Senin, 29 Agustus 2011

Shaum hari ke 29

Hari terahir shaum. Menyediakan makanan buka di menit-menit terahir. Bingung dan malas, menu apa lagi yang akan dihidangkan. Buka dengan baso yang tak pernah sekalipun menghiasai hari-hari shaum sebelumnya. Semoga menjadikan kami tetap sehat meski saya tau mungkin zat penyedap, pengawet, pewarna dan yang lain-lain tidak baik untuk tubuh. Sesekali tak mengapa saya pikir

Seharian tadi mempersiapkan perlengkapan mudik juga ngebut dua juz terahir. Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Tak dibantu asisten membuat semua PR saya kerjakan sendirian. Kalo lagi libur kayak gini tak terasa lelah. Beda ceritanya kalo hari biasa. So...nikmati saja jadi ibu RT full.

Keluarga kami memutuskan berlebaran esok hari, meski pemerintah RI mengumumkan lebaran hari rabu. Malam ini rute mudik dari Bandung menuju Cilegon. Setelah mengantarkan saudara di jalan dekat ke Anyer saya menjemput adik di Cilegon timur untuk sekalian berlebaran di Rangkasbitung.

Adik yang saya jemput di Cilegon ini sedang mengalami badai rumah tangga yang tidak kecil. Adik saya laki-laki sudah berumah tangga sekitar 8 tahun. Di tahun ke delapan saat Allah menganugerahi pekerjaan tetap yang lumayan ternyata tidak sejalan dengan kondisi relasi antar mereka. Sang istri mengaku telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Ia mengatakan sebelum shaum agar dimaafkan. Kalau dimaafkan dan adik saya mau menerimanya kembali maka dia bersyukur, kalau tidak dimaafkan dia rela diceraikan katanya.

Awal shaum adik saya menceritakan hal tersebut. Saya kembalikan seluruhnya kepadanya, karena dia adalah seorang pemimpin keluarga. Saya juga menyarankan untuk mengecek sejauh mana perselingkuhan istrinya, agar dia siap apapun yang diputuskan. Syukur-syukur kalau perselingkuhan itu baru sebatas telfon dan jalan. Lain ceritanya kalau sudah ML.Kalu sudah seperti itu saya pikir harus End.

Hati kecil saya berkata sekecil apapun tetap perselingkuhan, entahlah kalau itu terjadi pada saya mungkin agak sulit bagi saya untuk memaafkan. Saya lebih memilih untuk berpisah pada saat sebuah komitmen sudah tidak dihargai lagi. Kesetian bagi saya adalah segalanya. Lahir dan Bathin. Mungkin terdengar naif bagi orang lain, kadang saya pun ditertawakan oleh teman-teman kerja perempuan.

Jangankan dalam sebuah pernikahan, sebelum menikah juga saya tidak pernah memiliki komitmen dengan seorang laki-laki pun. Saya pernah menyukai seorang laki-laki, namun ternyata dia tidak menyukai saya. Ya sudah selesai tanpa ucapan dan relasi apapun hanya dalam hati saja. Komitmen pertama saya seumur hidup adalah dengan suami saat ini. Saya mungkin miskin pengalaman, tapi biarlah kalau pengalaman itu memang akan menyelamatkan. Saat ini saya terus membangun cinta agar tumbuh cinta. Karena jatuh cinta itu sakit.

Saat saya mulai memasuki dunia kampus 6 tahun lalu, banyak informasi berkeliaran bahwa dosen perempuan yang sudah mapan sering memiliki affair. Beberapa teman menyebutkan siapa saja yang memiliki affair tersebut. Saat ini saya malah dekat dengan dosen-dosen perempuan yang dikatakan memiliki affair tersebut. Meski saya melihat indikasi tersebut mungkin ada tapi saya pikir selama bergaul dengan saya mereka selalu menampilkan hal positif untuk saya. Saya bertekad sayalah yang akan memberikan pengaruh baik pada mereka bukan tertulari hal yang buruk.

Ternyata setelah lama bekerjasama dan bergaul, dosen-dosen perempuan teman saya hanya heboh di ucapan. Pada dasarnya mereka perempuan baik dan bertanggung jawab. Anak-anak mereka baik dan sholeh dan beberapa ada yang hafidz qur'an. Saya pikir tak mungkin itu muncul dari ibu yang tidak baik. Rumor yang saya dengar mungkin keliru. Itu hanya bentukan masyarakat kampus untuk menganggap bahwa perempuan kuat dan sukses itu hal yang bertentangan dengan kebenarah. Ah emang gue pikirin.

Sejam kedepan saya berangkat mudik...wajah ibu...bapa...sudah terbayang dipelupuk mata. Saya menyayangi mereka berdua. Kalau ibu selalu saya peluk dan ciumi setiap kali bertemu, karena pertemuan kami sangat jarang. Kalu boleh bapak juga, tapi sejak Aliyah kelas 1 saya sudah tidak boleh lagi mencium bapa, saya dimarahi ibu saat melakukan terahir kali.

Ya...semoga saya mendapatkan makna dan menjadi lebih baik lagi dalam perjalanan mudik kali ini

Minggu, 28 Agustus 2011

Shaum hari ke 28

H-2 dari lebaran. Masih di Bandung. Menunggu saat yang tepat untuk mudik. Sebuah aktifitas yang melelahkan namun tetap selalu dirindukan. Momen dimana semua anggota keluarga besar kumpul. Menyambung silaturahmi yang mungkin tak kan diketahui bila tidak ada moment ini.

Merenung di penghujung Ramadhan. Sejak subuh tadi sudah saya lakukan. Sambil berkejaran dengan kucing kesayangan. Entah kenapa ada yang retak dan resah di hati. Ada yang salah, apa yang salah? Entahlah... positif feeling agak sulit saya lakukan. Saya tau hati saya merasakan ada yang salah namun kembali saya bertanya apakah itu?

Saya tidak mau fokus dengan keresahan. Masih banyak yang bisa saya lakukan. Rumah yang harus dibereskan. Menu buka yang harus disiapkan. Juga pakaian mudik yang harus dimasukan ke tas. Mungkin karena selama ini saya selalu fokus pada positif feeling sehingga beberapa kesalahan terlewatkan. Saya tidak sensitif dan mengabaikan.

Mungkin hal ini berkaitan dengan konsep penghambaan. Sebuah konsep yang bergeser cukup besar. Bahkan mungkin bukan hanya bergeser tapi mungkin berbalik. Ke arah manakah? Kalau memakai kacamata lama tentu ke arah kemunduran. Namun kalau memakai kacamata baru ke arah kearifan.

Entahlah...sekali lagi saya hanya mampu berdo'a semoga Ia memberikan kembali keyakinan. Keyakinan yang membuat saya selama ini bertahan. Namun bukan sebuah keyakinan yang membuat saya bodoh dan terasingkan. Karena kalau Ia sebuah kebenaran, maka tak kan mungkin Ia memerangi orang yang menggunakan akalnya dengan optimal.

Kembali saya berserah dengan perkataan orang yang mengkategorikan yang lain. Mengatakan bahwa yang dilakukan adalah sebuah kemunafikan. Yahudi, nasrani bahkan ahlul kitab dialamatkan. Bersembunyi dibalik firman Tuhan. Yang diinterpretasi sesuai dengan keinginan.

Kehampaan
Ketiadaan
Kekosongan
Terasakan
di ahir Ramadhan
Hanya Tuhan
Yang mengetahui Kebenaran
Ia yang bisa dijumpai dimanapun
kapanpun
Tak perlu birokrasi yang melelahkan
Berujung sebuah Kebijakan
Namun disikapi laksana sebuah Firman
Apakah ini pengingkaran?

Sabtu, 27 Agustus 2011

Shaum hari ke 27

Hari-hari terahir Ramadhan menguras kesabaran saya. Betapa tidak? Efek dari sikap saya yang mempertanyakan kenapa sekertaris jurusan mengeluarkan nilai dan meloloskan mahasiswa untuk sidang komprehensif berujung jawaban sudah melakukan prosedur SP (Semester Pendek). Padahal SP harus memiliki prosedur tersendiri, dimana harus ada pertemuan dan Ujian. Saat saya tanyakan langsung pada mahasiswa bersangkutan ternyata prosedur itu tidak dijalankan.

Sikap protes saya disikapi dengan rapat pimpinan fakultas untuk membahas masalah ini. Mereka berlindung dibalik SP dan malah menyalahkan saya karena lancang memprotes jurusan. Opini yang berkembang di kalangan teman-teman yang saya tangkap, saya dosen perempuan yang over acting dan tak sepantasnya mensikapi hal remeh temeh seperti itu dengan sebuah tulisan apalagi di publish.

Tulisan yang saya publish sama sekali tidak saya maksudkan untuk menyinggung fakultas apalagi jurusan. Saya lebih memfokuskan kepada mahasiswa yang mengecewakan saya. Perasaan tersinggung fakultas dan jurusan sudah saya mintai maaf secara lisan saat saya dipanggil pihak dekanat untuk menghadap. Saya merasa seperti akan maju ke medan perang saat dipanggil oleh mereka. Seorang perempuan kecil yang tak berdaya menghadapi 5 orang laki-laki yang notabene pejabat fakultas.

Saya sudah mencoba menghipnosis diri membayangkan saya seperti bola lampu (bohlam) yang sangat rapuh namun karena fokus dan flow bisa memecahkan lantai keramik. Simulasi brain power yang saya ikuti memandu saya menghadapi ke lima laki-laki tersebut dengan santai.Ya semua sudah berlalu dan ahir dari pembicaraan itu adalah kami sepakat untuk memperbaiki kinerja kami dalam mengajar.

Suasana di fakultas belum nyaman saya rasakan. Entahlah saya belum memiliki keyakinan dengan Dekan yang baru terpilih akan seperti apa. Namun sepertinya tidak lebih baik dari yang lalu. Lebih baik saya memfokuskan diri pada studi saya dan langkah saya memberdayakan perempuan dan anak. Semakin menguat komitmen dalam diri untuk selalu menjadi oposan selain meningkatkan kualitas diri menjadi pengajar yang kompeten.

Dua hari lalu kesabaran saya juga diuji. Muka saya merah menahan marah. Air mata tak terasa keluar. Namun tidak dihadapan pihak yang menyebabkan semua ini terjadi. Dihadapan mereka saya menampilkan sosok yang kuat. Permasalahannya berawal dari tawaran untuk memasukan proposal pendampingan LSM yang saya ketuai. Sebagai tugas ketua salah satunya adalah dengan mencari sumber pendanaan untuk berjalannya program.

Sebenarnya dari awal hati saya sudah ragu untuk bekerja sama. Malah saat prosedur berbelit yang harus saya lewati, saya tidak mau menyelesaikannya namun menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang mengusahakan. Ternyata mereka memang mengusahakan agar proposal itu gol. Nah tanggal 25 kemarin itu dana tersebut cair di rekening LSM kami. Ternyata setelah kami cairkan, LSM saya hanya mendapat 3,5% dari 100% dana yang masuk. Padahal pendampingan yang kami lakukan real di masyarakat. Saya benar-benar merasa terhina dan marah dengan sistem kerja sama seperti ini. Dana tersebut saya kembalikan seluruhnya. Lebih baik saya tak mendapatkan apa-apa dari pada terhina dan marah. Karena saya yakin pintu rizqi yang halal dan berkah akan terbuka tanpa proyek pemerasan seperti itu.

Saya tidak marah kepada teman-teman yang mengusahakan proyek ini.Karena mereka pun ada dalam posisi yang serba salah. Sistem korup yang sudah akut di negri ini membuat orang-orang baik terjebak menjadi penadah dana-dana yang sebenarnya masuk ke rekening pribadi para penjahat yang ingin balik modal karena dana kampanye yang sudah dikeluarkan saat pemilihan lalu.

Saya mencoba melupakan masalah ini. Menganggap tidak pernah terjadi meski sulit. Karena kalau saya kembali protes dan mencoba membongkar semua ini saya pikir saya tak punya kekuatan apa-apa. Malah bisa jadi saya jadi perkedel. Seperti Image saya di Fakultas saat ini. Semoga saya bisa tetap memegang yang benar meski mungkin hal tersebut bisa melukai tangan saya. Tak apa asal jangan hati dan iman saya. Ah semoga kelak saya bisa jadi martir seperti mereka yang sudah menemui Engkau.

Jumat, 19 Agustus 2011

Shaum hari ke 19

Saat ini saya sedang duduk di depan mesjid agung Ujung berung. Waktu menunjukan pukul 8.40 menit. Sinar mata hari pagi langsung menyapa saya. Hangat rasanya. Sudah lama saya tidak melakukan hal ini. Entah kapan terahir bisa duduk-duduk di depan mesjid Ujung berung pada pagi hari. Hal ini saya lakukan karena ternyata waktu janjian saya dan teman di undur dari jam 8 ke jam 9. Padahal sebelum jam 8 saya sudah sampai di tempat janjian.

Untuk mengisi waktu tadi saya ke bank BRI dulu untuk menukarkan uang receh buat lebaran. Ternyata BRI ujung Berung tidak menyediakan uang receh 2000 hanya menyediakan 5000. Ya ahirnya saya hanya menukarkan uang sebagian saja. Setelah dari bank ternyata masih ada waktu untuk sampai di jam 9 ahirnya duduk di depan mesjid sambil nulis dan online jadi pilihan.

Masij raya Ujung berung terletak sebelah kanan pasar tradisional dan alun-alun kecil. Bangunannya tidak terlalu besar mungkin sekitar 50 m x 60 m. Warna cat dominannya kuning pucat meski ada sedikit sentuhan coklat dan kusen jendela yang juga coklat. Mesjid ini berlantai putih dengan lantai pembatas shaf berwarna hijau. Bentuk Bagunannya tidak jelas bergaya arsitektur apa namun seperti mesjid pada umumnya berjendela besar dan banyak. Tempat parkir berada di sekeliling mesjid dengan area yang tidak terlalu luas.

Mesjid Ujung berung terletak dipinggir jalan raya yang biasa dilewati angkutan dalam dan luar kota. Arus kendaraan yang padat membuat suara gaduh. Aktifitas masyarakat yang melewatinya juga cukup ramai. Mulai dari yang berjalan kaki, naik motor juga mobil. Mungkin karena ada beberapa komplek yang terletak di belakang masjid ini dimana akses mereka untuk keluar masuk harus melewati mesjid sehingga mesjid ini selalu ramai. Belum lagi karena bersebelahan dengan pasar tradisional.

Sebenarnya pasar tradisional Ujung berung sudah tidak lagi nyaman untuk dikunjungi. Selain selalu macet juga bangunan lamanya membuat saya malas mengunjunginya. Sudah beberapa kali sebenarnya pasar ini mau di relokasi, tapi semua pedangan selalu bertahan. Saya jadi bingung kenapa sih kok seperti itu, padahal tempat baru yang yang akan dijadikan pengganti juga strategis. Padahal kalau sekiranya pasar itu pindah maka lalu lintas dan tata kota Ujung berung akan lebih indah dan bersih. Kata pihak pemkot sih area pasar tradisional tersebut akan dipakai untuk memperluas alun-alun dan taman kota.

Selama saya tinggal di Bandung timur masjd ini hanya saya kunjungi beberapa kali saja. Karena tidak ada yang menarik yang bisa saya nikmati di sini. Oh iya dulu sewaktu saya tinggal di Komplek Taruna sekitar 500 meter dari mesjid setiap pagi saya belanja di pasar tradisional dan sesekali saya mampir untuk ke tolilet mesjid. Hehe...cuma ke toilet aja. Saya berangkat habis subuh dengan naik motor untuk kemudian belanja bahan-bahan untuk saya masak di rumah.

Hari ini hari kedua saya tidak shaum. Kemarin siang sebelum shalat duhur, haid saya datang. Saya hanya sempat minum saja, karena anak saya selalu ingin bersama dan saya tidak memiliki kesempatan untuk makan. Sebenernya sih mending shaum. Tapi semoga tidak shaum ini juga merupakan sebuah bentuk ketaatan pada-Nya.

Hari ini rencananya saya akan berangkat ke Studi Wanita UI untuk memfotocopi beberapa tesis dan disertassi untuk melengkapi disertasi yang sedang saya garap. Beberapa judul yang akan difotocopy sudah saya tulis dan semoga saja metodologi penelitian saya lebih jelas dari kemarin. Karena promotor saya minta agar saya menuliskan sampai bab 3 dan setelah syawal nanti saya sudah bisa pergi ke lapangan. Sebenarnya setiap hari saya pergi ke lapangan, karena yang saya teliti adalah perempuan korban yang saya dampingi di P2TP2A. Ya biar sajalah memang desain riset saya belum jelas dan untuk memperjelaslah saya berangkan ke UI hari ini.


Rabu, 17 Agustus 2011

Shaum hari ke 17

Alhamdulillah sampai hari ke-17 ini kasih sayang-Nya masih melimpahi keluarga ini. Kemarin seorang teman mengkonsultasikan pernikahannya kepada saya di kantor. Saya tak menyangka ternyata teman laki-laki saya yang ceria dan baik itu sering menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dilakukan oleh istrinya. Saya belum mengkros cek kebenaran informasi ini.Hanya kalau mendengar cerita dan pengakuannya bisa jadi itu memang teralami olehnya.

Perempuan dan anak memang rentan mendapatkan pelakuan kekerasan. Tapi tidak menutup kemungkinan laki-laki pun menjadi korban, seperti yang dialami teman saya. Sebagai seorang laki-laki, saya pikir apa yang kurang dari teman saya? penampilan cukup manis dengan tinggi badan yang ideal. Gaji dan penghasilan sebagai PNS di kantor pajak yang sudah 11 tahun bekerja saya pikir cukup untuk membiayai rumah tangga dengan 2 anak yang masih kecil. Rumah dan kendaraan pun sudah mereka miliki. Ternyata kondisi ini selalu dikeluhkan oleh istri teman saya. Keluhan yang selalu berujung pertengkaran ini terjadi hanya karena si istri merasa bahwa ekonomi keluarganya lebih baik dari sang suami dan apapun yang dilakukan sang suami itu tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan keluarganya.

Konsultasi ini berlangsung selama hampir 1 jam. Keinginan teman saya adalah segera mengahiri pernikahan yang sudah berjalan 8 tahun. Namun merasa tidak tega bila menatap bola mata kedua anaknya bila itu terjadi. Saya bertanya tentang hubungan seksual yang terjadi antara teman saya dan istrinya untuk melihat seberapa parah permaslahan yang mereka hadapi. Jawab teman saya baik-baik saja. Saya bertanya setiap hari pulang kerja dia ke mana? dia menjawab langsung pulang ke rumah bertemu dengan istri dan anak-anaknya.

Isrinya merupakan lulusan s1 Hukum yang selama 8 tahun ini hanya di rumah saja. Lingkungan yang ia miliki hanya sekitar rumah dan sekolah anak-anak. Seorang ibu yang tidak suka membaca dan sangat suka dengan sinetron. Latar belakang keluarga kaya membuatnya mengeluarkan energi banyak untuk bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini dimana suaminya hanya seorang PNS.

Semua kebutuhan teman saya sebagai suami selalu dipenuhi istrinya. Mulai dari urusan dapur sampai urusan anak-anak dia hanya tau beres. Malah teman saya mengatakan kalau istrinya itu sebenarnya adalah seorang yang perhatian, hanya kalau marah sering memukul dan melemparkan benda-benda yang ada di rumah.

Saya mencoba mengajak teman saya berempati terhadap kondisi istrinya yang 24 jam mengurusi rumah tangga dengan lingkungan yang itu-itu saja. Sedangkan teman saya memiliki pekerjaan yang disukainya, teman-teman yang berwawasan luas dan jenjang karir yang baik. Setidaknya istrinya butuh sebuah aktualisasi diri yang mengakibatkan dia merasa berharga sebagai manusia. Tidak melulu harus keluar rumah dan bekerja. Dia harus diajak bertemu dengan konselor keluarga agar saat menyalurkan kekesalan dan kemarahan tidak dengan melakukan kekerasan. Konselor juga akan mengajaknya menemukan apa sebenarnya permasalahan yang selalu diributkan kedua pasangan ini. Selain menemukan aktualisasi seperti apa yang baik untuk perkembangan jiwa sang istri.

Saya mencoba bertanya pada teman laki-laki saya? "jangan-jangan kamu sudah punya cadangan untuk mengganti istri kamu sehingga apapun adanya istri kamu itu jelek dan kamu anggap sampai kapan pun tidak akan berubah?" Dia menjawab dengan jujur "sebenarnya ada, hanya saya masih berat pada kedua anak saya". Saya mencoba mengajaknya merenung apakah sang cadangan ini akan lebih baik dari istrinya? padahal secara spiritual kalau kita belum bisa sukses dalam satu permasalahan biasanya Allah akan terus memberikan permasalahan yang secara garis besar sama sampai kita benar-benar bisa mengatasi masalah tersebut dengan baik.

Keinginan teman saya adalah ia ingin dihormati sebagai imam dalam keluarga. Saya kembali bertanya seperti apa kongkritnya? dia menjawab ia ingin istrinya menjadi istri yang bersyukur dan tidak membanding bandingkan dirinya dengan keluarga besarnya dan tidak menghina suaminya dan keluarganya apalagi sampai memukul suaminya. Saya mengusulkan agar istrinya di bawa ke tempat kami untuk konsultasi agar informasi berimbang untuk kedua belah pihak. Karena saya pikir lebih baik memperbaiki yang ada dari pada membuka rumah baru yang belum tentu seperti apa. Karena kalau dari cerita teman saya tersebut, ia dan istrinya masih punya kesamaan yang menganggap bahwa kedua anak mereka harus mendapatkan hal yang terbaik baik dari sisi materi maupun kasih sayang. Saya pikir dari mereka berdualah itu bisa didapatkan.

Jam 3 saya pulang dari kantor di jemput suami. Konsultasi teman saya ini menginspirasi saya untuk berbicara dari hati-ke hati dengan suami. Semoga hal ini mengurai permasalahan keluarga kami dan semakin mengeratkan kasih sayang. Semua bisa diatasi dengan syukur, sabar dan ikhlas. Dimana ketiganya tidak memiliki batas. Ah puisi yang sebelumnya saya tulis sepertinya menguap begitu saja setelah berbincang dari hati ke hati ini dia puisi yang saya tuliskan sehari sebelumya:

Tak ingin berkata kata
Bila hanya membuatmu berujar jangan pandang sebelah mata
inginku hanyalah tenggelam dalam lautan sujud bersama
menggetarkan arasy dengan perjanjian agung kita

Tak ingin apa-apa
Bila Ia sudah menopang dengan teguh dan nyata
Sandaranku melewati titian tasbih menggelora
Menundukan mauku akan dunia

Tak ingin bertanya tanya
Bila jawaban bukanlah segalanya
Cukup biarkan hati bicara
Membisikan cinta menyatukan asa

Dialog itu sangat perlu. Dalah sebuah relasi apapun. Darinya banyak hal bisa terurai. Tak ada satu masalahpun yang tak bisa dibicarakan.

Jumat, 12 Agustus 2011

shaum hari ke 12

Perubahan hormonal menjelang haid membuat perasaan campur aduk. Kalau diperhatikan skema campur aduknya sebenarnya ada benang merah yang terlihat yaitu menjadi sensitif dan melankolis. Kupakai pengetahuanku tentang kesehatan reproduksi untuk memahami mau tubuhku. Tentu agar semuanya tidak menjadi batu sandungan dalam melakukan semua aktiiftas keseharian.

Ya setidaknya saat perasaan campur aduk itu muncul aku sudah siap menggunakan pikiranku untuk menciptakan perasasaan tandingan yang menyenangkan. Dengan membayangkan hal yang menyenangkan yang akan kujalani ke depan berharap menjadi sugesti agar kelak hal menyenangkanlah itulah yang terjadi.

Subuh ini setelah sahur saya tadinya hendak meresensi sebuah buku yang sudah selesai dibaca. Buku tersebut hadiah dari seorang sahabat. Saat mencari gambar buku tersebut di google ternyata pengarangnya sudah meninggal dunia. Saya terpaku dan tak memiliki kata untuk menulisakan apa pun. Rasa sedih mengingat saya adalah salah satu penggemar karya-karya beliau. Bisalkah hidup saya sepertinya? Banyak menghasilkan karya abadi yang mencerahkan orang lain? Menulis sebagai sebuah perjalanan spiritual ?

Entah kenapa saya memang nyaman bergaul dengan buku daripada dengan yang lain. Karenanya berbagai inspirasi hidup sering saya temukan dari buku. Dengan buku saya bisa bertanya apapun. Dengan buku saya bisa mendapatkan cerita yang beraneka warna dan rasa. Dengan buku hidup saya menjadi indah.

Buku juga menjadi penyembuh saya saat sedang sakit sekarat. Sakit yang diakibatkan oleh masih sempitnya saya dalam memandang hidup ini. Sedikit demi sedikit buku membukakan pintu kebijakannya buat saya. Membuat saya bisa merasakan bahwa hidup tak sendiri. Masih banyak orang yang mau peduli.

Hari kedua belas Ramadhan ini saya berdo’a semoga Ia senantiasa memberikan hidayah. Menjadikan sepenuhnya ada dalam ridha-Nya. Terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi sampai saya menemuinya kelak. Saya mohon ampun atas segala kelalaian yang diperbuat. Semoga ia masih memberikan kesempatan untuk bisa memperbaiki kesalahan yang sudah dilakukan.

Saya berdo’a untuk penulis “Hingga Detak Jantungku Berhenti” yang saat ini sudah bertemu dengan-Nya. Semoga ia diampuni dosanya. Diterima amal ibadahnya. Karyanya menjadi amal jariyah tak terputus mengalir. Dua permata hati yang ditinggalkan menjadi generasi sholeh dan sholehah.

Ia adalah inspirasi buat saya. Saat Engkau memberikannya keterbatasan, ia tak menganggap itu sebuah keterbatasan. Langkahnya....karyanya...optimisme hidupnya melebihi manusia sehat seperti saya. Mengapa saya cengeng dan mengeluh pada saat terkena flu yang belum juga sembuh? Mengapa saya belum juga bersyukur dengan bekerja dan berkarya sebaik mungkin? Mengapa saya belum juga bisa memaknai hidup ini dengan selalu berpikiran positif.

Maafkan saya Rabb...berikan kekuatan dan ketabahan yang telah engkau berikan kepada Nurul F Huda untuk saya. Hanya Engkau yang mampu memberikannya untuk saya. Hingga Detak Jantungku Berhenti...saya tak ingin berhenti untuk menjadikan hidup ini terus bermakna dan menjadi lebih baik lagi.

Minggu, 07 Agustus 2011

shaum hari ke-7

Sebenarnya shaum hari ke-5 sudah saya ketik untuk entri baru, tapi koneksi modem terputus dan saya belum menyimpannya.Jadi hilang begitu saja. Saya lebih suka langsung menulis dari pada diketik dulu di laptop. Karena yang diketik di laptop itu merupakan pilot project catatan harian saya untuk kesehatan jiwa saya secara pribadi dan tidak layak dibaca di muka umum.

Untuk shaum hari ke-6 saya tidak menulis apa-apa karena seharian berkeliling Bandung untuk menengok Bibi yang sedang diklat, mengantar anak-anak ke salon dan buka di Jatos. Sesekali buka di luar rumah saya pikir tidak mengapa, sekalian mengenalkan dunia kepada kedua putri saya. Agar kelak mereka tidak kuper dan memiliki filter dalam hidup yang semakin kompetitif ini.

Alhamdulilah saya bersyukur bisa memberikan yang lebih baik lagi untuk keluarga. Uang dari kantor yang saya dapat di hari jum'at lalu begitu tak terduga. Semoga uang tersebut berkah dan menjadi investasi saya kelak di hari ahir. Makna berkah adalah saat uang itu benar-benar terpakai untuk hal yang bermanfaat, saat uang itu dari awal sudah dizakati.

Hari ke-7 ini kondisi tubuh terasa agak lemah. Flu yang menyerang mulai menjadikan kepala pening. Selain tenggorokan sakit, mampet dihidung juga bikin g nyaman. Semoga Allah memberikan saya dan keluarga ini kesehatan.

Saya sudah setengah perjalanan membaca buku Dani Ronnie yang berjudul The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teacher. Kemarin saya juga sudah mencoba merefleksikannya hanya karena belum selesai, maka saya pun belum secara utuh melihat buku tersebut. Hari ini pengennya menyelesaikan buku tersebut, cuma pening dikepala bikin g nyaman. Tetap akan saya coba, namun saya tidak akan memaksakan diri. Paling-paling saya menambah tadarus saja. Semoga bisa segera khatam.

Saya di Mall kemarin melihat sebuah gaun putih. Indah sekali. Sebuah gaun sederhana dengan bordir mungil berwarna perak. Sepertinya gaun itu pas buat saya. Saat saya menghampiri manekin yang memakai gaun itu, anak-anak saya menarik tangan dan meminta saya mengantar mereka ke mushalla di mall. Ahirnya saya terlupa untuk melihat harganya dan baru teringat sekarang.

Hari ke-7 ini saya berdo'a semoga dengan shaum ini saya, keluarga dan umat Islam seluruhnya diberikan kesehatan dan keberkahan dalam hidup.

Duh saat menulis catatan ini saya agak terganggu karena anak tetangga depan rumah sedang latihan terompet. Berisik sekali. Biasanya mereka latihan hari rabu. Tapi kok hari minggu ini latihan juga. Kepala saya jadi nambah puyeng. Eh...g ding kepala saya sehat...segar...(sedang menghipnosis diri biar sehat)

Ya sudahlah seadanya saja saya postingkan catatan untuk hari ini. Semoga hidup saya bisa lebih produktif dan bermanfaat untuk kehidupan

Kamis, 04 Agustus 2011

Shaum hari ke-4

Shaum hari ke empat belum membuat saya berlari kencang. Masih tertatih menyambut hadirnya bulan mulia ini. Apa kira-kira indikasinya sehingga saya berpikiran seperti itu? Apakah karena tadarus yang belum sepanjang waktu? Atau amalan sunnah yang belum sepenuhnya menghiasi shaum ini?.

Entahlah, namun di hari ke empat ini saya masih menyesuaikan diri dengan ritme Ramadhan. Mengkondisikan anak-anak untuk kuat shaum dan mencoba menyajikan menu sehat agar mereka kuat berpuasa. Juga bersilaturahmi dengan keluarga besar menjadikan saya belum sepenuhnya tenggelam dalam aktifitas ukhrawi.

Hai...lagi-lagi kau masih memisahkan amal dunia dengan ahirat. Apakah saat menyajikan makanan sehat untuk keluarga bukan amal ahirat? Apakah saat menjalankan peran sebagai menantu yang shaleh bukan amal ahirat? apakah saat menjalankan fungsi sebagai ibu, istri dan anak bukan amal ahirat?.

Mungkin karena amal yang sudah disebutkan di atas sudah biasa dilakukan pada bulan lain, sehingga terasa tidak istimewa. Ya, semoga hal perasaan tersebut merupakan sebuah perasaan haus akan dekat dengan Allah. Sehingga ritual pun semakin meningkat.

Hari ke empat ini saya bersyukur karena tidak kembali tidur setelah sholat subuh. Saya bisa melakukan hal produktif dalam hidup. Maha kasih Allah yang telah menciptakan Caffein. Satu zat ini telah membuat saya terbantu menyelesaikan berbagai karya. Semoga kelak karya ini menjadi abadi dan menjadi amal jariyah buat saya kelak.

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...