Refleksi Kesehatan Reproduksiku

0 Comments
Sedikit Caffein semoga bisa mengusir rasa malas. Membangkitkan sedikit semangat yang masih terbias liburan. Menyiapkan sarapan, mencuci piring dan sedikit beres-beres sudah saya lakukan. Namun tiba-tiba perut saya terasa sakit tidak parah memang. Sedikit perih dan sepertinya ada sesuatu yang terjadi di rahim. Berbaring sebentar sambil online namun tetap rasa sakit itu tak mau enyah.

Ada apakah ini? hari keberapakah dari siklus haid? Hari ini hari ke 25 dari hari pertama haid. Selama ini siklus haid saya antara 25-28 hari. Saat saya periksa, ternyata memang benar haid sudah datang. Ya sudahlah, rasa sakit yang terasa itu karena meluruhnya sel dinding rahim yang sudah menebal. Karena tidak terjadi pembuahan maka ahirnya sel dinding rahim tersebut meluruh dengan ovum yang tidak terbuahi.

Merenungkan proses reproduksi yang terjadi dalam tubuh ini. Bulan ini saya tidak memakai pantang berkala seperti bulan-bulan lalu. Malah saat mengalami masa subur dimana ovum saya matang di hari ke 13-15 dari hari pertama haid, saya melakukan hubungan seksual dengan suami. Rupanya pikiran saya lebih kuat dari tubuh ini. Pikiran saya memang belum tertarik untuk kembali hamil. Saat ini dan setahun kedepan dalam planing rasio saya adalah menyelesakan studi.

Saya kembali merenung, selain faktor pikiran apakah kesehatan tubuh juga mempengaruhi terjadinya kehamilan? Tentunya faktor tersebut juga mempengaruhi namun lebih dominan yang mana gak usah terlalu dipikirkan. Jalani saja pola hidup sehat dan seimbang.

Kalau ada pertanyaan apakah saya masih mau hamil? jawaban sebenarnya saya belum mau hamil dan kalau bisa cukup dua kali saja. Namun kalau melihat harapan dari orang tua dan keluarga besar juga lingkungan selalu mendorong agar saya hamil untuk yang ketiga kali. Alasan mereka hampir sama, karena saya belum memiliki anak laki-laki. Memang kenapa kalau saya tidak melahirkan anak laki-laki? Apakah jenis kelamin anak, saya yang menentukan? Bukankah kedua putri saya sehat dan cerdas? Rasulullah pun bangga dengan putri-putrinya dan dari merekalah tidak terputus nasab beliau.

Saya menikah di bulan oktober 2001 dan resepsi di bulan november 2001. Benar saja 28 juli 2002 anak pertama saya lahir. Pas 9 bulan dari pernikahan yang saya jalani. Kemudian setelah lahir anak pertama saya mencoba alat kontrasepsi yaitu pil yang ternyata tidak cocok, badan saya semakin kurus, air susu tidak keluar dan selalu mual. Dokter kandungan menyarankan saya memakai IUD Copper T. Ternyata cocok, namun haid saya jadi banyak dari biasanya dan harus hati-hati saat melakukan aktifitas termasuk berhubungan seksual.

Dua tahun setengah saya memakai Cooper T, setelah dibuka bulan depannya saya kembali hamil anak kedua. Artinya tak ada jeda sama sekali. Saya berkesimpulan bahwa rahim saya sangat subur saat tidak memakai alat kontrasepsi saya langsung hamil. Karenanya setelah lahir anak ke dua kembali saya memakai Cooper T untuk menjarangkan kehamilan.

Dua tahun lalu saya mengikuti pelatihan kesehatan reproduksi dan konsen meneliti tentang itu. Ternyata memakai alat kontrasepsi merupakan sebuah hak bukan kewajiban. Industri telah menjadikan perempuan sebagai objek dalam pelaksanaan KB. Seolah hanya perempuan saja yang harus bertanggung jawab dengan proses reproduksi, padahal kalau tidak ada kontribusi laki-laki tentu kehamilan tidak akan terjadi. Artinya menjarangkan kehamilan untuk menciptakan keluarga yang lebih kuat dan sejahtera merupakan tanggung jawab suami dan istri.

Sekarang saya menolak menggunakan alat kontrasepsi apapun karena hampir semua alat kontasepsi sebenarnya tidak aman karena mengacaukan sistem hormonal tubuh perempuan. Perempuan harus mengetahui tubuhnya kapan ovumnya matang, karena kalau dibuahi saat ovumnya tidak matang maka kehamilan tidak akan terjadi (menurut science loh lain kalo Allah berkehendak). Untuk mengetahui itu seorang perempuan harus sehat, karena dengan tubuh yang sehat maka siklus haid akan mudah dipelajari. Tanda-tanda masa subur dengan naiknya suhu tubuh sekitar 0,5 -2 derajat celcius, lendir vagina seperti putih telur, naiknya libido perempuan untuk berhubungan seksual dan perasaan bahagia muncul bisa terus dipelajari tiap bulan.

Ketika hak reproduksi terpenuhi maka kualitas perempuan akan terjamin. Bisa sehat dan selamat dalam menjalankan proses reproduksi. Dengan sendirinya manusia-manusia yang akan dilahirkan darinya, dididik dari asuhannya dan didampingi oleh kebersamaanya akan sehat dan tinggi kemampuan dan kualitasnya.

Kualitas Perempuan atau perempuan berkualitas dalam terminology Islam dikenal dengan mar’ah ash-shalihah atau perempuan shalih. Shalih secara literal diartikan sebagai lawan kata dari fasid atau rusak. Makna yang menunjukan bahwa sesuatu itu tidak rusak adalah makna-makna shalih seperti sehat, kokoh, kuat, layak, sesuai, tepat bermanfaat, damai dan baik.

Kaitannya dengan hak reproduksi, perempuan yang shalihah adalah yang secara sadar dan mengerti, dapat menjalankan fungsi-fungsi reproduksinya dengan benar, sesuai tepat dan sehat baik fisik-biologis mental maupun social. Dengan kualitas perempuan shalihah akan membuat kehidupan lebih baik lagi.


You may also like

Tidak ada komentar: