Senin, 18 Oktober 2010

Perempuan Bekerja: Keluar dari ajaran Islam?

“Apakah ada dalil al-qur’annya yang memerintahkan seorang perempuan untuk bekerja? Tolong sebutkan! Saya rasa tidak ada, jadi jangankan wajib, sunnah pun tidak. Jadi untuk apa seorang perempuan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh-Nya. Malah karena perempuan bekerja banyak kekacauan-kekacuan yang terjadi di masyarakat”. Pertanyaan yang berisi sanggahan ini dilontarkan oleh seorang peserta saat saya menjadi narasumber dalam sebuah diskusi mahasiswa. Pertanyaan dan sanggahan ini bukan yang pertamakali dia ajukan kepada saya. Pada kesempatan yang lain sekitar setengah tahun lalu ia mengajukan hal yang sama. Nampaknya jawaban yang telah saya berikan dahulu dianggap tidak menjawab pertanyaannya.

Jawaban atas pertanyaan yang berisi sanggahan yang pertama kali dilontarkan, saya jelaskan dengan singkat. Bahwa Rasulullah saw. menikah pertama kali dengan seorang perempuan yang bekerja yaitu Ibunda Khadijah. Apakah mungkin pilihan Rasulullah salah? Kalaulah seorang perempuan yang bekerja adalah keburukan tentu tidak akan mungkin Rasul memilih Ibunda Khadijah. Saya memaklumi kenapa hal tersebut muncul. Pertanyaan dan sanggahan di atas sebenarnya adalah gambaran dari banyaknya orang, mazhab, budaya dan hukum yang berkeyakinan bahwa yang bekerja (menafkahi/kepala keluarga) adalah laki-laki dan bukan perempuan. Mereka semua mengatakan bahwa ini adalah aturan normative. Ia berlaku dimana saja, kapan saja dan dalam keadaan bagaimanapun.

Dalam masyarakat Islam di mana saja ketentuan laki-laki/suami sebagai kepala rumah tangga yang menafkahi selalu merujuk kepada teks alquran dan hadis Nabi saw. Keduanya merupakan sumber utama dan paling otoritatif untuk menjadi dasar hukum pengaturan kehidupan manusia. Tak terkecuali dalam rumah tangga. Ayat Alquran yang membicarakan ketentuan ini sudah dikenal banyak orang yaitu surat an-Nisa ayat 34 yaitu:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (Q.S An-Nisa (4): 34)

Qawwam” ditafsirkan oleh sejumlah ahli tafsir terkenal seperti Zamakhsyari, Alusi dan Sa’id Hawa yang sepakat mengartikannya dengan “memimpin” atau ”menguasai”. Menurut penafsiran Zamakhsyari: “yaqumuna alaihinna amrina nahina kama yaqumu al-wulatu ‘ala ar-riaya, summu qawwaman lidzalik” (Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf ‘an Haqaiq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil , Beirut:Dar el Fikr, 1977 jilid 1:523) (kaum laki-laki berfungsi sebagai yang memerintah dan melarang kaum perempuan sebagaimana pemimpin berfungsi terhadap rakyatnya.) Dengan redaksi yang berbeda Alusi menyatakan hal yang sama : “ai sya’nuhum al-qiyamu ‘alaihinna qiyama al-wulati ‘ala ar-ra’yati bi al-amri wa an nahyi wa nahwi dzalik” (Al-Alusi: Ruh al-Maani fi Tafsir al-Quran an’Azhim wa as-Sab’I al-Matsani, t.t.p: Dar alFikr, t.t jilid 3:23) (maksudnya tugas kaum laki-laki adalah memimpin kaum perempuan sebagaimana pemimpin memimpin rakyatnya yaitu dengan perintah, larangan dan yang semacamnya…). Sedangkan Said Hawa menafsirkan redaksi yang persis sama dengan Zamakhsyari (Said Hawa, Al-Asas fi at-Tafsir Kairo: Dar as-Salam, cet II, 1989 jilid 2: 1053).

Selanjutnya Zamakhsyari menafsirkan bi ma fadhalallahu ba’dhahum ‘ala ba’dh wa bi ma anfaqu min amwalihim (oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka) menjelaskan dengan dua alasan. Pertama, kelebihan laki-laki itu ialah kelebihan akal, keteguhan hati, kemauan keras, kekuatan fisik, kemampuan menulis pada umumnya, naik kuda, memanah dll. Alasan Kedua karena laki-laki membayar mahar dan mengeluarkan nafkah keluarga. (Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf ‘an Haqaiq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil , Beirut:Dar el Fikr, 1977 jilid 1:523-4)

Jadi ayat di atas telah menyebutkan dua alasan mengapa laki-laki diberikan otoritas dan tanggung jawab atas perempuan dan keluarganya. Kedua alasan itu adalah kemampuan nalar dan fisik, kedua fungsi tanggung jawab financial.

Pertanyaanya adalah apakah kedua alasan tersebut merupakan factor-faktor kodrati, bawaan dan terberi begitu saja dari Tuhan? Sehingga tidak bisa berubah atau diubah? Hal ini tentu saja berbeda dengan fakta perkembangan sosial yang ada dan yang selalu berubah dari zaman ke zaman dan dari satu tempat ketempat yang lain. Saat ini semakin banyak kepermukaan bahwa perempuan memiliki tingkat kecerdasan dan kekuatan yang setara dengan laki-laki. Betapa tidak sedikit perempuan berprestasi dalam banyak aspek kehidupan.

Fakta bahwa perempuan memiliki kecerdasan yang setara atau melebihi laki-laki sudah ditemukan saat zaman Nabi. Kaum muslimin sedunia tentu mengetahui sabda nabi saw. bahwa Aisyah adalah perempuan paling cerdas dan ulama terkenal: “Kanat ‘Aisyah a’lam al Nas wa afqah wa ahsan al Nas Ra’yan fi al ‘Ammah” . Al-Dzahabi, pakar hadis terkemuka juga menginformasikan bahwa lebih dari 160 ulama laki-laki terkemuka berguru pada siti ‘Aisyah. Selain siti ‘Aisyah tercatat lebih dari 1200 sahabat perempuan tercantum sebagai perempuan yang meriwayatkan hadis dan memiliki kedudukan yang penting dalam khasanah intelektual Islam. (Ruth Roded, Kembang Peradaban, Bandung:Mizan, 1995:44)

Semua fakta di atas menunjukan bahwa factor kecerdasan, nalar, kedalaman ilmu pengetahuan, keberanian, ketabahan mental, emosionalitas dan sebagainya baik laki-laki maupun perempuan adalah sesuatu yang relative belaka, bisa diusahakan dan dipelajari dan dipertukarkan satu sama lain. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa memimpin komunitas dan lembaga apa pun jenisnya. Pendeknya apa yang dipikirkan dan dikerjakan laki-laki bisa pula dipikirkan dan dikerjakan perempuan. Ini merupakan kenyataan yang dapat kita saksikan bersama di mana-mana di dunia ini.

Demikian juga soal nafkah. Kerja untuk mencari nafkah dan menafkahi tidak khas laki-laki. Tidak dapat diingkari siapa pun bahwa perempuan juga bisa mencari nafkah dan menafkahi. Kenyataannya hari ini justru memperlihatkan betapa banyak perempuan yang mencari nafkah dan menafkahi keluarganya, termasuk untuk suaminya sendiri. Bahkan sampai ke luar negeri. Di pasar-pasar tradisional lebih banyak perempuan dari laki-laki. Data yang dikemukakan oleh PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) bahwa data Susenas Indonesia tahun 2007 menunjukan bahwa jumlah rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan mencapai 13,60 % atau sekitar 6 juta rumah tangga yang mencakup lebih dari 30 juta penduduk. (http://www.pekka.or.id/8/index.php?lang=in diakses pada tanggal 17 Oktober 2010 pukul 21.30 WIB)

Bagaimana rasanya kalau pertanyaan yang mengawali tulisan ini diajukan kepada para perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga? Tentu mereka akan kesulitan dan merasa sedih karena apa yang dilakukan ternyata tidak diperintahkan Tuhan kepada mereka. Padahal perjuangan mereka untuk menghidupi paling tidak 30 juta jiwa bukanlah pekerjaan mudah dan sedikit. Karena tidak setiap perempuan memiliki nasib yang baik dengan memiliki suami yang menafkahi akibat ditinggal mati, ditinggal pergi maupun ditelantarkan.

Bukankah Nabi Muhammad saw. bersabda “Penanggung anak yatim, keturunannya atau keturunan orang lain, saya dan dia akan seperti dua hal ini kelak” sambil menunjuk pada jari telunjuk dan jari tengah (Riwayat Imam Malik dan Imam Muslim, lihat;Ibn al-Atsir Jami al-Ushul min alhadits ar-Rasul juz 1 no hadis 222). Jika kita memberikan penghormatan kepada perempuan yang mengepalai dan menanggung beban hidup anggota keluarga, maka tidak ada lagi alasan untuk merendahkan mereka apalagi menganggapnya keluar dari ajaran Islam. Wallahu’alam

Perdagangan Perempuan : Antara realitas dan Perspektif Islam

Sudah dua minggu ini pekerjaan rumah saya agak ringan. Saya berbagi tugas dengan N seorang gadis lulusan SMP yang menginjak usia 20 tahun. Pertama kali saya bertemu dengannya dalam program pemantauan P2TP2A Jabar bulan Juni 2010 di Cirebon. Ia adalah salah satu mantan Tenaga Kerja Wanita yang mengalami tindak kekerasan oleh majikannya. Dia sempat menjadi pekerja rumah tangga di Yordan. Bekerja pada sebuah keluarga yang memiliki usaha pembuatan kramik dan gypsum. Majikannya tinggal bersama istri dan seorang anak mereka yang sudah dewasa. N mengalami kesulitan berkomunikasi karena tidak bisa berbahasa arab. Ia kerap dimarahi karena dianggap keliru dalam menjalankan perintah majikannya. Pada awalnya ia hanya diteriaki saja kalau dianggap keliru. Namun lama-kelamaan majikan perempuannya berani memukulnya. Saat N tak melakukan perlawanan, majikan perempuan kerap melakukan tindakan kekerasan ada atau tidak ada kesalahan yang dibuat oleh N.

Bahkan hanya karena majikan laki-lakinya mengajaknya mengobrol, sang majikan perempuan terlihat sangat marah dan memukulnya saat suaminya tak ada. Tidak hanya dipukuli, tendangan, tamparan, tonjokan dan jambakan rambut kerap dia terima. Setelah dua bulan bekerja dan sering diperlakukan tidak manusiawi, N berfikir untuk menyelamatkan diri. Saat liburan Iedul Adha, rumah majikannya dalam kondisi sepi karena mereka bersilaturrahmi ke keluarga besarnya. N tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan tali jemuran, ia meloloskan diri dari lantai 3 apartemen majikannya. Dengan tangan yang berlumuran darah karena terluka oleh tali jemuran, ia berjalan menuju Kedubes Indonesia di Yordan yang dia sebut dengan nama Safara. Ia ternyata menghafalkan jalan menuju Kedubes saat pertama diantarkan ke rumah majikannya. Baru saja 15 menit ia berjalan, tiba-tiba seorang supir taksi berkebangsaan Jordan bertanya mau kemana? Dia menjawab bahwa ia hendak menuju Safara. Supir Taxi yang baik itu mengantarkannya ke tempat yang dia tuju.

Sesampainya N di Safara dia disambut oleh petugas dengan baik. Setelah itu N diperiksa, diobati dan diminta menceritakan kejadian sebenarnya. Petugas di Safara berjanji akan mengurusi permasalahan N dengan baik. Selanjutnya, N dipersilahkan beristirahat di ruang bawah tanah sebuah gedung berlantai 3. Pagi hari N terbangun dan hendak pergi ke kamar mandi. Ternyata untuk masuk kamar mandi saja ia harus mengantri sampai setengah hari. Saat sarapan, N terkejut bahwa yang bernasib sama dengan dirinya di Safara ini bukan puluhan orang, melainkan hampir 500 orang. Pantas saja dia harus mengantri lama untuk masuk kamar mandi yang berjumlah 2 untuk hampir 500 orang perempuan. Di Safara, petugas menghubungi orang tua N dan mengabarkan bahwa anaknya berada dalam kondisi sehat dan aman. Mereka mengatakan untuk bersabar karena sedang mengurusi permasalahannya dan diminta berdoa agar bisa secepatnya pulang ke Indonesia.

Saat mendapat informasi tentang keberadaan anak mereka, keluarga N pernah menghubungi sebuah LSM yaitu Banati di daerah Cirebon dan berjanji akan membantu kepulangan N. Setelah menunggu hampir satu tahun lamanya barulah N bisa kembali ke tanah air dengan selamat. Ini berkat kerjasama yang baik dari semua pihak pikir N baik Safara di Yordan, LSM Banati dan Pemerintah di Indonesia. Meski tak membawa apapun sesuai dengan harapan saat berangkat bekerja menjadi TKW, N tetap bersyukur karena masih bisa berkumpul kembali dengan keluarganya dalam kondisi sehat tak kurang suatu apa pun.

Kasus N di atas hanyalah satu diantara banyak kasus lain yang menimpa tenaga kerja kita di luar negeri. Rendahnya posisi tawar menyebabkan tenaga kerja kita menjadi bulan-bulanan banyak pihak. Tidak hanya pada saat bekerja pada majikan, tetapi mulai dari proses perekrutan mereka pun telah diperdaya. Maraknya biro-biro jasa pemberangkatan tenaga kerja kita ke luar negeri membuat peluang-peluang munculnya kasus-kasus seperti yang dialami N.

TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau TKW (Tenaga Kerja Wanita) hanyalah satu dari sekian banyak peluang untuk terjadinya trafficking. Persoalan kemiskinan yang tidak kunjung usai, membuat masyarakat tidak punya banyak pilihan untuk menyambung hidupmya. Dalam posisi yang serba sulit inilah sekali lagi perempuan kemudian menjadi pihak yang dirugikan. Persentase TKW selalu lebih besar dari tenaga kerja laki-laki yang berangkat ke luar negeri. Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri dari 450 ribu sampai dengan 700 ribu selama 2005–2008. Tahun 2005, jumlah TKI perempuan mencapai 68,5%. Persentase itu meningkat pada 2008 menjadi 77 persen. (http://ariyanto.wordpress.com/2010/05/16/2010-tahun-bangkitnya-kesadaran-gender-di-indonesia/)

Kurangnya akses pendidikan bagi perempuan, serta iming-iming untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, mudah (pekerjaan domestik yang biasa mereka lakukan) dan pendapatan yang tinggi membuat perempuan seringkali tergiur untuk mencari pekerjaan di luar daerahnya, bahkan di luar negeri. Dengan berbekal niat dan keinginan untuk membantu keluarga, maka seringkali mereka pun mau untuk melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

Akibatnya mereka tak sadar bahwa mereka telah menjadi sasaran empuk para calo yang mencari dan mengeruk keuntungan bagi kepentingan pribadi. Dengan janji-janji manis dan segala bujuk rayu dari calo, mereka pergi meninggalkan daerah tempat asalnya dengan penuh harapan. Para calo ini mempunyai erbagai macam cara untuk bisa menyakinkan korban-korbanya. Modus operandi yang mereka pakai adalah dengan mengiming-imingi mereka untuk bekerja sebagai pelayan restoran, penjaga toko, pekerja rumah tangga, bekerja di pabrik dengan upah yang besar, bahkan ada juga yang berkedok sebagai duta pertukaran kebudayaan antar bangsa.

Pada kasus Trafiking, seringkali korban mendapat eksploitasi yang berada di luar batas kewajaran. Trafiking atau perdagangan manusia menurut UU RI no 21 tahun 2007 PTPPO yaitu tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.

Menurut definisi di atas, suatu kegiatan dapat dikategorikan kasus trafiking atau perdagangan orang bila memenuhi tiga unsur penting. Pertama mulai dari Proses pemindahtanganan seseorang dari satu pihak ke pihak yang lainnya meliputi kegiatan (perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan). Kedua Jalan/Cara bisa berupa kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan. Ketiga Tujuan bisa berupa prostitusi, pornografi, kekerasan, eksploitasi seksual, pedofilia, kerja paksa, kerja dengan upah yang tidak layak, pengedaran obat terlarang, pengemis, pengantin perempuan dalam perkawinan transnasional, perbudakan/praktek-praktek sejenisnya. Persetujuan dari korban perdagangan manusia tidak lagi relevan bila salah satu dari tiga unsur yang tercantum dalam kategori tersebut digunakan. Tak lain maka kegiatan tersebut dapat dikatakan perdagangan manusia.

Islam dan Perdagangan Manusia

Fenomena trafiking saat ini sungguh mengingatkan kita kembali pada praktik-praktik perbudakan yang pernah terjadi sebelum Islam lahir. Meski secara hukum internasional perbudakan sudah dihapuskan, tetapi praktik trafiking secara substansial tidak berbeda dengan praktik perbudakan itu sendiri. Islam sejak awal telah meletakan dasar-dasar bagi pembebasan dan penghapusan perbudakan, karena ia bertentangan dengan prinsip Tauhid (Keesaan Tuhan). Teologi ini selalu mengajarkan kepada manusia tentang makna kebebasan, kesetaraan dan penghargaan manusia terhadap manusia yang lain. Bahkan terhadap alam. Karena itu tidak ada keraguan sedikitpun bahwa trafiking dalam segala bentuknya adalah bertentangan dan melanggar nilai-nilai Islam dan melawan Tuhan.

Dalam Islam manusia adalah mahluk tuhan yang terhormat. Tuhan menyatakan:

Sungguh Kami benar-benar memuliakan anak-anak Adam (manusia). Kami sediakan bagi mereka sarana dan fasilitas untuk kehidupan mereka di darat dan di laut. Kami berikan mereka rezeki yang baik-baik, serta Kami utamakan mereka atas ciptaan Kami yang lain (Q.S al-Israa (17): 70).

Nabi Muhammad saw. dalam pidatonya yang disampaikan di hadapan ummatnya di Arafah pada Haji Perpisahan, antara lain menyatakan: Ingatlah bahwa jiwamu, hartamu dan kehormatanmu adalah suci seperti sucinya hari ini. Tiga kata ini yang didalam bahasa Inggris disebut Life, property dan dignity merupakan kata-kata kunci dan mendasari Deklarasi Universal Hak-hak asasi manusia.

Masih ditempat yang sama beliau juga menyampaikan: “Camkan benar-benar, perlakukanlah perempuan dengan sebaik-baiknya karena dalam tradisi kalian dianggap sebagai layaknya budak. Kalian tidak berhak atas mereka kecuali memperlakukan mereka secara baik.”

Perlakuan baik dan penghormatan kepada perempuan sebagai bentuk menghormatan martabat kemanusiaan merupakan hal prinsip dalam Islam. Prinsip kemanusiaan ini dianggap lebih utama dibandingkan kemuliaan Hajar Aswad (Batu Hitam) di Ka’bah Abdullah bin Umar ra. Meriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw. mencium hajar aswad di ka’bah beliau bersabda di hadapan Hajar Aswad:

Demi Allah yang menguasai diriku, martabat dan kehormatan seorang mukmin lebih mulia di hadapan Allah dibanding martabat dan kehormatanmu (wahai Hajar Aswad) karena itu haram atas harta dan jiwanya (Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, no 3932 dan as-Suyuti, ad-Durr al-Mantsur, 7/565).

Prinsip kemanusiaan ini menjadi basis dari relasi sosial dalam kehidupan manusia. Dalam kondisi apa pun seseorang tidak boleh bertindak secara zalim terhadap yang lain. Sebaliknya harus saling berbuat baik dan membantu satu sama lain. Yang kuat membantu yang lemah. Dalam hbungan buruh dan majikan misalnya, nabi menganjurkan agar majikan berbuat baik, memberi makan, tempat tinggal, segera memberikan upah sang buruh sebelum keringatnya kering. Dalam hubungan suami istri misalnya al-Qur;an mengumpamakan keduanya laksana pakaian bagi yang lain. Suami adalah pakaian buat istri begitu pula sebaliknya. Tidak boleh ada kesewenang-wenangan oleh pihak yang satu terhadap pihak yang lain. Karena kesewenang-wenangan adalah tindakan biadab yang tercela dan merendahkan matrabat kemanusiaan.

Dalam Islam seperti yang ditegaskan dalam sebuah teks hadis, pelaku kejahatan perdagangan orang dianggap sebagai musuh Allah. Dalam sebuah teks hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Allah swt. Berfirman:

“Ada tiga kelompok orang yang kelak di hari kiamat akan menjadi musuh-Ku: orang yang bersumpah lalu berkhianat, orang yang memperdagangkan orang yang merdeka dan orang yang mempekerjakan seseorang tetapi tidak memberikan upahnya ketika ia telah selesai menunaikan pekerjaanya”. (Shahih Buhari no 2227 dan 2270)

Ancaman ini tentu saja jauh lebih dalam dari sekedar dosa atau maksiat. Pesan dan ancaman ini seharusnya menjadi dorongan kuat untuk mencegah segala bentuk tindakan yang mengarah pada kejahatan trafiking. Pada saat yang sama pula melakukan upaya-upaya perlindungan, pemberdayaan dan bantuan hukum terhadap mereka yang menjadi korban kejahatan ini harus terus dilakukan. Baik perlindungan yang praktis yang dibutuhkan langsung oleh korban, maupun perlindungan kebijakan-kebijakan jangka panjang yang memberikan jaminan bagi seluruh warga dari segala kemungkinan yang menistakan kemanusiaanya. Perjuangan masih panjang dan harus terus diwujudkan. Wallahu ‘alam

Sabtu, 16 Oktober 2010

Kuku Panjang dan Gaun Kaos

Dua minggu sudah saya memanjangkan kuku jari tangan kiri. Belum terlalu panjang memang, mungkin hanya sekitar 3 mili meter. Semakin panjang kuku jari tersebut kok ya terlihat semakin jelek. Padahal saya melihat ada keindahan di kuku jari yang panjang pada tangan teman saya. Dengan kukunya yang panjang, jemari teman saya terlihat lebih panjang dan lentik. Kenapa kok hal itu tidak terjadi pada saya? saya mencoba merenung kapan saya pernah memanjangkan kuku selain saat ini? Rasanya hampir tak pernah. Kuku jari tangan saya selalu pendek dan rapi. Bila terlihat panjang sedikit saya pasti memotongnya. Untuk urusan mengingatkan sampai memotong kuku anak yang terlihat agak panjang sedikit, ibu saya jagonya. Selain ibu, kakek saya juga dahulu sering mengingatkan bahwa yang dikatakan manusia itu apabila memotong rapih dan bersih kukunya maksimal dalam 40 hari. Kalau tidak melakukan hal tersebut maka dia seperti kucing garong. Serem ya, perkataan kakek saya ini he he.

Mengawasi, merazia sampai mengeksekusi kuku panjang saat ini menjadi warisan ibu dan kakek yang terus saya jalankan. Saya senantiasa bersemangat untuk memotong kuku jari anak-anak saya, suami , adik atau sekedar mengingatkan orang lain bahwa kuku panjang itu tidak baik untuk kesehatan. Apa hubungannya kesehatan dengan kuku panjang ya? Toh teman-teman perempuan saya yang berkuku panjang sehat-sehat saja. Karena dorongan ingin tampil cantik seperti mereka saya memutuskan untuk bersabar menanti tumbuhnya kuku jari tangan kiri saya. Ya jadinya seperti saat ini tidak jelas bentuknya dan terganggu dengan semakin panjangnya mereka. Apalagi setelah saya merazia torn penampungan air yang membutuhkan tangan untuk membersihkannya. Hasilnya kuku saya pecah-pecah penuh goresan dan tak karuan. Hiii benar-benar seperti kuku kucing garong yang kakek saya ceritakan.

Selain masalah kuku, saya juga bereksperimen dengan pakaian. Padahal selera berpakaian saya termasuk konservatif. Saya tidak terlalu suka dengan berbagai macam aplikasi baik corak maupun warna. Cukup yang natural, sederhana dan menutup aurat. Sampai pada satu kondisi dimana saya benar-benar terbujuk untuk memakai sebuah gaun yang terbuat dari kaos yang memang membuat tubuh saya terlihat perempuan. Saya merasa seperti Cinderella dengan gaun kebesarannya hehe…lebih tepatnya gaun kepanjangannya sampai-sampai saya merasa seperti si Manis Jembatan Ancol. Begitu pedenya saya memakai baju itu, sehingga saat diminta menjemput pengasuh anak-anak yang baru tiba dari Cirebon, saya mengenakan gaun baru itu untuk menyambutnya. Baru saja 100 meter saya naik ojek, tiba-tiba saya merasa ada yang menarik saya kebelakang. Saya segera menyetop tukang ojek untuk berhenti. Ternyata ujung gaun yang indah itu masuk kedalam jari-jari motor. Saat saya tarik…gaun kaos nya bolong-bolong. Saya tertawa terbahak-bahak…kok bisa gaun baru yang indah dan belum sempat di cuci ini jadi seperti kain pel. Gaun ini saya beli saat pelatihan tentang seksualitas dan mungkin hal inilah yang membuat pede saya berpakaian agak seksi. Ya sudahlah sepertinya saya harus berpakaian dan berkuku yang nyaman, bukan ikut-ikutan. Be your self Hannah…

Jumat, 15 Oktober 2010

Dua Bidadari

Selepas mengantar kedua bidadari berangkat sekolah, kembali saya mengisi catatan harian. Keduanya merupakan pribadi yang begitu unik. Yang pertama namanya Isyqie baru saja menginjak 8 tahun. Kemarin sore sepulang sekolah tiba-tiba dia memeluk saya dan berkata “mimi doain ya, isyqi pengen sekali punya buku KKPK yang diterbitkan”. Saya membalas memeluknya dan menggendongnya sambil membelai kepalanya dan melantunkan do’a untuknya.

Ya sudah setengah tahun ini dia sangat terobsesi menulis sebuah buku untuk diterbitkan. Hampir semua buku tulis yang saya belikan untuknya selalu dia gambari tokoh-tokoh utama yang akan mengisi buku yang ia tulis. Beberapa judul sudah dia tulis diantaranya The twin Birthday, Princess Rose dan Princess Syahidah dan kalau tidak salah yang terahir adalah tentang Clara dan Clarina. The Twin Birthday adalah yang pertama kali dia tulis dan dia menanyakan kalimat bahasa Inggris tersebut kepada saya. Dia bilang biar keren dia pengen bukunnya dijuduli dengan bahasa Inggris. Belum selesai dia membuat buku pertamanya, dia sudah beralih mengarang yang lain yaitu Princess Rose dan Princess Syahidah dan ahirnya buku ketiga pun dia tulis dan semuanya belum selesai.

Saya merenung dalam satu semester ini dia sudah merencanakan 3 buah buku berbeda yang kalau diseriusi dan diteruskan akan jadi sebuah karya yang bagus untuk anak seusianya. Duh malunya saya sebagai ibu…yang belum bisa menghasilkan satu buku pun di usia 31 tahun ini. Sepertinya saya harus belajar pada anak saya. Belajar untuk terus memupuk semangat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ya ternyata kebiasaan membaca dan menulis sepertinya sudah menulari anak pertama saya. Sebagai seorang ibu tentu itu adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira.

Memang isyqi berdasarkan hasil laporan di sekolah termasuk anak pengamat dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sebuah komunitas. Dia lebih suka duduk menulis dan menggambar dibandingkan menghabiskan waktu bermain di lapangan. Awalnya saya agak hawatir dengannya karena setiap pulang sekolah saat tahun pertama selalu bercerita tidak menyenangkannya sekolah di sekolah dasar. Setelah saya berkonsultasi dengan walikelas ternyata dia bisa juga bermain dengan teman-teman yang lain kalau diajak. Sehingga wali kelasnya selalu mengingatkan teman-teman sekelasnya untuk melibatkan isyqi dalam setiap permainan. Tahun ketiga sekolah dasar yang dia jalani saat ini kelihatannya lebih menyenangkan. Dia banyak bercerita tentang teman-temannya tentang betapa menyenangkannya punya banyak teman.

Di sekolah anak pertama saya ini setiap kelas memiliki perpustakaan. Perpustakaan ini selain sebagian bukunya dari sekolah juga dari sumbangan anak-anak kelas tersebut. Sebagian besar buku yang ada adalah buku cerita anak-anak. Buku cerita ini ada yang ditulis oleh orang dewasa ada juga yang sebagian di tulis oleh anak-anak. Dua ibu guru dalam kelas ini telah berhasil mengkondisikan muridnya bahwa membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan. Ya saya bersyukur mendapatkan sekolah yang sejalan dengan prinsip saya mendidik anak. Semoga saja kelak do’a-do’a saya untuk isyqi terkabul.

Anak kedua saya baru saja 6 hari lalu berulang tahun yang ke 5. Ain itu panggilannya. Selain fisiknya lebih padat dan berisi dibanding kakaknya, dia juga termasuk anak yang santai. Sangat kontras dengan kakaknya yang serius. Ain senang dengan sesuatu yang sporty, dari mulai pakaian juga permainan. Setiap orang yang dia kenal melewati rumah pasti dia sapa. Sangat senang bila rumah ada dalam kondisi yang ramai dengan sanak saudara.

Ain baru bisa membaca beberapa hari lalu menjelang usianya 5 tahun hanya beda 1 tahun lebih lambat dibanding kakaknya. Itu terjadi karena dia termasuk anak yang santai dan melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Bersyukurnya saya ia pun bisa seperti kakaknya yang suka dengan buku. Sampai pernah seminggu lalu tiba-tiba tengah malam dia bangun lalu berjalan dalam tidur menuju perpustakaan untuk mengambil buku dan selanjutnya tidur kembali sambil memeluk buku. Saya merenung kenapa bisa terjadi seperti itu? Apakah dalam benak bawah sadar Ain buku sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupnya? Ah semoga saja itu benar dan tentu saya sebagai seorang ibu ingin memberikan banyak hal agar kelak mereka dapat memilih sesuatu yang berguna yang sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Ain saat ini sekolah di TK yang sangat unik. Sebuah TK yang dikepalai oleh kandidat Doktor UPI di bidang pendidikan. TK yang Ain masuki ini memiliki perpustakaan dengan buku-buku yang beragam. Sangat jarang saya melihat TK yang murah dengan fasilitas seperti ini. Ini terjadi karena dedikasi seorang kepala sekolah yang memang ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk anak-anak didiknya. Kepala sekolah tersebut teman mengajar saya di UIN. Konsep-konsep mendidik anak begitu dia kuasai dan ingin mengaplikasinkannya dalam lebaga yang telah ia buat. Ini merupakan persiapan yang dia lakukan selama hampir 7 tahun untuk menanti kehadiran seorang anak yang tak kunjung tiba. Ah…semoga Allah mengabulkan do’a-do’a teman saya tersebut untuk dianugerahi keturunan yang sehat dan sholeh.

Kamis, 14 Oktober 2010

Mencoba Memahami Multikulturalisme dan Perempuan

Seharian ini saya tak beranjak dari rumah. Beberapa artikel dan buku saya baca. Mulai artikel tentang “Apakah pandangan multikultur berbahaya untuk kaum perempuan?”, “Feminis multicultural; seperti apa? , “Minoritas, multikulturalisme, modernitas” sambil diselingi membaca buku Habermas; Menuju Masyarakat Komunikatif dan Demokrasi Deliberatif”. Apa yang saya peroleh dari bacaan hari ini? Sebenarnya saya sangat ingin memahami apa itu multikulturalisme makanya membaca ketiga artikel di atas. Namun saya juga tergoda untuk memahami Habermas sebagai bahan mengajar yang akan saya share minggu depan. Mumpung semangat baca sedang baik. Tapi apa yang terjadi? Banyak hal jumping dan lagi-lagi saya membaca sesuatu yang entah saya pahami atau tidak.

Sebenarnya saya tidak begitu peduli apakah saya loncat-loncat atau tidak. Mengerti atau tidak. Pokoknya saya membaca dan mencoba memahami setiap kata yang tertulis sesuai dengan kesanggupan dan suka-suka saya itu saja. Hal ini menurut saya lebih baik dari pada tidak membaca sama sekali. Karena jujur saja, sudah dua bulan ini saya tidak membaca buku dengan baik. Buku selalu saya bawa ke mana-mana dari yang tipis sampai yang tebal. Namun hanya bagian-bagian tertentu saja yang saya baca agar setidaknya tidak membuat saya terlihat bodoh saat mengajar. Hmmm sekali lagi saya tidak menyukai sikap ini. Apakah harus menunggu apresiasi orang lain untuk membuat saya rajin baca? Tidakkah sesuatu yang terlahir dari dalam diri lebih bertahan lama dari pada pandangan orang. Ya saya meyakini hal itu. Motivasi diri ini tentunya harus tumbuh agar bisa memberikan kemanfaatan untuk diri dan orang lain.

“Apakah pandangan multikultur berbahaya untuk kaum perempuan?” judul artikel Susan Moller Okin ini sangat menggelitik ingin tahu saya. Multikulturalisme yang saya pahami sebagai sebuah CARA menyikapi atau operasionalisasi dimana berbagai kelompok yang beragam dapat hidup bersama dan setara apakah mungkin berbahaya? Padahal sepintas yang saya pahami justru dalam pandangan multikulturalisme sangat mungkin perempuan dapat hidup dan dianggap setara. Tapi pengertian multikulturalisme yang saya pahami ini ternyata belum lengkap menurut Susan karena selain adanya pengakuan yang dibuat dalam konteks demokrasi liberal yang mendasar, bahwa budaya atau cara hidup minoritas tidak secara memadai dilindungi oleh praktek perlindungan hak individu sebagai bagian dari masyarakat, konsekuensinya kelompok-kelompok seperti ini juga harus dilindungi dengan memberikan hak-hak istimewa untuk mereka sebagai kelompok.

Baru saja tiga paragraph saya menulis sebuah artikel kembali saya terhenti. Ini karena saya belum memahami apa sebenarnya inti dari artikelnya Susan Moller. Ya tulisannya begitu hidup dan luas mengaitkan multikulturalisme dengan feminism dan pergulatannya juga dengan realitas yang ada dalam berbagai agama, budaya dan Negara-negara di dunia ini. Sebenarnya saya sudah selesai membaca artikel tersebut. Namun lagi-lagi saat saya belum bisa merefleksikannya dalam tulisan. Tidak apa-apa saya pikir, nanti malam saya akan mencoba menyempurnakannya.

Sebenarnya Susan Moller membahas bahwa multikulturalisme memberikan hak-hak istimewa terhadap kelompok-kelompok tertentu untuk menjalankan identitas mereka. Dalam menjalankan identitas ini tentu terkait dengan budaya bahkan agama yang mendasari kelompok tersebut. Dia membahas bagaimana hubungannya kebudayaan dan gender dan sampai pada kesimpulan bahwa kebanyakan budaya dan agama sangat bersifat patriarki. Sehingga banyak kelompok-kelompok yang ternyata mempraktekan diskriminasi terhadap perempuan dengan bersembunyi di balik multikulturalisme. Ia juga menghantam keuniversalan feminis yang ternyata juga memberikan ruang represi terhadap gerakan perempuan lain. to be continued ah…adzan magrib

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...