Dua Bidadari

0 Comments
Selepas mengantar kedua bidadari berangkat sekolah, kembali saya mengisi catatan harian. Keduanya merupakan pribadi yang begitu unik. Yang pertama namanya Isyqie baru saja menginjak 8 tahun. Kemarin sore sepulang sekolah tiba-tiba dia memeluk saya dan berkata “mimi doain ya, isyqi pengen sekali punya buku KKPK yang diterbitkan”. Saya membalas memeluknya dan menggendongnya sambil membelai kepalanya dan melantunkan do’a untuknya.

Ya sudah setengah tahun ini dia sangat terobsesi menulis sebuah buku untuk diterbitkan. Hampir semua buku tulis yang saya belikan untuknya selalu dia gambari tokoh-tokoh utama yang akan mengisi buku yang ia tulis. Beberapa judul sudah dia tulis diantaranya The twin Birthday, Princess Rose dan Princess Syahidah dan kalau tidak salah yang terahir adalah tentang Clara dan Clarina. The Twin Birthday adalah yang pertama kali dia tulis dan dia menanyakan kalimat bahasa Inggris tersebut kepada saya. Dia bilang biar keren dia pengen bukunnya dijuduli dengan bahasa Inggris. Belum selesai dia membuat buku pertamanya, dia sudah beralih mengarang yang lain yaitu Princess Rose dan Princess Syahidah dan ahirnya buku ketiga pun dia tulis dan semuanya belum selesai.

Saya merenung dalam satu semester ini dia sudah merencanakan 3 buah buku berbeda yang kalau diseriusi dan diteruskan akan jadi sebuah karya yang bagus untuk anak seusianya. Duh malunya saya sebagai ibu…yang belum bisa menghasilkan satu buku pun di usia 31 tahun ini. Sepertinya saya harus belajar pada anak saya. Belajar untuk terus memupuk semangat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ya ternyata kebiasaan membaca dan menulis sepertinya sudah menulari anak pertama saya. Sebagai seorang ibu tentu itu adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira.

Memang isyqi berdasarkan hasil laporan di sekolah termasuk anak pengamat dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sebuah komunitas. Dia lebih suka duduk menulis dan menggambar dibandingkan menghabiskan waktu bermain di lapangan. Awalnya saya agak hawatir dengannya karena setiap pulang sekolah saat tahun pertama selalu bercerita tidak menyenangkannya sekolah di sekolah dasar. Setelah saya berkonsultasi dengan walikelas ternyata dia bisa juga bermain dengan teman-teman yang lain kalau diajak. Sehingga wali kelasnya selalu mengingatkan teman-teman sekelasnya untuk melibatkan isyqi dalam setiap permainan. Tahun ketiga sekolah dasar yang dia jalani saat ini kelihatannya lebih menyenangkan. Dia banyak bercerita tentang teman-temannya tentang betapa menyenangkannya punya banyak teman.

Di sekolah anak pertama saya ini setiap kelas memiliki perpustakaan. Perpustakaan ini selain sebagian bukunya dari sekolah juga dari sumbangan anak-anak kelas tersebut. Sebagian besar buku yang ada adalah buku cerita anak-anak. Buku cerita ini ada yang ditulis oleh orang dewasa ada juga yang sebagian di tulis oleh anak-anak. Dua ibu guru dalam kelas ini telah berhasil mengkondisikan muridnya bahwa membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan. Ya saya bersyukur mendapatkan sekolah yang sejalan dengan prinsip saya mendidik anak. Semoga saja kelak do’a-do’a saya untuk isyqi terkabul.

Anak kedua saya baru saja 6 hari lalu berulang tahun yang ke 5. Ain itu panggilannya. Selain fisiknya lebih padat dan berisi dibanding kakaknya, dia juga termasuk anak yang santai. Sangat kontras dengan kakaknya yang serius. Ain senang dengan sesuatu yang sporty, dari mulai pakaian juga permainan. Setiap orang yang dia kenal melewati rumah pasti dia sapa. Sangat senang bila rumah ada dalam kondisi yang ramai dengan sanak saudara.

Ain baru bisa membaca beberapa hari lalu menjelang usianya 5 tahun hanya beda 1 tahun lebih lambat dibanding kakaknya. Itu terjadi karena dia termasuk anak yang santai dan melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Bersyukurnya saya ia pun bisa seperti kakaknya yang suka dengan buku. Sampai pernah seminggu lalu tiba-tiba tengah malam dia bangun lalu berjalan dalam tidur menuju perpustakaan untuk mengambil buku dan selanjutnya tidur kembali sambil memeluk buku. Saya merenung kenapa bisa terjadi seperti itu? Apakah dalam benak bawah sadar Ain buku sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupnya? Ah semoga saja itu benar dan tentu saya sebagai seorang ibu ingin memberikan banyak hal agar kelak mereka dapat memilih sesuatu yang berguna yang sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Ain saat ini sekolah di TK yang sangat unik. Sebuah TK yang dikepalai oleh kandidat Doktor UPI di bidang pendidikan. TK yang Ain masuki ini memiliki perpustakaan dengan buku-buku yang beragam. Sangat jarang saya melihat TK yang murah dengan fasilitas seperti ini. Ini terjadi karena dedikasi seorang kepala sekolah yang memang ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk anak-anak didiknya. Kepala sekolah tersebut teman mengajar saya di UIN. Konsep-konsep mendidik anak begitu dia kuasai dan ingin mengaplikasinkannya dalam lebaga yang telah ia buat. Ini merupakan persiapan yang dia lakukan selama hampir 7 tahun untuk menanti kehadiran seorang anak yang tak kunjung tiba. Ah…semoga Allah mengabulkan do’a-do’a teman saya tersebut untuk dianugerahi keturunan yang sehat dan sholeh.


You may also like

Tidak ada komentar: