Antara Islam KTP dan Fathiya Si Cemong

0 Comments
Libur semester masih berlangsung. Saya memiliki waktu senggang untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Pekerjaan yang berkaitan dengan profesi sebagai seorang pengajar dan peneliti. Sebagai ibu adakah suasana liburan ini berpengaruh?

Ya, suasana libur yang santai berpengaruh terhadap fungsi saya sebagai seorang ibu terutama dalam mendidik kedua putriku. Sebulan sudah saya agak longgar mengizinkan mereka menonton sinetron di televisi. Ada dua sinetron yang saya bolehkan mereka menontonnya yaitu Islam KTP dan Fathia si Cemong. Awalnya saya pikir sinetron Islam KTP seperti sinetron Para Pencari Tuhan yang sarat akan muatan agama dengan landasan Tauhid yang kuat. Setelah saya menemani mereka menonton hampir sebulan ini saya berkesimpulan bahwa pesan moral yang disampaikan kadang tidak natural dan mengada-ada. Bahkan hal yang yang tidak prinsip justru menjadi fokus pembahasan sinetron ini. Percintaan tokoh yang ada di sinetron ini tak ubahnya seperti percintaan sinetron biasa yang begitu mengagungkan cinta. Meski dikemas dalam bentuk yang Islami tapi tetap saja berdua-duaan dengan calon suami (kalau tidak boleh dibilang pacar) adalah hal yang tidak baik secara syari'.

Kesimpulannya mulai tadi malam mencoba mengalihkan kebiasaan menonton sinetron ini dengan aktivitas yang lain yaitu menulis. Menulis cerita agar bisa diterbitkan sebagai sebuah karya anak saya. Kebetulan dia memang terobsesi menulis buku. Tak mudah memang, selama setengah jam dia marah-marah mempertanyakan kenapa dia tidak boleh menonton dan temannya boleh. Saya hanya menjadi pendengar setia sambil mengalihkan perhatiannya. Setelah emosinya mulai menurun saya mencoba mengajak bicara bahwa menonton sinetron itu sedikit sekali manfaatnya. Banyak hal lain yang lebih menyenangkan dan lebih bermanfaat untuk dilakukan. Selanjutya dia sudah asik menggambar dan menulis cerita.

Anakku yang pertama melakukan negosiasi bagaimana kalau sinetron Fathiya si Cemong bisa tetap dia tonton. Saya membolehkannya untuk yang satu ini dengan syarat saya atau orang dewasa lain atau menemaninya menonton. Agar bisa menjadi fiter saat masuk ke kepalanya. Semoga saja dalam sebulan ke depan saya bisa mengembalikan kebiasaan keluarga ini untuk tidak menonton sinetron. Tak mudah memang menjadi seorang ibu. Tapi saya ingin terus belajar menjadi ibu. Semoga Allah memampukan saya, menjadi seorang ibu pekerja. Semangat lagi ah...sudah banyak waktu yang saya sia-siakan belakangan ini.


You may also like

Tidak ada komentar: