Selasa, 26 April 2011

Villa Lemon

Lemon adalah buah pavorit saya. Selain suka dengan rasa asamnya yang segar, harum lemon juga membangkitkan semangat bila sedang merasa lelah. Khasiat vitamin C yang terkandung didalamnya juga membuat lebih tertarik untuk menikmatinya. Lemon squash adalah minuman yang biasanya saya pesan kalau makan di restauran. Pokoknya segala hal yang berkaitan dengan lemon biasanya saya sukai.

Hari ini saya berada di sebuah tempat yang bernama Villa Lemon yang terletak di Jalan Holtikultura No 18 Lembang. Hadirnya saya disini sebagai peserta pelatihan pendampingan perlindungan perempuan dan anak yang diselenggarakan oleh BPPKB Provinsi Jawa Barat. Bersama empat teman dari P2TP2A jawa Barat saya mengikuti pelatihan yang akan diselenggarakan selama dua hari.

Untuk sampai di Villa Lemon, kami membutuhkan waktu sekitar 40 menit dari kantor dengan menggunakan taksi. Saat di taksi saya merasa sangat mual karena ternyata belum makan siang. Untunglah saat sampai di lokasi makan siang masih tersedia meskipun sudah memasuki pukul 14.20 WIB.

Villa Lemon terletak di pinggir sebuah lembah yang indah. Udara dan pemandangan Lembang yang sejuk dan segar mulai mewakili kenapa villa ini dinamakan lemon. Kamar-kamar yang disediakan di sini terdapat di bungalow-bungalow yang gedungnya masih baru. Terdapat banyak fasiltas bermain untuk anak-anak juga sebuah kolam renang. Sayang kali ini saya tidak membawa baju renang jadi hanya bisa melihat saja.

Segera setelah makan siang, saya memasuki ruangan pertemuan untuk mengikuti materi pertama pelatihan tentang pendampingan terhadap anak. Materi ini dibawakan oleh bapak Hamas Ichsan dari LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Jawa Barat. Beliau menyampaikan tentang apa itu pendampingan berdasarkan Undang-undang dan definisi dari disiplin ilmu yang dia pelajari dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial.

Bapak berusia 59 tahun ini menyampaikan materi dengan ceramah dan entah kenapa membuat saya mengantuk. Agar tidak mengantuk, saya menulis catatan ini. Hal ini bukan berarti saya tidak menghargai apa yang beliau sampaikan. Karena materinya sudah ada di power point yang sudah dibuat, artinya saya tidak usah mencatatnya hanya tinggal menyimak apa yang beliau sampaikan.

Sebenarnya saya sudah memprediksi akan membosankan seperti ini, karena entah kenapa kalau badan pemerintah mengadakan pelatihan, maka yang ada didalamnya adalah parade ceramah. Mereka ngerti gak sih dengan makna pelatihan? dari sekian banyak kegiatan dari dinas pemerintah yang sudah saya ikuti selalu saja mereka membosankan seperti ini. Lain kalau yang mengadakan kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat. Mereka sangat paham apa beda pelatihan dengan seminar, lokakarya ataupun workshop.

Saya membayangkan coba bapak yang berbicara ini 30 tahun lebih muda, mungkin saya bersemangat melihat kegantengannya hehehe...Soalnya sepertinya dulu dia bekas orang ganteng. Ih...kok pikiran saya ngelantur gini. Biarin ah...biar gak bete...dan bikin ngantuk.

Saya memperhatikan peserta yang hadir di ruangan ini. Baru berjumlah delapan belas orang. Enam belas orang perempuan dan dua orang laki-laki. Peserta laki-laki juga tidak ada yang menarik. Hampir semua peserta terlihat ngantuk, lesu dan tak bersemangat. Kasur di kamar sudah melambai-lambaikan tangannya untuk saya temui. Juga pemandangan indah sekitar villa yang membuat saya sudah tidak betah duduk di ruangan ini. Untunglah saya bisa online jadi membuat tidak bete. Materi yang saya ikuti masih akan berlangsung 30 menit kedepan. Tampaknya saya harus menyiapkan pertanyaan agar bisa memecah kebisuan sesi ini. Yuk ah...

Rabu, 20 April 2011

Selera Udik

Berkeliling Jawa Barat adalah aktivitas yang belakangan ini sering saya lakukan. Ini terkait dengan pekerjaan baru di P2TP2A Provinsi Jawa Barat yang mengkordinasi 26 kota/kabupaten terkait perlindungan perempuan dan anak. Irama hidup seperti ini baru saja kembali saya lakukan setelah lama bekerja dibalik komputer, papan tulis dan perempuan sekitar tempat tinggal.

Dulu saat mahasiswa saya memang juga memiliki mobilitas yang cukup tinggi, namun karena masih gadis jadi semua itu dilalui dengan happy and fun. Saat ini pun tetep happy and fun sih...cuma dengan persiapan yang sangat matang bila hendak bepergian karena sudah ada keluarga yaitu anak-anak dan suami yang harus diperhatikan.

Saat berkunjung ke berbagai wilayah di Jawa Barat tentunya saya juga berkenalan dengan berbagai macam kuliner yang ada. Menjelajahi restoran dari kaki lima sampai hotel bintang lima. Beberapa kali saya tidak menikmati kuliner yang disajikan. Kenapa bisa terjadi? karena kadang kami memesan menu andalan restoran tersebut untuk dicicipi yang ternyata asing untuk lidah saya. Selain memesan juga kadang kami dijamu oleh pemerintah daerah setempat yang ingin menyajikan makanan yang menurut mereka merupakan khas daerah tersebut.

Saya memang termasuk orang yang konservatif dalam makanan. Kurang suka dengan makanan yang berbumbu kuat, bersantan, ataupun berminyak. Apalagi dengan makanan impor seperti pizza, hamburger dan makanan olahan lain yang dari dahulu saya memang tidak menyukainya. Selama ini saya menyukai segala hal yang direbus, sayur yang bening dan masakan yang berbumbu minus. Mungkin karena selera seperti inilah masakan saya tidak disukai oleh keluarga besar dan tidak diizinkan untuk memasak kalau ada kumpul keluarga.

Hmm... selera udik saya terhadap makanan membuat saya tidak menikmati kuliner yang disajikan. Beberapa kali saya coba paksakan lidah untuk menikmati layaknya orang lain. Tetapi sulit...dan biarlah saya memilih menu standar yang kadang mungkin ditertawakan karena udik dan kampung. Sekali lagi yang penting SEHAT

Jumat, 08 April 2011

Hand Over Penanganan Kasus

Penanganan Kasus Korban Kekerasan merupakan sebuah pelatihan yang saat ini sedang saya jalani. Hmmm betapa beratnya tanggung jawa seorang pendamping.Pendampingan dalam tugas sebagai pekerja sosial akan menyita 75% kehidupan normal. Siapkah saya?

Kalau diukur secara kuantitatif memang akan terlihat seperti itu. Karenanya jalani saja apa yang memang saat ini sudah menjadi pilihan hidup dengan enjoy. Melakukan pendampingan sebagai sebuah panggilan hidup. Mencoba untuk terus berbagi dan bermanfaat bagi sesama. Ahh...konsen lagi menyimak paparan bu Caroline tentang hand over penanganan kasus.

Hand Over bermakna mengulurkan tangan untuk membantu, mengupayakan klien menjadi nyaman, memotivasi klien untuk bersedia dibantu agar mampu memahami klien untuk memperoleh informasi sebagai dasar untuk melakukan assesmen. Kita tidak akan mencapai keberhasilan sebelum hand over berhasil karena kunci dari proses selanjutnya dari penanganan kasus dasaranya ada pada hand over.

Base on pengalaman yang ia paparkan begitu mengena...

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...