dari dulu jarang diminati oleh kaum saya. Sehingga saya dan teman-teman perempuan seringkali merasa istimewa karena selalu diperhatikan dan didahulukan. Kenapa saya memasuki jurusan ini? Dulu di pondok saya sangat suka membaca. Perpustakaan selalu jadi tempat pavorit saya. Selain itu saya juga suka berdiskusi atau melihat santri putra melakukan proses bahsul masail. Mengkaji sebuah masalah dengan membawa kitab sebanyak-banyaknya. Siapapun yang paling banyak referensinya dialah yang akan menguasai forum dan bisa menentukan kesimpulan terhadap permasalahan tersebut. Saya juga sangat suka mendengarkan ustad –ustad muda yang baru pulang dari kairo, dimana gagasannya selalu baru dan menarik hati saya. salah satunya adalah Ustadz Tohirin yang mengenalkan kepada saya sosok Hassan Hanafi sehingga saat itu pemikirannya sempat menari-nari di kepala. Buku dunia shopie juga sempat memukau saya…sehingga bertanya apa itu filsafat?

Saat liburan pondok, biasanya saya menghabiskan liburan di Bandung. Di kostan sepupu saya yang kuliah di jurusan sastra Indonesia. Saat itu juga saya berkenalan dengan Nawal el-Sadawi dengan novel-novelnya. Lagi-lagi saya merasa terpukau tercengang. Betapa menariknya membaca tulisan dan pemikiran seseorang yang unik dan tak biasa dengan dunia yang saya hadapi saat itu. Selain itu juga saya melahap habis buku-buku sepupu saya yang senang mengoleksi karya said hawwa, sayid qutub, abul a’la al-maududi, Muhammad qutub dan beberapa karya lain yang pada ahirnya saya ketahui mereka di kategorikan sebagai para pemikir fundamentalis.

Saat daftar di IAIN Bandung, saya terpukau dengan sebuah nama jurusan yaitu “aqidah dan filsafat” wah saya fikir sepertinya akan asik kuliah di jurusan ini, seasik saya membaca buku dunia shopie dan membaca perjuangan-perjuangan ihwanul muslimin yang menuntut aqidah yang kuat. Pikiran naïf saya saat itu berkata demikian. Dengan mantap saya memilih jurusan ini sebagai pilihan pertama. Tak salah rupanya saya memilih jurusan ini. Di sini saya menemukan diri saya, meski derai tangis ibu sempat memecah kesungguhan untuk terus bertahan kuliah di jurusan ini. Masih teringat saat itu di angkot jurusan leuwi panjang, ibu meminta saya keluar dari jurusan ini dan menyarankan masuk jurusan bahasa Inggris karena anak sahabatnya sempat tidak sholat dan tak suka mandi. Ia berkata “mumpung baru semester dua, ikut lagi aja test masuk, ambil jurusan bahasa inggris, masa depannya lebih cerah, kamu perempuan lebih baik seperti ibu jadi guru, kalau jurusan aqidah filsafat mau jadi apa? Gak jelas”, saya hanya terdiam tak berkata apa-apa. Ibu saya sampai berulangkali mengulang perkataan yang sama. Saat itu dengan lirih saya berkata ”saya mau seperti ibu mengajar…tapi bukan jadi guru melainkan jadi dosen”. Saya tak meneruskan dengan perkataan apapun. Saya hanya terus terdiam sementara ibu berbicara panjang lebar.

Saya merasa betah di jurusan ini. Membaca hal yang unik, aneh dan absurd kerap menambah asiknya berlama-lama tinggal di sini. Meski sempat terluka hebat oleh tajamnya filsafat, lagi-lagi magnet nya sangat kuat meraih saya untuk tetap tinggal di sini. Bukan berarti saya tidak sempat melarikan diri. Saya sempat melarikan diri masuk ke dunia tasawuf…lagi-lagi saya bertemu dengan tasawuf falsafi dan kembali menyeret saya ketengah pusaran filsafat dan sampai saat ini tak bisa keluar dari jeratnya. Karena teryata hidup saya juga sebuah catatan filsafat.


You may also like

2 komentar:

  1. Waw...aku salut sama mba. aku jg sempet mengalami hal kyk mba. ditentang untuk melakukan hal yg menjadi pilihan kita... tapi aku terlalu takut untuk tidak 'sepakat'.hehe..


    salam kenal..

    BalasHapus
  2. Salam kenal juga...maaf baru nyadar ternyata ada yang kasih komen he he. Melakukan sesuatu yang disepakati atau tidak dengan orang lain tetap membutuhkan tanggungjawab. Kesungguhan bertanggung jawab muncul optimal kalau itu memang keluar dari diri kita bukan yang lain.

    BalasHapus