Bangun tidur...tidur lagi

0 Comments
Hampir sepanjang hari berada di atas kasur. Habis masak langsung ke kasur, habis ngurusin anak langsung ke kasur pokoknya kasur jadi sentra kegiatan hari ini. Emang ngapain aja di kasur? kebanyakan hari ini aktifitas yang dijalani adalah baca dan tidur.

Pikiran tentang kerjaan, disertasi...juga masalah-masalah yang lain untuk hari ini disimpan di lemari es hatiku. Nyaman rasa yang kurasakan saat ini. Mengistirahatkan badan sambil berbalut selimut. Sesekali anakku keluar masuk kamar untuk sekedar melihat ibunya. Mereka berkata "mimi seperti mbah surip bangun tidur tidur lagi bangun lagi tidur lagi banguuun tidur lagi" saya bertanya "kan mimi baca...trus juga masak, masa disamain sama mbah surip?" "iya bangunnya untuk baca sama masak doang...kebanyakan tidurnya" jawab anakku yang pertama. "Iya besok mimi mau rajin lagi...kita gosokin semua kamar mandi...sebelumnya kita senam pagi sambil cari sarapan di pasar pagi", ajak saya. "Hore...asik kita berangkat setelah sholat subuh ya mi? Yo...i jawab saya.

Hari ini saya merasa santai selain karena hari libur, juga karena suami sedang tidak ada di rumah. Dia mengajar di luar kota sekalian menengok ibunya yang sudah tua. Pagi dia mengajar sampai siang dan jam 4 sore sudah sampai di rumah ibunya. Besok jam 10 pagi semoga sudah sampai lagi di rumah kami dan dia minta agar saya mendo'akan keselamatannya. Ya...saya mendoakan yang terbaik untuknya.

Relasi kami saat ini berjalan dengan lebih baik lagi. Dia tidak hanya berperan sebagai suami melainkan juga sebagai sahabat sejati buat saya. Seringkali dia jadi tong sampah cerita saya tentang pekerjaan, perasaaan dan apapun yang saya rasakan dan pikirkan. Saya merasa rasa yang dimilikinya buat saya melebihi apa yang saya rasakan. Memang dari awal dialah yang terlebih dahulu mencintai saya. Sosok Arai sebagai Sang Pemimipi dalam tetralogi Andera Hirata yang mencintai Zakiah Nurmala menurut saya mewakili sosok suamiku saat ini. Meski saya tidak secuek Zakiah Nurmala tentunya. Tapi terus terang kegigihannya untuk memenangkan hati ini patut diacungi jempol. Dengan kegigihan dan kesabaran itu pada ahirnya saya menyerah dan bersedia mendampinginya seumur hidup.

Apabila kita dihormati dengan sebuah penghormatan dari yang lain maka balaslah dengan penghormatan serupa atau lebih baik lagi. Perkataan Allah ini tentunya memotivasi saya untuk berusaha lebih baik lagi sebagai istri. Secara syari'at adanya saya di titik hidup saat ini karena kebaikan suami yang mendampingi. Saya bisa tumbuh...berkembang dan semakin menemukan diri. Kekurangan saya yang sangat banyak tidak menjadikannya bosan untuk terus bersabar. Demikian yang bisa saya pelajari darinya. Semoga saya juga bisa memotivasinya untuk juga menemukan dirinya menjadi lebih baik lagi. Semoga...berkahi keluarga ini Rabb...


You may also like

Tidak ada komentar: