Ya Rasulullah

0 Comments
Hujan deras mengguyur Bandung malam ini. Tapi tetap saja udara panas enggan keluar dari kota kami. Bandung terletak pada sebuah cekungan yang dikelilingi oleh gunung. Saya kurang mengerti penjelasan dari ahli tentang hal ini. Sebenarnya saya sudah membaca kenapa suhu di Bandung semakin panas cuma lupa. Kenapa lupa? karena banyak istilah yang tidak dipahami. Pokoknya kesimpulannya karena Bandung terletak pada sebuah lembah/cekungan, sehingga udara tidak bisa leluasa untuk keluar masuk. Udara panas terjebak di sini. Kenapa udara panas yang ada? karena suhu udara laut bagian mana gitu yang berhembus ke Bandung memang panas. Ya pokoknya gitu deh...kurang paham saya.

Malam ini saya bertekad untuk menyelesaikan artikel saya yang akan saya kirimkan. Pokoknya pagi ini harus dikirimkan. Persoalan dimuat atau tidak bukan urusan saya. Pokoknya saya sudah berani mengirimkan ke media yang lumayan di Bandung ini. Sebenarnya saya sudah menemukan benang merahnya dan memetakan mind map yang saya tentang sebuah persoalan yang saya pikir cukup aktual. Namun entahlah pokoknya semangat malam ini harus selesai.

Secangkir kopi sudah dibuatkan suami untuk saya. Dia sangat mendukung cita-cita saya untuk jadi penulis yang baik. Support dan do'anya tidak akan saya sia-siakan. Kadang dia seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya. Kadang juga seperti seorang kekasih dengan rayuan mautnya hehe. Kadang juga seperti ayah saya yang suka nyuruh-nyuruh seenaknya. Terlebih nyuruh saya untuk menyimpan sesuatu pada tempatnya dan beres-beres. Padahal dari dulu saya paling sembarangan dalam hal menyimpan barang-barang apalagi beres-beres. Kadang juga dia seperti adik saya yang manja gak karuan. Oke aja deh...mau berperan jadi apa asik aja yang penting gak bosenin.

Hari ini sepanjang jalan sebenarnya saya mengalami kesedihan yang sangat terkait iman saya. Seharian saya berbicara tentang Ma'rifaturrasul kepada mahasiswa. Namun diri saya masih jauh dari berma'rifat kepada rasul. Ya Ibrahim...ma'rifat seperti apa yang engkau miliki sehingga engkau rela menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Ya Ismail ma'rifat seperti apa yang engkau miliki sehingga engkau rela mengurbankan dirimu disembelih oleh ayah yang baru saja engkau temui. Ya Hajar...ma'rifat seperti apa yang engkau miliki sehingga engkau rela permata hatimu disembelih oleh ayahnya sendiri.

Air mata saya berjatuhan saat menaiki jalan layang menuju Kiaracondong tadi siang. Dalam hati saya mengucapkan kalimah talbiah. Labbaik Allahumma labbaik...labbaika la syarika laka labbaik...Inna hamda wa ni'mata wa mulka la syarika laka. Pengorbanan apa yang saya lakukan untuk-Nya? Keegoan saya masih sangat besar. Saya masih belum mau mengorbankan apa yang saat ini sudah ada dalam genggaman. Padahal semua itu hanya titipan belaka. Terbukti betapa saya tidak bisa seperti kuda yang berlari kencang dalam mengejar ridha-Nya. Pertimbangan rasio saya, seculi ilmu yang saya miliki, anak-anak dan suami...semuanya menambat diri saya sehingga tidak maksimal mengabdi pada-Nya.

Rasulullah semoga shalawat tercurah padamu dan keluargamu. Saya ummatmu yang ingin berma'rifat padamu. Sehingga tidak hanya memahami fungsi dan peran kerasulanmu di muka bumi. Tapi saya mau tunduk patuh sepenuhnya. Bisakah? materi yang saya sampaikan ke mahasiswa saya buat tiga tahun lalu. Saat itu saya masih sepenuhnya 'patuh'. Hari ini saya merasa apa yang saya yakini bergeser...dan itu menorehkan luka yang cukup dalam di hati saya. Ilmu dan rasio saya menyangkal sedangkan rasa saya masih ada disitu. Sakit rasanya menyampaikan sebuah keyakinan sedangkan hati saya berperang sangat hebat saat menyampaikannya. Saya mencoba menekan sedemikian rupa di depan mahasiswa. Memisahkan rasa dan rasio dan menyampaikan apa yang sudah saya tulis di hand out.

Pertahanan saya jebol. Saya menangis ya Rasulullah...menangis cukup deras tadi siang. Teringat kisah engkau yang memanggil-manggil ummatmu saat hendak bertemu dengan-Nya. Namun apakah saya pantas menjadi ummatmu? sementara saya masih seperti ini. Terlena dengan dunia dan kadang masih resah saat orang lain menilai dengan sebelah mata. Wahai kekasih Allah...izinkan saya bisa berma'rifat padamu...dengan tanpa sebuah keraguan.


You may also like

Tidak ada komentar: