Awal Semester Baru

0 Comments
Awal semester ganjil sudah dimulai. Dua mata kuliah kembali saya pegang. Filsafat Sosial serta Agama dan Gender. Lega rasanya hanya kedua mata kuliah itu yang diberikan. Tidak seperti semester ganjil lalu saya mendapat tambahan mengajar Logika dan Kapita Selekta. Tambahan mengajar sebenarnya merupakan tantangan tapi juga sebuah beban. Kenapa beban? karena saya harus mempersiapkan banyak hal dengan banyak membaca, menulis dan menyiapkan mental.

Terus terang kondisi saya yang sedang studi, memiliki dua anak yang masih kecil, aktivitas LSM dan konsultan sebuah lembaga membuat saya selalu berlari agar mendapatkan waktu berkualitas disetiap kesempatan. Kondisi ini membuat hidup ini semakin hidup. Life is never flat...seru nya hidup ini! terimakasih Allah menempatkan saya pada kondisi dimana peluang pahala dan prestasi bisa terus saya raih.

Sebenarnya saya ingin mengambil cuti ngajar agar konsentrasi nulis disertasi seperti beberapa teman, tapi mengajar adalah sebuah spirit buat saya untuk terus membaca dan belajar. Ya...nikmati saja apa yang ada dihadapan. Gaya belajar tiap orang berbeda...saya termasuk orang kinestetik, karenanya dari dulu semakin banyak saya bergerak maka otak saya semakin encer, tapi kalo diem malah buntu dan tidak produktif.

Dua jam ke depan saya akan bertemu dengan Prof Bambang Sugiharto. Dosen filsafat yang saya kagumi. Hasil telfon kemarin dia mau bimbing saya untuk disertasi. Sepertinya bu Musdah Mulia mungkin gak akan saya hubungi, selain jarak yang jauh,juga proyeksi ke depan,saya akan lebih fokus ke filsafat. Tentu ini peluang yang baik untuk menyerap ilmu dari orang mumpuni selain juga orangnya asyik.

Tumpukan baju kering sudah meninggi menunggu disetrika. Cucian piring tak henti-hentinya mengalir. Rumah selalu semarak dipenuhi canda tawa anak saya dan teman-temannya. Rumah juga belum selesai dibereskan setelah pulang mudik ......BERANTAKAAAN!!!. Asisten rumah tangga saya tidak balik lagi tergiur kerja di sebuah Pabrik di Purwakarta. Tawaran untuk saya kuliahkan ditepis begitu saja. Tawaran yang saya berikan sebenarnya bukan karena sosok perempuan muda itu. Saya menawarkannya karena kakaknya kemarin sudah tinggal di rumah saya 7 tahun, beres kuliah dan sekarang sudah menjadi seorang guru. Ternyata lain kakak lain adik. Keduanya memang sangat berbeda. 6 bulan saya mencoba mempelajari dan memahami karakternya namun ternyata saya tak berhasil mengajaknya lebih positif menata hidup. Ya sudahlah...semua orang memiliki pilihan.

Calon asisten RT baru saya seorang gadis dari Karawang. Mantan peserta pelatihan bordir yang lembaga saya rekomendasikan. Dari 20 orang yang kami utus selama 4 bulan hanya dia yang bertahan. Meski hanya lulusan paket C tapi semangatnya untuk menjadikan hidupnya lebih baik menggugah saya untuk memberikan kesempatan kuliah. Ya...saya tidak ingin anak saya diasuh oleh manusia yang tidak memiliki semangat untuk hidup. Karena semangat untuk menjadikan hidup ini lebih baik lagi merupakan sebuah kunci keberhasilan. Semoga saya bisa bersinergis dengannya menata hidup ini lebih baik lagi. Berkahi hidup Hannah Rabb...untuk terus berbagi dan mendapatkan makna dari setiap detik usia yang Kau berikan.


You may also like

Tidak ada komentar: