Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

Perempuan Bekerja: Keluar dari ajaran Islam?

“Apakah ada dalil al-qur’annya yang memerintahkan seorang perempuan untuk bekerja? Tolong sebutkan! Saya rasa tidak ada, jadi jangankan wajib, sunnah pun tidak. Jadi untuk apa seorang perempuan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh-Nya. Malah karena perempuan bekerja banyak kekacauan-kekacuan yang terjadi di masyarakat”. Pertanyaan yang berisi sanggahan ini dilontarkan oleh seorang peserta saat saya menjadi narasumber dalam sebuah diskusi mahasiswa. Pertanyaan dan sanggahan ini bukan yang pertamakali dia ajukan kepada saya. Pada kesempatan yang lain sekitar setengah tahun lalu ia mengajukan hal yang sama. Nampaknya jawaban yang telah saya berikan dahulu dianggap tidak menjawab pertanyaannya. Jawaban atas pertanyaan yang berisi sanggahan yang pertama kali dilontarkan, saya jelaskan dengan singkat. Bahwa Rasulullah saw. menikah pertama kali dengan seorang perempuan yang bekerja yaitu Ibunda Khadijah. Apakah mungkin pilihan Rasulullah salah? Kalaulah seorang perempuan yang

Perdagangan Perempuan : Antara realitas dan Perspektif Islam

Sudah dua minggu ini pekerjaan rumah saya agak ringan. Saya berbagi tugas dengan N seorang gadis lulusan SMP yang menginjak usia 20 tahun. Pertama kali saya bertemu dengannya dalam program pemantauan P2TP2A Jabar bulan Juni 2010 di Cirebon. Ia adalah salah satu mantan Tenaga Kerja Wanita yang mengalami tindak kekerasan oleh majikannya. Dia sempat menjadi pekerja rumah tangga di Yordan. Bekerja pada sebuah keluarga yang memiliki usaha pembuatan kramik dan gypsum. Majikannya tinggal bersama istri dan seorang anak mereka yang sudah dewasa. N mengalami kesulitan berkomunikasi karena tidak bisa berbahasa arab. Ia kerap dimarahi karena dianggap keliru dalam menjalankan perintah majikannya. Pada awalnya ia hanya diteriaki saja kalau dianggap keliru. Namun lama-kelamaan majikan perempuannya berani memukulnya. Saat N tak melakukan perlawanan, majikan perempuan kerap melakukan tindakan kekerasan ada atau tidak ada kesalahan yang dibuat oleh N. Bahkan hanya karena majikan laki-lakinya mengajak

Kuku Panjang dan Gaun Kaos

Dua minggu sudah saya memanjangkan kuku jari tangan kiri. Belum terlalu panjang memang, mungkin hanya sekitar 3 mili meter. Semakin panjang kuku jari tersebut kok ya terlihat semakin jelek. Padahal saya melihat ada keindahan di kuku jari yang panjang pada tangan teman saya. Dengan kukunya yang panjang, jemari teman saya terlihat lebih panjang dan lentik. Kenapa kok hal itu tidak terjadi pada saya? saya mencoba merenung kapan saya pernah memanjangkan kuku selain saat ini? Rasanya hampir tak pernah. Kuku jari tangan saya selalu pendek dan rapi. Bila terlihat panjang sedikit saya pasti memotongnya. Untuk urusan mengingatkan sampai memotong kuku anak yang terlihat agak panjang sedikit, ibu saya jagonya. Selain ibu, kakek saya juga dahulu sering mengingatkan bahwa yang dikatakan manusia itu apabila memotong rapih dan bersih kukunya maksimal dalam 40 hari. Kalau tidak melakukan hal tersebut maka dia seperti kucing garong. Serem ya, perkataan kakek saya ini he he. Mengawasi, merazia sampa

Dua Bidadari

Selepas mengantar kedua bidadari berangkat sekolah, kembali saya mengisi catatan harian. Keduanya merupakan pribadi yang begitu unik. Yang pertama namanya Isyqie baru saja menginjak 8 tahun. Kemarin sore sepulang sekolah tiba-tiba dia memeluk saya dan berkata “mimi doain ya, isyqi pengen sekali punya buku KKPK yang diterbitkan”. Saya membalas memeluknya dan menggendongnya sambil membelai kepalanya dan melantunkan do’a untuknya. Ya sudah setengah tahun ini dia sangat terobsesi menulis sebuah buku untuk diterbitkan. Hampir semua buku tulis yang saya belikan untuknya selalu dia gambari tokoh-tokoh utama yang akan mengisi buku yang ia tulis. Beberapa judul sudah dia tulis diantaranya The twin Birthday, Princess Rose dan Princess Syahidah dan kalau tidak salah yang terahir adalah tentang Clara dan Clarina. The Twin Birthday adalah yang pertama kali dia tulis dan dia menanyakan kalimat bahasa Inggris tersebut kepada saya. Dia bilang biar keren dia pengen bukunnya dijuduli dengan bahasa

Mencoba Memahami Multikulturalisme dan Perempuan

Seharian ini saya tak beranjak dari rumah. Beberapa artikel dan buku saya baca. Mulai artikel tentang “Apakah pandangan multikultur berbahaya untuk kaum perempuan?”, “Feminis multicultural; seperti apa? , “Minoritas, multikulturalisme, modernitas” sambil diselingi membaca buku Habermas; Menuju Masyarakat Komunikatif dan Demokrasi Deliberatif”. Apa yang saya peroleh dari bacaan hari ini? Sebenarnya saya sangat ingin memahami apa itu multikulturalisme makanya membaca ketiga artikel di atas. Namun saya juga tergoda untuk memahami Habermas sebagai bahan mengajar yang akan saya share minggu depan. Mumpung semangat baca sedang baik. Tapi apa yang terjadi? Banyak hal jumping dan lagi-lagi saya membaca sesuatu yang entah saya pahami atau tidak. Sebenarnya saya tidak begitu peduli apakah saya loncat-loncat atau tidak. Mengerti atau tidak. Pokoknya saya membaca dan mencoba memahami setiap kata yang tertulis sesuai dengan kesanggupan dan suka-suka saya itu saja. Hal ini menurut saya lebih bai