Minggu, 11 Maret 2012

Weekend Meraah!

Berbagai pilihan seperti biasa terhidang begitu saja ahir pekan ini. Mulai dari rapat kerja p2tp2a, paket kuliah Epistimologi, jalan-jalan dengan keluarga, kumpul bareng teman-teman RESIC atau istirahat di rumah mengingat saya baru saja pulang dari luar kota karena mengikuti sebuah kegiatan. Kalau menuruti hawa nafsu tentu pilihan terahir yang akan saya pilih untuk memulihkan tenaga yang sudah terkuras. Namun dari sekian banyak pilihan justru yang terahir inilah yang belum saya jalankan.

Jum'at siang saya tiba dari Jakarta. Sampai di rumah disambut anakku yang kecil dengan senyum riangnya. Dia begitu bahagia karena saya menepati janji membawa piala dan oleh-oleh lainnya. Dia bertanya bisakah dia nanti juga mendapat piala seperti yang saya dapatkan? saya menjawab tentu bisa. Dia bisa meraih apapun yang dicita-citakannya bila terus membaca dan menulis. Kami berdua membayangkan berkeliling dunia saat ia dewasa nanti. Sejak kecil saya memang menanamkan impian-impian yang belum bisa saya raih kepada kedua anak-anakku. Impian itu adalah belajar di berbagai wilayah dunia yang menjadi pusat pengetahuan.

Saya mulai mengkondisikannya karena saat itu teman-teman p2tp2a sudah menunggu untuk acara rapat kerja tahun 2012. Saya meminta izin kepadanya untuk mengikuti rapat dan menjelaskan betapa pentingnya hal tersebut untuk menolong perempuan dan anak di Jawa Barat. Kembali saya mengingatkan memorinya saat melihat anak jalanan dan orang-orang terlantar dan mereka harus kita perhatikan. Dia mencoba mengerti penjelaskan saya dan menanyakan rencana kami ahir pekan ini. Ahir pekan ini kami berencana jalan-jalan sambil membeli sepatu yang mereka inginkan. Saya memeluknya dan mengucapkan terimakasih atas pengertiannya yang sudah memberikan 3 hari dalam seminggu ini untuk masyarakat.

Pukul 13.30 saya memacu motor menuju kantor. Ternyata teman-teman sudah ada di lokasi raker dan saya harus menunggu tim kedua yang berangkat pukul 15.30 menuju Sari Ater Subang. Raker berjalan dengan lancar  semalaman. Saya betul-betul dikuasai lelah dan ngantuk yang sangat, sehingga tertidur di raker  dan menjadi bahan tertawaan yang lain. Program kerja divisi advokasi yang saya tangani sudah dibuat sebelum raker. Jadi raker lebih pada menentukan time line program kerja antar divisi agar tidak bentrok. Selain juga membicarakan kendala-kendala selama ini agar program tahun 2012 lebih baik lagi dari kemarin.

Pagi hari setelah berendam air panas dan sarapan di hotel, segera saya pamit untuk mengikuti kuliah Epistimologi ilmu sosial bersama Dr. Haryatmoko dosen Filsafat UI dan UGM yang diadakan di GSG Salman ITB. Untuk menuju lokasi kuliah, saya harus menunggu teman yang baik hati yang mau mengantar sambil ia pulang ke Bekasi. Karena kalau memakai kendaraan umum sangat sulit. Ahirnya saya terlambat satu jam.

Pukul 10.00-11.00 saya mengikuti perkuliahan sesi pertama. Kuliah disajikan dengan asyik. Dr. Haryatmoko seorang pembicara yang baik. Selain ia memang pakar dibidangnya, gaya bicaranya yang menyenangkan membuat tema-tema filsafat begitu mudah dipahami. Sesi kedua akan berlangsung pukul 13.00 - 15.00. Artinya saya punya waktu dua jam untuk shalat dan beristirahat. Setengah jam saya pakai untuk ngobrol dengan panitia juga  peserta kuliah yang lain dimana kebetulan dia adalah mahasiswa yang pernah saya ajar dua tahun lalu. Dia adalah mahasiswa yang cerdas dan memiliki konsen yang sama dengan saya yaitu tema-tema sosial dalam filsafat. Setengah jam lagi saya terjebak di angkot karena ada wisuda UNISBA untuk mengambil motor yang saya simpan di kantor. Setengah jam lagi saya pakai internetan. Sisanya makan, sholat dan perjalanan menuju ruang kuliah.

Sesi kedua ini kembali saya mengalami ekstase. Betul-betul mendalam apa yang disampaikan Dr. Haryatmoko ini. Refernsi yang jelas. Analogi yang pas yang memudahkan pemahaman, juga gayanya yang humoris membuat peserta tertawa-tawa dalam keseriusan. Dalam benak saya berfikir, mungkinkah kelak saya bisa memiliki kapabilitas sepertinya dalam mengajarkan filsafat? Tentu tidak ada yang tidak mungkin bila saya terus belajar lewat membaca buku dan membaca kehidupan serta terus berlatih menyampaikan. Rasanya paket kuliah yang diadakan 8 kali ini akan terasa menyenangkan.

Pulang kuliah saya segera memacu motor menuju rumah. Bandung utara menuju timur saya tempuh dalam waktu 1 jam. Pukul 16.00 saya disambut suami, dan kedua anakku yang sudah bersiap untuk jalan-jalan ke mall sesuai dengan rencana. Segera berganti pakaian dan berangkat bersama mereka. Kami bisa tertawa bersama bermain lempar bola dan beberapa game lainnya, mencari sepatu serta mengahiri jalan-jalan dengan makan malam bersama.

Sampai di rumah pukul 20.30 kami segera shalat berjamaah dan bersiap istirahat tidur. Pagi hari saya mulai mencuci pakaian dan beres-beres sambil menulis. Bersiap-siap kumpul dengan teman-teman RESIC sambil mengasuh anak-anak. Ah...tak terasa besok sudah kembali hari senin. Semoga apa yang saya lakukan bukan sebuah kesia-siaan. Sebuah harapan untuk bisa bermanfaat menjadi motivasi terbesar hidup ini agar bisa menemui-Nya dengan tersenyum. Terus melangkah dalam perjalanan menuju-Nya dan dalam dekapan-Nya. Bimibing Hannah selalu Rabb...


Jumat, 09 Maret 2012

Titik Awal

"Menjadi nominator dalam sebuah ajang penghargaan penulisan sudah membuat saya bahagia, apalagi bila mendapatkannya". Perkataan ini saya ucapkan saat ditelfon panitia Swara Sarasvati Award Koalisi Perempuan Indonesia 2012. Telfon ini membuat saya berbunga-bunga. Sebagai penulis amatir yang baru belajar hal ini merupakan hal yang istimewa.

Tulisan saya yang dimuat di Radar Banten pada tanggal 21 April 2011  yang berjudul "Episode Terahir Kartini"  ternyata sesuai dengan tema yang diangkat Swara Sarasvati Award kali ini. Anugerah Swara Sarasvati merupakan penghargaan Koalisi Perempuan Indonesia terhadap jurnalisme dan media yang telah berperan dalam upaya untuk mengurangi angka kematian Ibu melahirkan sepanjang tahun 2011  melalui tulisan dan pemberitaan di media cetak dan online.

Koalisi Perempuan Indonesia mengumpulkan naskah dalam rentang waktu Januari s/d November 2011 dan berhasil mengumpulkan sebanyak 2192 berita dari 94 sumber berita baik cetak maupun online dengan kata kunci kematian Ibu dan Anak.

Seleksi dilakukan oleh Dewan Juri yaitu Maria Hartiningsih dari Kompas, Eko Mariadi dari AJI, Dian Kartika Sari Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia, dan Ignatius Haryanto penulis dan pengamat media. Seleksi  pertama menghasilkan 143 berita atau artikel yang sesuai dengan tema. Seleksi tahap kedua   menghasilkan 8 naskah / artikel sebagai nominasi penerima penghargaan. Seleksi tahap tiga dilakukan untuk menentukan 3 (tiga) karya terbaik dari 8 (delapan)   nominasi.  Namun 1(satu) dari 8 nominasi menyatakan mengundurkan diri karena alasan keaslian tulisan.

Penerima Award juara pertama yaitu Fadmi Sustiwi dengan tulisan "Ketika Reproduksi tak sekedar Medis" dari Kedaulatan Rakyat, juara kedua tulisan saya dan yang ketiga  dr titik Leda dengan tulisan "Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak menuju MDGs Provinsi NTT Masih Raport Merah" dari Koran Timur Ekspress.

Pengumuman ini membuat saya semakin bersemangat untuk terus menulis. Menulis sebagai sebuah perjalanan spiritual. Sebagai sarana menemukan diri. Ini baru titik awal dan akan terus menjadi awal. Langkah awal untuk mewarnai media di Indonesia dengan suara perempuan. Menyuarakan perempuan marginal yang tertindas yang selama ini dibungkam. Menjadi penyeimbang bagi suara perempuan dan yang menyurakan perempuan mainstream yang hanya berbicara permukaan dan tak menyentuh realitas sosial yang ada. Banzai!!!!!

Selasa, 06 Maret 2012

Terjepit...


Pernahkah mengalami suatu kondisi dimana kita benar-benar terjepit? Saya kemarin mengalami kondisi demikian. Kondisi yang membuat saya gelisah, tegang dan tidak menikmati momen dan suasana yang ada. Dalam hati saya berjanji tidak akan mengulanginya dan masuk dalam situasi tersebut.
Kondisi ini berawal dari bersedianya saya menjadi pembahas yang mereview modul “Keluarga Sakinah Perpektif Kesetaraan” yang sudah disusun dan diujicobakan. Kenapa saya bersedia? Selain sebuah pembelajaran, saya juga tidak ingin melewatkan kesempatan baik yang diberikan. Tawaran ini sebuah amanah buat saya sekaligus tantangan.
Modul dan surat saya dapatkan 10 hari sebelum kegiatan. Dalam surat yang dikirim, saya sama sekali tidak mendapat kejelasan mereview dari perspektif apa. Tidak ada pula kisi-kisi apa yang harus saya bahas. Saya tidak peka dan tidak memikirkan dulu amanah ini. Hal ini dikarenakan saya sedang memperbaiki proposal disertasi yang sudah saya tinggalkan 11 bulan. Selain juga berusaha membuat dua proposal penelitian yang akan diajukan selain beraktifitas seperti biasa sebagai ibu, dosen dan staf advokasi yang tiap hari ngantor.
Saya baru betul-betul membaca H-2 dari kegiatan. Saya baca modul dan kumpulkan  referensi sebagai pembahas modul. Dalam kebingungan, saya bertanya pada teman di Jakarta yang juga akan mengikuti kegiatan tersebut. Dia hanya menjawab perspektif yang dikuasai saja. Kata dia menambahkan audiens kebanyakan dari Kemenag biasanya tidak terlalu dalam dan hanya seremonial saja. Power point yang saya buat memakai perspektif Islam dan tidak terlalu dalam. Saya berencana akan menjelaskan dengan pengalaman yang saya alami sendiri.
Saat tiba di lokasi, kegiatan dilaksanakan tepat waktu. Pembahasan Modul di malam pertama yang disajikan oleh pembuat modul terjadi sangat interaktif. Pembuat modul dalam hal ini merupakan guru saya selalu membuat saya terkesan dengan argumen-argumennya yang jelas disertai dalil yang kuat. Peserta Workshop dari Puslitbang Kemenag selain para peneliti, juga tokoh-tokoh kunci senior di bidang Keluarga yang berasal dari BP4, Bimas, Urais, dll. Selain tentu saja perwakilan dari Rahima yang juga sudah saya kenal baik kualitasnya serta cara pandang kritisnya.
Kegiatan berlangsung sampai pukul 21.30 malam. Saya langsung masuk ke kamar hotel dengan perasaan cemas. Apa yang akan saya sampaikan besok? Masukan terhadap modul yang sudah saya buat hampir semua sudah di bahas forum. Saya berfikir masih punya waktu untuk mempersiapkan ini. Malam itu juga saya telfon suami untuk berkonsultasi dengannya. Dia hanya berkata bahwa dia mempercayai saya dan berdo’a untuk persentasi yang akan saya lakukan. Saat saya meminta pendapatnya tentang apa yang harus saya bahas, dia hanya berkata sampaikan apa yang kamu punya dimana orang lain tidak. 
Saya terus berfikir apa yang saya punya dan orang lain tidak? Saya punya apa? Saya tak punya apa-apa. Semakin saya berfikir semakin kosong pikiran saya. Tiba-tiba saya teringat dengan disiplin ilmu yang saya tekuni sejak S1 yaitu filsafat. Lalu saya memutuskan untuk meng-sms dosen filsafat saya agar bisa memberikan semacam clue atau petunjuk kira-kira teori atau  apa yang mesti saya sampaikan. Ternyata komunikasi kami sulit terjadi. Pulsa telfon saya malam itu terbatas dan nomor kami beda operator. Kalau saya telfon paling cuma cukup 2 menit dan itu tidak membantu apa-apa. Saya ingin berbincang lewat YM atau fesbuk namun ternyata dia tidak connect internet. Dia menyarankan mengirim tulisan saya lewat email dan akan dia balas pagi nanti.
Saat yang bersamaan tiba-tiba salah satu dosen filsafat yang lain waktu S1 juga sedang online. Saya langsung menyapa dan kami berbincang hampir satu setengah jam. Dengan serius saya ceritakan kondisi yang sedang saya alami ini. Pembicaraan yang terjadi adalah debat kusir yang tidak jelas. Saya lelah untuk terus meluruskan pembicaraan agar selalu ada dalam track. Entah kenapa dosen saya saat ini sulit sekali diajak berbicara ilmiah. Pandangan saya tentang Keluarga Sakinah Perspektif Kesetaraan diresponi dengan nyinyir. Entahlah mungkin kondisi keluarganya yang berantakan membuat pikirannya tidak jelas. Setelah dua jam saya bertanya sana sini ahirnya sampai pada kesimpulan saya akan mengandalkan diri sendiri. Rencana untuk mengirim tulisan saya pada dosen pertama yang saya ajak ngobrol juga menguap sudah. Belum tentu juga dia meresponi dengan serius dan baik kesulitan saya. Kalau nyinyir dan tidak jelas seperti dosen kedua yang saya ajak bicara artinya buang-buang waktu. Namun saya berterimakasih kepada keduanya karena masih mau meresponi saya di waktu yang tidak tepat.
Saya lalu mencoba menghipnosis diri. Merilekskan tubuh saya seringan mungkin. Saya mencoba untuk tidak memakai gelombang beta yang selama ini membuat saya lelah. Saya pakai gelombang alpha membayangkan bahwa saya bisa menemukan sesuatu yang bisa berguna dalam membahas modul dan bisa bermanfaat. Membayangkan saya menyampaikan dengan baik. Membayangkan peserta bisa memahami yang saya sampaikan. Mencoba merasakan kebahagiaan bahwa apa yang saya jalani adalah proses belajar. Belajar tidak usah takut salah. Momen yang saya alami adalah sebuah titik yang harus saya lewati. Beruntunglah saya, Allah memberikan kesempatan ini.
Setelah menghipnosis diri kembali saya buka tulisan-tulisan lama yang sudah saya buat di laptop. Modul merupakan media yang penting dalam sebuah pelatihan. Media yang dijadikan fasilitator sebagai pegangan. Pelatihan merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam pendidikan. Sebenarnya paradigma  pendidikan seperti  apa yang dipakai oleh Modul ini? Karena tanpa sebuah paradigma pendidikan yang membebaskan sulit sekali modul ini bisa diaplikasikan. 
Ya tiba-tiba sebuah ide untuk membahas paradigma pendidikan yang membebaskan dan menyadarkan    muncul di kepala.  Agar sebuah modul, berbagai pelatihan, bahkan program yang dibuat tidak hanya sekedar formalitas belaka. Setelah pelatihan lalu apa yang akan dilakukan? Apakah hanya untuk sampai disini saja? Untuk apa sebenarnya program ini di buat? Karena permasalahan sosial kian hari kian menggunung, artinya bila tanpa sebuah paradigma yang jelas apa yang dilakukan akan sia-sia belaka.
Setelah ide ini muncul saya menuangkannya dalam power point yang mengubah total apa yang sudah saya buat. Saya revisi ulang tulisan saya yang bisa menjadi media audiens untuk memahami power point yang akan saya sampaikan. Saya tidak berfikir hanya mencoba menuangkan apa yang saya punya, pahami dan ingin saya bagikan.
Entah seperti apa gaya saya mempersentasikan saat itu, yang jelas saya sudah menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan. Saat meminta pendapat teman bagaimana penampilan saya? Dia hanya bilang, “santai saja penampilan kamu cukup baik”. Pada pembicaraan yang lain dia juga berkata bahwa seringkali dia tidak bisa mengikuti pola pikir saya yang kadang nyentrik di luar kebiasaan sehingga sulit di tebak katanya. Ah terserahlah satu pelajaran yang bisa saya petik dari kondisi terjepit ini yaitu jangan biarkan diri kita ada dalam kondisi terjepit. Kalau saya serius di bidang yang dijalani saat ini, maka membaca penelitian-penelitian terkini tentang perempuan di dunia muslim harus jadi kebutuhan. Beruntunglah saya bertemu dengan peneliti senior yang memberi banyak referensi berupa  link yang berisi buku pdf tentang penelitian-penelitian tentang perempuan di dunia muslim saat ini. Terimakasih Allah.














Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...