Shaum hari ke 29

0 Comments
Hari terahir shaum. Menyediakan makanan buka di menit-menit terahir. Bingung dan malas, menu apa lagi yang akan dihidangkan. Buka dengan baso yang tak pernah sekalipun menghiasai hari-hari shaum sebelumnya. Semoga menjadikan kami tetap sehat meski saya tau mungkin zat penyedap, pengawet, pewarna dan yang lain-lain tidak baik untuk tubuh. Sesekali tak mengapa saya pikir

Seharian tadi mempersiapkan perlengkapan mudik juga ngebut dua juz terahir. Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Tak dibantu asisten membuat semua PR saya kerjakan sendirian. Kalo lagi libur kayak gini tak terasa lelah. Beda ceritanya kalo hari biasa. So...nikmati saja jadi ibu RT full.

Keluarga kami memutuskan berlebaran esok hari, meski pemerintah RI mengumumkan lebaran hari rabu. Malam ini rute mudik dari Bandung menuju Cilegon. Setelah mengantarkan saudara di jalan dekat ke Anyer saya menjemput adik di Cilegon timur untuk sekalian berlebaran di Rangkasbitung.

Adik yang saya jemput di Cilegon ini sedang mengalami badai rumah tangga yang tidak kecil. Adik saya laki-laki sudah berumah tangga sekitar 8 tahun. Di tahun ke delapan saat Allah menganugerahi pekerjaan tetap yang lumayan ternyata tidak sejalan dengan kondisi relasi antar mereka. Sang istri mengaku telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Ia mengatakan sebelum shaum agar dimaafkan. Kalau dimaafkan dan adik saya mau menerimanya kembali maka dia bersyukur, kalau tidak dimaafkan dia rela diceraikan katanya.

Awal shaum adik saya menceritakan hal tersebut. Saya kembalikan seluruhnya kepadanya, karena dia adalah seorang pemimpin keluarga. Saya juga menyarankan untuk mengecek sejauh mana perselingkuhan istrinya, agar dia siap apapun yang diputuskan. Syukur-syukur kalau perselingkuhan itu baru sebatas telfon dan jalan. Lain ceritanya kalau sudah ML.Kalu sudah seperti itu saya pikir harus End.

Hati kecil saya berkata sekecil apapun tetap perselingkuhan, entahlah kalau itu terjadi pada saya mungkin agak sulit bagi saya untuk memaafkan. Saya lebih memilih untuk berpisah pada saat sebuah komitmen sudah tidak dihargai lagi. Kesetian bagi saya adalah segalanya. Lahir dan Bathin. Mungkin terdengar naif bagi orang lain, kadang saya pun ditertawakan oleh teman-teman kerja perempuan.

Jangankan dalam sebuah pernikahan, sebelum menikah juga saya tidak pernah memiliki komitmen dengan seorang laki-laki pun. Saya pernah menyukai seorang laki-laki, namun ternyata dia tidak menyukai saya. Ya sudah selesai tanpa ucapan dan relasi apapun hanya dalam hati saja. Komitmen pertama saya seumur hidup adalah dengan suami saat ini. Saya mungkin miskin pengalaman, tapi biarlah kalau pengalaman itu memang akan menyelamatkan. Saat ini saya terus membangun cinta agar tumbuh cinta. Karena jatuh cinta itu sakit.

Saat saya mulai memasuki dunia kampus 6 tahun lalu, banyak informasi berkeliaran bahwa dosen perempuan yang sudah mapan sering memiliki affair. Beberapa teman menyebutkan siapa saja yang memiliki affair tersebut. Saat ini saya malah dekat dengan dosen-dosen perempuan yang dikatakan memiliki affair tersebut. Meski saya melihat indikasi tersebut mungkin ada tapi saya pikir selama bergaul dengan saya mereka selalu menampilkan hal positif untuk saya. Saya bertekad sayalah yang akan memberikan pengaruh baik pada mereka bukan tertulari hal yang buruk.

Ternyata setelah lama bekerjasama dan bergaul, dosen-dosen perempuan teman saya hanya heboh di ucapan. Pada dasarnya mereka perempuan baik dan bertanggung jawab. Anak-anak mereka baik dan sholeh dan beberapa ada yang hafidz qur'an. Saya pikir tak mungkin itu muncul dari ibu yang tidak baik. Rumor yang saya dengar mungkin keliru. Itu hanya bentukan masyarakat kampus untuk menganggap bahwa perempuan kuat dan sukses itu hal yang bertentangan dengan kebenarah. Ah emang gue pikirin.

Sejam kedepan saya berangkat mudik...wajah ibu...bapa...sudah terbayang dipelupuk mata. Saya menyayangi mereka berdua. Kalau ibu selalu saya peluk dan ciumi setiap kali bertemu, karena pertemuan kami sangat jarang. Kalu boleh bapak juga, tapi sejak Aliyah kelas 1 saya sudah tidak boleh lagi mencium bapa, saya dimarahi ibu saat melakukan terahir kali.

Ya...semoga saya mendapatkan makna dan menjadi lebih baik lagi dalam perjalanan mudik kali ini


You may also like

Tidak ada komentar: