Jumat, 30 September 2011

Insiden Kamis Sore

Dinding depan rumah terlihat tak utuh lagi. Temboknya sedikit hancur dan plester semennya berguguran. Kerusakannya tidak besar memang, mungkin lebarnya sekitar 7 cm panjangnya 15 cm. Kerusakan itu terjadi akibat ulah saya. Saya belum bisa memarkirkan mobil dengan baik. Kejadian ini terjadi sore kemarin.

Tidak hanya temboknya sebenarnya, bemper depan mobil juga ada yang retak dan sedikit goresan. Kalau melihat mobil dan tembok rumah yang rusak, sebenarnya saya tidak hawatir. Toh keduanya hanya materi yang tidak akan saya simpan di hati. Namun yang agak menghawatirkan saya adalah hati saya dan suami.

Akibat kejadian itu dia bereaksi menasihati saya dan mengatakan bahwa saya masih membutuhkan dia. Saya sudah menyetir tanpa izin darinya. Sebelum dia memberikan lampu hijau untuk saya nyetir sendiri jangan pernah saya melakukannya. Dia bilang saya tidak mentaatinya dan inilah akibat dari perbuatan saya.

Saat dia berkata seperti itu, saya hanya bilang bahwa saya akan bertanggung jawab dengan semua kerusakan. Jangan sampai hanya karena masalah duniawi menjadikan relasi saya dan dia menjadi tidak enak. Tolong izinkan saya untuk lebih sering memyetir sendiri. Agar saya bisa terlatih dan aman mengemudikannya. Dia tidak terlalu banyak berkata cuma berpesan agar saya selalu hati-hati.

Obrolan kami setelah insiden itu membuat hati saya tak enak. Terus terang kenapa saya kemarin menyetir sendiri?, karena saya kesal sudah hampir 4 bulan selalu tidak diperbolehkan menyetir sendirian. Padahal mobil itu saya beli dari keringat saya sendiri. Selalu menunggunya mengawasi dan mengajari saya, padahal agenda kita padat dan jarang singkron. Ahirnya saya jarang latihan.

Kekesalan ini sebenarnya sudah saya pendam semenjak dia melarang saya kursus nyetir. Berbagai alasan dikemukakannya mulai dari nanti berdua-duaan saja dengan instruktur yang laki-laki. Instruktur nyetir kadang suka cari kesempatan pegang-pegang saat oper gigi. Saya menurutinya dan mengikuti semua saran-sarannya.

Belajar nyetir selama 4 bulan dengannya di awal-awal membuat saya tekanan batin. Selain dia sangat cerewet, kadang intruksinya malah membingungkan. Terkadang malah show kemampuan bahwa dialah yang bisa sedangkan saya tidak bisa (ini cuma perasaan saya aja kali?) Pokoknya rasa sayang dan kekhawatirannya membuat saya tidak berkembang. Sempat saya kemukakan hal ini dan dia mengubah gaya ngajarnya. Tapi tetap harus selalu menunggu waktu luang yang dia punya, padahal di awal semester ini dia mengajar di tiga perguruan tinggi, kapan waktu untuk melatih saya?

Kemarin saya nyetir sendiri, berkeliling-keliling komplek dan komplek tetangga. Nyaman rasanya....saya seolah merasa merdeka. Ternyata saya bisa, bahkan bisa bulak-balik kampus sendiri. Hanya satu kesalahannya saya nekad memasukan mobil ke depan rumah padahal lokasinya sempit dan membutuhkan jam terbang yang cukup untuk itu. Sebenarnya saya juga mau menyimpan mobil tersebut di samping rumah saja, namun karena merasa lancar saya kebablasan.

Sebelum menikah suami saya adalah guru kursus TOEFL. Kursus ini saya masuki karena saya berencana studi di luar negri. Ternyata saya malah dilamar dia dan semua impian untuk studi keluar mesti saya simpan dulu atau digantikan dengan hal lain. Saya mengamini takdir ini. Tak ada yang saya sesali sama sekali. Karena dia guru saya, banyak pelajaran kehidupan yang saya tidak tau saya dapatkan darinya. Sebagai guru dia juga selalu menggunakan metode pendidikan orang dewasa yang menganggap murid subjek dan setara dengannya.

Dari responnya kemarin yang tidak banyak bicara, saya tau dia menyayangi saya. Dia tau saya kaget. Sepertinya tidak ingin memperburuk perasaan saya dengan berkata lebih lanjut. Sehingga kata-kata yang keluar adalah pesan agar saya berhati-hati. Ya...ini cuma kejadian kecil yang harus saya alami saat belajar sesuatu. Dari kejadian ini, dia jadi tau bahwa sebenarnya saya tidak sabar. Diam dan tenangnya saya selama ini karena berusaha menghormati dan menghargainya namun ternyata tidak membuat kemampuan nyetir saya berkembang. Kepercayaan darinya sangat saya harapkan. Semoga...Rabb...sentuh jiwanya.

Rabu, 28 September 2011

M-21 Bisaa!!!!

M-21 Bisaa!!! seru saya lalu bertanya ke suami, "a kalo "M-21 Bisa" itu produk minuman energi itu ya? wah keren nih judul yang akan saya tulis". "M-21? emang ada? yang saya tau M-150 bukan M-21 kalo minuman energi mah" jawabnya. "Loh emang ganti ya?" kata saya. "Ganti apaan emang dari dulu 150 dan gak pernah kurang" jawabnya. Ya udah terserah...yang penting buat saya M-21 Bisaa saja hehe...maksa pisan.

Kenapa saya ngotot dengan M-21 karena saya sedang memperkuat komitmen untuk berubah. "Berubah"...satria baja hitam kalee. Sudah hari ke 3 saya konsisten mengalokasikan waktu untuk serius menggarap studi saya. No...online...no buku gak karuan...no ngobrol saat masuk ke dalam kepompong yang saya siapkan. Kepompong yang nyaman...dengan buku pilihan yang sudah disiapkan dan semangat untuk berubah menjadi kupu-kupu yang indah.

M merupakan singkatan dari Misi. Angka 21 saya maksudkan adalah 21 hari berturut-turut melakukan aktifitas serupa agar tumbuh kebiasaan. Saya ingin mengubah kebiasaan saya dengan kebiasaan yang lebih efektif lagi. Kenapa 21 hari ya? saya pernah mendengarnya kalo konsisten selama 21 hari maka kebiasaan baru akan terbentuk. Ahirnya saya searching ke mbah google tentang kenapa 21 hari. Ahirnya jawabannya adalah:

“Kebiasaan akan terbentuk bila kita mengulang ulang sebuah aktifitas dengan konsisten selama 21 hari”. Pernyataan ini merupakan hasil penelitian yang dipraktekan Will Bowen, Ketua Pendeta dari Satu Pusat Komunitas Spiritual di Kota Kansas, Missouri, AS. Pendeta itu telah menulis 2 buah buku – “Sebuah Dunia Bebas Keluhan” dan “Hubungan Persahabatan yang Bebas Keluhan: Cara untuk secara Positif Mengubah Hubungan Pribadi, Pekerjaan, dan Percintaan Anda (Complaint Free Relationships: How to Positively Transform Your Personal, Work, and Love Relationships).”

Menjalani aktifitas konsisten selama 21 hari sepertinya mudah dilakukan. Namun ternyata banyak komunitas jamaahnya merasa kesulitan untuk benar-benar konsisten. Karena bila dalam rentang 21 hari tersebut satu hari saja tidak dilakukan, maka harus mulai lagi dari awal. Sehingga rata-rata orang bisa sukses menjalankannya paling tidak selama 4 - 8 bulan.

Dua paragraf yang saya temukan di google ini saya sarikan ulang agar lebih terekam lagi dalam benak tentang komitmen M-21 yang saya canangkan (wiih pake bahasa pejabat boo) Hehe..pokoknya gitu dweeeh.

Ini adalah hari ketiga yang saya jalani dari M-21. Saya berterimakasih kepada diri saya sudah mau mengikutinya. Semoga bisa istiqamah. Karena dalam istiqamah terdapat barakah itu kata Kiai saya. Ayo jiwaku...tetap semangaat...kamu pasti bisa!.

M-21 tidak hanya saya peruntukan untuk diri sendiri, melainkan juga untuk anak-anak saya. Saya juga mengalokasikan waktu khusus untuk mereka. Memanggil teman-teman mereka untuk ikut mengaji dan belajar di rumah seperti yang dahulu ibu saya pernah lakukan. Alhamdulilah rumah kini semakin ramai dengan anak-anak mengaji dan bejalar seusai magrib. Bahagia rasanya melihat anak-anak bergembira saat saya menceritakan sejarah Nabi-nabi yang saat ini hanya bisa ditemui di buku cerita.

Setiap waktu...setiap saat...hanya ingin menjadi lebih baik lagi. Berikan hannah kesungguhan Rabb...untuk menemui-Mu dengan senyuman.

Senin, 26 September 2011

Menari....

Bandel!!!itu ocehan teman ketika tau saya punya jadwal tambahan ngajar di Perguruan Tinggi yang lain. Jadwal yang ada aja udah seabrek masih juga mau ditambah yang lain. Kapan kamu mau kelar studinya? Paling tidak minimal, kita butuh waktu 3 jam sehari untuk nulis dan baca untuk disertasi disela-sela seluruh aktifitas kita. Itu minimal non...dengan itu aja entah 7 semester beres atau tidak, apalagi dengan gaya mu yang gak karuan itu. Apasih yang kamu cari?

Sempat termenung memikirkan ocehan teman tadi. Iya apa yang saya cari? Duit? engga juga...gajinya gak terlalu besar. Gaji sertifikasi dosen negri cukup buat gaya hidup saya yang minimalis,dari suami juga ada. Trus apa dong? Saya ngajar mata kuliah agama Islam di Perguruan Tinggi Umum ini, ruhnya beda banget saat ngajar filsafat di UIN. Mahasiswa yang saya ajar mata kuliah agama Islam ini begitu antusias, semangat dan menyenangkan. Mereka baru semester awal masih fresh dan belum tercemar. Beda kalo ngajar di UIN yang selalu kebagian anak semester 6 dan 7 yang udah pada kusam dan kadang nihilis abissss.

Jadi wajar kan kalau saya menerima tawaran ini? Selain itu juga ngajarnya cuma 8 pertemuan dan salah satu pertemuannya yaitu outbond kan seru...? Ada nilai pulsnya lagi...yaitu saya tidak putus komunikasi dengan mereka dan tetap mengarahkan mereka dengan memakmurkan masjid kampus. Karena kampus umum, mereka jadi antusias saat saya mengaktifkan mahasiswi lewat keputrian. Ya...saya merasa bisa berbuat banyak selain ngomongin wacana melambung gak karuan.

Oke saya harus bisa membagi waktu. Keluarga tetap nomor 1. Mengajar no 2. Belajar no 3. Ngurusin korban di kantor no 4. Ngurusin lsm no 5. Semoga bisa menjalaninya dengan enjoy...

Teman saya sudah berlari...saya pun ingin berlari...berlari dengan gaya saya...sambil menari...semoga saat berlari ini tak membuat saya lelah...namun membuat semakin berseri dan berarti. Karena tiap hentakan langkah selalu berirama....berputar...berputar... berputar menari...menari kau terbang....tralala tralala...tralalala....Hoo...balerina tetap lah tersenyum walaupun pedih hatimu kan salalu menari....(sherina mode on....)

Hidup serupa tarian indah untuk menghadirkan Ilahi disetiap helaan nafas. Menjadi berarti...hanya untuk-Mu...
buka pintu-Mu...
lembah ini ingin aku isi sebanyak-banyaknya semampu yang ku bisa agar kelak Engkau bisa tersenyum untukku.

Sabtu, 24 September 2011

Bangun tidur...tidur lagi

Hampir sepanjang hari berada di atas kasur. Habis masak langsung ke kasur, habis ngurusin anak langsung ke kasur pokoknya kasur jadi sentra kegiatan hari ini. Emang ngapain aja di kasur? kebanyakan hari ini aktifitas yang dijalani adalah baca dan tidur.

Pikiran tentang kerjaan, disertasi...juga masalah-masalah yang lain untuk hari ini disimpan di lemari es hatiku. Nyaman rasa yang kurasakan saat ini. Mengistirahatkan badan sambil berbalut selimut. Sesekali anakku keluar masuk kamar untuk sekedar melihat ibunya. Mereka berkata "mimi seperti mbah surip bangun tidur tidur lagi bangun lagi tidur lagi banguuun tidur lagi" saya bertanya "kan mimi baca...trus juga masak, masa disamain sama mbah surip?" "iya bangunnya untuk baca sama masak doang...kebanyakan tidurnya" jawab anakku yang pertama. "Iya besok mimi mau rajin lagi...kita gosokin semua kamar mandi...sebelumnya kita senam pagi sambil cari sarapan di pasar pagi", ajak saya. "Hore...asik kita berangkat setelah sholat subuh ya mi? Yo...i jawab saya.

Hari ini saya merasa santai selain karena hari libur, juga karena suami sedang tidak ada di rumah. Dia mengajar di luar kota sekalian menengok ibunya yang sudah tua. Pagi dia mengajar sampai siang dan jam 4 sore sudah sampai di rumah ibunya. Besok jam 10 pagi semoga sudah sampai lagi di rumah kami dan dia minta agar saya mendo'akan keselamatannya. Ya...saya mendoakan yang terbaik untuknya.

Relasi kami saat ini berjalan dengan lebih baik lagi. Dia tidak hanya berperan sebagai suami melainkan juga sebagai sahabat sejati buat saya. Seringkali dia jadi tong sampah cerita saya tentang pekerjaan, perasaaan dan apapun yang saya rasakan dan pikirkan. Saya merasa rasa yang dimilikinya buat saya melebihi apa yang saya rasakan. Memang dari awal dialah yang terlebih dahulu mencintai saya. Sosok Arai sebagai Sang Pemimipi dalam tetralogi Andera Hirata yang mencintai Zakiah Nurmala menurut saya mewakili sosok suamiku saat ini. Meski saya tidak secuek Zakiah Nurmala tentunya. Tapi terus terang kegigihannya untuk memenangkan hati ini patut diacungi jempol. Dengan kegigihan dan kesabaran itu pada ahirnya saya menyerah dan bersedia mendampinginya seumur hidup.

Apabila kita dihormati dengan sebuah penghormatan dari yang lain maka balaslah dengan penghormatan serupa atau lebih baik lagi. Perkataan Allah ini tentunya memotivasi saya untuk berusaha lebih baik lagi sebagai istri. Secara syari'at adanya saya di titik hidup saat ini karena kebaikan suami yang mendampingi. Saya bisa tumbuh...berkembang dan semakin menemukan diri. Kekurangan saya yang sangat banyak tidak menjadikannya bosan untuk terus bersabar. Demikian yang bisa saya pelajari darinya. Semoga saya juga bisa memotivasinya untuk juga menemukan dirinya menjadi lebih baik lagi. Semoga...berkahi keluarga ini Rabb...

Kamis, 22 September 2011

Ups...Hampir Saja

Malam ini dua buah buku sudah saya pegang setelah mengkondisikan anak-anak untuk tidur. Kedua buku tersebut saya bolak balik, kira-kira yang mana duluan yang akan saya baca. Sepertinya buku yang lebih kecil lebih menarik. Buku yang berjudul "Hak Untuk Malas" menggelitik saya yang sedang merasa malas agar bisa berapologi dengan ilmiah.

Buku ini baru tadi siang saya beli saat diminta kantor untuk belanja buku perpustakaan. Buku ini saya beli untuk menghiasi perpustakaan pribadi yang sebelumnya akan saya kunyah dulu isinya baik-baik. Tentu pake uang pribadi dong...padahal ahir bulan ini budjet saya mulai menipis. Tapi begitulah saya dari dulu saya rela tidak beli apa-apa asalkan dapat buku baru.

Uang THR kantor habis bis...juga buat buku. Baju lebaran? yah...seadanya sajalah...toh pake baju apa saja kalo penampilan udah oke...tetep oke kan? iiih narsis abis padahal sedang menghibur diri karena sering diledek temen kantor yang selalu maching. Kalo baju ungu...tas ungu...sepatu nuansa ungu...asesoris dll. Klo saya dari dulu selalu bawa tas ransel. Tas ransel yang baru sekali dicuci seumur saya miliki hehehe jorrok. Biarin...kenapa pula orang repot dengan penampilan trus menghasut yang lain untuk seperti mereka.

Setahun bergaul dengan mereka saya terpengaruh juga sebenarnya. Baru sekarang seumur hidup saya punya sepatu cantik hihihi...itu pun ditengah resepsi pernikahan saudara saya buka dan telanjang kaki karena keram. Nah malu-maluin kan jadinya? Ya ahirnya saya kembali memilih sepatu yang nyaman tidak ikut-ikutan lagi. Cuma sepatu kets sudah sangat jarang saya pake karena sering menuai protes dari teman sesama pengajar yang gerah dengan gaya saya.

Mencoba untuk memberikan contoh yang baik terutama pada anak pertama saya yang girly (niru siapa ya? dulu saya bergamis...tapi tetep sporty abiiizz). Saya sekarang sering memakai rok meski tetap dalemannya jins hehehe. Soalnya motor adalah teman saya sehari-hari bermobilisasi. Motor berkopling pula gak mungkin kan gak pake celana panjang? Pake mobil?...belum berani ah...kemarin disemprot orang karena dianggap bawa mobil terlalu lambat dan hampir menyenggol mobilnya. Bikin sport jantung aja tuh orang...ya sudahlah harus sering latihan lagi.

Kembali ke buku kecil yang saya baca. Buku kecil tersebut saya baca sekilas...wah seru juga ternyata buku ini disusun oleh menantu Karl Marx yang memiliki ahir hidup tragis yaitu bunuh diri. Pengantar buku ini ditulis oleh komunitas merah-hitam yang juga menamakan diri sosialisliberatian sepertinya bakal seru.

Tapi...malam jum'at ini saya ingin merasakan kesyahduan bermesraan dengan Kekasih sejati. Jadi kalo baca buku ini diteruskan kayaknya suasananya bakal berbeda. Ya sudah saya beralih ke bukunya Jalaludin Rahmat yang berjudul Road to Allah...

Hmm tiba-tiba saya teringat dengan persyaratan pencairan beasiswa kuliah. Ups...kapan ya tanggal terahirnya. Oh my God...besok terahir persyaratan harus dikumpulkan dan masih ada satu surat yang belum saya buat, yaitu surat pernyataan yang harus ditandatangani rektor. Rektor sedang ada di Australia. Betul-betul kemalasan sangat merugikan. Padahal sampai saat ini beasiswa tersebut adalah nyawa kuliah saya. Tarik nafaas...tenang klo udah rizqi gak akan kemana....besok usaha maksimal bikin surat pernyataan semoga tandatangan Dekan juga bisa.

Kalo gak bisa juga insya Allah sekenario Allah lebih indah lagi. Otak saya harus diputer lagi bikin proposal penelitian dan beberapa tulisan ilmiah yang bisa menghasilkan...yaqin if there is a will there is a way...semangaat!!!semangaat! saat menyelesaikan s2 saja saya bisa melepas semua perhiasan termasuk mahar penikahan apalagi ini sekolah terahir yang gak pengen saya ulang lagi seumur hidup. Jadi harus segera beres agar bisa ngurusin yang lain lagi dan tetap punya kesempatan lebih baik

Semoga...semoga...semoga...pinjami tanganMu Rabb...mudahkan urusan hamba besok...Amiin....tapi...besok saya jadi MC di kunjungan Rakornas Penanggulangan Perdagangan Orang? Biarkanlah...tugas itu bisa diserahkan pada relawan pendamping yang membantu saya...sipp...lega...

Rutinitas biasa...biasa aja kaleee

Segunung cucian subuh ini sudah menyapa...Ini terjadi karena saya suka menunda pekerjaan. Kebiasaan basi yang sukar diubah. Kebiasaan ini juga berimbas dengan studi yang dijalani. Entah kenapa saya lebih suka mengerjakan sesuatu yang tidak prioritas meski pekerjaan itu penting. Kalo skala pekerjaan itu prioritas utama untuk diselesaikan maka saya merasa tertekan dan malah menghindari pekerjaan tersebut.

Saya memang paling tidak suka melakukan sesuatu dalam sebuah tekanan. Tapi sampai kapan mau gini terus? Ayo Hannah...manajemen waktumu harus lebih perbaiki lagi...Coba tempatkan skala prioritas terutama yang penting dan mendesak. Jangan kamu bikin lubang untuk mengubur dirimu sendiri.Hal kecil kecil inilah yang sebenarnya menentukan keberhasilan dimana pun. Huhh...benar-benar kalo rasa malas datang maka semua kalimat motivasi dari berbagai buku...pelatihan...nasihat menguap semua.

Pagi ini anak saya yang TK mogok pergi sekolah dengan alasan sering dimarahi oleh ibu gurunya. Saya bertanya seperti apa ibu guru memarahinya? Dia menjawab bahwa dia selalu diminta mengalah dan ditempatkan pada giliran terahir kalau membaca dan mengerjakan tugas. Saya bercerita tentang kebaikan-kebaikan bu guru yang pernah diceritakannya dan juga mencoba mengajak melihat sisi positif dari perilaku ibu guru kepadanya. Dari penjelasan ibu gurunya di awal semester ini, anak saya memang memiliki kemampuan di atas teman-teman yang lain. Selain dia juga selalu antusias dan selalu ingin memimpin. Ibu guru merasa berkewajiban untuk memotivasi yang lain agar juga bisa antusias dan percaya diri. Dengan seperti ini, maka diharapkan anak saya bisa sabar dan juga menghargai teman-temannya.

Informasi dari bu guru ini merupakan hal yang sangat berharga dan saya berhasil meyakinkan anak saya bahwa pada saat dia ingin menjadi anak besar seperti kakaknya maka dia harus bisa mengalah dan sabar.

Setelah berhasil meyakinkannya, dia mogok dengan alasan baru, bahwa dia tidak mau memakai kaus kaki. Kaus kaki membuatnya gerah dan gatal, padahal di sekolah wajib memakai kaus kaki. Saya melihat kaus kakinya dan berkata "ooh ternyata kaus kaki dede kotor...mimi lupa mencucinya jadi pakai kaus kaki kemarin. Kalau kaus kaki bersih pasti tidak gatal. Coba mimi pakein ya..." bujuk saya. Saya mencari-cari kaus kaki anak saya di lemari...ternyata kaus kakinya tinggal yang sebelah sebelah...dan yang lain kotor semua karena saya lupa mencucinya. Saya memeluknya dan meminta maaf membuatnya tidak nyaman. Untungnya tetangga sebelah menjual kaus kaki anak, sehingga kendala ini bisa teratasi.

Terus terang setelah lebaran ini saya benar-benar mengurus rumah sendiri. Ramadhan lalu berat badan saya tidak turun tetap stabil. Tapi di bulan syawal ini sepertinya berat badan saya turun. Saya jadi teringat setahun lalu dalam kondisi seperti ini saya juga menjadi kurus. Semoga meski kurus saya sehat.

Ditengah urusan cuci-mencuci tiba tiba saya dapat telfon dari kantor untuk belanja buku tentang gender. Diperpustakaan p2tp2a Jabar saat ini bukunya meski tentang perempuan, anak dan keluarga tetapi cuma ada yang islami fundamentalis saja. Sedangkan buku gender tak ada. Betapa bahagianya saya mendapat perintah ini. Karena dari kemarin saya sudah gemas dengan kondisi perpustakaan kantor kami. Artinya saya bisa nebeng beli beberapa buku yang bagus...hehehehe...bukan untuk dimiliki tapi untuk saya kaji dan telaah.

Hmm saat saya mau siap-siap berangkat, tiba-tiba saya disergap sedemikian rupa sehingga harus keramas. Dasar...handsome devil kurang ajar...bikin repot aja. Suka siih tapi mbok ya liat2 waktu dong...ditengah berkejaran dengan waktu kok seenaknya aja ngajak. Tapi seru...menegangkan hehe yo wiss mandi dulu deh...

Minggu, 11 September 2011

Refleksi Kesehatan Reproduksiku

Sedikit Caffein semoga bisa mengusir rasa malas. Membangkitkan sedikit semangat yang masih terbias liburan. Menyiapkan sarapan, mencuci piring dan sedikit beres-beres sudah saya lakukan. Namun tiba-tiba perut saya terasa sakit tidak parah memang. Sedikit perih dan sepertinya ada sesuatu yang terjadi di rahim. Berbaring sebentar sambil online namun tetap rasa sakit itu tak mau enyah.

Ada apakah ini? hari keberapakah dari siklus haid? Hari ini hari ke 25 dari hari pertama haid. Selama ini siklus haid saya antara 25-28 hari. Saat saya periksa, ternyata memang benar haid sudah datang. Ya sudahlah, rasa sakit yang terasa itu karena meluruhnya sel dinding rahim yang sudah menebal. Karena tidak terjadi pembuahan maka ahirnya sel dinding rahim tersebut meluruh dengan ovum yang tidak terbuahi.

Merenungkan proses reproduksi yang terjadi dalam tubuh ini. Bulan ini saya tidak memakai pantang berkala seperti bulan-bulan lalu. Malah saat mengalami masa subur dimana ovum saya matang di hari ke 13-15 dari hari pertama haid, saya melakukan hubungan seksual dengan suami. Rupanya pikiran saya lebih kuat dari tubuh ini. Pikiran saya memang belum tertarik untuk kembali hamil. Saat ini dan setahun kedepan dalam planing rasio saya adalah menyelesakan studi.

Saya kembali merenung, selain faktor pikiran apakah kesehatan tubuh juga mempengaruhi terjadinya kehamilan? Tentunya faktor tersebut juga mempengaruhi namun lebih dominan yang mana gak usah terlalu dipikirkan. Jalani saja pola hidup sehat dan seimbang.

Kalau ada pertanyaan apakah saya masih mau hamil? jawaban sebenarnya saya belum mau hamil dan kalau bisa cukup dua kali saja. Namun kalau melihat harapan dari orang tua dan keluarga besar juga lingkungan selalu mendorong agar saya hamil untuk yang ketiga kali. Alasan mereka hampir sama, karena saya belum memiliki anak laki-laki. Memang kenapa kalau saya tidak melahirkan anak laki-laki? Apakah jenis kelamin anak, saya yang menentukan? Bukankah kedua putri saya sehat dan cerdas? Rasulullah pun bangga dengan putri-putrinya dan dari merekalah tidak terputus nasab beliau.

Saya menikah di bulan oktober 2001 dan resepsi di bulan november 2001. Benar saja 28 juli 2002 anak pertama saya lahir. Pas 9 bulan dari pernikahan yang saya jalani. Kemudian setelah lahir anak pertama saya mencoba alat kontrasepsi yaitu pil yang ternyata tidak cocok, badan saya semakin kurus, air susu tidak keluar dan selalu mual. Dokter kandungan menyarankan saya memakai IUD Copper T. Ternyata cocok, namun haid saya jadi banyak dari biasanya dan harus hati-hati saat melakukan aktifitas termasuk berhubungan seksual.

Dua tahun setengah saya memakai Cooper T, setelah dibuka bulan depannya saya kembali hamil anak kedua. Artinya tak ada jeda sama sekali. Saya berkesimpulan bahwa rahim saya sangat subur saat tidak memakai alat kontrasepsi saya langsung hamil. Karenanya setelah lahir anak ke dua kembali saya memakai Cooper T untuk menjarangkan kehamilan.

Dua tahun lalu saya mengikuti pelatihan kesehatan reproduksi dan konsen meneliti tentang itu. Ternyata memakai alat kontrasepsi merupakan sebuah hak bukan kewajiban. Industri telah menjadikan perempuan sebagai objek dalam pelaksanaan KB. Seolah hanya perempuan saja yang harus bertanggung jawab dengan proses reproduksi, padahal kalau tidak ada kontribusi laki-laki tentu kehamilan tidak akan terjadi. Artinya menjarangkan kehamilan untuk menciptakan keluarga yang lebih kuat dan sejahtera merupakan tanggung jawab suami dan istri.

Sekarang saya menolak menggunakan alat kontrasepsi apapun karena hampir semua alat kontasepsi sebenarnya tidak aman karena mengacaukan sistem hormonal tubuh perempuan. Perempuan harus mengetahui tubuhnya kapan ovumnya matang, karena kalau dibuahi saat ovumnya tidak matang maka kehamilan tidak akan terjadi (menurut science loh lain kalo Allah berkehendak). Untuk mengetahui itu seorang perempuan harus sehat, karena dengan tubuh yang sehat maka siklus haid akan mudah dipelajari. Tanda-tanda masa subur dengan naiknya suhu tubuh sekitar 0,5 -2 derajat celcius, lendir vagina seperti putih telur, naiknya libido perempuan untuk berhubungan seksual dan perasaan bahagia muncul bisa terus dipelajari tiap bulan.

Ketika hak reproduksi terpenuhi maka kualitas perempuan akan terjamin. Bisa sehat dan selamat dalam menjalankan proses reproduksi. Dengan sendirinya manusia-manusia yang akan dilahirkan darinya, dididik dari asuhannya dan didampingi oleh kebersamaanya akan sehat dan tinggi kemampuan dan kualitasnya.

Kualitas Perempuan atau perempuan berkualitas dalam terminology Islam dikenal dengan mar’ah ash-shalihah atau perempuan shalih. Shalih secara literal diartikan sebagai lawan kata dari fasid atau rusak. Makna yang menunjukan bahwa sesuatu itu tidak rusak adalah makna-makna shalih seperti sehat, kokoh, kuat, layak, sesuai, tepat bermanfaat, damai dan baik.

Kaitannya dengan hak reproduksi, perempuan yang shalihah adalah yang secara sadar dan mengerti, dapat menjalankan fungsi-fungsi reproduksinya dengan benar, sesuai tepat dan sehat baik fisik-biologis mental maupun social. Dengan kualitas perempuan shalihah akan membuat kehidupan lebih baik lagi.

Sabtu, 10 September 2011

Awal Semester Baru

Awal semester ganjil sudah dimulai. Dua mata kuliah kembali saya pegang. Filsafat Sosial serta Agama dan Gender. Lega rasanya hanya kedua mata kuliah itu yang diberikan. Tidak seperti semester ganjil lalu saya mendapat tambahan mengajar Logika dan Kapita Selekta. Tambahan mengajar sebenarnya merupakan tantangan tapi juga sebuah beban. Kenapa beban? karena saya harus mempersiapkan banyak hal dengan banyak membaca, menulis dan menyiapkan mental.

Terus terang kondisi saya yang sedang studi, memiliki dua anak yang masih kecil, aktivitas LSM dan konsultan sebuah lembaga membuat saya selalu berlari agar mendapatkan waktu berkualitas disetiap kesempatan. Kondisi ini membuat hidup ini semakin hidup. Life is never flat...seru nya hidup ini! terimakasih Allah menempatkan saya pada kondisi dimana peluang pahala dan prestasi bisa terus saya raih.

Sebenarnya saya ingin mengambil cuti ngajar agar konsentrasi nulis disertasi seperti beberapa teman, tapi mengajar adalah sebuah spirit buat saya untuk terus membaca dan belajar. Ya...nikmati saja apa yang ada dihadapan. Gaya belajar tiap orang berbeda...saya termasuk orang kinestetik, karenanya dari dulu semakin banyak saya bergerak maka otak saya semakin encer, tapi kalo diem malah buntu dan tidak produktif.

Dua jam ke depan saya akan bertemu dengan Prof Bambang Sugiharto. Dosen filsafat yang saya kagumi. Hasil telfon kemarin dia mau bimbing saya untuk disertasi. Sepertinya bu Musdah Mulia mungkin gak akan saya hubungi, selain jarak yang jauh,juga proyeksi ke depan,saya akan lebih fokus ke filsafat. Tentu ini peluang yang baik untuk menyerap ilmu dari orang mumpuni selain juga orangnya asyik.

Tumpukan baju kering sudah meninggi menunggu disetrika. Cucian piring tak henti-hentinya mengalir. Rumah selalu semarak dipenuhi canda tawa anak saya dan teman-temannya. Rumah juga belum selesai dibereskan setelah pulang mudik ......BERANTAKAAAN!!!. Asisten rumah tangga saya tidak balik lagi tergiur kerja di sebuah Pabrik di Purwakarta. Tawaran untuk saya kuliahkan ditepis begitu saja. Tawaran yang saya berikan sebenarnya bukan karena sosok perempuan muda itu. Saya menawarkannya karena kakaknya kemarin sudah tinggal di rumah saya 7 tahun, beres kuliah dan sekarang sudah menjadi seorang guru. Ternyata lain kakak lain adik. Keduanya memang sangat berbeda. 6 bulan saya mencoba mempelajari dan memahami karakternya namun ternyata saya tak berhasil mengajaknya lebih positif menata hidup. Ya sudahlah...semua orang memiliki pilihan.

Calon asisten RT baru saya seorang gadis dari Karawang. Mantan peserta pelatihan bordir yang lembaga saya rekomendasikan. Dari 20 orang yang kami utus selama 4 bulan hanya dia yang bertahan. Meski hanya lulusan paket C tapi semangatnya untuk menjadikan hidupnya lebih baik menggugah saya untuk memberikan kesempatan kuliah. Ya...saya tidak ingin anak saya diasuh oleh manusia yang tidak memiliki semangat untuk hidup. Karena semangat untuk menjadikan hidup ini lebih baik lagi merupakan sebuah kunci keberhasilan. Semoga saya bisa bersinergis dengannya menata hidup ini lebih baik lagi. Berkahi hidup Hannah Rabb...untuk terus berbagi dan mendapatkan makna dari setiap detik usia yang Kau berikan.

Senin, 05 September 2011

Sunset 1 Syawal 1432 H





Menikmati sunset 1 syawal di Pasir Putih Carita jadi pilihan keluarga kami. Mumpung yang lain sibuk berbuka karena lebarannya jadi hari rabu artinya pantai akan sepi. Benar...hanya beberapa orang saja yang bermain di pantai. Selebihnya keluarga besar kamilah yang meramaikan pasir putih ini.

Sudah setengah tahun saya tak menikmati air laut yang menyehatkan. Sehingga saat ada kesempatan meski sudah ibu-ibu saya tak melewatkannya Tapi ibu-ibu yang lain juga ikutan ding...kakak saya, ibu dan adik ipar juga ikut berenang. Setelah berenang ditutup dengan makan bersama di pantai. Alhamdulilaah

Betapa besar karunia Allah kepada manusia yang senantiasa memberikan banyak hal indah menakjubkan yang tersedia di alam. Lautan syukur menyeruak dalam dada...betapa Ia betul berperan sebagai Rabb..., duh malunya hati ini karena belum bisa optimal mencintai-Nya dan taat pada-Nya. Amal saya baru setitik kecil namun kasihnya selalu meliputi diri ini Rabb...ampuni kesalahanku...terimakasih atas nikmat ini



Semoga syawal ini semangat kesyukuran terus mengkerangkai langkah agar senantiasa terus berusaha mempersembahkan yang lebih baik lagi.

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...