Senin, 31 Oktober 2011

Ya Rasulullah

Hujan deras mengguyur Bandung malam ini. Tapi tetap saja udara panas enggan keluar dari kota kami. Bandung terletak pada sebuah cekungan yang dikelilingi oleh gunung. Saya kurang mengerti penjelasan dari ahli tentang hal ini. Sebenarnya saya sudah membaca kenapa suhu di Bandung semakin panas cuma lupa. Kenapa lupa? karena banyak istilah yang tidak dipahami. Pokoknya kesimpulannya karena Bandung terletak pada sebuah lembah/cekungan, sehingga udara tidak bisa leluasa untuk keluar masuk. Udara panas terjebak di sini. Kenapa udara panas yang ada? karena suhu udara laut bagian mana gitu yang berhembus ke Bandung memang panas. Ya pokoknya gitu deh...kurang paham saya.

Malam ini saya bertekad untuk menyelesaikan artikel saya yang akan saya kirimkan. Pokoknya pagi ini harus dikirimkan. Persoalan dimuat atau tidak bukan urusan saya. Pokoknya saya sudah berani mengirimkan ke media yang lumayan di Bandung ini. Sebenarnya saya sudah menemukan benang merahnya dan memetakan mind map yang saya tentang sebuah persoalan yang saya pikir cukup aktual. Namun entahlah pokoknya semangat malam ini harus selesai.

Secangkir kopi sudah dibuatkan suami untuk saya. Dia sangat mendukung cita-cita saya untuk jadi penulis yang baik. Support dan do'anya tidak akan saya sia-siakan. Kadang dia seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya. Kadang juga seperti seorang kekasih dengan rayuan mautnya hehe. Kadang juga seperti ayah saya yang suka nyuruh-nyuruh seenaknya. Terlebih nyuruh saya untuk menyimpan sesuatu pada tempatnya dan beres-beres. Padahal dari dulu saya paling sembarangan dalam hal menyimpan barang-barang apalagi beres-beres. Kadang juga dia seperti adik saya yang manja gak karuan. Oke aja deh...mau berperan jadi apa asik aja yang penting gak bosenin.

Hari ini sepanjang jalan sebenarnya saya mengalami kesedihan yang sangat terkait iman saya. Seharian saya berbicara tentang Ma'rifaturrasul kepada mahasiswa. Namun diri saya masih jauh dari berma'rifat kepada rasul. Ya Ibrahim...ma'rifat seperti apa yang engkau miliki sehingga engkau rela menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Ya Ismail ma'rifat seperti apa yang engkau miliki sehingga engkau rela mengurbankan dirimu disembelih oleh ayah yang baru saja engkau temui. Ya Hajar...ma'rifat seperti apa yang engkau miliki sehingga engkau rela permata hatimu disembelih oleh ayahnya sendiri.

Air mata saya berjatuhan saat menaiki jalan layang menuju Kiaracondong tadi siang. Dalam hati saya mengucapkan kalimah talbiah. Labbaik Allahumma labbaik...labbaika la syarika laka labbaik...Inna hamda wa ni'mata wa mulka la syarika laka. Pengorbanan apa yang saya lakukan untuk-Nya? Keegoan saya masih sangat besar. Saya masih belum mau mengorbankan apa yang saat ini sudah ada dalam genggaman. Padahal semua itu hanya titipan belaka. Terbukti betapa saya tidak bisa seperti kuda yang berlari kencang dalam mengejar ridha-Nya. Pertimbangan rasio saya, seculi ilmu yang saya miliki, anak-anak dan suami...semuanya menambat diri saya sehingga tidak maksimal mengabdi pada-Nya.

Rasulullah semoga shalawat tercurah padamu dan keluargamu. Saya ummatmu yang ingin berma'rifat padamu. Sehingga tidak hanya memahami fungsi dan peran kerasulanmu di muka bumi. Tapi saya mau tunduk patuh sepenuhnya. Bisakah? materi yang saya sampaikan ke mahasiswa saya buat tiga tahun lalu. Saat itu saya masih sepenuhnya 'patuh'. Hari ini saya merasa apa yang saya yakini bergeser...dan itu menorehkan luka yang cukup dalam di hati saya. Ilmu dan rasio saya menyangkal sedangkan rasa saya masih ada disitu. Sakit rasanya menyampaikan sebuah keyakinan sedangkan hati saya berperang sangat hebat saat menyampaikannya. Saya mencoba menekan sedemikian rupa di depan mahasiswa. Memisahkan rasa dan rasio dan menyampaikan apa yang sudah saya tulis di hand out.

Pertahanan saya jebol. Saya menangis ya Rasulullah...menangis cukup deras tadi siang. Teringat kisah engkau yang memanggil-manggil ummatmu saat hendak bertemu dengan-Nya. Namun apakah saya pantas menjadi ummatmu? sementara saya masih seperti ini. Terlena dengan dunia dan kadang masih resah saat orang lain menilai dengan sebelah mata. Wahai kekasih Allah...izinkan saya bisa berma'rifat padamu...dengan tanpa sebuah keraguan.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Bersih-bersih dulu ah....

Kamar mandi kami yang berwarna putih sepertinya sudah kembali tersenyum. Sabtu ini saya sudah menggosok semuanya dengan kasih. Betul-betul saya pastikan tak ada noda yang hinggap di tubuh kedua kamar mandi tersebut. Setelah itu dengan penuh cinta pula saya mencuci baju semua anggota keluarga. Pakai mesin cuci sih, cuma untuk baju anak-anak saya tetap harus menyikatkan karena pada bagian tertentu mesin cuci tak mempan.

Kain lap di rumah saya razia. Seprai dan sarung bantal juga jadi sasaran. Semua saya kumpulkan dan cuci dengan bersih. Saya hari ini beres-beres dengan penuh semangat. Saya sedang mensyukuri nikmat karena diberikan kesembuhan dari flu yang tiga hari kemarin menghampiri.

Belum beres sebenarnya rumah kami. Beberapa hal harus ada yang dibenahi. Tapi tak apa, saya masih punya hari minggu untuk menyelesaikannya. Sekarang saya pengen online sambil nulis apa saja yang terjadi hari ini. Agak lelah sih...tapi dinikmati aja. Semoga jadi pahala. Makan mangga dulu ah....

Kembali dapat kiriman mangga dari mertua. Mangga yang langsung dipetik dari kebun. Mangga yang memang betul-betul matang di pohon sehingga rasanya mantap. Selama saya membeli mangga, di pasar atau di supermarket, belum pernah saya merasakan mangga seenak mangga kiriman mertua.

Mertua saya tinggal sendiri. Suaminya sudah lebih dahulu wafat meninggalkannya dengan 5 anak yang masih membutuhkan biaya yang tidak sedikit. 1 orang sudah menikah, 3 orang kuliah dan 1 orang lagi masih sekolah. Dia berjuang sendiri menyekolakan ke 4 anaknya sampai semua menjadi sarjana.

Mertua saya merupakan perempuan sederhana yang hanya lulusan SR dan pesantren. Selama 10 tahun ini saya menjadi menantunya, tak pernah sekali pun kami berselisih. Dia selalu penuh kasih terhadap para menantunya. Keikhlasannya terasakan oleh jiwa kami meski tak suka banyak bicara. Saya pernah bertanya bagaimana dia bisa membiayai ke 4 anaknya sendirian sampai bisa menjadi sarjana? padahal hanya mengandalkan uang pensiun yang tidak seberapa juga warisan yang tak banyak. Dia hanya tersenyum dan berkata bahwa Allah sebaik-baik pemberi rizqi. Kita tinggal memintanya dan berusaha jadi hambanya yang baik, pasti dia akan memberikan apa yang kita minta katanya. Jawaban yang sangat sufistik yang hanya bisa di jawab oleh orang yang sampai pada maqam ikhlas....sedangkan saya? masih banyak kotoran di hati cuma teori namun masih sulit untuk beraksi.

Tiga hari ini buku Kang Jalal kembali saya baca. Setelah "the road to Allah" terutama bagian penghalang perjalanan saya baca, betul-betul hati saya pedih. Masih banyak yang dituliskan disini saya lakukan. Takabur, ujub, riya...sum'ah...ah...terlalu banyak penyakit hati yang mengendap dalam diri ini. Rabb...tuntun Hannah untuk selalu dekat dengan-Mu. Raih...rangkul...dekap dengan erat.

Jumat, 28 Oktober 2011

Kehormatan di Balik Kerudung

Kemarin badan saya meriang. Agak demam, bersin-bersin dan sedikit batuk. Mungkin karena seminggu ini saya kurang istirahat. Selain juga kemarinnya saya berenang sampai magrib tiba. Sampai di rumah saya kehujanan, ahirnya kamis pagi praktis tempat tidur jadi pilihan.

Sebenarnya gak parah sih, saya hanya sengaja mengistirahatkan badan agar hari jum'at ini bisa lebih fresh untuk kembali beraktifitas. Ditengah istirahat, saya merengek pada suami agar menemani saya nonton sebuah filem produksi Mizan yang berjudul "Semesta Mendukung". Rayuan saya ampuh...meski dia tau saya tidak fit, tetap saja mau mengantar ke bioskop dekat rumah. Saya sebenarnya ingin menghabiskan waktu berdua dengannya dan mumpung kamis siang ini dia punya waktu luang.

Ternyata filem yang saya maksud sudah tidak di putar, saya agak bete sebenarnya. Biar tidak kecewa ahirnya filem "Kehormatan dibalik Kerudung" produksi Starvision jadi pilihan. Ternyata filem yang saya maksud baru akan diputar setengah jam kedepan. Ahirnya untuk mengisi waktu kami mengunjungi toko buku Tisera. Saat kami berdua membaca, tiba-tiba di rak buku best seller dia menemukan sebuah buku karangan Kristin Hannah. Suami saya menutupi nama Kristinnya dengan jarinya, dia bilang "coba baca". Saya menjawab " itu namaku". "Iya tahun depan, kalau yang saya tutupi ini dibuka maka akan terbaca NENG bukan Kristin, karena bukumu tahun depan akan ada disini" Saya tertawa mendengar guyonannya dan dalam hati mengaminkan ucapannya.

Filem Kehormatan dibalik Kerudung diangkat dari novel Ma'mun Affani. Filem ini mengangkat tema cinta seperti biasa dimana karena cinta setiap pecinta bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Seperti kisah Laila Majnun yang sama merindunya seperti itulah kisah tokoh utama di filem ini yaitu Syahdu yang diperankan oleh Donita dan Ifand yang diperankan oleh Andhika Pratama. Keduanya bertemu di statsiun saat Syahdu hendak mengunjungi kakeknya di Pekalongan. Pertemuan keduanya sangat singkat, namun sudah membekas begitu dalam. Bukan sekedar fisik saja yang membuat keduanya saling tertarik, namun ternyata jiwa mereka saling mengisi meski hanya dengan pertemuan singkat.

Perjalanan Syahdu ke rumah kakeknya merupakan sebuah upaya untuk menenangkan diri dari segala permasalahan hidup terutama yang berkaitan dengan mantan pacarnya. Di kampung kakeknya yang sangat religius ini Syahdu ternyata bertemu kembali dengan Ifand. Takdir mempertemukan mereka kembali dan disinilah benih cinta tumbuh subur. Ifand ternyata merupakan pemuda yang disegani di kampung halamannya. Ia merupakan pemuda sholeh yang menjadi dambaan setiap gadis, termasuk seorang gadis sholehah yang menjadi kembang desa yaitu Shofia.

Syahdu yang terbiasa bergaul terbuka dengan lawan jenis menjadikannya selalu intens mengunjungi Ifand. Interaksi keduanya menjadi gunjingan masyarakat kampung dan membuat gerah kakek neneknya. Kakeknya ahirnya memberikan ultimatum agar Syahdu meninggalkan rumahnya. Syahdu meninggalkan kampung halaman kakeknya, namun cintanya pada Ifand sudah begitu kuat terhunjam demikian pula dengan Ifand.

Saat kembali dari rumah kakeknya, ternyata ibu Syahdu sedang sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatan. Syahdu yang sudah tidak memiliki ayah ini, ahirnya dengan terpaksa menerima lamaran mantan pacarnya dengan mahar biaya untuk pengobatan ibunya. Mendengar kabar Syahdu sudah menikah, Ifand merasakan pukulan yang teramat hebat. Ia menjadi sosok yang pemurung.

Ternyata pernikahan Syahdu dengan suaminya tidak berjalan dengan baik. Rasa cintanya pada Ifand sudah membuat amarah suaminya dan memancingnya untuk melakukan tindakan kekerasan. Ahirnya pernikahan mereka berantakan dan Syahdu bercerai. Setelah bercerai ternyata Syahdu mendengar kabar bahwa Ifand menikah dengan Sofia. Kabar ini laksana halilintar yang menyambar Syahdu dan menjadikan hidupnya laksana daun kering yang tak berarti. Badan Syahdu semakin kurus dan tak memiliki semangat untuk hidup lagi.

Ratih adik Syahdu merasa sedih dengan kondisi ini, ahirnya ia memutuskan untuk menyurati Ifand. Ifand meminta izin kepada istrinya Sofia untuk mengunjungi Syahdu. Sofia dengan kebesaran hatinya mengizinkan Ifand menengok Syahdu. Saat Ifand mengujungi Syahdu, Sofia membaca surat yang ditulis Ratih untuk Ifand. Sofia merasa sangat prihatin dengan kondisi Syahdu dan mengizinkan keinginan Syahdu untuk tinggal bersama mereka bila itu menjadi sesuatu yang menyembuhkan Syahdu.

Tinggalnya Syahdu dengan Ifand dan Sofia telah memancing masyarakat untuk membicarakannya sebagai sesuatu yang tidak pantas. Untuk meredam masyarakat, ahirnya Sofia meminta Ifand untuk menikahi Syahdu. Menikahnya Ifand dan Syahdu yang disaksikan oleh Sofia ternyata tidak membuat masalah selesai. Justru setelah pernikahan ini Syahdu dilanda cemburu yang sangat hebat terhadap Sofia. Saking cemburunya, Syahdu bertengkar dengan Ifand dan ahirnya ia nekat pulang ke rumah orang tuanya.

Kereta yang ditumpangi Syahdu mengalami kecelakaan. Nama Syahdu tertulis sebagai korban meninggal akibat kecelakaan itu. Setahun setelah kecelakaan, Sofia bermimpi terus tentang Syahdu. Ia ahirnya meminta izin kepada Ifand untuk mengunjungi rumah Syahdu. Ternyata Syahdu masih hidup dan memiliki anak dari Ifand dan dinamai sama dengan nama ayahnya. Syahdu saat ditengok oleh Sofia dan Ifand sedang dalam kondisi kritis akbat kanker rahim setelah melahirkan anaknya. Sesaat setelah kedatangan mereka berdua Syahdu menghembuskan nafas terahirnya.

Pengambilan gambar filem ini sangat bagus. Pemandangan yang disuguhkan dalam setiap adegan begitu indah. Alam perkampungan pekalongan yang asri. Rumah syahdu yang berada di puncak gunung begitu eksotis. Berbanding terbalik dengan cerita yang di suguhkan begitu klise dan tak memiliki konflik yang berarti. Alur cerita yang monoton ini membuat saya kurang menikmatinya. Apa pesan dari filem ini? Bagian mana yang menjawab kehormatan di balik kerudung? Apakah pada sosok seorang Sofia? Ah...terlalu naif sepertinya kalau semua perempuan berkerudung bermental seperti itu. Sosok Syahdu? Perempuan yang mengutamakan cinta pada seorang manusia yang bernama Ifand sampai dia melupakan segala-galanya?.

Terus terang saya belum bisa mengerti kalau seorang manusia bisa menomor satukan manusia yang lain karena mencintainya. Bagaimana dengan Tuhannya? Bukankah perintahnya untuk menafikan 'yang lain' selain Dirinya. Kerudung adalah lambang perempuan muslimah yang baik. Kenapa ditampilkan dengan dua perempuan yang mencintai laki-laki yang sama yang notabene hanya manusia. Sehingga untuk laki-laki yang dicintainyalah mereka memiliki alasan untuk hidup bahkan siap menderita. Absurd saya pikir. Saya tidak mau menderita hanya kerena manusia. Itu sebuah tirani. Relasi istri dengan suami bukan relasi pengabdian. Pengabdian hanya pada Tuhan. Keduanya mengabdi pada sang pencipta. Bukan pada pasangan masing-masing.



Rabu, 26 Oktober 2011

Ngehayal yuk...

Padang rumput hijau terhampar luas. Kilauan embun bertaburan disentuh sang mentari. Udara sejuk memenuhi rongga dada. Duduk pada sebuah kursi goyang rotan ditemani beberapa novel pavorit. Di samping kanan segelas susu dan beberapa potong buah tersedia. Tak berfikir tentang pekerjaan. Tak berfikir tentang keluarga. Tak berfikir tentang apa pun melainkan hanya ingin menikmati saat itu.

Rambut panjang saya tergerai bebas dicumbu angin. Bunga biru kecil menghiasi gaun putih yang saya pakai. Gaun panjang sederhana dengan model rok yang lebar. Sendiri dan sunyi begitu menyenangkan hati. Lembar-demi lembar kisah novel mengajak imajinasi saya berkelana. Melompat dari satu situasi ke situasi yang lain. Merangkai tanya menjawab segala keingintahuan akan dunia. Ah...betapa menyenangkannya.

Seekor kuda putih ditambatkan pada sebuah pohon tak jauh dari tempat saya duduk. Setelah membaca beberapa novel saya menghampirinya dan mengajak si putih untuk mengitari padang rumput. Di awali dengan berjalan perlahan, kemudian saya memacu si putih berlari kencang. Gaun saya berkibar, rambut saya menari mengikuti gerak si putih.

Berkeliling mengitari padang rumput yang berbatasan dengan sebuah hutan kecil. Hutan yang hijau dan ranum. Hutan yang dibelah oleh sungai jernih berbatu. Saya berhenti sejenak untuk mempersilahkan si putih minum sambil memperhatikan ikan-ikan kecil di dasar sungai. Mereka bergerombol di sela-sela batu. Kilau keperakan memantul saat beberapa ikan membalikan badannya. Saya membasuh muka dengan air sungai yang jernih sambil meminumnya. Kemudian melanjutkan lagi perjalanan.

Kondisi inilah yang selalu saya bayangkan saat terjebak macet dan memburu waktu untuk sampai di tempat yang dituju. Saya tarik nafas dalam-dalam sambil tersenyum. Saya bayangkan rasa bahagia saat saya berada dalam situasi di atas. Sangat nyaman membuat aliran darah saya kembali normal.

Saya merasa rileks dan nyaman, meski suara klakson terus dibunyikan oleh mobil dan motor di sekitar saya. Meski harus menunggu lama pintu kereta api karena ada dua kereta berlawanan arah yang akan lewat. Meski saya tau jarak yang harus saya tempuh masih jauh.

Tak hanya saat mengalami macet saja saya membayangkan cerita di atas. Saat mengkondisikan akan belajar saya juga sering membayangkannya. Saya yakin suatu saat nanti kondisi ini akan saya alami.


Selasa, 25 Oktober 2011

Loe Percaya Gue Juga

Kepercayaan merupakan hal yang penting dalam sebuah relasi apa pun. Apakah relasi yang sangat personal maupun relasi sosial. Pada saat seseorang/sekelompok orang mempercayai kita, hal ini merupakan sebuah tanggung jawab untuk bisa memegang amanah terkait kepercayaan yang diberikan. Saat amanah mampu dijalankan dengan baik, maka kepercayaan akan bertambah demikian sebaliknya.

Seorang anak yang dididik dengan kepercayaan dari orang tuanya, akan tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri dan bertanggung jawab. Sebaliknya jika dari awal pertumbuhannya seorang anak selalu dikhawatirkan segala sesuatunya, maka itulah yang terjadi. Dalam proses mendapatkan kepercayaan, tentu setiap orang melakukan banyak kekeliruan dan kekurangan. Namun berkat kepercayaan yang positif terhadapnya, sedikit demi sedikit perbaikan akan terus dilakukan dan pada ahirnya akan memuaskan pihak yang sudah mempercayainya.

Kenapa hari ini saya menuliskan tentang kepercayaan? ternyata dalam hidup yang saya jalani ini hal inilah yang sangat menentukan berhasil tidaknya seseorang. Berhasil dalam apa? dalam hal apapun. Apakah dalam sebuah pernikahan?Apakah dalam sebuah proses mendidik anak? Apakah dalam sebuah perjalanan hidup menuju hal yang lebih baik lagi. Kepercayaan menjadi penentunya.

Pegel juga ya nulis dengan serius kayak gini. Pokoknya gitu deh. Saya melihat efek positif sebuah kepercayaan pada anak saya. Ketika saya selalu beri dia sugesti positif bahwa dia mampu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Saya apresiasi apapun hasil yang diperolehnya, ternyata dia bisa semakin baik prestasinya. Dia terlihat sangat bahagia saat saya percaya padanya. Kepercayaan dirinya mucul sedikit demi sedikit. Semoga terus berproses menjadi lebih baik lagi.

Demikian pula dengan yang saya rasakan. Saya merupakan tipe orang yang agak sulit larut dalam sebuah komunitas. Biasanya di awal saya merupakan seorang pengamat. Selama saya tidak merasa aman dengan komunitas tersebut, biasanya saya tidak membuka diri. Saya hanya akan bersikap seperti spons yang menyerap berbagai informasi dan ilmu tanpa bermaksud mengembangkan diri.

Sebelum saya berkenalan dengan Rahima sebuah organisasi yang ingin menjadi gerakan sosial tahun 2008, saya pernah menjadi seorang relawan LSM lokal di Bandung, disana saya bersikap seperti spons dan tidak mengembangkan diri. Saya tau itu terjadi karena saya tidak dipercayai sepenuhnya dan saya merasa tidak nyaman dan aman berada di sana.Tiga tahun saya bertahan dan ahirnya memutuskan keluar karena kapasitas saya tidak berkembang.

Rahima yang saya rasakan selalu memberikan kepercayaan kepada saya untuk melakukan banyak hal. Mulai dari menulis, padahal saya belum menjadi penulis dan belum terbiasa menulis. Rahima sebelumnya sudah membekali saya dengan materi tentang penulisan dan menghadirkan seorang penulis perempuan nasional yang berbakat. Saya terinspirasi dan semangat untuk menulis meski baru catatan harian.

Tiba-tiba pada sebuah event nasional saya diminta berbagi pengalaman tentang penulisan. Audiens event tersebut adalah orang-orang yang saya kagumi tulisannya. Mulai dari Cicik Farkha, Nurjannah Ismail, Kamala Chandra Kirana, Helmi Ali, Kiai Husain Muhammad, Beberapa aktivis perempuan yang tulisannya kerap mengisi berbagai rubrik berkualitas di beberapa jurnal perempuan. Bahkan dosen saya seorang Ph.D yang menjadi rujukan dan menularkan virus Gender menjadi audiensnya. Nekat!!! Gila!!! tapi itulah Rahima. Memberikan support penuh sehingga tantangan kepercayaan itu saya ambil.

Berbagai kepercayaan dari Rahima terus mengalir. Kapasitas saya sedikit demi sedikit berproses menjadi lebih baik lagi. Tulisan saya kini bisa mejeng di beberapa koran, jurnal, blog pribadi dan komunitas. Masih banyak kekurangannya. Masih harus banyak yang diperbaiki. Namun selama kepercayaan itu masih ada, saya ingi bertanggung jawab melaksanakannya.

Saat ini saya terlibat di sebuah lembaga pemberdayaan perempuan milik pemerintah. Ini terjadi karena saya meneliti untuk kepentingan studi saya di sana. Saya masih bersifat seperti spons...menyerap dan terus menyerap. Saya merasa tidak aman dan nyaman karena sangat politis dan hirarkis. Saya merasa tidak percaya karena saya juga tidak dipercaya.

Ya selama mereka tidak percaya kepada saya jangan harap saya percaya kepada mereka. Terus terang kalau studi ini beres saya ingin segera angkat kaki dari sana. Tidak nyaman rasanya berada di sana. Banyak hal lain yang bisa saya lakukan untuk bisa bermanfaat bagi sesama. Untuk bisa berproses lebih baik lagi.

Bagaimana dengan relasi personal? Kepercayaan antara kami sebagai suami-istri semakin tumbuh kokoh. 10 tahun perjalanan ini kami jalani. Awalnya hanya sebuah kepercayaan bahwa kami berniat sama untuk bisa menjadikan pernikahan ini sebagai ibadah. Benih itu kami tanam, sirami, dipupuk dan dirawat dengan sebaiknya. Meski kekurangan materi pernah kami alami. Meski berbagai kesulitan pernah menghadang, kami saling mempercayai dan saling membantu satu sama lain.

Kepercayaannya pada saya dan sugesti positif yang selalu diberikan membuat saya bisa tumbuh seperti ini. Jiwa saya semakin sehat dan terus ingin bersyukur. Padahal dulu saya termasuk orang yang sulit dengan hati yang selalu penuh curiga dengan orang lain. Membuat muka saya terlihat kaku dan ditekuk dan membuat saya terlihat jelek.

Belahan jiwa yang saat ini sedang tertidur pulas disamping saya selalu memberikan pujian bahwa saya cantik. Padahal di awal menikah sama sekali saya tidak merasa cantik. Pujian dan kepercayaannya membuat saya merasa cantik. Entah kenapa lingkungan sekeliling ikut-ikutan memberikan penilaian yang sama. (Geer.com)

Seringkali saya kesulitan mengerjakan sesuatu, dia selalu memotivasi dan mempercayai saya bahwa saya bisa. Karena menurutnya tak ada yang mustahil di muka bumi. Saat saya melakukan sesuatu tidak maksimal jangan pernah merasa kecil hati. Demikian halnya pada saat saya bisa mengerjakan sesuatu jangan pernah merasa karena andil pribadi ada Allah disana. Nasihat yang selau saya pegang darinya adalah "Pujian dari orang lain tidak akan membuat saya mulia di hadapan Allah, hinaan dari orang lain tidak akan membuat saya hina dihadapan Allah." Ya hanya dialah sebaik-baik penilai dan yang sangat berarti adalah ketaqwaan padanya.

Hari ini saya diberikah hadiah yang sangat indah. Sesuatu yang sudah sebulan ini saya pikirkan dan tidak sedikitpun saya komunikasikan dengannya. Ternyata semesta mendukung. Allah menyampaikan keinginan saya. Terimakasih atas segalanya terutama kepercayaan yang membuat saya tumbuh semakin baik lagi.

Senin, 24 Oktober 2011

Padat Semoga Bermanfaat

Air mata menetes saat mendengar sudah tiga hari mereka mengemis makanan kepada pekerja bangunan. Apa lagi yang sebenarnya terjadi? tak punya hatikah perempuan-perempuan itu? Ajaran manakah yang mereka pahami sehingga hal itu boleh dilakukan?

Pagi ini memulai hari dengan ritual biasa. Meleburkan diri mempersembahkan yang terbaik untuk seluruh keluarga. Menyediakan sarapan, mengingatkan semua keperluan sekolah dan menyediakan makan siang untuk mereka. Setelah itu bersemangat masuk kelas untuk menjelaskan ma'rifatullah.

Sepanjang ngajar telfon dari kantor terus berdering menanyakan kesiapan acara untuk hari rabu. Sangat mengganggu konsentrasi mengajar, namun tetap kubiarkan karena memang harus diurusi. Mengajar dua kelas sampai pukul 11.15 kemudian menghadap pimpinan universitas tentang outbond ahir semester ini.

Tiba-tiba ada sms masuk yang isinya begitu menusuk hati. Dampingan kami sedang kontrak 6 bulan dengan sebuah LPK dan akan berahir mengalami pengabaian sehingga makan dengan meminta belas kasih orang. Saat mencari solusi dengan akan segera berangkat menuju tempat dampingan tiba-tiba ada pengaduan dari sebuah kabupaten yang memiliki jumlah korban terbanyak, namun Pemdanya sangat tidak bersahabat. Mereka selalu merepotkan dan ingin mempermalukan kami di forum formal. Ini masalah serius harus ditangani dengan cepat.

Segera saya buka file tentang SPM terbaru dari Kemen PP-PA 2011 selanjutnya mencari tau isi UU no 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban. Saya mencoba arahkan sebuah pemahaman bahwa UU lebih tinggi kedudukannya dari sekedar SPM dan di SPM sebenarnya dalam bagian penegakan hukum perlindungan korban dan saksi merupakan urusan Polda/Polres terkait yang di hubungi oleh p2tp2a setempat sebagai simpul utama gugus tugas.

Beruntungnya kepala biro PP Kabupaten memiliki email dan sedang online jadi informasi yang saya cari serta solusi bisa segera tersampaikan. Segera saya menuju tempat Dampingan kami DIPERDAYAKAN ternyata ironis sekali, hanya karena dampingan kami dianggap kurang sopan berakibat pada dikucilkan mereka dari segala macam akses termasuk  makan. Memang bukan hanya itu salah satu penyebab kemarahannya, dampingan kami merupakan perempuan bodoh buta huruf dan kurang memiliki etika, sehingga kadang mungkin memancing kemarahan. Tapi bukankah mereka sudah tau kondisi 'istimewa' dari dampingan kami?

Tiga bungkus nasi lengkap dengan lauknya saya bawa, sedikit uang juga saya siapkan paling tidak untuk tiga hari ini. Dihadapan mereka saya mencoba menggali informasi dan meminta untuk tidak saling menyalahkan dan mau saja diadu domba. Saya minta mereka kembali bersemangat untuk bekerja dan bersabar semoga bisa pulang karena ternyata kontraknya sudah selesai.

Tak lama setelah saya pulang, pengelola LPK datang dan langsung memarahi dampingan kami. Sang pengelola  ternyata mampu melempar kursi untuk mengekspresikan kemarahan kepada kedua perempuan mantan TKW bermasalah yang bodoh dan miskin. Dia yang lebih berilmu namun memandang sebelah mata orang. Kaget saya mendengarnya. Tak pernah seumur hidup saya menyaksikan hal sekasar itu dilakukan orang yang biasa berbusa-busa dengan ayat Allah.

Setelah menemui mereka masih ada satu kelas lagi yang harus saya ajar. Tepat pukul 16.45 saya selesai mengajar. Terlupa kalau perut saya sepanjang hari ini belum terisi apa pun. Maafkan saya Rabb karena lalai menjaga asupan seimbang untuk tubuh ini. Maafkan saya bila sulit menjaga berat badan tetap di angka ideal. Ya saat ini berat badan saya 3 kilo lebih rendah dari berat badan ideal perempuan.

Besok saya sudah sarankan para dampingan untuk kembali ke shelter kami untuk sementara sebelum mereka pulang. Semoga hal ini bisa terselesaikan dan saya siap dengan berbagai urusan yang lain. Berikan kekuatan Rabb...

Minggu, 23 Oktober 2011

Blue Weekend

Weekend ini terasa begitu singkat. Baru saja merasakan damainya hari sabtu, tiba-tiba hari minggu sudah akan berahir. Sabtu pagi kemarin saya menghabiskan waktu dengan duduk di kursi untuk membaca dan online. Saya pikir sabtu siang saya bisa menghabiskan waktu sambil tidur bersama anak-anak. Ternyata saudara saya mendadak memanggil dan membuat saya mengeluarkan keringat sampai magrib tiba karena berjalan kaki.

Sampai di rumah, saya begitu kelelahan sehingga segera beristirahat. Istirahat saya tidak karuan karena suami yang batuk-batuk dan berisik. Entah kenapa kalau dia sakit selalu berisik. Mungkin itu upayanya mencari perhatian. Karena saya biasanya memang memberikan perhatian lebih pada anak-anak kalau sedang sakit. Ya sudahlah meski lelah saya tidak bisa begitu saya mengabaikannya.

Minggu dini hari saya sudah bergegas menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sebenarnya ingin sekali tetap tinggal di balik selimut hangat bersama suami dan anak-anak. Saya pandangi wajah mereka satu persatu dan membetulkan letak selimut mereka. Semoga apa yang saya lakukan ini bisa bernilai ibadah.

Pulang ke rumah agak siangan. Alhamdulillah sekitar dua jam saya bisa tidur siang. Tapi rumah sangat kotor dan becek. Anak-anak bermain air di rumah dan memasak di dapur membuat suasana jadi tidak karuan. Emosi agak terpancing terlebih anakku yang pertama beberapakali diminta sholat duhur malah terus bermain. Duh...saya harus menarik nafas menenangkan diri untuk tidak berkelanjutan emosinya. Saya mengalihkan perhatian dengan membaca buku tentang Rabi'ah dan memposting tulisan di kompasiana.

Sore ini saya membuka fesbuk dan kompasiana lalu mengisi blog ini sambil terus merenungkan kejadian seminggu ini. Semoga hidup ini berarti ya Rabb...karena waktu berjalan begitu cepat. Baru saja saya menulis dan membaca ternyata magrib sudah mau menyapa.

Besok saya siap menghadapi tiga kelas agama semester 1 dan membaca dua buku baru yang saya pinjam dari perpustakaan untuk menemani setiap langkah saya seminggu ini. Semoga saya bisa menghadapi esok dengan lebih baik lagi. Tidak terpancing emosi orang yang tidak produktif dalam hidupnya yang hanya menjadikan kekayaan dan gaya hidup sebagai aset utamanya.

Saya adalah saya yang selalu ingin sederhana dalam hidup. Bagi saya kebahagiaan yang sejati saat saya bisa menjadi ibu dan istri yang baik untuk keluarga saya. Saat saya bisa sering menghabiskan malam-malam berdua dengan-Nya. Saat saya membaca buku setiap hari mengisi sela pada setiap aktifitas harian. Saat memiliki ide untuk menuliskan pikiran saya dengan mengalir. Saat saya bisa mendampingi langsung perempuan yang menderita. Saat saya menikmati indahnya gemericik air terjun, hutan...padang rumput yang luas serta sawah....itu sebuah kenikmatan...tak perlu melihat mall...tak perlu berganti-ganti baju...tak perlu berganti sepatu...tak perlu berganti mobil...tak perlu berganti tas...apalagi berganti pasangan.

Kamis, 20 Oktober 2011

Debar Gak Karuan

Siang ini debar jantung belum berpacu seperti biasa. Sedikit kencang dengan suhu badan yang sepertinya agak meningkat. Penyebabnya belum saya ketahui dengan pasti. Apakah karena tadi nyetir sendiri dan memacu adrenalin karena belum terbiasa? Apa karena tadi pagi saya minum segelas kopi? Atau karena suhu Bandung yang memang belakangan ini meningkat dengan tajam? Entahlah namun yang pasti saya merasakan debaran yang agak meningkat saat ini.

Hari ini saya berencana akan sampai magrib di kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Membuat naskah akademik perjalanan ke Riau Kepulauan, teknikal meeting untuk sosialisasi Anti KDRT dan Traffiking bagi 200 mahasiwa se-Bandung raya, membuat TOR lengkap pelatihan Korban Trafiking awal November ini, TOR Pelatihan Penanganan Korban bagi pengurus P2TP2A Se-Jawa Barat. Untuk urusan anak-anak sudah saya persiapkan dan delegasikan. Pulang dari kantor suami siap menjemput saya jam 8 malam. Ah...semoga bisa memaksimalkan pekerjaan hari ini.

Badan saya masih terasa tidak nyaman, uppss sudah pukul 13 lebih ternyata saya belum makan. Mungkin ini penyebab utama kenapa badan saya tidak enak. Capcay goreng pedas sudah saya pesan untuk makan siang kali ini. Semoga setelah makan saya bisa kembali konsentrasi menulis tugas yang belum saya selesaikan. Ya sikap positif dan perasaan enjoy harus saya internalisasikan agar keluarnya dari rumah untuk bekerja bisa bernilai dan tetap membuat saya sehat.

Kesehatan adalah anugerah yang tak tenilai harganya. Mencegah lebih baik dari mengobati katanya. Artinya saya harus makan dengan teratur dan sehat. Makan diniatkan sebagai ibadah agar memiliki energi yang cukup melakukan aktifitas. Betul saja saat sudah makan kepala jadi ringan tubuh kembali segar...ternyata debar gak karuan terjadi karena kelaparan...huh...dasar



Selasa, 11 Oktober 2011

Lanjutan...

Pulang ngajar saya memikirkan kenapa belakangan ini saya jadi pelupa. Saya datangi toko kerudung dekat kampus untuk menanyakan barangkali ada kerudung yang jatuh malam kamis lalu. Baru saja mau bertanya si mbak malah mendahului bertanya "teh kerudungnya kemarin ketinggalan gak dibawa pulang". Ya ampun...ternyata tidak jatuh...saya tidak memasukannya ke tas. Saya bertanya kondisi saya malam itu kayak gimana? Jawab penjual katanya saya terburu-buru karena kondisi hujan lebat dan teringat anak dan mau pulang. Gubraak...segitunya ya?

Saking penasarannya saya datangi warung penjual kopi dingin yang saya beli. Bertanya"teh tadi siang saya beli tali rafia banyak, kemudian beli kopi dingin juga, barangkali tertinggal, liat ngak? Jawab penjual "iya ada di lemari pendingin...tadi teteh ngeloyor aja pergi".

Ya Allah...tubuh saya ada di situ waktu beli tapi pikiran saya udah di tempat lain karena waktunya mepet. Dua kejadian ini jadi pelajaran agar saya tuntas memakai pikiran dalam mengerjakan sesuatu. Kejadian pertama malam hari...kondisi hujan dan diluar agenda hari itu. Suara anak-anak di rumah cukup membuat saya gugup karena mati lampu sedangkan saya masih dijalan. Kejadian ke dua, juga di luar agenda. Tiba-tiba saya harus menghadiri undangan pembukaan praktek ibadah dan kegiatannya menyita waktu, padahal lokasi rapat dan lokasi kelas berbeda. Ya...kondisi seperti ini membutuhkan konsentrasi penuh dan saya harus lebih waspada dengan hal ini.


Ngisi Waktu Sela

Beli kerudung ketinggalan entah dimana. Kunci motor kemarin diamankan pak satpam karena tergeletak begitu saja di koridor kampus. Hari ini nescaffe moca dingin...gak tau ada dimana. Kenapa belakangan ini kembali penyakit lupa menghampiri?

Untuk kerudung misalnya, saya membelinya sesaat sebelum sampai ke rumah. Setelah membayar langsung saya masukan ke tas. Ternyata saya mau mengambil jaket yang ada di dasar tas, kemungkinan kerudung itu terjatuh saat jaket diambil. Saat tiba di rumah, kerudung itu sudah tidak ada. Kunci motor dan sarung tangan saya pegang dengan baik, saya pisahkan dengan helm dan tas dan akan saya simpan husus agar tidak lupa...eh kenapa kok malah saya tinggal di koridor kampus? Demikian juga kopi dingin yang baru saja saya beli. Kopi tersebut saya masukan ke kantong plastik hitam bersama dengan tali rafia untuk simulasi kuliah. Tapi saat tiba di ruang kuliah kok gak ada juga? Duh...haus banget nih...ngileeer inget enaknya kopi dingin hik hik hik....mo nyari lagi jauh ey...motor saya parkir di fakultas...koprasi mahasiswa dah rata dengan tanah...kemanaa kemanaa..kemanaa...saya cari minum...

Hmmm...mungkin saya sedang memikirkan hal lain sehingga tidak konsentrasi. Padahal baiknya saya selalu siap dan konsentrasi dengan apa yang sedang dilakukan. Ya semoga tidak terulang dan selalu belajar dari apa yang terjadi. Kata orang tua sih kalo udah keseringan begini artinya saya kurang istighfar. Ya...itu benar...ritual saya agak kendor belakangan ini.

Amanah sebagai pembimbing praktek Ibadah di Fakultas hari ini paling tidak merupakan sebuah pertanda dari-Nya bahwa ia ingin saya rajin bermesraan dengannya. Ok saya siap Rabb...kembali rangkul saya dalam dekapan kasih-Mu...siang seperti Singa dan malam laksana malaikat. Hehe bisa gak ya? Pasti bisa...tapi malaikat berhubungan seksual gak? Jumlah mereka banyak bagaimana mereka bereproduksi? Ah...udahlah gak usah ngurusin malaikat...pokoknya sebisa mungkin mengalokasikan waktu malam hari untuk tidur, belajar dan berkhalwat dengan-Nya.

Saya mengisi blog ini sambil menghabiskan waktu menunggu jam 14.15 mengajar Agama dan Gender karena kelas sebelumnya ada pertandingan final sepak bola dan kuliah saya di cancel. Pertemuan ke 5 kali ini saya mau membahas tentang faktor pelestari ketidakadilan gender. Simulasi "Mengapa Kokom Mati? sudah saya persiapkan. Mulai dari rafia untuk bikin jaring laba-laba sampai sekenario simulasi...Ya cari minum dan siap-siap ke kelas. Serunya...ngajar topik dan tema kuliah yang saya sukai. Ganbate!!! Mahasiswa....yuk bermain peran....

Kamis, 06 Oktober 2011

Ayu Ting-Ting

Pagi tadi saya baru mendengar lagunya Ayu ting-ting. Terus terang seminggu ini saya memang mendengar nama artis tersebut dibicarakan di fesbuk dan kompasiana dan beberapa web yang lain. Namun hati saya tidak tergerak sedikitpun untuk mencoba mencari tau siapa dia. Dalam hati saya berkata "engga penting banget deh tau siapa dia, tapi... kenapa ya kok orang-orang pada rame emang ada apa?"

Saya memang hampir tidak pernah menonton TV. Pola ini sudah menjadi bagian dari diri saya. Suami dan anak-anak masih suka menonton terutama untuk acara berita, olah raga dan kartun. Informasi saya dapatkan setiap hari bersumber dari internet dan media cetak langganan. Sebelum tidur saya bertanya kepada suami siapa Ayu Ting-ting dan kenapa orang kok heboh sedemikian rupa. Dia tidak menjawab apa-apa hanya meminta saya untuk tidur karena saya bertanya bukan pada waktu yang tepat. Ya iyalah selesai belajar jam 12 malam saya membangunkannya cuma mau bertanya tentang Ayu Ting-ting...gak sopan banget kan?

Maka pagi hari suami saya mendown load lagu Ayu Ting-ting dan memperdengarkannya kepada saya. "Nih lagu Ayu Ting-ting menurut kamu kira-kira apa kelebihannya setelah mendengarkan?" Saya mendengarkan dengan seksama dan mengerutkan kening? Apa kelebihannya ya? lalu saya berkata kepada suami "musiknya biasa aja...gak ada yang istimewa...orangnya juga biasa banget g seksi malah terkesan masih polos lagunya juga sederhana jadi kelebihannya dimana? saya malah balik bertanya kepada suami. Ia menjawab :"justru karena minimalis seperti ini orang banyak yang suka. Publik sudah bosan dengan penyanyi dangdut yang seronok dan menjual goyang yang vulgar saat menyanyi, jadi Ayu Ting-ting saat ini dapet momen yang pas. Sebenarnya mahasiswa aa dari tahun lalu sudah menyanyikan lagu ini saat field trip ke Jogja tapi hokinya mungkin baru sekarang kayaknya, duuh istriku kamu kuper banget sih". Mendengarkan penjelasan suami saya cuma bisa bilang OOOH.

Saya mencukupkan sampai disini pencarian saya tentang Ayu Ting-ting. Tiba-tiba ba'da Isya tadi saya ditelfon ketua WSC (Women Student Center) UIN yaitu Deti untuk menjadi pembicara tanggal 17 Oktober 2011 tentang Dangdut dengan perspektif perempuan. Saya sudah bilang bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang Dangdut karena lingkungan saya selama ini tidak berdekatan dengan genre musik tersebut. Bahkan dengan sosok Raja Dangdutpun saya tidak suka. Tentu ini berefek pada hasil karyanya yang juga tidak saya sukai. Tapi Deti meyakinkan saya bahwa saya tidak difokuskan membahas apa itu dangdut melainkan melihat fenomena perdangdutan yang penyanyinya kebanyakan peremupan, gaya berpakaian yang khas, gaya panggung yang khas dan itu sangat menarik kalau dikaji lewat teori yang berperspektif perempuan. Saya menyanggupinya dan mulai malam ini mulai mencari tau lebih banyak tentang Dangdut.


Selasa, 04 Oktober 2011

Halal Bihalal AIC 97

Empat belas tahun bukan masa yang singkat dalam perjalanan hidup manusia. Selama itu kami tak pernah sekalipun berjumpa. Perpisahan merupakan sunnatullah yang harus dijalani. Masing-masing menjalani takdirnya. Menempuh sebuah garis yang tak memiliki siaran ulang.

Beberapa kali kegiatan sudah digelar untuk mempertemukan kami. Namun tak jua takdir bisa mewujudkannya. Selalu ada hal prioritas lain yang lebih utama, dari pada sekedar bertemu tanpa makna. Benarkah tak akan ada makna? untuk apa berbagai keutamaan silaturahmi mengemuka? Mungkin diri inilah yang belum peka.

Silaturahmi di dunia maya terjalin dengan erat. Membangkitkan berbagai kenangan 14 tahun lalu. Sebuah episode bersama di sebuah Ma'had. Ma'had yang sampai kapan pun kami cintai dengan sepenuh hati. Ashiddiqiyah tercinta.

Ma'had ini telah mematri kami untuk mencintai Ia tanpa syarat. Ma'had ini telah menggembleng kami menapaki hidup dengan berani. Hanya dengan bergantung pada-Nya sumber kekuatan utama. Mengalokasikan sepertiga malam sebagai kewajiban berkhalwat dengan-Nya.

Kemarin...sebuah pulau menjadi saksi eratnya persaudaraan yang terjalin. Pulau Untung Jawa demikianlah namanya. Kebersahajaan telah mengantarkan kami sampai disana. Ketulusan panitia dan tuan rumah membingkai acara silaturahmi.

Semoga silaturahmi yang akan digelar nanti bisa menghadirkan lebih banyak lagi alumni santri. Bergandeng tangan bersama untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Menebar kebaikan dan manfaat untuk sesama.

Senin, 03 Oktober 2011

Perjalanan

Pernahkan keliru mengambil arah di jalan tol Jakarta? Atau terlewat tidak segera berbelok disebuah jalan raya yang padat kendaraan? Bagi yang pernah melakukan hal ini, biasanya tahu bahwa saat kesalahan itu terjadi maka harus siap dengan konsekuensi yang kadang membingungkan. Konsekuensi berupa semakin menjauhnya anda dari fokus tujuan atau malah tersesat dan kebingungan ada dimana.

Kondisi inilah yang kadang saya alami dengan keluarga. Saya meski pernah sekolah Menengah Atas di Jakarta, tetap saja tidak hafal persis bagaimana rute perjalanan. Dalam setiap perjalanan saya berperan sebagai navigator dan suami sebagai pengemudi yang menentukan ke mana kami semua menuju. Sebagai seorang navigator saya selalu memegang peta tol jakarta.

Meski peta selalu berada di tangan, terkadang dalam beberapa kesempatan, kami keluar dari jalan yang seharusnya ditempuh. Hal ini terjadi bisa dikarenakan informasi yang saya kemukakan sebagai navigator telambat diutarakan, sehingga suami sebagai pengemudi tidak bisa dengan cepat memutuskan ke arah yang benar. Terkadang juga sebagai navigator saya termasuk tipe yang otoriter, pengen menang sendiri. Sikap terahir ini kadang menimbulkan kesal sang pengemudi yang pendapatnya menjadi mentah karena kengototan saya.

Saat terjadi sebuah kesalahan, sehingga kami keluar dari jalur yang sebenarnya, kami kadang saling menyalahkan bahkan menyalahkan diri sendiri. Saya sebagai navigator seringnya merasa bersalah dan menganggap peran ini terlalu berat. Sehingga terkadang menyerahkan peran ini kepada pengemudi. Alangkah enaknya sekedar menjadi penumpang yang tinggal tau beres dan sampai di tujuan dari pada mikirin rute mana yang seharusnya kami ikuti saat ke luar jalur. Namun sang pengemudi selalu membagi peran dan tidak mau membawa mobil ini sendirian.

Kemarin malam dalam sebuah perjalanan di tol Jakarta kami sempat keluar dari arah sebenarnya dari fokus tujuan kami. Hati saya menjadi sangat sesak dan pada ahirnya kami berbicara sangat intens tentang sebuah perjalanan. Perjalanan dalam mobil ini kami ibaratkan sebagai perjalanan pernikahan kami selama ini. Dimana sebagai seorang pengemudi (qawwam), suami saya selalu membagi peran dengan saya. Hampir tak ada satu keputusan yang diambil tanpa sepengetahuan saya.

Saya bertanya "kenapa selalu melibatkan saya dalam semua keputusan? padahal alangkah enaknya menjadi istri yang tau beres saja tanpa ikut berfikir dan bertindak penuh dalam semua permasalahan? Karena saya sering salah dalam memutuskan sesuatu dan itu menjadi beban buat saya" Dia balik bertanya "apakah itu yang sebenarnya kamu inginkan? Atau pertanyaan itu muncul karena rasa bersalah karena keliru memutuskan sesuatu? Padahal untuk apa Allah menganugerahi saya istri yang memiliki kualitas seperti kamu kalau saya harus melakukan segalanya sendirian. Bukankah jadi ringan perjalanan kita saat kita terus berbagi seperti ini? Ya..tapi terkadang dalam melewati prosesnya seringkali saya berpeluh karena harus menjaga emosi karena karakter dan pola yang tertanam dalam diri kita jauh berbeda" ujar saya. Ya dari sinilah kita harus terus belajar saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing sebagai sebuah pembelajaran yang tanpa henti, bukan kah selama ini kita tim yang kompak? tanya pengemudi pernikahan kami.

Perjalanan Cibinong Bogor - Bandung melewati tol dalam kota Jakarta yang seharusnya ditempuh cukup 3 jam, kami tempuh selama 5 jam. Beberapa kali kami keluar jalur sebenarnya karena perjalanan malam hari sehingga penunjuk arah terlambat kami lihat dan menyebabkan kami berputar-putar dan dapat bonus tambahan 2 jam. Bonus 2 jam itu awalnya memancing emosi sehingga saya dan sang pengemudi terlibat perang dingin dan lempar tanggung jawab. Namun setelah saya melakukan self talk dan mempraktekan hypno-NLP sebuah pelatihan yang saya ikuti sehari sebelum melakukan perjalanan, membuat proses berputar-putar itu menjadi sebuah moment yang penting dalam pernikahan kami.

Sang pengemudi membiarkan saya mengeluarkan semua unek-unek yang saya punya selama ini. Saya juga mendengarkan dengan seksama keinginannya terhadap perjalanan pernikahan ini dan ternyata tujuan kami masih sama. Ah...terimakasih Allah yang telah memberikan perjalanan yang indah kemarin. Harus ada saat dimana kami bisa mengeluarkan apa yang ada di hati. Sebagai sebuah refleksi perjalanan pernikahan kami untuk selanjutnya menentukan aksi apa yang akan dilakukan dan terus direfleksikan kembali.

Tak keliru rupanya Ia memasangkan kami Yin dan Yang yang terus harus diseimbangkan. Dimana di dalam Yin selalu ada potensi Yang dan di dalam Yang selalu ada potensi Yin dan itu nyata kami alami. Terimakasih Rabb...terus ajari kami melihat ayat-ayatmu dalam relasi yang dijalani ini

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...