Shaum hari ke 28

0 Comments
H-2 dari lebaran. Masih di Bandung. Menunggu saat yang tepat untuk mudik. Sebuah aktifitas yang melelahkan namun tetap selalu dirindukan. Momen dimana semua anggota keluarga besar kumpul. Menyambung silaturahmi yang mungkin tak kan diketahui bila tidak ada moment ini.

Merenung di penghujung Ramadhan. Sejak subuh tadi sudah saya lakukan. Sambil berkejaran dengan kucing kesayangan. Entah kenapa ada yang retak dan resah di hati. Ada yang salah, apa yang salah? Entahlah... positif feeling agak sulit saya lakukan. Saya tau hati saya merasakan ada yang salah namun kembali saya bertanya apakah itu?

Saya tidak mau fokus dengan keresahan. Masih banyak yang bisa saya lakukan. Rumah yang harus dibereskan. Menu buka yang harus disiapkan. Juga pakaian mudik yang harus dimasukan ke tas. Mungkin karena selama ini saya selalu fokus pada positif feeling sehingga beberapa kesalahan terlewatkan. Saya tidak sensitif dan mengabaikan.

Mungkin hal ini berkaitan dengan konsep penghambaan. Sebuah konsep yang bergeser cukup besar. Bahkan mungkin bukan hanya bergeser tapi mungkin berbalik. Ke arah manakah? Kalau memakai kacamata lama tentu ke arah kemunduran. Namun kalau memakai kacamata baru ke arah kearifan.

Entahlah...sekali lagi saya hanya mampu berdo'a semoga Ia memberikan kembali keyakinan. Keyakinan yang membuat saya selama ini bertahan. Namun bukan sebuah keyakinan yang membuat saya bodoh dan terasingkan. Karena kalau Ia sebuah kebenaran, maka tak kan mungkin Ia memerangi orang yang menggunakan akalnya dengan optimal.

Kembali saya berserah dengan perkataan orang yang mengkategorikan yang lain. Mengatakan bahwa yang dilakukan adalah sebuah kemunafikan. Yahudi, nasrani bahkan ahlul kitab dialamatkan. Bersembunyi dibalik firman Tuhan. Yang diinterpretasi sesuai dengan keinginan.

Kehampaan
Ketiadaan
Kekosongan
Terasakan
di ahir Ramadhan
Hanya Tuhan
Yang mengetahui Kebenaran
Ia yang bisa dijumpai dimanapun
kapanpun
Tak perlu birokrasi yang melelahkan
Berujung sebuah Kebijakan
Namun disikapi laksana sebuah Firman
Apakah ini pengingkaran?


You may also like

Tidak ada komentar: