Pada Sebuah Elp

0 Comments
Bis dan elp menunggu di perempatan Garut untuk mengantarkan saya sampai di Bandung. Bis ekonomi terlihat masih kosong, sedangkan elp sudah terisi sebagian. Supir elp yang berkacamata hitam terlihat keren dari jauh. Masih muda dengan postur tubuh yang tinggi dan berkulit hitam manis. Saya bingung akan menaiki apa, apakah naik bis yang tua? atau menaiki elp yang masih terlihat baru.

Pengalaman naik bis yang sudah tua merupakan hal yang kurang menyenangkan. Selain rupanya yang sudah tidak karuan, tenaganya juga kadang lemah sehingga saat tanjakan saya harus menahan nafas karena deg-degan, apakah bis ini bisa melewatinya atau tidak. Padahal perjalanan Garut-Bandung sangat curam apalagi musim hujan. Ahirnya saya memutuskan untuk naik elp karena tawaran kondektur yang mempersilahkan saya duduk di depan di samping supir. Saya duduk berdua dengan seorang ibu separuh baya yang baru saja menengok kakaknya yang sedang sakit. Kata dokter yang merawat, kakaknya mengalami pecah pembuluh di otak karena selalu memendam masalah.

Sepanjang perjalanan saya ditemani lagu nostalgia tahun 90an. Lagu-lagu ini populer saat saya SD. Bahkan mungkin ada beberapa lagu yang populer sebelum 90an. Saya agak heran dengan sang supir kenapa memilih lagu ini, karena kalau melihat penampilan sepertinya usianya baru memasuki usia 20an. Oh, mungkin dia ingin menghibur penumpang yang kebanyakan memang ibu-ibu.

Menaiki elp Garut-Bandung baru kali ini saya lakukan lagi setelah tahun 2004. Saat menaikinya saya mencoba untuk duduk serileks mungkin. Beberapa tempat saya tandai dan mengingat peristiwa apa saja yang pernah terjadi di tempat itu. Garut adalah kota yang penuh kenangan. 2004 lalu untuk pertama kali saya mengunjungi Garut seorang diri tanpa ditemani keluarga. Mencari rumah dosen pembimbing tesis yang sulit ditemui karena aktifitasnya di tarikat. Rumah beliau terletak di tengah sawah yang terhampar luas. Rumah panggung berbilik bambu dan beratap jerami.

Sebelum saya sampai ke rumah dosen pembimbing, saya tersesat sampai ke perkebunan teh Cikijing garut. Ini terjadi karena Tata Usaha Pasca IAIN Bandung keliru memberikan alamat. Sehingga beberapa tempat di Garut sempat saya jelajahi. Panduan yang saya punya hanya no kontak sang dosen. Ahirnya dengan berganti-ganti angkot dan ojek, sampailah saya di tempat tujuan.

Sesampainya di rumah panggung yang cukup menampung sekitar 100 orang, saya disambut oleh seorang perempuan yang bersahaja. Perempuan ini memancarkan keteduhan dan kelembutan seorang ibu. Pancaran matanya yang ramah dan senyum yang selalu tersimpul membuat saya nyaman. Saat dipersilahkan duduk dan diberi teh hangat, pandangan mata saya arahkan ke sekililing rumah lalu saya berkata "waah nyaman sekali rumahnya bu...sejauh mata memandang yang tampak hanya sawah...saya bisa betah disini apalagi kalau botram dengan teman-teman tentu asyik". Ibu ini tersenyum dan berkata "memang di sini sangat nyaman apalagi kalau dipake untuk terus berdzikir kepada Allah". Mendengar perkataanya saya menjadi malu, saat melihat pemandangan yang indah pikiran saya refleks ke makanan yang sangat fisik. Perkataan ibu ini seolah menjadi nasihat untuk saya saat itu. Beliau meminta saya menunggu karena suaminya belum selesai berdzikir katanya.

Setelah menunggu sekitar 20 menit, dosen saya langsung menghampiri dan meminta tesis yang sudah saya tulis. Beliau langsung menandatangani tanpa sedikitpun bertanya apa dan bagaimana kelanjutan bimbingan dengannya selama ini. Setelah ditandatangan dia hanya menanyakan kapan saya akan sidang tesis? Saya menjawab kalau tidak ada halangan awal bulan Juni ini. Dia mendo'akan agar saya melaluinya dengan lancar.

Peristiwa yang saya alami di rumah dosen tersebut sangat berkesan. Tak sia-sia saya harus tersesat dan berganti-ganti angkot kalau hasilnya seperti ini. Tidak hanya tandatangan saja yang didapatkan, saya juga mendapat pencerahan hidup. Sebuah pencerahan dimana kedekatan pada Allah akan membuat seseorang lebih bahagia dalam hidupnya. Suami dan istri yang memiliki visi dan misi yang sama melengkapi kebahagiaan ini.

Inilah yang berkelebat sepanjang perjalanan di elp tadi. Peristiwa tujuh tahun lalu yang kembali terulang hari ini. Naik elp yang ditemani musik nostalgia duduk di samping supir yang keren. Ah...terimakasih atas pegalaman hari ini Rabb...


You may also like

Tidak ada komentar: