Sabtu, 28 Januari 2012

Menjadi Ibu Haruskah Bau?

Ruangan rapat sudah terisi hampir penuh. Saya terlambat 20 menit dari undangan yang diberikan. Segera saya mencari tempat duduk yang kosong di jajaran dosen perempuan. Dosen perempuan di fakultas ini hanya berjumlah 18 orang dari 98 orang. Terlihat mereka duduk berkumpul di sebelah kiri ruangan. Ternyata tempat duduk yang masih kosong terletak paling depan.

Sebelum duduk saya bersalaman cipika cipiki seperti biasa dengan dosen perempuan yang duduk berdekatan. Dari beberapa yang saya salami ada hal menarik yang saya rasakan. Saat saya bersalaman tadi ada satu orang yang saya pikir sangat drastis perubahannya. Sebenarnya saya agak sungkan membahas dan menuliskan hal ini, tapi terus terang masalah ini agak sulit saya abaikan.

Teman saya baru saja melahirkan dan menyusui. Wajar saja kalau bentuk badannya belum kembali pada kondisi semula. Tapi bukan bentuk badan yang mengganggu pikiran saya, melainkan aroma dan penampilannya saat ini. Dulu saat dia masih gadis, saya sering ikut shalat di kostannya samping kampus. Pakaian mengajarnya sangat formal dan berasal dari penjahit profesional yang mahal. Stelan yang begitu pas melekat ditubuh memperlihatkan badannya yang ramping. Seringkali dia mengomentari gaya berpakaian saya yang dinilai terlalu santai dan tidak beda jauh dengan mahasiswi. Padahal menurutnya seorang pengajar yang baik harus memperlihatkan performa terbaik saat mengajar.

Saat memperhatikan meja riasnya saya juga tertegun betapa kosmetik yang dipakainya berharga mahal. Dia juga menyarankan kepada saya untuk mulai memakai make-up karena saat memasuki usia 30 seorang perempuan harus sudah mulai perhatian kepada muka dan tubuhnya. Saya hanya tersenyum saja karena memang kebiasaan kami sangat jauh berbeda.

Setelah bersalaman tadi saya betul-betul tak habis pikir kenapa setiap kali bersalaman bahkan berpapasan dengannya, saat ini saya mencium aroma yang menyengat. Bau tubuhnya begitu tercium dan membuat saya tak nyaman berdekatan dengannya. Make-up yang biasanya dipakai juga nyaris tak berpengaruh. Muka yang tidak terawat ditutupi dengan bedak tebal membuat penampilannya semakin aneh. Mungkin ia tak sempat mengurus dirinya karena mengurus anak dan keluarga pikir saya. Tapi benarkah setelah menikah seorang istri tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri? Atau jangan-jangan ia juga sepaham dengan sepupu saya yang mengatakan bahwa "Ah kalo udah laku mah buat apa berdandan, tenang aja kali".

Terus terang saya tidak sepakat dengan pandangan ini. Justru saat gadis dulu saya jarang merawat muka dan badan, karena saya percaya diri dengan karunia yang diberikan-Nya. Untuk apa saya melakukan itu semua saya pikir. Nah saat menjadi istri dan ibulah waktu yang tepat untuk mengurus penampilan. Karena jelas tubuh seorang perempuan diporsir dengan aktifitas reproduksi dengan hamil, melahirkan, menyusui, merawat anak dan keluarga. Otomatis perawatannya harus maksimal. Selain  untuk kenyamanan dan kebutuhan diri juga  ditujukan untuk membahagiakan pasangan dan ini jelas pahalanya.

Saat sudah menikah perempuan tidak boleh mengabaikan dirinya. Bukan sekedar memenuhi keinginan pasangan saja. Namun yang terpenting dari itu semua tubuh ini adalah amanah yang harus dijaga. Sehingga pada saat tubuh kita sehat, kulit sehat dan terawat dengan baik maka kepercayaan diri pun meningkat. Tak usah yang mahal, yang alami dan apa adanya. Semoga menjadi investasi agak dimasa tua nanti masih memiliki tubuh yang sehat.


Rabu, 25 Januari 2012

Mau Perkasa? Senamlah!

Pagi cerah yang berangin duapuluh lima ibu-ibu berkumpul di lapangan. Lapangan ini terletak tepat di depan musholah RT 10 RW 20 komplek Permata Biru Bandung. Di sebelah utara dan timur lapangan ini terdapat sawah yang membentang. Sehingga tidak heran sekeliling lapangan ini dipasangi jala agar bola volly tidak masuk ke sawah. Lapangan dan musholah ini merupakan hasil swadaya masyarakat. Dengan bergotong royong selama kurang lebih setahun setengah kedua fasilitas umum ini selesai dibangun. 

Pukul 07.30 tepat ibu-ibu sudah berkumpul dengan memakai pakaian olahraga. Namun ada pemandangan yang ganjil dari stelan olah raga mereka ini. Mereka tidak menggunakan kaus kaki dan sepatu, namun mengunakan sandal seperti biasa. Selain itu semua ibu membawa sejadah sebagai alat olahraganya. Apa kira-kira yang mereka lakukan ya?


Pagi ini merupakan pertemua ke dua yang kami lakukan dalam kegiatan senam perkasa Indonesia. Senam ini kami lakukan seminggu dua kali setiap hari senin dan rabu setiap pukul 07.30. Senam ini dilakukan di atas matras karena gerakannya  seperti gerakan sholat yang betul-betul mengeksplorasi kerja lutut dan sendi bagian bawah.

Instruktur senam kami sangat istimewa. Dialah mimih haji yang usianya 60 tahun. Mimih haji  merupakan ustadzah yang membimbing majis taklim blok Z yang  berlangsung seminggu sekali. Dulu sebelum mushola ada, kami melakukan pengajian dari rumah ke rumah. Setelah mushola kami berdiri, semua kegiatan pengajian dan kegiatan lainnya dilakukan di musholah. Mimih tahun ini untuk kedua kali sudah berangkat ke Mekah. Setelah pulang, beliau bercerita betapa fitnya kesehatan yang dimiliki sehingga anak muda saja heran melihat betapa fitnya nenek yang satu ini.

Gerakan senam perkasa memadukan pernafasan dan gerakan pergangan otot dan sendi.  Memulai senam ini kami semua berdiri di atas sajadah atau matras dengan posisi kaki berbentuk A. Setelah itu muka ditengadahkan ke atas sambil tangan direntangkan, badan dibungkukan sambil menghirup nafas lewat hidung, setelah itu tangan direntangkan ke atas sambil meregangkan seluruh tubuh, nafas ditahan beberapa saat lalu dilepaskan kembali dengan suara HA. Ini merupakan gerakan dasar yang terus dilakukan sepanjang senam dan dipadukan dengan gerakan lain.

Gerakan kedua adalah gerakan dasar yang dipadukan dengan peregangan yang dimulai dari kepala, telinga, sampai bahu. Dalam melakukannya pernafasan harus teratur dan berirama. Setelah itu gerakan selanjutnya yaitu dengan menghentakan telapak kaki secara berirama dan menahan gerakan dan nafas pada titik-titik tertentu. Selajutnya gerakan tersebut dipadukan dengan gerakan tangan yang memutar seperti sayap dengan hitungan 7, 9 dan 12.

Gerakan inti senam ini adalah setelah kembali melakukan gerakan dasar lalu jatuhkan lutut ke matras sambil tangan terus terentang ke atas, muka terus tengadah lalu terus berdiri lagi. Jatuhkan lagi terus berdiri lagi dari 7 kali, diulang 9 kali sampai 12 kali. Selajutnya gerakan inti kedua setelah gerakan dasar, lutut dijatuhkan, duduk bersimpuh seperti gerakan diantara dua sujud, lalu tumit kaki dipegang oleh kedua tangan, badan di bungkukan dengan muka tetap menghadap ke depan. Ditahan hingga hitungan 7, 9, dan 12 selajutnya posisi jongkok dengan tangan tetap ke depan lalu, gerakan rukuk lalu berdiri lagi dengan meregangkan tangan ke atas sambil menghirup nafas. Gerakan inti ketiga seperti gerakan yang kedua hanya tangan tidak memegang tumit melankan diarahkan ke depan kaki telapak kami yang terbalik diangkat perlahan, tahan pada posisi demikian dengan hitungan7, lalu 9 lalu 12, lalu jongkok, ruku dan kembali berdiri.

Gerakan selajutnya adalah gerakan pompa dragon yang katanya bisa menambah vitalitas seksual ibu-ibu. Gerakannya setelah gerakan dasar, lutut dijatuhkan,  sambil berlutut dengan kaki agak dibuka, tangan memegang tumit belakang lalu badan dikedepankan seperti dipompa naik ke atas dan ke bawah (seperti gerakan kayang hanya sambil berlutut). Gerakan ini tetap dilakukan 7 kali, 9 kali dan 12 kali. Selajutnya gerakan lutut macan. Gerakan dasar, lalu berlutut tangan disimpan di depan lutut badang dimajukan ke depan kepala digoyang kanan dan kiri dilakukan 7 kali diulang lagi lalu 9 kali , lalu 12 kali. Selanjutnya gerakan inti terahir adalah setelah gerakan dasar, lutut dijatuhkan lalu duduk bersimpuh seperti posisi duduk diantara dua sujud, lalu badan direbahkan kebelakang tangan direntangkan ke atas. Posisi tersebut seperti posisi tidur, hanya kaki terlipat. Posisi ini ditahan sampai 2 x 60 hitungan bagi pemula bisa juga 7 x 60 hitungan bagi yang sudah terbiasa.

Setelah selesai gerakan inti kembali berdiri lalu bernyanyi dan melakukan gerakan-gerakan sederhana penutup. Salah satu lagu yang sudah saya hapal  ialah "satu kepal nasi, empat jari ikan, sepuluh jari sayur, satu jari minyak, caca marica hei-hei, caca marica hei hei, caca marica menunya sudah cukup". Setelah selesai senam, ditutup dengan do'a bersama dan kembali ke rumah masing-masing. Badan kami terasa lebih segar dan bersemangat untuk melakukan aktifitas hari ini.









Minggu, 22 Januari 2012

Botram

Kangkung, labu siam, toge dan kacang panjang direbus satu persatu.  Goreng kacang tanah sudah tercium harumnya dan segera diangkat oleh Mama Audya. "Mimi yang ngulek ya saya mau ngangkat rebusan sayurannya dulu. "Oke", jawabku. Segera cengek merah, goreng kacang tanah, gula merah, sedikit terasi aku haluskan. Tak lupa sedikit garam kutambahkan agar rasanya semakin kuat.


Siang ini entah untuk yang keberapa kali saya dan ibu-ibu tetangga sekitar rumah melakukan botram atau makan siang bersama. Kami melakukannya biasanya pada hari libur seperti hari minggu siang ini. Tak suka direncanakan memang, kami melakukannya semau kami. Bila salah satu ibu punya inisiatif dan kebetulan didukung paling tidak 3 ibu yang lain maka botram pun bisa dilakukan.

Makanan yang kami hidangkan sangat sederhana, seperti karedok, liwet, sambal terasi, goreng peda, tempe, tahu dan beberapa lalapan. Meski sederhana dijamin satu piring tidak akan cukup. Biasanya kami semua nambah sampai beberapa kali hehe. 
Selama makan kami berbincang-bincang. Awalnya membicarakan artis di infotainmen. Bagaimana seorang Yuni Shara yang terpaut usia jauh dengan Rafli Ahmad bisa kembali pacaran. Betapa Rafli Ahmad sangat terpukul saat diputuskan Yuni. Mama Audya bilang bahwa, ternyata bukan hanya usia dan fisik saja yang menjadikan seseorang jatuh cinta, melainkan hal yang lebih dalam dari itu. Apa itu tanyaku? "ya...mungkin sesuatu yang dibutuhkan Rafli secara psikologis dan hanya ada di Yuni", jawab mamah Audya. Iya ya kadang cinta memang tidak rasional.

Obrolan kami mengalir begitu saja sampai pada kesewotan ibu-ibu dengan Banggar DPR RI dan jembatan gantung di Lebak Banten. "Gila masa kursi aja sampe 24 juta, WC 2 miliar? pantes aja harga semakin mahal pemerintahnya ngurusin perut sendiri sedangkan bikin jembatan sederhana saja terlupakan" kata mamah Tyas. "Gemes deh...padahal kita yang milih ya...tau gitu kita kosongin aja kemarin pas pemilihan anggota dewan kalo emang kerjanya kayak gitu", ia menambahkan. Trus saat tau kayak gitu gimana bu?, tanyaku. "Ya gak gimana-gimana pokoknya sebel banget deh, pokoknya amit-amit deh anakku kalo kelak jadi orang kayak mereka kata mama Tyas yang juga seorang guru.

Iya ya bu...padahal mereka kan orang berpendidikan? tapi kenapa bekerja sama melakukan pendzoliman seperti itu? mereka duduk di sana kan amanah dari kita. Anggaran yang dipakai juga sebenarnya untuk rakyat, trus gimana caranya agar anak-anak kita kelak tidak seperti mereka? pertanyaanku bertubi-tubi keluar begitu saja. "Udah deeh jangan ngomongin politik mulu, pusing ngedengernya, kita mah rakyat kecil yang penting masih bisa makan dan sekolahin anak", mama Vio menyela. "Nih mimi mau tambah lagi gak karedoknya, saya mau tambahin cengek lagi soalnya bikinanmu kurang pedes". "Oh silahkan aja saya memang kurang suka yang terlalu pedas, cukup mama Vio udah nambah dua kali soalnya hehe" jawab saya.

Mama Tyas kembali berkata, "mama Vio gak boleh kayak gitu kita harus peduli dengan masa depan negri ini, anak-anak kita bisa makan dan sekolah sangat tergantung pada wakil rakyat yang duduk di sana. Kalo mereka terus-terusan korupsi lama-lama kan harga mahal kita bisa enggak bisa makan, sekolah juga kayak gitu". "Wiih mamah Tyas nih memang oke" kataku pantes Tyas sekolahnya pinter. Tapi mama Vio juga gak salah ujar saya, kapasitas kita sebagai perempuan dan ibu rumah tangga sangat tepat untuk mengukur kinerja pemerintah baik ato tidak. Karena kita yang terkena dampak pertama kalau harga-harga naik padahal harus menyajikan makan sehat untuk keluarga. Kita pula yang mengatur laju keuangan keluarga yang prioritas utamanya adalah pendidikan keluarga. "Bu dosen lagi ngisi kuliah nih" celetuk mama Satria yang memang pendiam dan biasanya menjadi pendengar setia.

Obrolan itu berlanjut dengan cerita kami tentang anak masing-masing mulai dari kelucuan mereka, kenakalan mereka sampai kecerdasan mereka. Tak terasa makanan yang tersedia sudah tandas, tinggal teh tawar panas menutup botram kami. "Ya pokoknya gini deh mimi, sesekali luangkan waktu di RT kita untuk ngisi tentang bagaimana menjadi ibu yang baik untuk anak-anak, saya mau ngusulin ke ibu Omi agar mimi ngisi di minggu ke 3 di pengajian kita". "Mamah Tyas bisa aja, justru saya harus belajar banyak sama ibu, karena saya baru tau teorinya saja dan prakteknya belum teruji sedangkan mamah Tyas kan sudah terbukti, anaknya pada baik dan pintar, tapi kalau untuk berbagi saya tidak keberatan karena nanti bukan ceramah melainkan kita ngobrol dan berbagi ya", ujar saya.

Hari ini kembali saya tutup dengan senyuman. Komplek perumahan kecil ini membuat kami begitu akrab. Dinding rumah kami menempel satu sama lain. Sehingga kekeluargaan begitu terasa saat berada di sini. Meski jauh dari keluarga baik dari keluargaku maupun suami, aku merasa merekalah keluargaku di kota ini.







Jumat, 20 Januari 2012

Ibu sayang

"Assalamualaikum, damang bu?" sapaku di telefon pada ibu. Ibu penuh kasih yang sudah mengorbankan dirinya untuk melahirkanku kedunia ini. "Alhamdulilah sae, hannah kumaha? jawabnya sambil berbisik.  "Alhamdulilah sehat" jawabku. "Ibu sedang berada dimana? tanyaku karena heran kenapa ia menjawab dengan berbisik. "Ibu sedang berada di rumah pak T anaknya teh Euis meninggal dunia, baru saja jenazahnya tiba dari Serang". "Innalilahi, bukannya teh Euis masih muda dan karirnya cemerlang? aku bertanya dengan terkejut. Ibu menjawab "iya...cuma beda 3 tahun lebih tua dengan kamu, ia sangat kelelahan karena menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi dan aktifitas yang padat. Ibu minta kamu segera chek-up kesehatan dan jangan terlalu capek, karena kamu sangat mirip Euis kalau sudah bekerja ujarnya. Ia menambahkan "Istirahat yang cukup, jangan terlalu banyak begadang, kurangi minum kopi dan hiduplah dengan pola hidup yang sehat".

Pembicaraan ini membuatku merenung, oh pantas saja menjelang magrib tadi betapaku ingin berbincang dengan ibu. Padahal baru kemarin malam aku cerita panjang tentang kegalauanku terhadap beberapa pekerjaan yang kuhadapi. Ternyata saat itu dengan kesedihan yang sangat terhadap nasib putri temannya ia juga begitu teringat denganku dan menghawatirkan kesehatanku.  Setelah ngobrol dengan ibu aku segera menghubungi temanku seorang dokter untuk melakukan general chek-up. Dia memberikan beberapa refernsi tempat sambil bertanya kenapa aku ingin chek-up. Kujawab bahwa sudah lama aku tidak melakukannya. Terahir kali general chek-up tahun 2009 dan sejauh ini sehat. Namun kadar kolesterol dalam darahku cukup tinggi dan dokter menyarankan melakukan diet. Aku bertanya, kenapa kolesterol darahku tinggi padahal badanku tidak gemuk bahkan agak kurus. Dokter menjawab bahwa pola makanku yang suka dengan yang kering-kering dan berminyak dan kurang makan sayur.

Tahun 2009 setelah general chek-up  aku betul-betul tobat makan mie instan. Selain bukan makanan sehat, ia juga terkait dengan neo-liberalisme yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Negri ini semakin miskin dan berfisik lemah. Pola belanja dan menu keluarga kuubah sedemikian rupa. Tidak ada mie instan dalam menu keluargaku. Sehingga anakku yang terkecil selalu menolak makan mie dimanapun dia menemukannya. Ahir 2011 aku kembali mengkonsumsi mie karena saat itu kerepotan mengurus keluarga karena pengasuh anak-anak tidak ada. Rasa bersalah kembali muncul kenapa kembali pada kebiasaan lama? dan betapa perjuanganku selama dua tahun ini tak ada artinya dengan tindakan ini.

Terimakasih ibu sudah mengingatkanku. Pola hidup sehat akan aku jalani kembali. General chek-up akan ku lakukan minggu depan. Pekerjaan aku hadapi dengan senyuman. Betapa ini adalah sebuah karunia Allah agarku punya lahan untuk beramal shaleh dan beraktualisasi. Rasa syukur hari ini begitu bergema dalam hati karena diingatkan oleh ibu tersayang. Setelah seharian memberikan workshop untuk perempuan pemulung yang kurang beruntung nun jauh disana. Bertemu dengan sosok perempuan tangguh yang berjuang mempertahankan hidup dengan mengais sampah di Tempat Pembuangan Ahir. Hari ini ditutup dengan do'a seorang ibu untuk kesehatan putrinya. Hannah sayang ibu!


Rabu, 18 Januari 2012

Lagi...lagi dan lagi

Sesuatu yang sederhana. Murah juga mudah. Untuk mendapatkannya bisa dilakukan kapan saja. Namun entah mengapa waktu yang dihabiskan untuk meraihnya lumayan lama. Bahkan menghabiskan seharga biaya sesuatu tersebut. Kejadian ini kerap saya alami. Kenapa?

Lagi..lagi dan lagi...setelah teratasi baru tersadar kenapa tidak dari dahulu saya melakukan A? kenapa tidak dari dahulu saya membeli B? kenapa tidak dari dahulu saya menghubungi C?  Mungkin pada saat masalah tersebut datang hal tersebut memang sulit untuk saya karena minimnya pengetahuan yang saya miliki. Saya bilang saat ini mudah  karena sudah tahu.

Ya jadi teringat saat pertama kali belajar matematika terutama perkalian di kelas 3 SD. Saat itu betapa sulit saya mencari tahu hasil perkalian. Saya hapalkan mereka dengan susah payah. Dengan suara yang keras. Saya lakukan sambil main, sambil bantu ibu dan sambil melakukan aktifitas yang lain. Terasa sulit dan saya saat itu berfikir bisakah saya menghapal sebanyak itu? Ternyata dengan proses saya bisa menghapalkannya dan mengerti lebih perkalian bahkan sampai beberapa digit.

Proses belajar apapun ternyata hampir sama dengan kondisi di atas. Awalnya sulit namun sedikit demi sedikit menjadi bisa dan terasa gampang. Jadi mungkin 'waktu' merupakan sebuah keniscayaan dalam proses.  Tak usah menyesali 'waktu' yang sudah dihabiskan karena dengannya banyak hal bisa terselesaikan.

Selain waktu saya kira dalam berproses kita membutuhkan juga tenaga dan hal material lainnya. Mungkin terlihat berlebihan untuk sebuah tujuan sederhana yang ingin diraih. Namun sebenarnya bukan tujuan itu sendiri yang ingin dicapai. Melainkan untuk melalui proses dengan lebih baik lagi. Mau lagi? lagi? dan lagi...

Senin, 16 Januari 2012

Stop Lingkaran Kecemasan!!!

Belakangan ini saya lebih banyak bicara dari pada mendengarkan, apalagi menulis. Rasanya sangat tidak nyaman. Karena tuntutan program mau tidak mau saya jadi pembicara pada beberapa event terkait dengan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Beberapa program berturut-turut dilaksanakan. Menyita energi dan konsentrasi dan pada ahirnya memunculkan ketegangan.

Lingkaran kecemasan berputar dengan cepat membuat kesadaran diri semakin berkurang. Kecemasan yang diderita pimpinan lembaga kami ditularkan kepada pengurus inti lalu menularkan pula pada kami di kantor. Berputar menciptakan ketegangan yang membuat siapapun tidak kerasan.

Biasanya dalam menghadapi berbagai persoalan, mendengarkan adalah pilihan. Tersenyum meski pihak yang berbicara terlihat kolokan, memaksa bahkan lempar tanggung jawab. Saat itu dalam benak yang terlihat hanya sosok-Nya. Saya melakukan berbagai aktifitas hanya untuk mengagungkan nama-Nya. Tak perlulah diketahui atau diapresiasi apa yang saya lakukan karena bukan itu tujuan utama hidup ini. Sehingga nada bicara saya terkontrol dan jarang terpancing emosi.

Saya ingin mengurai betapa sebenarnya saya merasa tidak enak dalam beberapa kondisi belakangan ini. Terkat posisi saya ditempat kerja dan di LSM yang saya rintis. Posisi sebagai pengajar agama di sebuah perguruan tinggi saya pertaruhkan demi berjalannya program LSM yang saya rintis. Saya tau betapa adminstrasi perguruan tinggi tersebut terlihat tidak suka dengan program yang saya gulirkan.  Karena mungkin saya tidak pernah melibatkan mereka dalam setiap program saya dan dalam benak mereka  saya akan mendapatkan keuntungan dalam program yang dijalankan, namun kenapa saya menutup diri mengajak mereka?

Semua hasil yang saya dapatkan sepenuhnya saya berikan untuk LSM yang saya rintis demi berjalannya program pendampingan masyarakat dan pembinaan relawan. Saya tidak pernah mengambil apapun ditiga tahun merintis LSM. Saya mencari peluang rizqi pribadi  lewat penelitian kompetitf dosen, tulisan ilmiah dan konsultan beberapa program pemerintah. Sampai tahun ke 3 ini belum satu pun proyek betulan digarap LSM saya. Semuanya pengabdian kepada masyarakat dengan dana yang berasal dari beberapa kegiatan kecil yang kami lakukan. Betul-betul kami memberdayakan sumber daya lokal dan tidak bergantung pada funding manapun. Baru mau akan sebuah proyek kami tangani di 2012 ini, itupun belum pasti karena belum ada dalam genggaman.

Sehingga terus terang saya tersinggung dengan ucapan seseorang yang mengatakan bahwa LSM yang saya rintis orientasinya proyek semata. Proyek yang mana? bisakan dia menunjukan? Saya menggarap beberapa proyek penelitian tidak menggunakan LSM tapi identitas saya sendiri sebagai seorang akademisi. Dari beberapa proyek pribadi tersebut, saya mengalokasikan dana untuk LSM. Padahal sebenarnya saya tidak memiliki kewajiban tersebut. Namun karena saya ingin berkah dan bermakna, karenanya saya sisihkan sebagian selain saya sisihkan juga untuk lembaga keagamaan yang konsen menangani ZIS.

Saya terus mengepakan sayap menjalin kembali jejaring jejak yang pernah saya torehkan dalam perjalanan hidup. Apakah jejak saya sebagai santri, jejak saya sebagai aktifis KOHATI, jejak saya sebagai mahasiswa aqidah filsafat, jejak saya sebagai aktifis pemberdayaan perempuan, jejak saya sebagai anak daerah Banten dan masih banyak jejak jejak lain yang saya torehkan. Selama ini jejak itu masih terlihat, saya mengukirnya dengan kerja dan tugas yang bertanggung jawab. Ternyata orang-orang yang ada dalam lingkaran jejak-jejak yang saya torehkan adalah orang yang memiliki wewenang dalam menjalankan banyak program di negri tercinta ini. Ahirnya saya banyak dilibatkan dalam berbagai program dan saya hanya memilih program pemberdayaan perempuan yang tidak menyita banyak waktu sehingga keluarga bisa tetap saya perhatikan.

Ah sepertinya tak usahlah saya terlalu memasukan kedalam hati omongan miring yang hanya membuat langkah ini menjadi berat. Menjadikan saya berargumen dan mengungkit kerja yang sudah saya lakukan padahal bisa jadi pahala yang saya tanam akan menguap dengan sikap demikian. Selalu menghadapi segala hal dengan kepala dingin dan senyum.

 Saya kembali memfokuskan diri untuk menatap masa depan dengan menyenangkan. Lingkaran kecemasan yang sudah ditularkan atasan saya harus dihentikan. Saya memutuskan untuk tidak terpengaruh dan kembali memfokuskan tujuan bahwa yang saya lakukan semata hanya ingin bermanfaat untuk masyarakat. Sebagai sebuah bekal abadi menghadap-Nya. Semoga Ia kembali  menyadarkan saya untuk tetap tersenyum meski derasnya sangkaan dan terpaan badai yang menghadang. Bismillah...saya ingin menjadi pohon yang tinggi...untuk itu saya siap menghadapi badai yang menerpa dengan Kasih-Mu ya Rabb.

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...