Merah Marah

0 Comments
Merah baju yang saya pakai hari ini. Marah rasa yang hinggap masuk sejak dua hari. Hari ini memuncak karena opini publik sudah mulai juga dipagari. Pagi buta tadi sistem itu juga menzolimi saudari yang sedang menuntut ilmu di luar negri. Terlambatnya beasiswa sudah cukup membuatnya kesulitan harus pula kena sunat lagi. Sampai kapan rumah yang menghasilkan para intelektual Islam ini dikendalikan orang-orang oportunis tak berhati?

Dada saya sangat sesak saat mendengar money politik dan jualan posisi memenangkan suara terbanyak. Dia yang sama sekali tak punya nyali untuk sekedar menghadiri debat publik. Hanya karena merupakan pion catur penguasa berjiwa kerupuk. Yang lebih suka tidur di kasur empuk. Membuat kultur akademis semakin memburuk.


Hmmmmhhh saya marah...karena itu memakai baju merah. Saat marah biasanya air mata tumpah. Tapi kali ini jangan sampai jatuh. Air mata saya terlalu berharga untuk mengeluh. Semoga perjuangan kami masih bisa berpengaruh. Kepada-Nya saya bersimpuh. Penuh Seluruh...


You may also like

Tidak ada komentar: