Selasa, 25 Januari 2011

Antara Islam KTP dan Fathiya Si Cemong

Libur semester masih berlangsung. Saya memiliki waktu senggang untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Pekerjaan yang berkaitan dengan profesi sebagai seorang pengajar dan peneliti. Sebagai ibu adakah suasana liburan ini berpengaruh?

Ya, suasana libur yang santai berpengaruh terhadap fungsi saya sebagai seorang ibu terutama dalam mendidik kedua putriku. Sebulan sudah saya agak longgar mengizinkan mereka menonton sinetron di televisi. Ada dua sinetron yang saya bolehkan mereka menontonnya yaitu Islam KTP dan Fathia si Cemong. Awalnya saya pikir sinetron Islam KTP seperti sinetron Para Pencari Tuhan yang sarat akan muatan agama dengan landasan Tauhid yang kuat. Setelah saya menemani mereka menonton hampir sebulan ini saya berkesimpulan bahwa pesan moral yang disampaikan kadang tidak natural dan mengada-ada. Bahkan hal yang yang tidak prinsip justru menjadi fokus pembahasan sinetron ini. Percintaan tokoh yang ada di sinetron ini tak ubahnya seperti percintaan sinetron biasa yang begitu mengagungkan cinta. Meski dikemas dalam bentuk yang Islami tapi tetap saja berdua-duaan dengan calon suami (kalau tidak boleh dibilang pacar) adalah hal yang tidak baik secara syari'.

Kesimpulannya mulai tadi malam mencoba mengalihkan kebiasaan menonton sinetron ini dengan aktivitas yang lain yaitu menulis. Menulis cerita agar bisa diterbitkan sebagai sebuah karya anak saya. Kebetulan dia memang terobsesi menulis buku. Tak mudah memang, selama setengah jam dia marah-marah mempertanyakan kenapa dia tidak boleh menonton dan temannya boleh. Saya hanya menjadi pendengar setia sambil mengalihkan perhatiannya. Setelah emosinya mulai menurun saya mencoba mengajak bicara bahwa menonton sinetron itu sedikit sekali manfaatnya. Banyak hal lain yang lebih menyenangkan dan lebih bermanfaat untuk dilakukan. Selanjutya dia sudah asik menggambar dan menulis cerita.

Anakku yang pertama melakukan negosiasi bagaimana kalau sinetron Fathiya si Cemong bisa tetap dia tonton. Saya membolehkannya untuk yang satu ini dengan syarat saya atau orang dewasa lain atau menemaninya menonton. Agar bisa menjadi fiter saat masuk ke kepalanya. Semoga saja dalam sebulan ke depan saya bisa mengembalikan kebiasaan keluarga ini untuk tidak menonton sinetron. Tak mudah memang menjadi seorang ibu. Tapi saya ingin terus belajar menjadi ibu. Semoga Allah memampukan saya, menjadi seorang ibu pekerja. Semangat lagi ah...sudah banyak waktu yang saya sia-siakan belakangan ini.

Senin, 24 Januari 2011

Riau 2 Kantor Baruku

Hampir tiga bulan saya tidak memposting apa-apa di blog ini. Sebuah blog komunitas yaitu Kompasiana lebih menarik perhatian untuk diperhatikan. Karena interaksi lebih intens dan kadang tanggapan kompasianer lain memacu untuk terus berkarya. Tapi sesekali baiknya saya juga memperhatikan blog ini. Dari dulu tampilannya tidak berubah. Entah bagaimana memenejnya saya tidak mengerti dan tidak mempunyai waktu untuk mempelajari bagaimana membuat blog saya lebih menarik dan lebih banyak di baca orang. Mungkin bila ada waktu yang senggang ada baiknya saya meperbaiki tampilan blog ini.

Awal Tahun 2011 ini saya masuki dengan semangat untuk menjadi lebih baik lagi. Semoga usia yang diberikan Allah bisa saya gunakan dengan sebaik-baiknya. Tahun 2010 kemarin adalah tahun dimana saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat. Memasuki komunitas baru dan membuka cakrawala berfikir yang ternyata sangat luas.

Saat saya menulis saya berada di sebuah kantor yang baru setengah tahun ini saya tempati. Sebuah kantor dengan Gedung Gaya belanda dan kemarin sempat dinominasikan untuk mendapat penghargaan dari Bandung Heritage sebagai gedung antik yang terawat. Kantor ini terletak di Jalan Riau No 2 sebelah kiri kantor masuk ke jalan Wastukancana. Kantor ini sangat nyaman dan sejuk. Kalau sedang tidak terlalu banyak aktivitas dan kegiatan, sebenarnya nyaman bila dijadikan tempat membaca dan menulis. Kalau sedang banyak kegiatan dan korban yang harus ditangani suasana jadi riuh dan membuat potensi diri yang dinamis bergerak.

Ah sebentar lagi suasana riuh akan kembali memenuhi kantor ini. Korban perdagangan orang yang berjumlah 17 perempuan dan anak akan dikembalikan dari Kucing. Saatnya menyingsingkan lengan baju untuk melayani mereka agar bisa kembali masuk ke lingkungannya setelah melewati peristiwa yang mungkin akan sukar dihapus dari benak.

Semoga semangat untuk terus bermanfaat terus berkobar. Agar hidup ini bukanlah sebuah kesia-siaan.

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...