Sekedar celoteh

0 Comments
Waktunya hampir habis. Segeralah bergegas. Mengurusi hal tertunda yang belum juga tuntas. Menggeliat dengan malas. Melewati jalanan macet dan panas? Ah...tak bisakah Nobita meminjamkan pintu ajaib Doraemon?, tapi itu pikiran instan yang tidak jelas.

Setiap hal yang instan hanya melemahkan semangat perjuangan. Berjuang untuk apa dan dimana? Kenapa pula mesti berjuang? tak bisakah hidup saat ini dan disini dengan santai. Menghabiskan hari dengan hal yang menyenangkan.

Apakah berjuang bukan hal yang menyenangkan? Bukan! selama ini berjuang selalu identik dengan sesuatu yang berat, menderita dan susah payah. Tak ingatkah sebuah lagu nasyid yang berjudul Sekeping Hati? Disana dikatakan bahwa jalan kebenaran tak pernah sunyi ada ujian yang datang menyapa ada perangkap menuju mangsa. Atau juga sepenggal nasyid sedih yang mengatakan bahwa kasih sayangMu selalu berada dalam kemiskinan dan juga dalam penderitaan.

Lantas untuk apa berjuang kalau memang hanya merasakan penderitaan? Penderitaan yang dirasakan di dunia akan dibayar dengan syurga kelak. Orang yang merasakan kesejahteraan dalam hidup di dunia hanya akan merasakan kepedihan di akhirat. Sejatinya seorang muslim merupakan orang yang jauh dari dunia.

Benarkah? bukankah Abu Bakar merupakan pedagang sukses yang bisa berkontribusi banyak untuk perjuangan? Bukankah Utsman juga pedagang sukses yang juga berjasa dalam perjuangan? Bukankah muslim yang kuat lebih baik dari pada muslim yang lemah? bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah? Bukankah juga sabda Rasulmu mengatakan bahwa kekufuran mendekatkan diri pada kekafiran/ingkar?.

Pertengahan. Proporsional. Mungkinkah memberi jawaban?

Blue Diamond
Dalam upaya kembali mendekatiNya...Ihdinashiratal Mustaqim!



You may also like

Tidak ada komentar: