Shaum hari ke 17

0 Comments
Alhamdulillah sampai hari ke-17 ini kasih sayang-Nya masih melimpahi keluarga ini. Kemarin seorang teman mengkonsultasikan pernikahannya kepada saya di kantor. Saya tak menyangka ternyata teman laki-laki saya yang ceria dan baik itu sering menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dilakukan oleh istrinya. Saya belum mengkros cek kebenaran informasi ini.Hanya kalau mendengar cerita dan pengakuannya bisa jadi itu memang teralami olehnya.

Perempuan dan anak memang rentan mendapatkan pelakuan kekerasan. Tapi tidak menutup kemungkinan laki-laki pun menjadi korban, seperti yang dialami teman saya. Sebagai seorang laki-laki, saya pikir apa yang kurang dari teman saya? penampilan cukup manis dengan tinggi badan yang ideal. Gaji dan penghasilan sebagai PNS di kantor pajak yang sudah 11 tahun bekerja saya pikir cukup untuk membiayai rumah tangga dengan 2 anak yang masih kecil. Rumah dan kendaraan pun sudah mereka miliki. Ternyata kondisi ini selalu dikeluhkan oleh istri teman saya. Keluhan yang selalu berujung pertengkaran ini terjadi hanya karena si istri merasa bahwa ekonomi keluarganya lebih baik dari sang suami dan apapun yang dilakukan sang suami itu tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan keluarganya.

Konsultasi ini berlangsung selama hampir 1 jam. Keinginan teman saya adalah segera mengahiri pernikahan yang sudah berjalan 8 tahun. Namun merasa tidak tega bila menatap bola mata kedua anaknya bila itu terjadi. Saya bertanya tentang hubungan seksual yang terjadi antara teman saya dan istrinya untuk melihat seberapa parah permaslahan yang mereka hadapi. Jawab teman saya baik-baik saja. Saya bertanya setiap hari pulang kerja dia ke mana? dia menjawab langsung pulang ke rumah bertemu dengan istri dan anak-anaknya.

Isrinya merupakan lulusan s1 Hukum yang selama 8 tahun ini hanya di rumah saja. Lingkungan yang ia miliki hanya sekitar rumah dan sekolah anak-anak. Seorang ibu yang tidak suka membaca dan sangat suka dengan sinetron. Latar belakang keluarga kaya membuatnya mengeluarkan energi banyak untuk bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini dimana suaminya hanya seorang PNS.

Semua kebutuhan teman saya sebagai suami selalu dipenuhi istrinya. Mulai dari urusan dapur sampai urusan anak-anak dia hanya tau beres. Malah teman saya mengatakan kalau istrinya itu sebenarnya adalah seorang yang perhatian, hanya kalau marah sering memukul dan melemparkan benda-benda yang ada di rumah.

Saya mencoba mengajak teman saya berempati terhadap kondisi istrinya yang 24 jam mengurusi rumah tangga dengan lingkungan yang itu-itu saja. Sedangkan teman saya memiliki pekerjaan yang disukainya, teman-teman yang berwawasan luas dan jenjang karir yang baik. Setidaknya istrinya butuh sebuah aktualisasi diri yang mengakibatkan dia merasa berharga sebagai manusia. Tidak melulu harus keluar rumah dan bekerja. Dia harus diajak bertemu dengan konselor keluarga agar saat menyalurkan kekesalan dan kemarahan tidak dengan melakukan kekerasan. Konselor juga akan mengajaknya menemukan apa sebenarnya permasalahan yang selalu diributkan kedua pasangan ini. Selain menemukan aktualisasi seperti apa yang baik untuk perkembangan jiwa sang istri.

Saya mencoba bertanya pada teman laki-laki saya? "jangan-jangan kamu sudah punya cadangan untuk mengganti istri kamu sehingga apapun adanya istri kamu itu jelek dan kamu anggap sampai kapan pun tidak akan berubah?" Dia menjawab dengan jujur "sebenarnya ada, hanya saya masih berat pada kedua anak saya". Saya mencoba mengajaknya merenung apakah sang cadangan ini akan lebih baik dari istrinya? padahal secara spiritual kalau kita belum bisa sukses dalam satu permasalahan biasanya Allah akan terus memberikan permasalahan yang secara garis besar sama sampai kita benar-benar bisa mengatasi masalah tersebut dengan baik.

Keinginan teman saya adalah ia ingin dihormati sebagai imam dalam keluarga. Saya kembali bertanya seperti apa kongkritnya? dia menjawab ia ingin istrinya menjadi istri yang bersyukur dan tidak membanding bandingkan dirinya dengan keluarga besarnya dan tidak menghina suaminya dan keluarganya apalagi sampai memukul suaminya. Saya mengusulkan agar istrinya di bawa ke tempat kami untuk konsultasi agar informasi berimbang untuk kedua belah pihak. Karena saya pikir lebih baik memperbaiki yang ada dari pada membuka rumah baru yang belum tentu seperti apa. Karena kalau dari cerita teman saya tersebut, ia dan istrinya masih punya kesamaan yang menganggap bahwa kedua anak mereka harus mendapatkan hal yang terbaik baik dari sisi materi maupun kasih sayang. Saya pikir dari mereka berdualah itu bisa didapatkan.

Jam 3 saya pulang dari kantor di jemput suami. Konsultasi teman saya ini menginspirasi saya untuk berbicara dari hati-ke hati dengan suami. Semoga hal ini mengurai permasalahan keluarga kami dan semakin mengeratkan kasih sayang. Semua bisa diatasi dengan syukur, sabar dan ikhlas. Dimana ketiganya tidak memiliki batas. Ah puisi yang sebelumnya saya tulis sepertinya menguap begitu saja setelah berbincang dari hati ke hati ini dia puisi yang saya tuliskan sehari sebelumya:

Tak ingin berkata kata
Bila hanya membuatmu berujar jangan pandang sebelah mata
inginku hanyalah tenggelam dalam lautan sujud bersama
menggetarkan arasy dengan perjanjian agung kita

Tak ingin apa-apa
Bila Ia sudah menopang dengan teguh dan nyata
Sandaranku melewati titian tasbih menggelora
Menundukan mauku akan dunia

Tak ingin bertanya tanya
Bila jawaban bukanlah segalanya
Cukup biarkan hati bicara
Membisikan cinta menyatukan asa

Dialog itu sangat perlu. Dalah sebuah relasi apapun. Darinya banyak hal bisa terurai. Tak ada satu masalahpun yang tak bisa dibicarakan.



You may also like

Tidak ada komentar: