Rabu, 16 November 2011

Lemari Plus Partisi

Dua bulan sudah saya memesan sebuah lemari buku yang berfungsi tambahan sebagai partisi ruangan. Saya memesan lemari partisi tersebut karena melihat kantor memesannya dan ternyata multi fungsi. Sebagai lemari karena rangkanya terbuat dari besi, maka terlihat kokoh. Sebagai partisi dia bisa dipakai untuk layar persentasi rapat selain juga memiliki roda yang fleksibel mau dipindah-pindah dan juga bisa dikunci.

Saat memesan saya bercerita pada pegawai pembuat partisi tersebut, bahwa seringkali orang yang lewat depan rumah bertanya apakah ini perpustakaan? karena saat pintu rumah saya terbuka maka yang terlihat adalah lemari yang dipenuhi buku yang saya simpan sebagai partisi ruangan. Sebagian buku yang saya punya tidak menempati tempat yang layak, karena tiga lemari sudah tidak muat. Maka saya memutuskan untuk memesannya meski harganya cukup tinggi.


Setelah sekitar 1 bulan pemesanan, saya diperlihatkan gambar jadi lemari partisi tersebut lewat email. Tampak depan dan belakang saja tampak samping tidak ada. Saya terkejut kenapa jadinya hanya sebuah partisi yang dipaksakan menjadi sebuah lemari? Untuk lebih jelas ahirnya saya melihat bentuk asli dari lemari tersebut. Betul-betul mengecewakan.

Lebar samping partisi tersebut hanya 20 cm artinya hanya bisa menyimpan buku-buku kecil, bagaimana dengan kitab-kitab saya yang lebar dan tebal? Sebuah papan albasia ditempelkan dibalik sebuah partisi ruangan dan mereka bilang itu lemari? sebelah mana? saat itu saya bertanya kenapa jadinya partisi yang bisa jadi lemari dan bukan lemari yang bisa jadi partisi? bukankah latar belakang saya memesan juga karena ingin punya lemari buku yang multi fungsi? sekali lagi saya adalah orang yang mudah terbujuk dan sulit bilang tidak pada saat seseorang ingin dikasihani. Ahirnya saya menyetujui dengan syarat ada beberapa yang diperbaiki.

Malam hari pemilik tempat pembuatan lemari itu menelfon saya dan menanyakan keputusan. Saya bilang karena sudah 2 bulan lalu saya pesan dan sudah saya kasih uang muka maka saya siap menerima lemari itu meski terus terang saya tidak sreg dengan hasilnya. Dia bertanya "sebelah mana ibu tidak sregnya" saya jelaskan bahwa yang utama buat saya adalah lemari buku bukan partisinya. Fungsi partisi hanya fungsi tambahan bukan yang utama. Selain juga hasilnya terlihat kampungan karena dikerjakan oleh orang yang tidak terbiasa bikin lemari kayu melainkan lemari besi. Sehingga kasar dan norak. Penjelasan saya yang panjang lebar membuat pemilik memahami dan ahirnya membatalkan pesanan saya dan mengembalikan uang muka yang sudah saya pesan.

Ahirnya hari ini saya punya lemari buku baru yang bisa berfungsi sebagai partisi yang harganya 1/3 dari yang sebelumnya saya pesan. Lega sekali rasanya bisa mendapatkan sesuai keinginan baik model maupun ukuran terlebih ada promo harga karena toko tersebut baru dibuka. Tadinya saya sudah mempersiapkan mental kalau memang partisi kampungan tersebut memang berjodoh dengan rumah saya. Ya sudahlah sekali lagi saya harus tegas bila memang tidak sesuai dengan perjanjian awal maka jangan ragu untuk membatalkan. Karena terus terang selama dua minggu setelah barang jadi saya terganggu dengan rasa kesal.

Minggu, 13 November 2011

Celoteh Ibu Kolokan

Hari minggu bergelut dengan kemalasan. Tempat tidur sangat berat untuk ditinggalkan. Tapi sms dari sang kekasih cukup membuat saya bangun dan menyelesaikan isi pesan. Uh... kalau mood turun seperti ini, kehadirannya memang sangat saya butuhkan. Untuk selalu mengingatkan.

Sepuluh tahun pernikahan terlewati dengan perlahan. Tahun kesebelas hadir menumbuhkan harapan. Akankah kami bisa mengisinya dengan kebaikan? Hanya satu yang ingin selalu kami camkan. Bahwa relasi yang mengikat kami adalah sebuah perjanjian. Perjanjian Agung atas nama Tuhan. Relasi yang berkesetaraan.

Esok hari segudang tanggung jawab sudah menghadang untuk diselesaikan. Tanggung jawab hidup dari berbagai pilihan. Pilihan yang secara sadar menghiasi sebuah rangkaian. Terjalin sebagai sebuah bentuk penghambaan. Pada-Nya yang selalu mengabulkan semua permohonan.

Hai...kemalasan maafkan bila kini kau kutinggalkan. Tatap bening dua permata hati begitu mengesankan. Membuat si kolokan berusaha menjadi ibu sesuai dengan yang diharapkan. Meski sulit, tertatih dan perlahan. Belajar, belajar dan terus belajar menundukan ego yang selama ini kerasan.

Ahirnya...bila semua dikerjakan. Selesailah semua pekerjaan. Tinggal kini internetan. Menuliskan sebuah catatan. Mengukir senyum sebuah perjalanan. Menjadi seorang ibu yang penuh keterbatasan. Namun ingin selalu berusaha menjadikan hidup ini menyenangkan.

Jumat, 11 November 2011

Menggumpal

Masih menyisakan lelah setelah 2 hari full terjun ke lapangan. Allah sangat nyata Kasihnya. Sekarang tinggal memenuhi hak anak-anak setelah seminggu ini mungkin tak seperti biasanya. Weekend minggu ini semoga bisa sedikit rehat mengumpulkan tenaga menghadapi hari-hari yang baru.

Tiga hari tak buka internet ternyata tidak membuat saya kenapa-napa. Biasa aja ternyata. Entah... ada sedikit sesak yang menggumpal. Saya ingin sekali berteriak dengan keras. Agar ada yang terurai. Atau izinkan saya mengepalkan tinju saya dan mengekspresikan kemarahan yang selalu saya tekan.

Flying fox, arung jeram atau latihan kick boxing betul-betul saya butuhkan. Atau street dancing seperti yang saya dengar dari radio selama perjalanan kemarin? Yah...besok semoga gumpalan ini bisa terurai. Rabb bantu hannah!

Selasa, 08 November 2011

Bohong

Sepuluh menit lagi pulang. Seharian berhadapan dengan seorang anak perempuan yang menjadikan bohong sebagai alat untuk bertahan hidup. Kebohongan sudah sedemikian terinternalisasi sehingga tak ada lagi rasa resah meski banyak kebohongannya sudah terungkap. Tes psikologi tak mampu mengungkap identitas sebenarnya meski sudah hampir dua bulan psikolog menanganinya.

Bekerja laksana detektif. Menyelidiki fesbuk dan menghubungi orang-orang yang sekiranya berhubungan dengan subjek. Beberapa terhubung namun mereka juga merasa jadi korban subjek. Hari ini relawan mengunjungi alamat mantan pacarnya yang mungkin bisa memberikan keterangan. Juga alamat di Bandung yang katanya pernah dia tinggali cukup lama. Huff...semoga ada jalan terang dan terungkap motif sebenarnya kenapa sampai dia merepotkan polda Jabar dan P2TP2A Jabar sedemikian rupa.

Senin, 07 November 2011

Digugu dan Ditiru

"Amat besar kemurkaan Allah pada orang yang mengatakan kebaikan tapi dia sendiri tidak menjalankan". Teguran-Nya ini terasa begitu keras menampar saya sehingga nyaris tak bisa berkata-kata. Tercekat saat menyampaikan Iman kepada qadha dan qadar Allah. Materi terahir sebelum bedah filem yang menjadi penutup kuliah Pendidikan Agama Islam sebelum UTS minggu depan ini benar-benar mengena buat saya.

Sekali lagi seorang guru dalam benak saya bukan sekedar transfer pengetahuan. Melainkan lebih jauh dari itu yaitu transfer pengalaman dan transfer spiritual. Sehingga benarlah adanya falsafah seorang GURU yaitu DIGUGU dan DITIRU. Bukan sekedar pengajaran melainkan pendidikan. Sehingga saat mengatakan suatu hal sebenarnya hal itu berlaku terlebih dahulu buat yang mengatakan.

Syukur merupakan sikap terbaik pada qadha Allah terhadap diri kita saat ini. Sehingga apa pun yang terjadi dalam benak kita yang ada hanyalah Kasih-Nya. Saya mengisahkan sebuah cerita tentang gelas yang terisi setengah yang saya ambil dari buku dengan judul yang sama. Bagi orang yang beriman pada Qadha dan Qadar Allah yang terlihat adalah gelas yang terisi setengah. Bagi yang mengingkari-Nya akan terlihat kosong setengah. Yang terlihat adalah kekurangan dan segala hal yang belum kita dapatkan. Sehingga hati menjadi sesak. Yakinlah saat berada dalam kondisi ini, maka Azab Allahlah yang akan kita dapatkan.

Kondisi ketidakpuasan saat menjadi mahasiswa saya uraikan. Ah...mengapa saya menjadi mahasiswa STFB dan bukan mahasiswa PTN Pavorit? Kenapa saya tidak memiliki orang tua kaya dan punya kedudukan? Kenapa wajah saya tidak secantik/seganteng saudara saya? Kenapa masalah selalu menghampiri saya? dan banyak pertanyaan lagi yang muncul. Padahal Allah sudah memberikan kesempatan hingga bisa duduk di kursi mahasiswa disaat orang lain kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Mata yang masih bisa melihat, telinga yang masih bisa mendengar, jantung yang masih berdetak, nafas yang masih berhembus...sehingga kalau diurai satu persatu betapa banyak nikmat yang telah diberikan-Nya. Hanya beberapa hal saja belum kita dapatkan, namun kekurangan inilah yang menjadi fokus kita.

Qadha merupakan ketentuan Allah terhadap sesuatu pada waktu terjadi. Qadha saat ini mahasiswa yang ada dihadapan saya merupakan mahasiswa STFB yang tentunya sudah melewati tahap-tahap yang tidak mudah dimulai dari waktu, tenaga, pikiran dan tentunya uang yang tidak sedikit. Karena SPP S3 di UIN Bandung tidak semahal SPP S1 di STFB. Saat Qadha ini menyapa, apakah mensia-siakan begitu saja?

Selanjutnya saat berbicara mengenai Qadar atau ketentuan Allah sejak jaman azali apakah memang hanya dua pilihan? Sukses atau gagal? Iman atau Kufur? Hitam atau Putih? padahal Qadar tentang sukses ditentukan Allah dengan sangat banyak, demikian dengan gagal. Kegagalan juga tidak hanya memiliki satu dimensi, berbagai macam dimensi gagal. Untuk menentukan taqdir mubrom yang akan kita pilih maka ada takdir mualaq. Taqdir yang berkaitan dengan kausalitas. Tadir yang terkait dengan kasab manusia/usaha manusia untuk mencapai taqdir tersebut. Sehingga sebenarnya Taqdir Mubrom bisa kita pilih sesuai rumus Taqdir mualaq yang kita tentukan. Kita adalah apa yang kita yakini/imani.

Uraian ini saya sampaikan dengan sebelumnya melakukan simulasi hipnosis bagaimana sikap kita saat berada dalam sebuah kondisi yang gelap gulita tanpa sebuah cahaya apa pun. Saat menyampaikan berkali kali hati saya berteriak "kamu belum sepenuhnya melakukan apa yang kamu katakan. Kemarin kamu sempat marah tidak karuan dan orang yang memiliki kuasa lebih lemah dari kamu jadi sasaran".

Ya saya sempat mengekspresikan kemarahan saya saat perempuan korban diterlantarkan. Tapi bukankah itu baik?. Iya tapi tidak mesti dengan marah. Karena sebenarnya inti dari kemarahan itu bukan pada hal tersebut. Saya merasa marah karena diperlakukan tidak adil. Semula saya merupakan konsultan Agama di lembaga tempat saya bekerja. Sekarang saya menjadi staff divisi advokasi yang menangani seluruh kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di seluruh Jawa Barat. Saya memimpin staff yang lain dan relawan untuk penanganan semua kasus. Tapi selalu diribetkan dengan urusan kordinasi dengan Ketua Divisi dan Pengurus yang lain karena merekalah yang berhak bersuara. Saya hanya punya hak melakukan penanganan. Ketua Divisi saya seorang akademisi yang super sibuk sehingga tak memiliki waktu untuk mengkordinasikan penanganan. Sehingga tanggung jawab itu ada pada pundak saya. Namun hak saya tentu berbeda karena hanya seorang staff. Banyak hal yang saya rasa hal itu merupakan marginalisasi terhadap saya sehingga membuat saya merasa tidak nyaman.

Saya urai dan ahirnya tersenyum. Ah...betapa saya resah hanya karena jarang diutus mewakili lembaga untuk beberapa kegiatan yang artinya pendapatan dan relasi juga tidak sebanyak mereka yang diutus. Saya disibukan dengan berlelah-lelah mendengarkan perempuan-perempuan korban konsultasi, home visit, kordinasi dengan kot/kab untuk pemulangan dan berbagai teknis lainnya yang tidak dikerjakan oleh pengurus yang lain namun tidak ada bayarannya karena termasuk tugas rutin.

"Halo...kamu yang meyakini bahwa Allah sebagai Rabb...maha pemberi rizqi, maha pencipta dan maha pendidik, kenapa kamu resah dengan hal sekecil itu? Ikhlaslah....biarkan Allah yang memberikan penilaian. Inilah kawah candradimuka yang akan membuat kamu besar. Pengalaman yang ada dihadapan saat ini adalah pengalaman langka, belum tentu terjadi pada orang lain. Kamu selama ini sudah dibekali dengan wacana filsafat dan kesetaraan gender, tentu akan berbeda hasilnya dengan orang yang hanya melakukan saja tanpa mampu berefleksi. Allah sebagai Rabb punya maksud terbaik dengan kondisimu saat ini", suara hati saya mengingatkan.

Ya...kembali saya tersenyum. Insya Allah saya meyakini dengan sepenuh hati bahwa Qadha Allah yang menimpa saya saat ini merupakan akibat dari taqdir muallaq yang saya jalani. Saya sudah memilih jalan ini. Semoga Taqdir mubrom yang akan menimpa saya kelak merupakan taqdir yang indah sesuai dengan keinginan-Nya. Rugi rasanya bila hati ini dikotori oleh hal kecil yang tidak akan menyelamatkan saya dihadapan-Nya. Rasanya nikmat-Nya sangat banyak bahkan tak sebanding dengan amal-amal yang saya lakukan selama ini. Terimakasih Rabb...semoga saya bukan sebatang lilin yang mampu menyinari sekitar namun membakar diri sendiri.

Jumat, 04 November 2011

Pada Sebuah Elp

Bis dan elp menunggu di perempatan Garut untuk mengantarkan saya sampai di Bandung. Bis ekonomi terlihat masih kosong, sedangkan elp sudah terisi sebagian. Supir elp yang berkacamata hitam terlihat keren dari jauh. Masih muda dengan postur tubuh yang tinggi dan berkulit hitam manis. Saya bingung akan menaiki apa, apakah naik bis yang tua? atau menaiki elp yang masih terlihat baru.

Pengalaman naik bis yang sudah tua merupakan hal yang kurang menyenangkan. Selain rupanya yang sudah tidak karuan, tenaganya juga kadang lemah sehingga saat tanjakan saya harus menahan nafas karena deg-degan, apakah bis ini bisa melewatinya atau tidak. Padahal perjalanan Garut-Bandung sangat curam apalagi musim hujan. Ahirnya saya memutuskan untuk naik elp karena tawaran kondektur yang mempersilahkan saya duduk di depan di samping supir. Saya duduk berdua dengan seorang ibu separuh baya yang baru saja menengok kakaknya yang sedang sakit. Kata dokter yang merawat, kakaknya mengalami pecah pembuluh di otak karena selalu memendam masalah.

Sepanjang perjalanan saya ditemani lagu nostalgia tahun 90an. Lagu-lagu ini populer saat saya SD. Bahkan mungkin ada beberapa lagu yang populer sebelum 90an. Saya agak heran dengan sang supir kenapa memilih lagu ini, karena kalau melihat penampilan sepertinya usianya baru memasuki usia 20an. Oh, mungkin dia ingin menghibur penumpang yang kebanyakan memang ibu-ibu.

Menaiki elp Garut-Bandung baru kali ini saya lakukan lagi setelah tahun 2004. Saat menaikinya saya mencoba untuk duduk serileks mungkin. Beberapa tempat saya tandai dan mengingat peristiwa apa saja yang pernah terjadi di tempat itu. Garut adalah kota yang penuh kenangan. 2004 lalu untuk pertama kali saya mengunjungi Garut seorang diri tanpa ditemani keluarga. Mencari rumah dosen pembimbing tesis yang sulit ditemui karena aktifitasnya di tarikat. Rumah beliau terletak di tengah sawah yang terhampar luas. Rumah panggung berbilik bambu dan beratap jerami.

Sebelum saya sampai ke rumah dosen pembimbing, saya tersesat sampai ke perkebunan teh Cikijing garut. Ini terjadi karena Tata Usaha Pasca IAIN Bandung keliru memberikan alamat. Sehingga beberapa tempat di Garut sempat saya jelajahi. Panduan yang saya punya hanya no kontak sang dosen. Ahirnya dengan berganti-ganti angkot dan ojek, sampailah saya di tempat tujuan.

Sesampainya di rumah panggung yang cukup menampung sekitar 100 orang, saya disambut oleh seorang perempuan yang bersahaja. Perempuan ini memancarkan keteduhan dan kelembutan seorang ibu. Pancaran matanya yang ramah dan senyum yang selalu tersimpul membuat saya nyaman. Saat dipersilahkan duduk dan diberi teh hangat, pandangan mata saya arahkan ke sekililing rumah lalu saya berkata "waah nyaman sekali rumahnya bu...sejauh mata memandang yang tampak hanya sawah...saya bisa betah disini apalagi kalau botram dengan teman-teman tentu asyik". Ibu ini tersenyum dan berkata "memang di sini sangat nyaman apalagi kalau dipake untuk terus berdzikir kepada Allah". Mendengar perkataanya saya menjadi malu, saat melihat pemandangan yang indah pikiran saya refleks ke makanan yang sangat fisik. Perkataan ibu ini seolah menjadi nasihat untuk saya saat itu. Beliau meminta saya menunggu karena suaminya belum selesai berdzikir katanya.

Setelah menunggu sekitar 20 menit, dosen saya langsung menghampiri dan meminta tesis yang sudah saya tulis. Beliau langsung menandatangani tanpa sedikitpun bertanya apa dan bagaimana kelanjutan bimbingan dengannya selama ini. Setelah ditandatangan dia hanya menanyakan kapan saya akan sidang tesis? Saya menjawab kalau tidak ada halangan awal bulan Juni ini. Dia mendo'akan agar saya melaluinya dengan lancar.

Peristiwa yang saya alami di rumah dosen tersebut sangat berkesan. Tak sia-sia saya harus tersesat dan berganti-ganti angkot kalau hasilnya seperti ini. Tidak hanya tandatangan saja yang didapatkan, saya juga mendapat pencerahan hidup. Sebuah pencerahan dimana kedekatan pada Allah akan membuat seseorang lebih bahagia dalam hidupnya. Suami dan istri yang memiliki visi dan misi yang sama melengkapi kebahagiaan ini.

Inilah yang berkelebat sepanjang perjalanan di elp tadi. Peristiwa tujuh tahun lalu yang kembali terulang hari ini. Naik elp yang ditemani musik nostalgia duduk di samping supir yang keren. Ah...terimakasih atas pegalaman hari ini Rabb...

Kamis, 03 November 2011

Menuju Garut

Bersiap menuju Garut untuk menjadi fasilitator dalam sebuah pelatihan. Kesibukan ngajar dan mendampingi perempuan korban membuat saya sedikit memiliki waktu untuk mempersiapkannya. Beruntung, malam ini beberapa bahan sempat saya persiapkan. Semoga saya bisa menjadi fasilitator yang baik kamis ini.

Materi Islam dan Gender memang bukan hal yang asing buat saya. Empat tahun sudah saya mengajar mata kuliah ini. Selain saya juga beberapa kali jadi pembicara untuk tema ini. Tulisan yang saya buat selama ini tidak pernah jauh dari tema tersebut. Namun karena ini betul-betul sebuah pelatihan untuk 30 guru SMA/SMK/MA ada perasaan was was bisakah saya menjadi seorang faslitator masih menghampiri.

Pagi ini sebelum berangkat saya mencoba menghipnosis diri bahwa saya akan mengalami hal yang menyenangkan hari ini. Saya merasakan kebahagiaan saat peserta bisa saya kondisikan sehingga menjadi forum menjadi forum yang kondusif sehingga target pelatihan bisa tercapai. Ah semoga Allah memberikan pertolongan kepada saya.

Jadwal praktek ibadah kembali saya pindahkan. Untuk urusan kantor juga saya minta izin tidak masuk. Har jum'at besok saya kembali mempersiapkan diri menyelesaikan beberapa yang saya tunda hari ini. Semangaat semoga kemudahan menyertai saya!!!

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...