Tragedi Alis

0 Comments
Apakah esok saya punya mental yang cukup untuk bertanggungjawab karena kesalahan yang sudah diperbuat? Kesalahan itu sangat nampak dan sulit ditutupi. Kesalahan karena saya lupa dan tidak waspada akan sesuatu. Kesalahan yang awalnya muncul karena iseng.

Saat creambath di salon kemarin, petugas yang menangani saya sangat ramah. Sehingga saya merespon dengan keramahan serupa. Dia pintar membuat suasana menyenangkan. Biasanya saat creambath saya hanya terdiam dan dan terkantuk menikmati pijatan di kepala. Namun kali ini kami berbincang bincang dengan asyik. Mulai dari perawatan tubuh, keluarga dan banyak hal.

Disamping saya ada seorang remaja putri yang sedang dirapikan alisnya. Padahal alis remaja putri tersebut tipis dan pendek. Saya ahirnya terpancing bertanya tentang kondisi alis saya pada petugas salon. Dia menjawab bahwa alis saya perlu dirapihkan. Alis saya yang panjang dan tebal memang hampir tidak pernah dirapihkan. Hanya satu kali saya pernah dirapihkan yaitu saat resepsi pernikahan. Petugas salon itu menawarkan perawatan merapikan alis dan saya menyetujuinya. Saya berpesan agar dirapihkan sedikit saja.

Saat merapikan alis, kepala saya tidak menghadap ke kaca. Petugas membuat posisi kepala saya seperti orang yang sedang tertidur. Dia dengan teliti merapikan alis saya. Setelah selesai, saya sangat kaget dengan hasil karyanya. Kenapa alis saya menjadi  tipis? Saya komplain kepada petugas salon karena tidak sesuai dengan keinginan saya. Dia malah berkata, "tanggung bu...dua hari juga nanti tumbuh lagi dan ibu lebih cantik dengan alis baru ini". Gubraaak...saya jadi sedih melihat nasib alis saya.

Sesampainya di rumah anak-anak jadi heran melihat perubahan ibunya. Suami saya juga mesem mesem melihat tampang baru saya. Saat saya meminta pendapatnya dia malah tertawa terbahak bahak dan mengatakan bahwa saya seperti wayang. Kurang ajar banget tuh petugas salon dalam hati, tapi kenapa juga saya meminta alis dirapihkan. Kan dia melakukan sesuatu sesuai dengan permintaan klien meski kreatifitasnya yang lebay membuat saya jadi merasa aneh.

Saya mencari tahu hukum merapikan alis di internet. Busyet ternyata hukumnya haram. Memang dulu saya pernah membacanya tapi dah lama dan lupa. Saya cari informasi adakah ulama yang membolehkannya? Ternyata di internet hanya membahas pengharamannya saja. Ada yang membolehkan tapi itu juga tidak jelas ulama yang mana. Informasi ini membuat perasaan saya lebih tidak karuan. Berharap banget bulu-bulu halus itu segera tumbuh.

Besok saya akan mengajar dan menanggung jawabi gelar kasus di kantor. Sebagai Manager kasus tentu saya menjadi penanggung jawab acara ini. Acara ini dihadiri oleh bu Gubernur dan diliput media pula. Apakah saya punya mental menghadapinya? Saya minta nasihat kepada suami harus bersikap seperti apa besok. Ia menyarankan agar cuek saja dan jangan terpengaruh dengan kondisi alis saya. Sebenarnya saat memakai kerudung, alis tidak terlalu tampak kecuali melihat dengan dekat dan teliti. So...cuek aja katanya dan bila ada yang bertanya cukup bilang bahwa minggu depan akan kembali seperti sedia kala. Ya sudahlah pede aja lagi...


You may also like

Tidak ada komentar: