Blue Weekend

0 Comments
Weekend ini terasa begitu singkat. Baru saja merasakan damainya hari sabtu, tiba-tiba hari minggu sudah akan berahir. Sabtu pagi kemarin saya menghabiskan waktu dengan duduk di kursi untuk membaca dan online. Saya pikir sabtu siang saya bisa menghabiskan waktu sambil tidur bersama anak-anak. Ternyata saudara saya mendadak memanggil dan membuat saya mengeluarkan keringat sampai magrib tiba karena berjalan kaki.

Sampai di rumah, saya begitu kelelahan sehingga segera beristirahat. Istirahat saya tidak karuan karena suami yang batuk-batuk dan berisik. Entah kenapa kalau dia sakit selalu berisik. Mungkin itu upayanya mencari perhatian. Karena saya biasanya memang memberikan perhatian lebih pada anak-anak kalau sedang sakit. Ya sudahlah meski lelah saya tidak bisa begitu saya mengabaikannya.

Minggu dini hari saya sudah bergegas menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sebenarnya ingin sekali tetap tinggal di balik selimut hangat bersama suami dan anak-anak. Saya pandangi wajah mereka satu persatu dan membetulkan letak selimut mereka. Semoga apa yang saya lakukan ini bisa bernilai ibadah.

Pulang ke rumah agak siangan. Alhamdulillah sekitar dua jam saya bisa tidur siang. Tapi rumah sangat kotor dan becek. Anak-anak bermain air di rumah dan memasak di dapur membuat suasana jadi tidak karuan. Emosi agak terpancing terlebih anakku yang pertama beberapakali diminta sholat duhur malah terus bermain. Duh...saya harus menarik nafas menenangkan diri untuk tidak berkelanjutan emosinya. Saya mengalihkan perhatian dengan membaca buku tentang Rabi'ah dan memposting tulisan di kompasiana.

Sore ini saya membuka fesbuk dan kompasiana lalu mengisi blog ini sambil terus merenungkan kejadian seminggu ini. Semoga hidup ini berarti ya Rabb...karena waktu berjalan begitu cepat. Baru saja saya menulis dan membaca ternyata magrib sudah mau menyapa.

Besok saya siap menghadapi tiga kelas agama semester 1 dan membaca dua buku baru yang saya pinjam dari perpustakaan untuk menemani setiap langkah saya seminggu ini. Semoga saya bisa menghadapi esok dengan lebih baik lagi. Tidak terpancing emosi orang yang tidak produktif dalam hidupnya yang hanya menjadikan kekayaan dan gaya hidup sebagai aset utamanya.

Saya adalah saya yang selalu ingin sederhana dalam hidup. Bagi saya kebahagiaan yang sejati saat saya bisa menjadi ibu dan istri yang baik untuk keluarga saya. Saat saya bisa sering menghabiskan malam-malam berdua dengan-Nya. Saat saya membaca buku setiap hari mengisi sela pada setiap aktifitas harian. Saat memiliki ide untuk menuliskan pikiran saya dengan mengalir. Saat saya bisa mendampingi langsung perempuan yang menderita. Saat saya menikmati indahnya gemericik air terjun, hutan...padang rumput yang luas serta sawah....itu sebuah kenikmatan...tak perlu melihat mall...tak perlu berganti-ganti baju...tak perlu berganti sepatu...tak perlu berganti mobil...tak perlu berganti tas...apalagi berganti pasangan.


You may also like

Tidak ada komentar: