Ngehayal yuk...

0 Comments
Padang rumput hijau terhampar luas. Kilauan embun bertaburan disentuh sang mentari. Udara sejuk memenuhi rongga dada. Duduk pada sebuah kursi goyang rotan ditemani beberapa novel pavorit. Di samping kanan segelas susu dan beberapa potong buah tersedia. Tak berfikir tentang pekerjaan. Tak berfikir tentang keluarga. Tak berfikir tentang apa pun melainkan hanya ingin menikmati saat itu.

Rambut panjang saya tergerai bebas dicumbu angin. Bunga biru kecil menghiasi gaun putih yang saya pakai. Gaun panjang sederhana dengan model rok yang lebar. Sendiri dan sunyi begitu menyenangkan hati. Lembar-demi lembar kisah novel mengajak imajinasi saya berkelana. Melompat dari satu situasi ke situasi yang lain. Merangkai tanya menjawab segala keingintahuan akan dunia. Ah...betapa menyenangkannya.

Seekor kuda putih ditambatkan pada sebuah pohon tak jauh dari tempat saya duduk. Setelah membaca beberapa novel saya menghampirinya dan mengajak si putih untuk mengitari padang rumput. Di awali dengan berjalan perlahan, kemudian saya memacu si putih berlari kencang. Gaun saya berkibar, rambut saya menari mengikuti gerak si putih.

Berkeliling mengitari padang rumput yang berbatasan dengan sebuah hutan kecil. Hutan yang hijau dan ranum. Hutan yang dibelah oleh sungai jernih berbatu. Saya berhenti sejenak untuk mempersilahkan si putih minum sambil memperhatikan ikan-ikan kecil di dasar sungai. Mereka bergerombol di sela-sela batu. Kilau keperakan memantul saat beberapa ikan membalikan badannya. Saya membasuh muka dengan air sungai yang jernih sambil meminumnya. Kemudian melanjutkan lagi perjalanan.

Kondisi inilah yang selalu saya bayangkan saat terjebak macet dan memburu waktu untuk sampai di tempat yang dituju. Saya tarik nafas dalam-dalam sambil tersenyum. Saya bayangkan rasa bahagia saat saya berada dalam situasi di atas. Sangat nyaman membuat aliran darah saya kembali normal.

Saya merasa rileks dan nyaman, meski suara klakson terus dibunyikan oleh mobil dan motor di sekitar saya. Meski harus menunggu lama pintu kereta api karena ada dua kereta berlawanan arah yang akan lewat. Meski saya tau jarak yang harus saya tempuh masih jauh.

Tak hanya saat mengalami macet saja saya membayangkan cerita di atas. Saat mengkondisikan akan belajar saya juga sering membayangkannya. Saya yakin suatu saat nanti kondisi ini akan saya alami.




You may also like

Tidak ada komentar: