Shaum hari ke 27

0 Comments
Hari-hari terahir Ramadhan menguras kesabaran saya. Betapa tidak? Efek dari sikap saya yang mempertanyakan kenapa sekertaris jurusan mengeluarkan nilai dan meloloskan mahasiswa untuk sidang komprehensif berujung jawaban sudah melakukan prosedur SP (Semester Pendek). Padahal SP harus memiliki prosedur tersendiri, dimana harus ada pertemuan dan Ujian. Saat saya tanyakan langsung pada mahasiswa bersangkutan ternyata prosedur itu tidak dijalankan.

Sikap protes saya disikapi dengan rapat pimpinan fakultas untuk membahas masalah ini. Mereka berlindung dibalik SP dan malah menyalahkan saya karena lancang memprotes jurusan. Opini yang berkembang di kalangan teman-teman yang saya tangkap, saya dosen perempuan yang over acting dan tak sepantasnya mensikapi hal remeh temeh seperti itu dengan sebuah tulisan apalagi di publish.

Tulisan yang saya publish sama sekali tidak saya maksudkan untuk menyinggung fakultas apalagi jurusan. Saya lebih memfokuskan kepada mahasiswa yang mengecewakan saya. Perasaan tersinggung fakultas dan jurusan sudah saya mintai maaf secara lisan saat saya dipanggil pihak dekanat untuk menghadap. Saya merasa seperti akan maju ke medan perang saat dipanggil oleh mereka. Seorang perempuan kecil yang tak berdaya menghadapi 5 orang laki-laki yang notabene pejabat fakultas.

Saya sudah mencoba menghipnosis diri membayangkan saya seperti bola lampu (bohlam) yang sangat rapuh namun karena fokus dan flow bisa memecahkan lantai keramik. Simulasi brain power yang saya ikuti memandu saya menghadapi ke lima laki-laki tersebut dengan santai.Ya semua sudah berlalu dan ahir dari pembicaraan itu adalah kami sepakat untuk memperbaiki kinerja kami dalam mengajar.

Suasana di fakultas belum nyaman saya rasakan. Entahlah saya belum memiliki keyakinan dengan Dekan yang baru terpilih akan seperti apa. Namun sepertinya tidak lebih baik dari yang lalu. Lebih baik saya memfokuskan diri pada studi saya dan langkah saya memberdayakan perempuan dan anak. Semakin menguat komitmen dalam diri untuk selalu menjadi oposan selain meningkatkan kualitas diri menjadi pengajar yang kompeten.

Dua hari lalu kesabaran saya juga diuji. Muka saya merah menahan marah. Air mata tak terasa keluar. Namun tidak dihadapan pihak yang menyebabkan semua ini terjadi. Dihadapan mereka saya menampilkan sosok yang kuat. Permasalahannya berawal dari tawaran untuk memasukan proposal pendampingan LSM yang saya ketuai. Sebagai tugas ketua salah satunya adalah dengan mencari sumber pendanaan untuk berjalannya program.

Sebenarnya dari awal hati saya sudah ragu untuk bekerja sama. Malah saat prosedur berbelit yang harus saya lewati, saya tidak mau menyelesaikannya namun menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang mengusahakan. Ternyata mereka memang mengusahakan agar proposal itu gol. Nah tanggal 25 kemarin itu dana tersebut cair di rekening LSM kami. Ternyata setelah kami cairkan, LSM saya hanya mendapat 3,5% dari 100% dana yang masuk. Padahal pendampingan yang kami lakukan real di masyarakat. Saya benar-benar merasa terhina dan marah dengan sistem kerja sama seperti ini. Dana tersebut saya kembalikan seluruhnya. Lebih baik saya tak mendapatkan apa-apa dari pada terhina dan marah. Karena saya yakin pintu rizqi yang halal dan berkah akan terbuka tanpa proyek pemerasan seperti itu.

Saya tidak marah kepada teman-teman yang mengusahakan proyek ini.Karena mereka pun ada dalam posisi yang serba salah. Sistem korup yang sudah akut di negri ini membuat orang-orang baik terjebak menjadi penadah dana-dana yang sebenarnya masuk ke rekening pribadi para penjahat yang ingin balik modal karena dana kampanye yang sudah dikeluarkan saat pemilihan lalu.

Saya mencoba melupakan masalah ini. Menganggap tidak pernah terjadi meski sulit. Karena kalau saya kembali protes dan mencoba membongkar semua ini saya pikir saya tak punya kekuatan apa-apa. Malah bisa jadi saya jadi perkedel. Seperti Image saya di Fakultas saat ini. Semoga saya bisa tetap memegang yang benar meski mungkin hal tersebut bisa melukai tangan saya. Tak apa asal jangan hati dan iman saya. Ah semoga kelak saya bisa jadi martir seperti mereka yang sudah menemui Engkau.


You may also like

Tidak ada komentar: