Kamis, 23 Februari 2012

Kue Perjuangan

Susu jahe panas membuka kamis cerah ini. Rasa jahe yang hangat menelusupi relung bathinku. Setelah mengantarkan kedua buah hati pergi sekolah juga melepas kepergian suami mengajar ke luar kota, tinggal ku sendiri. Membuka email, fesbuk, kompasiana dan blog ini sambil mencuci pakaian.

Hari ini pukul 10 aku akan bertemu dengan teman-teman sekelas di Religious Studies yang sudah hampir setahun ini tidak bertemu. Perkuliahan beres semenjak semester 4 satu tahun lalu. Saat ini kami sudah berada di semeser 6 dan semuanya sedang menyelesaikan disertasi. Kangen juga rasanya menikmati kebersamaan yang selama ini tercipta.

Selama kuliah di Religious Studies, kami sering kali berkuliah tidak di kelas. Kami kadang mengajak dosen untuk kuliah ditempat tempat wisata yang menyenangkan. Vihara di Lembang, Ciater, Sindang reret, Cipanas Garut, Puncak Drajat Garut, Bromo, Borobudur, Jogja, Lampung dan beberapa rumah makan sekitar Bandung.

Dosen-dosen yang mengajar kebanyakan masih muda dan enerjik. Malah ada beberapa yang lebih muda dari teman-teman sekelasku. Kebanyakan dosen yang mengajar angkatan kami berasal dari luar UIN Bandung. Sehingga kami merasakan suasana yang berbeda.  Saat kuliah di sinilah saya betul betul menikmati kuliah dalam arti yang sesungguhnya. Teman-teman yang memiliki wawasan luas, proses kuliah yang menyenangkan, bisa membaca dengan serius, penelitian terus dijalankan dan terus saling menyemangati agar bisa selesai bersama sama.

Oh iya saya jadi teringat cerita ibu guru TK anakku yang baru saja kuliah kualifikasi S1 untuk guru yang semuanya dibiayai Depag RI. Baru saja memasuki semester dua ia sudah terjebak dengan relasi yang menyakitkan dengan salah seorang dosen yang juga menjadi administrasi program tersebut. Teman-temannya yang juga guru-guru kebanyakan juga memiliki affair apakah dengan sesama teman atau dengan dosen yang mengajar. Kok bisa ya ada cerita seperti itu?

Rasanya selama meneruskan kuliah setelah menikah saat S2 dan S3 saya hampir tidak pernah punya teman yang memiliki cerita seperti teman ibu guru anakku di atas. Saya selalu bersemangat dan menyukai proses belajar mengajar. Melihat semua hal dengan kacamata syukur dan positif. Termasuk melihat teman-teman saya sekelas. Alhamdulilah silaturahmi tetap terjalin dengan baik. Kami menjadi teman bahkan beberapa orang jadi sahabat yang menguatkan.

Memang ada  teman mengatakan bahwa hidup saya terlihat datar dan membosankan. Benarkah demikian? Terus terang saya tidak merasakan hal itu. Hidup bagi saya saat ini cukup menyenangkan. Bagi saya saat bisa shalat berjamaah setiap magrib bersama suami dan anak-anak lalu kami mengaji bersama-sama adalah sebuah momen yang membahagiakan. Kami bercengkrama dan bernyanyi bersama di atas kasur sebelum mengahiri malam itu juga menyenangkan. Meski rumah kami sederhana, penghasilan kami belum seberapa, kendaraan yang kami punya seadanya.

Pasangan hidup yang saat ini menemani saya juga bukan orang yang sempurna. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, saya sebagai istri ikut juga berjibaku mengusahakannya. Sahabat saya sering bercerita bahwa suaminya kerap kali memberikan berbagai macam perhiasan mahal untuknya. Rumah yang dibuatkan begitu mewah. Mobil yang dibelikan mobil mewah keluaran terbaru. Uang saku perbulan tak berbatas dan banyak hal lain yang mungkin didambakan sebagian besar perempuan. Namun apa yang dia inginkan sebenarnya? Dia hanya ingin  suaminya membuatkan minuman saat begadang untuk menyelesaikan laporan. Ia ingin digandeng tangannya saat menyebrang jalan. Ia ingin dibukakan pintu mobil saat naik dan turun. Ia ingin didengarkan keluh kesahnya dan sama-sama bisa berdiskusi tema yang sedang dikerjakan. Apa yang didapatkan sahabat saya, tidak saya dapatkan. Dan apa yang diharapkan sahabat saya, saya yang mendapatkan.

Hidup ini adalah pilihan saya sendiri.  Bagi sebagian perempuan mungkin terpukau dengan sudah tersajinya kue tar yang indah dan mewah dan tinggal menikmati. Menikah dengan seseorang yang sudah mapan dan bisa memberikan kemewahan dan kemudahan dalam hidup. Tidak bagi saya!. Saya  menentukan pilihan dengan memilih bahan baku untuk membuat sebuah kue. Bahan baku yang baik. Dengan bahan baku tersebut sayalah yang akan membuatnya bersama pasangan saya. Kami belajar bersama membuat adonan, membakarnya di oven sampai menghiasnya bersama-sama. Karena kue kami adalah kue perjuangan, disana keringat kami bersimbah, disetiap lekukannya ada cerita bagaimana tepung canda dan tawa berterbangan. Ah...semoga kami bisa terus saling menguatkan, menyayangi, menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing dan menghiasi kue ini dengan gaya dan selera kami sendiri.

Senin, 06 Februari 2012

Perkosaan

Beberapa kasus dilaporkan di lembaga kami terkait perkosaan. Perkosaan yang dilakukan oleh teman dekat merupakan kasus yang paling banyak masuk. Kadang serba salah menanganinya. Secara psikologis, kadang kasihan melihat korban yang dilaporkan masih muda dan belum siap jadi ibu. Sehingga kadang solusi instan yang  diinginkan keluarga   agar beres urusan ialah  dengan aborsi. Tapi sekali lagi apakah itu perlu? mengingat pelaku adalah orang dekat atau pacar korban yang artinya tak mungkin terjadi kehamilan bila relasi itu tidak terlalu dekat. Paling tidak pihak perempuan yang jadi korban memiliki andil dalam kehamilannya dengan membiarkan dirinya menjadi korban. Karena perkosaan dalam sebuah relasi tidak terjadi dengan tiba-tiba. Ada proses yang mendahuluinya.

Tiba-tiba saya teringat dengan perlakuan seorang ibu yang memukuli anakknya di depan umum ketika ia mengetahui anaknya hamil duluan. Sang ibu begitu marah sehingga melakukan kekerasan fisik dan psikis yang sampai hari ini sulit dilupakan sang anak. Saat sang anak dalam kondisi yang lemah karena hamil, sang pacar yang tidak mau tanggung jawab, seseorang yang begitu dekat juga melakukan perbuatan kekerasan kepadanya. Terus terang saat mendengar kejadian itu terjadi di lingkungan yang saya tempati saya betul-betul meyesalkan perbuatan sang ibu.

Saya tidak membenarkan perbuatan sang anak yang hamil duluan. Namun kondisi anak perempuan hamil yang sangat lemah merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dibandingkan kemarahan sang ibu. Selain melindungi fisiknya, sang ibu juga berkewajiban melindungi psikisnya agar tetap sehat dan kembali menjadi lebih baik lagi. Meski marah, kenapa tidak memberikan perlindungan dan kesempatan sang anak untuk memerbaiki dirinya. Perbuatan baik sang ibu bukan berarti setuju atau membenarkan perlakuan sang anak. Melainkan dengan pertimbangan kemanusiaan, bahwa siapapun manusia yang ada dalam kondisi lemah wajib dilindungi.

Kembali pada persoalan perkosaan. Kemarin saya diminta untuk mengeluarkan pendapat terkait aborsi yang     mungkin akan dilakukan oleh seorang gadis yang merasa diperkosa oleh pacarnya. Gadis tersebut sangat lemah secara psikologis. Saat ini dia begitu tertekan dan terlihat depresi. Karena saya termasuk kader ulama perempuan Jawa Barat, saya diminta keputusan terkait hal ini.

Saya menjelaskan bahwa kalau mazhab Syafii, dalam bentuk apapun dan  alasan apapun aborsi diharamkan.  Salah satu ulama yang membolehkan aborsi adalah Iman Hanafi bila sang janin belum 120 hari. Kebolehan ini juga terjadi dengan pertimbangan yang sangat hati-hati yaitu bila sang anak tidak diaborsi, maka hawatir nyawa ibu jadi terancam. Qaidah Ushul fiqih yang saya pahami adalah dharurat yang kecil dibolehkan untuk mencegah darurat yang lebih besar. Nyawa ibu lebih berharga dari nyawa janin yang belum jelas perkembangannya.

Nah kalo pendapat Imam Hanafi ini diprkatekan disini bagaimana? Gadis tersebut ternyata memiliki pacar laki-laki yang sudah menikah. Artinya kemungkinan gadis tersebut dimanfaatkan dan diperkosa cukup besar.  Kondisi sang gadis yang lemah juga jadi pertimbangan. Namun betulkan lemah? penentuan lemah psikologis ini tentu bukan keluar dari orang awam. Namun harus keluar dari psikolog atau psikiater terkait dengan kesehatan jiwa korban.

Kalau hanya dugaan orang awam saja saya tidak berani memakai pendapat Imam Hanafi. Terlebih juga timbul satu pertanyaan kenapa pacaran sampai hamil segala? Bukankah pacaran itu sebuah relasi yang intens dan memerlukan waktu? artinya tidak tiba-tiba berhubungan seksual. Kenapa diam saja saat diajak bermesraan? Kenapa tidak menolak? Bisa jadi jawabannya adalah si perempuan tidak tau bahwa itu adalah perbuatan yang merugikan dirinya. Saat ini rasanya sulit untuk percaya ada gadis perempuan yang tidak tau tentang seksualitas. Atau bermesraan itu sesuatu yang bertentangan dengan budaya (jangan agama dulu deh).  Meski kemungkinan ada gadis perempuan yang benar-benar tidak tahu lalu dimanfaatkan bisa saja terjadi karena budaya kita memang menutup nutupi bahkan menganggap tabu tentang seksualitas.

Saya saat ini memiliki dua anak perempuan usia 9 tahun dan 6 tahun. Perkosaan mengintai perempuan dari kalangan mana saja dan umur berapa saja. Sehingga mau tidak mau saya harus membekali mereka pengetahuan tentang tubuh mereka sendiri. Kadang saya masih memandikan kedua anak perempuan saya dan menjelaskan tentang fungsi tubuh mereka sendiri. Sambil menyabuni mereka sambil melantunkan do'a untuk setiap organ yang saya sentuh. Pada saat menyabuni daerah vitalnya, saya meminta mereka melakukan sendiri dan berkata bahwa "vagina kamu harus dijaga dengan sebaiknya. Jangan sampai ada orang lain yang menyentuhnya sebelum menikah bahkan orang tua atau saudara sekali pun. Kalian harus lapor pada mimi saat ada yang berani pegang-pegang kalian apalagi vagina". Anak saya bertanya memang kenapa mi? jawab saya  "karena ia sangat berharga darinyalah kalian kelak melahirkan anak, harus dibersihkan dengan seksama dan dirawat dengan baik dan hanya kalianlah yang boleh menyentuhnya".

Kemarin saya memberikan anak pertama saya sepucuk surat cinta.  Saya menceritakan bagaimana Allah sudah menciptakan ia dalam bentuk sebaik-baiknya. Fisiknya yang cantik harus diiringi dengan akhlaqnya yang cantik. Saya memberi tahu dia bahwa saat ini dia sudah mumayiz bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Sebentar lagi menjelang aqil baligh. Artinya ialah yang akan mempertanggung jawabkan perbuatannya dihadapan Allah. Saat aqil baligh juga berarti berlembangnya fungsi reproduksinya dengan membesarnya payudara dan menstuasi. Saya menyelipkan harapan-harapan saya untuknya, untuk lebih rajin lagi belajar, sholat tepat waktu, lebih sayang terhadap adik dan hormat terhadap orang tua. Dia memeluk saya dengan erat dan berkata betapa dia sangat menyayangi saya. Semoga saya bisa terus membekali mereka berdua agar mengerti dan paham tentang tubuhnya. Menjaga dan merawat tubuhnya sebagai sebuah amanah dari Allah. Komunikasi yang intens juga terjalin antara kami berdua tentang hal apapun. Baik hal kecil maupun yang besar. Itu terus kami pupuk dan ciptakan.

Perkosaaan adalah perampokan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Seseorang harus berani mengatakan tidak bila mulai ada orang lain yang melecehkan bagian tubuhnya, apalagi sampai melakukan kekerasan terhadapnya. Perkosaan dalam sebuah relasi yang intim pada ahirnya seperti buah simalakama. Di makan mati ayah dibiarkan mati ibu. Fatwa hukum Islam juga tidak bisa diterapkan semena-mena sebelum melibatkan orang yang ahli dalam permasalahan tersebut. Bila memang hasil dari psikolog menunjukan bahwa meneruskan kehamilan adalah hal yang membahayakan bagi kejiwaan si ibu dan tidak ada cara lain untuk menyelamatkan kejiwaan si ibu selain aborsi, maka mungkin aborsi secara medis yang aman bisa saja dilakukan. Hanya apakah ada aborsi medis yang legal? Karena sampai hari ini kode etik tenaga medis belum berkembang sejauh itu dengan membolehkan aborsi yang aman.

Freire untuk Esok

Malam ini saya belum bisa memejamkan mata. Besok merupakan hari pertama saya mengajar di semester genap. Apa hubungannya tidak bisa memejamkan mata dengan besok mengajar? bukankah hal ini sudah biasa terjadi selama 8 tahun saya mengajar di Kampus. Hehe hubungannya memang tidak signifikan tapi entah kenapa malam ini saya belum juga mau tidur.

Kopi luwak putih memang saya minum ashar tadi. Efek caffeinnya mungkin sudah hilang. Namun entah kenapa kantuk belum juga datang. Malam ini setelah menemani anak belajar saya menemani ayahnya tidur. Lalu mempersiapkan segala hal untuk kemudahan aktifitas esok. Pakaian mulai dari kerudung, rok dan baju sudah saya setrika. Sepatu yang akan dipakai juga sudah saya siapkan dan simpan di ruang depan.

Besok saya mengajar pukul 08.40 di Gedung Y-12. Agenda esok sudah saya tulis di catatan agar efisien dan mudah. Setelah mengajar saya akan membimbing mahasiswa sampai pukul 11.00. Setelah itu saya berencana akan pergi ke kantor di jalan riau no 2. Ngantor untuk mengecek kasus yang masuk dan terus mengkondisikan chemistri di antara para relawan. Pukul 15.00  saya pulang sambil mencari buku Kymlica .

Sebenarnya malam ini saya masih menyiapkan content kuliah yang akan disampaikan esok. Silabus dan SAP sudah ada dari tahun lalu. Bisa saja saya pakai untuk mengajar semester ini, tapi itu artinya konsultasi saya dengan Prof. Bambang Sugiharto tentang silabus Filsafat Sosial sia-sia. Kemarin saya sudah memperlihatkan silabus yang saya buat kepadanya. Saat dia bertanya untuk mahasiswa jurusan apa? dan saya jawab untuk mahasiswa Sosiologi, maka dia bilang apa yang saya tuliskan cukup untuk mereka. Apalagi mahasiswa yang akan saya ajar baru semester 4. Untuk mahasiswa Aqidah Filsafat semester 6 silabus yang saya pakai harus direvisi kembali sesuai dengan hasil konsultasi. Ya saya masih punya waktu malam esok untuk menyiapkannya kembali.

Sepertinya saya tetap akan memakai silabus lama untuk mengajar besok. Namun pengantar kuliah besok saya akan memakai Paulo Freire untuk membuka wawasan mahasiswa bahwa saya bukan sumber kebenaran melainkan hanya fasilitator perkuliahan saja. Perkuliahan merupakan salah satu bentuk dari pendidikan seharusnya berorientasi pada pengenalan realitas dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Pengenalan itu tidak cukup hanya bersifat objektif atau subjektif, tapi kedua duanya. Kebutuhan objektif untuk merubah keadaan yang tidak manusiawi selalu membutuhkan kemampuan subjektif (kesadaran subjektif) untuk  mengenali  terlebih dahulu keadaan yang tidak manusia, yang terjadi senyatanya, yang objektif.

Objektivitas dan subjektifitas dalam pengertian ini menjadi dua hal yang saling bertentangan, bukan suatu dikhotomi dalam pengertian psikologis. Kesadaran subjektif dan kemampuan objektif adalah suatu fungsi dialektif yang konstan dalam diri manusia dalam hubungannya dengan kenyataan yang saling bertentangan yang harus dipahaminya. Memandang kedua fungsi ini tanpa dialektika semacam itu bisa menjebak kita kedalam kerancuan berfikir.

Freire yang saya pahami mengatakan pendidikan konvensional yang menjadikan pengajar sebagai pusat segalanya hanya akan menciptakan "nekrofili" dan bukan "biofili". Nekrofili adalah rasa kecintaan pada segala yang tidak memiliki jiwa kehidupan. Biofili sebaliknya adalah kecintaan kepada segala yang memiliki jiwa kehidupan yang manawiah (Erich Fromm). Implikasi dari Nekrofili adalah kelak mahasiswa hanya akan menjadi duplikasi pengajar dan akan menjadi penindas-penindas yang baru. Pendidikan hanya akan menjadi status-quo sepanjang masa bukan menjadi kekuatan penggugah (subversive force) ke arah perubahan dan pembaharuan.

Pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan bukan penjinakan sosial budaya. Pendidikan bertujuan menggarap realitas manusia dan karena itu secara metodologis bertumpu di atas prinsip-prinsip aksi dan refleksi total. Karena itu perkuliahan yang akan saya sampaikan satu semester ini akan mencoba mengajak para mahasiswa untuk menari. Mencoba bertindak untuk merubah kenyataan yang menindas dan pada sisi lainnya secara terus menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas.

Tidak hanya kuliah di kelas, saya akan mengajak mereka memperhatikan realitas yang selama ini mungkin luput dari perhatian. Saya akan mencoba mengajak mereka bersentuhan langsung dengan realitas manusia Indonesia yang mayoritas. Dimana manusia mayoritas inilah yang menderita dan tertindas. Perempuan marginal: mulai dari perempuan pemulung dan keluarganya, perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan keluarganya, perempuan korban trafiking dan keluarganya, perempuan penderita HIV/AIDS dan keluarganya. Perempuan buruh pabrik dan keluarganya yang banyak terdapat di Bandung Timur tempat kuliah kami. Perempuan pembantu rumah tangga dan lain lain sesuai dengan masukan dan pendapat para mahasiswa.

Kenapa perempuan? sebenarnya tidak harus perempuan. Tapi karena jenis kelamin ini yang saat ini secara kuantitas menjadi pihak yang diobjektifikasi maka saya memilih dan menyarankan untuk mencoba belajar dari mereka. Paling tidak subjek yang akan didampingi dan diperhatikan komposisinya 70 % perempuan 30% laki-laki.

Inti dari pembelajaran ini adalah penyadaran. Dengan aktif bertindak dan berfikir sebagai pelaku dengan terlibat langsung dalam permasalahan yang nyata semoga kesadaran yang menjauhkan seseorang dari rasa takut akan kemerdekaan menguap berganti keinginan untuk mengubah hal yang tidak sesuai dengan fitrah.

Langkah awal besok yang ingin saya sampaikan kepada mahasiswa adalah kesadaran seseorang pada realitas dirinya dan dunia sekitarnya merupakan proses yang "menjadi" Proses yang terus menerus, selalu mulai dan mulai lagi. Mulai dari kesadaraan naif sampai kepada kesadaran kritis sampai ahirnya pada kesadaran tertinggi dan terdalam yaitu kesadaran kesadaran. Paling tidak apa yang saya sampaikan sebenarnya untuk diri saya sendiri. Agar terus bisa naik tingkat semakin mendekati Wujud yang Hakiki


Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...