Sabtu, 26 Januari 2013

Strategi Membangun Kekayaan Tanpa Riba



Kali ini buku yang akan saya  resume berjudul 9 Pertanyaan Fundamental; Strategi Membangun Kekayaan Tanpa Riba. Buku ini lahir dari pengalaman seorang pengusaha yang pernah jatuh dalam lilitan utang sebesar 62 miliar rupiah dan kembali bangkit dalam kurun waktu tiga tahun. Heppy Trenggono demikian nama pengusaha yang menjadi penulis buku ini. Buku yang diterbitkan oleh Sygma Creative Media Corp di Bandung tahun 2012 ini memiliki 194 halaman. Membaca buku ini tidak membosankan karena bahasa yang dipakai sangat komunikatif disertai dengan banyak cerita nyata tentang para pengusaha Indonesia yang berjibaku dengan berbagai tantangan. Ada yang sukses dan kaya namun ada juga yang gagal dan miskin.

Oh ya sebelum resume buku ini saya sampaikan, saya ingin bercerita bagaimana buku ini sampai ada di tangan. Rabu malam tanggal 23 Januari lalu, saya mengikuti sebuah training Mindset bersama Krishnamurti. Ahir dari training ada 3 orang yang akan mendapatkan doorprize. Cara mendapatkan doorprize adalah dengan cara mengundi angket yang diisi. Saat memasukan angket saya memejamkan mata dan mencoba merasakan kebahagiaanya bila saya mendapatkan sebuah buku yang belum saya beli di training itu. 3 buku Krishnamurti beserta tandatangannya sudah ada di tas dan saya sempat melirik buku Heppy Trenggono, namun karena jatah beli buku untuk hari ini sudah habis saya hanya bisa memandanginya. Ternyata saat pengumuman doorprize nama saya disebut dan buku yang tadi saya lirik menjadi milik saya. Rasa bahagia yang tadi saya rasakan betul betul menjadi nyata…ah…ternyata memang benar bila kita bersyukur dengan memilih untuk bahagia, Allah akan menambah nikmat tersebut.

Dari keempat buku baru yang sekarang saya miliki, ‘9 Pertanyaan Fundamental; Strategi Membangun Kekayaan Tanpa Riba’ adalah buku yang saya prioritaskan untuk baca. Kenapa? Karena mentor bisnis saya yaitu Rendy Saputra merupakan murid dari Heppy Trenggono dan dia sering bilang betapa dia terinspirasi olehnya. Betul saja saat saya membaca buku ini, ternyata spirit Workshop Cara Benar Jadi Pengusaha dengan narasumber  Rendy Saputra berasal dari pengalaman seorang Heppy Trenggono yang bisa bangkit dari keterpurukan bahkan bisa bangkit dengan omset triliunan hanya dalam tiga tahun saja. Meski tentu saja kreatifitas Rendy Saputra sudah memadukan bahan Workshop dengan berbagai sumber yang tidak kalah dahsyatnya. Namun yang sangat jleb banget ke hati adalah sebuah prinsip strategi membangun kekayaan tanpa riba.

Sebelum menjawab 9 pertanyaan yang fundamental, buku ini terlebih dahulu bercerita bahwa ternyata kaya dan miskin itu sangat terkait dengan Mindset. Ada 3 hal mendasar masalah dunia usaha di Indonesia. Pertama Mindset Enterpreneurship  yang masih rendah. Bagi orang pintar, sukses itu adalah jika kita berhasil menjual sesuatu; orang bodoh berkata bahwa sukses adalah jika kita bisa membeli sesuatu. Sehingga tidak heran yang tumbuh berjamuran di negri kita ini adalah Mall bukan usaha kecil menengah yang berhasil memproduksi sesuatu yang bisa mensejahterakan bangsa ini.

Kedua, sekitar 70% pebisnis di Indonesia financially incompetent. Padahal menguasai keuangan adalah keterampilan pokok yang harus dimiliki oleh seorang pebisnis setelah menjual. Karena yang dimaksud dengan ‘kaya’ bukan semata penghasilannya yang besar, melainkan mampu mengelola uang yang ada menjadi besar. Ketiga, ialah tidak jelas nilai yang dibela. Ketidakjelasan ini berpengaruh pada sikap dan keberpihakan warga Negara terhadap sesuatu termasuk produk-produk local. Tidak adanya pembelaan terhadap produk Indonesia menyebabkan banyak pengusaha Indonesia yang mati. Seharusnya, warga Negara Indonesia didorong untuk membeli sesuatu bukan karena murah, bukan karena lebih baik, tetapi karena sesuatu itu buatan Indonesia.

 Pertanyaan fundamental pertama dari buku ini ialah, Seberapa besar kapasitas yang ada siapkan? Hal ini terkait erat dengan perubahan diri menuju pribadi yang lebih baik dan lebih taat lagi pada yang Menciptakan. Tidak hanya perubahan diri saja melainkan juga keluarga dan aktifitas social sehingga ketiga hal ini akan berdampak pada bisnis yang dijalankan. Ada tiga hal yang menentukan besar kecilnya kapasitas seseorang. Pertama, seberapa sadar kita tentang jati diri kita? Kesadaran tentang jati diri perlu kita pastikan karena kaya dan miskin itu bukan keadaan, tetapi mentalitas. Kaya dan miskin itu karakter. Kedua, Apa yang sungguh sungguh kita yakini? Keyakinan seperti apa yang kita miliki. Apakah kita meyakini bahwa kualitas hidup ini hanya urusan takdir atau ada hal lain yang bernama usaha. Ketiga, Apa nilai nilai yang kita bela? Keputusan seseorang mencerminkan nilai yang dibelanya.

Pertanyaan kedua, Mampukah ada mendahulukan diri sendiri? Mendahulukan diri sendiri berarti menyisihkan sebagian dari penghasilan untuk diri sendiri, sebelum dialokasikan untuk keperluan lain. Mendahulukan diri sendiri berarti menempatkan sedekah dan tabungan di urutan pertama dan kedua sebelum keperluan lain. Sedekah dikeluarkan minimal 10% dari penghasilan, demikian pula menabung dialokasikan 10% dari penghasilan.

Pertanyaan ketiga, Kepada siapa anda berkomitmen? Komitmen adalah janji kepada kita kepada diri sendiri dan melanggarnya berarti merenggut kehormatan diri kita sendiri. Komitmen ini lahir karena pengenalan diri kita terhadap Allah.  Diantara komitmen yang harus kita pegang adalah menghindari riba, apapun kondisi yang sedang dihadapi. Karena Allah sudah menetapkan dalam Qur’an surat al-Baqarah (2): 278-279) bahwa Ia minta manusia meninggalkan riba dan jika tidak meninggalkannya maka Allah dan Rasul akan memerangi. Serem banget kan? Banyak manusia menjadi terpuruk dan buruk akibat ulah riba ini. Tidak Islam saja yang menharamkan riba. Kita bisa memeriksa literature agama samawi yang lain seperti Kristen dan Yahudi, haramnya riba juga jelas termaktub dalam Injil dan Talmud.  Saat ini orang dengan mudah mengajukan kredit kepada bank atau memiliki banyak kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan hidup dan gaya hidup. Ahirnya penghasilannya hanya ia fokuskan untuk membayar cicilan. Padahal satu riba akan memancing 73 keburukan. Maka mari kita berhijrah! Riba tidak akan mengantarkan kita pada kekayaan dan keberkahan, apa lagi kaya.

Pertanyaan keempat, Kemanakah focus yang anda arahkan?  Kita mungkin pernah mengalami titik terendah dalam hidup. Kesulitan dan cobaan membelenggu langkah, sampai bernafas pun sulit rasanya. Dalam kondisi ini hanya FOKUS yang bisa membantu kita keluar. Fokus kepada janji janji Allah bahwa Dia akan menolong hambanya yang bertakwa. Meski mungkin kita belum pantas mengaku bahwa kita bertakwa, namun dalam kondisi seperti itu, siapa lagi yang kita miliki kalau bukan Allah? Dengan focus kepada harapan bahwa jalan keluar akan dikaruniakan Allah kita akan kuat dan menghadirkan semangat. Bagaimana caranya? Pertama: Focus kepada hal-hal yang bisa dilakukan, bukan kepada hal hal yang tidak bisa dilakukan. Kedua, Fokus untuk menang, bukan focus untuk kalah. Ketiga, focus pada tujuan, pada kekuatan kita dan pada janji-janji Tuhan.

Pertanyaan kelima, Seberapa murah biaya hidup anda? Mentalitas orang miskin adalah SPENDING. Dia selalu ingin membeli sesuatu, memiliki sesuatu atau melakukan sesuatu. Sayangnya tidak pernah menghitung apakah dia memiliki uangnya atau tidak. Sehingga orang seperti ini selalu tidak pernah bisa lepas dari utang. Selanjutnya mentalitas kelas menengah (middle Class) mereka berpenghasilan tinggi dan terlihat kaya. Bukan kaya beneran. Fokus mereka ada  life style bahkan gaya hidup adalah cara hidupnya, ideologinya. Padahal ongkos untuk terlihat kaya itu jauh lebih mahal dari pada menjadi kaya. Ahirnya tanpa sadar ia jatuh kedalam kondisi miskin betulan. Mentalitas terahir adalah mentalitas kaya. Mentalitas ini mengubah income menjadi asset. Dengan perhitungan yang cermat asset itu dikelola dan berkembang sehingga kembali menghasilkan income, dan terus demikian. Orang bermental kaya cenderung bersahaja.  Mereka menghargai uangnya dan tidak ingin menghamburkannya hanya demi kesenangan sesaat.

Pertanyaan keenam, Siapa yang jadi ahli keuangan anda? Financial competence mencakup tiga hal utama yaitu Business Skill, Money Managenent Skill dan Investing Skill. Jika ketiga hal ini kita kuasai maka menjadi kaya hanya persoalan waktu. Ada sebuah cerita tentang Warren Buffet pada ahir tulisan pertanyaan keenam ini yang begitu berkesan untuk saya. Dimana saat Buffet main golf dengan mitranya, mitranya mengajak Buffet untuk taruhan. Awalnya mitranya mengajak taruhan masing masing 100 dolar. Buffet menolak, mitranya menaikan menjadi 500 dolar untuk dirinya dan 100 untuk Buffet. Buffet kembali menolak, mitranya menaikan menjadi 1000 dolar dan Buffet cukup 100 dolar. Artinya kalau Buffet menang keuntungannya berlipat sepuluh, sedangkan kalau kalah Buffet hanya rugi 100 dolar. Jawaban Buffet sangat mencengangkan.

Stupid in small, stupid in big. I’m an investor and I’m not a gambler”. Biasa bertindak bodoh dalam hal remeh akan membuatmu bertindak bodoh dalam hal besar. Bayangkan orang terkaya di dunia masih mau memikirkan uang 100 dolar. Dia bisa menyumbangkan uang dalam jumlah besar melalui yayasan social miliknya, tapi tidak rela kehilangan sepeser pun untuk taruhan yang tidak bermakna. Faktanya bila seseorang tidak pernah mengurusi hal yang kecil, dia tidak akan pernah mampu mengurusi hal yang besar. Jika dia bodoh dalam hal kecil, dia akan ceroboh dalam hal besar. Jadi…siapa yang seharusnya menjadi ahli keuangan kita? Jawabannya, pasti kita sendiri.

Pertanyaan ketujuh, Seberapa cerdas anda menggunakan daya ungkit? Pertanyaan ini muncul dengan asumsi keenam pertanyaan diawal sudah dijawab dan dipahami sehingga kita sudah memiliki karakter kaya. Daya ungkit (leverage) memiliki makna utama menggunakan energy dari luar diri kita untuk membangun kekayaan. Energy itu bisa berupa modal orang lain, tenaga orang lain, keahlian orang lain dan lain sebagainya.

Pertanyaan kedelapan, Bagaimana cara anda menyikapi resiko? Mengambil risiko merupakan bagian integral dari bisnis atau pun kehidupan. Risiko adalah bagian dari hidup. Cara terbaik untuk mengambil risiko adalah dengan mengambil risiko itu sendiri. Artinya, untuk mengambil risiko di masa depan maka langkah yang terbaik adalah mengambil risiko itu saat ini. Dengan begitu setidaknya kita bisa memprediksi yang akan terjadi lima atau 10  tahun mendatang, berdasarkan kondisi yang sedang kita jalani sekarang. Ada beberapa langkah yan dijelaskan Heppy Trenggono untuk memperoleh low risk high return, yaitu: Pertama, Apakah ada risiko saya harus melanggar aturan agama? Kedua, Apa yang bisa saya lakukan untuk menekan resiko? Ketiga, Apakah saya punya rencana cadangan? Keempat, Bagaimana kemungkinan gagalnya?, Kelima, Sejauh apa saya sanggup menghadapi resiko?, Keenam, Apa pendapat mentor saya?, Ketujuh, Apa kata naluri saya. Setelah menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut dijamin berhasil? Tentu tidak jika ada jaminan berhasil bukan risiko namanya.

Pertanyaan terahir atau kesembilan, Di level manakah anda bermain? Level ini berupa level rizki. Level ke-1, rizki makhluk. Ini level rizki terbawah dimana Allah mencurahkan untuk semua makhluknya di seluruh alam. Level ke-2, rezeki orang yang berusaha. Orang yang berada pada level ini akan memperoleh rizki sesuai dengan yang diusahakannya. 99% manusia berada pada level ini. Mereka memperoleh rezeki dengan kerja keras dengan mencurahkan tenaga, pikiran dan waktu. Level ke-3, rezeki orang yang bersyukur. Orang yang berada di level ini memperoleh hasil jauh lebih tinggi dari yang dikerjakannya. 10 orang terkaya di dunia mereka adalah orang yang gemar bersedekah sebagai bukti syukur dan ternyata harta yang dimiliki kian subur, berkah dan melimpah. Level ke-4, rezeki orang yang bertakwa. Level rezeki ini diberikan kepada orang-orang yang dalam hidupnya tidak pernah ada rasa takut dan khawatir. Kedekatannya dengan Allah membuat banyak masalah yang seharusnya dihadapi jadi diambil alih. Rezeki orang yang ada di level ini berasal dari arah yang tidak disangka-sangka.

Resume yang saya lakukan ini merupakan sebuah usaha untuk mengikat makna dari hasil bacaan yang dilakukan. Kesembilan pertanyaan fundamental ini sangat penting kita renungkan untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dari mindset positif lahir action positif juga lahir result positif. Salam Muda Mulia!

Kamis, 24 Januari 2013

Ilmu Kecoa Terbalik


Pernahkan anda melihat kecoa terbalik? Ada yang pernah dan ada yang belum. Bagi yang belum, jangankan memperhatikan kecoa terbalik, melihatnya melintas saja sudah bikin geli. Maklum kecoa diidentikan dengan binatang yang jorok. Bagi yang sudah, penulis mencoba mengajak anda mengingat kembali apa kira-kira yang dilakukan kecoa saat tubuhnya terbalik akibat diburu manusia atau diburu mahluk yang lain?

Pada saat kecoa terbalik, ia akan terus menggerak gerakan tubuhnya. Meski waktu yang dihabiskan saat menggerak gerakan tubuhnya itu lama, sang kecoa tetap akan bergerak gerak. Ternyata hal ini dilakukan karena bila kecoa itu diam saat kondisi tubuhnya terbalik, maka hewan lain dalam hal ini semut semut akan mengelilinginya dan bisa dipastikan akan menjadi korban dari kumpulan hewan kecil tersebut. Selain untuk menghindari semut semut yang akan memangsanya, usaha kecoa yang terus menggerak gerakan diri juga bisa membangkitkan daya ungkit tubuhnya sehingga ia bisa ada dalam posisi semula.

Apa kaitannya kecoa terbalik dengan permasalahan manusia? Terutama manusia yang sedang ada dalam lembah kesulitan hidup? Manusia yang demikian sangat tidak berdaya sama dengan kondisi kecoa terbalik. Kecoa tidak diam. Karena diam berarti kematian. Manusia pun bila diam dalam lembah kesulitan dan tidak melakukan apa apa tentu hanya kegelapan dan kesempitan yang menyapa. Padahal siapa manusia yang ingin ada dalam kondisi demikian?

Manusia bisa mencontoh usaha kecoa yang terus bergerak gerak dengan gigih untuk bisa bangkit dan kembali meneruskan hidupnya. Kecoa saja bisa kenapa kita manusia tidak bisa? Bukankah potensi kita lebih sempurna dibandingkan kecoa?

Bergerak dan berusaha untuk menyelesaikan berbagai persoalan merupakan keharusan, karena bagaimanapun juga diam ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Terus bergerak bila dikaitkan dengan analogi sebuah kumparan akan menghasilkan energy dan magnet. Energi untuk bangkit dari lembah kesulitan dan magnet yang akan menarik hal hal yang membantu tercapainya sebuah tujuan.

Kondisi seseorang yang berada dalam sebuah lembah kesulitan hidup, bisa menjadi alasan yang kuat untuk terus bergerak. Bergerak akan mengurangi perasaan  tertekan akibat berbagai permasalahan. Tidak hanya itu  bergerak bisa menjadikan seseorang sampai ke permukaan atau bahkan bisa melejit menggapai langit. Karena sebuah tujuan yaitu kesuksesan akan semakin dekat diraih kalau dilangkahkan dengan terus bergerak.

Orang beriman akan diuji dengan kematian (duka cita/kesulitan) dan kehidupan (sukacita/kesuksesan) untuk melihat siapakan yang terbaik amalnya? Amal berupa perbuatan baik yang terjadi bila manusia terus bergerak.  Ini merupakan perkataan Allah dalam Qur’an surat al Mulk (62) ayat 2. Kalau begitu gerak merupakan sebuah keniscayaan.

Ada satu hal yang sangat penting yang mendasari semua hal yang dibicarakan tentang terus bergerak dari tulisan ini. Hal yang mendasari semua gerak yang dilakukan adalah sebuah NIAT POSITIF (Positive Intention). Niat positif ada dalam pola pikir positif. Niat positif inilah yang menjadi dasar dari semua gerak (action) yang dilakukan. Gerak (action) positif akan menghasilkan (result)  positif juga. Muncul pertanyaan, gerak seperti apa yang harus dilakukan? Nah untuk jawaban pertanyaan ini kita ikuti pertemuan The Runners yang ketiga, tunggu ya….

Blue Diamond 24 Januari 2013

Refleksi pertemuan ke-2 'The Runners' komunitas Muda Mulia yang disampaikan oleh Rendy Saputra. Menulis merupakan cara untuk mengikat ingatan. Tidak hanya terpatri dalam ingatan saja semoga ia menjadi gerak yang terus berkelanjutan. 

Senin, 21 Januari 2013

Tiga Alasan Seseorang Jatuh


Hujan rintik rintik tak kunjung berhenti. Angin kencang sesekali membuat pohon pohon menari. Sang mentari sangat enggan menampakan wajahnya. Suasana kelabu dominan menemani suasana musim hujan di awal tahun 2013. Kondisi cuaca seperti ini membuat jutaan virus bergembira karena tidak mendapat perlawanan yang berarti dari tubuh manusia. Dia bergerak bebas menggerogoti kekebalan tubuh sedikit demi sedikit. Di warung sayuran, di sekolah, di kantor dan di beberapa fasilitas umum yang lain mudah ditemukan orang-orang yang bersin dan flu akibat ulah virus tersebut.

Pada saat kondisi seperti ini, paling nyaman dan aman adalah berdiam diri di rumah. Menghangatkan badan dibalik selimut hangat. Menikmati segelas coklat panas lalu tidur. Lalu bagaimana dengan berbagai tugas? Bagaimana dengan berbagai tanggung jawab? Bagaimana dengan berbagai persoalan yang harus diselesaikan? Nah bagi yang tidak mau menjawab dan memikirkan pertanyaan ini tentu berdiam diri  adalah hal yang mereka pilih.

Berdiam diri dan bermalas malasan merupakan hak setiap orang, namun bila hal ini terus terusan dilakukan tentu akan semakin membuat seseorang semakin terpuruk semakin dalam. Karena meski saat seseorang diam, dia tetap memerlukan makanan, memerlukan pakaian, memerlukan tempat tinggal dan kebutuhan lain sebagai manusia. Ternyata diam bukan merupakan solusi, bahkan bisa menjadi penentu seseorang jatuh dalam berbagai kesulitan.

Ada tiga hal yang menjadikan seseorang bisa terjatuh dalam berbagai kesulitan hidup. Pertama ialah Self Dismanagement atau manajemen diri yang buruk. Manajemen diri yang buruk ini terkait berbagai aktifitas hidup yang dilakukan serta teman-teman yang dipilih dalam kehidupan sehari-hari. Manusia memang bebas menentukan aktifitas serta teman teman yang diinginkannya. Setiap aktivitas dan teman yang dipilih memiliki konsekuensi. Bila aktiftas dan teman-teman tersebut positif dan produktif tentu efeknya pun positif dan produktif, namun sebaliknya bila hanya diam dan bermalas malasan serta berteman dengan teman yang diam dan pemalas juga, bisa dipastikan seseorang tidak akan bisa menyelesaikan berbagai persoalan bahkan akan terpuruk semakin dalam.  

Kedua ialah Under Income (penghasilan yang rendah, sedangkan kebutuhan sangat tinggi). Peribahasa Indonesia mengatakan ‘besar pasak dari pada tiang’. Tuntutan gaya hidup instan membuat orang ingin selalu merasakan yang mudah dan enak tanpa harus berjuang. Terkadang orang lebih suka kelihatan kaya dibandingkan komit untuk menjadi kaya. Bagi orang yang ingin kelihatan kaya, meski penghasilan pas-pasan, yang utama adalah penampilan dan gaya hidup. Sehingga tidak segan segan berhutang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Berbagai macam fasilitas kredit dia ambil. Masalah bayar urusan belakangan. Gali lobang tutup lobang selalu menyertainya, dan tanpa sadar ia sudah menggali kuburannya sendiri.

Alasan seseorang jatuh ketiga adalah Unexpected Event (Hal yang tidak diharapkan datang). Hal hal buruk bisa menimpa siapa saja siapapun dia. Meski seseorang sudah sedemikian cara menghindari hal hal yang tidak diinginkannya, tetap saja ada hal nonteknis yang sangat menentukan. Hal nonteknis ini kadang yang tidak disadari oleh seseorang. Setiap orang pada dasarnya akan selalu menyimpan energy baik positif maupun negatif. Energy positif berupa perbuatan-perbuatan baik merupakan saving energy yang sewaktu waktu akan penuh dan menjadi nasib baik. Energy negative berupa perbuatan perbuatan buruk juga merupakan saving energy yang sewaktu waktu akan penuh dan bisa menjadi nasib buruk.

Kalau memang saving energy positif itu berlaku, kenapa orang baik masih juga mendapatkan nasib buruk? Dan banyak orang-orang yang perbuatannya buruk (saving energy negative) justru mendapatkan nasib baik dan kemudahan-kemudahan dalam hidup?. Jawaban dari pertanyaan ini memang sangat sulit bila hanya mengandalkan logika manusia. Manusia kadang melihat sesuatu hanya dari permukaanya saja. Padahal ada hal yang lebih substansial dari sekedar yang tampak. Bisa jadi saat Allah memberikan nasib buruk kepada seseorang yang baik sebenarnya itu merupakan bagian dari kasihNya. Ia ingin agar hambanya yang baik itu semakin dekat denganNya, terus menyadari keberadaanNya dalam setiap helaan nafas. Baik atau buruk kondisi tidak akan mempengaruhi seseorang dalam mencintaiNya. Ia terlalu Agung untuk dibandingkan dengan realitas material. Kenyataannya rahmatNya dan kasihNya selalu berlimpah dibandingkan penghambaan yang dilakukan seseorang. So…keep positive thinking and positive feeling!

Riau 2 berseri,  21 Januari 1013
(Terimakasih buat Rendy Saputra yang begitu inspiratif membagikan ilmu dan pengalamannya!)

Minggu, 13 Januari 2013

13-01-13

karena mendung tak jua pulang
kita hangatkan badan dengan secangkir teh hitam
sisa sisa perjalanan menemui sang Kaisar
sama sama sendirian

ku kira kini kita akan bahagia
ditemani tarian bidadari
berselendang rengekan
mungkin...

asalkan kau seperti kumau
melesat terbang menggapai langit
sedikit gila
tak mengapa


Blue Diamond 13 Januari 2013

Rabu, 09 Januari 2013

Madrasah Bisnis Muda Mulia


Tua itu pasti, dewasa itu pilihan! Kembali perkataan ini mengemuka setelah hampir sebulan ini memasuki sebuah komunitas entrepreneur muda. Komunitas Muda Mulia. Sebuah komunitas yang ingin menjadikan masa muda mereka menjadi sholih, berlimpah dan manfaat. Saya menyadari bahwa usia saya disini di atas rata rata, bahkan sosok leader komunitas ini yaitu Rendy Saputra lebih muda 7 tahun. Tapi pengalaman hidup dan kedalaman pemahamannya tak usah diragukan.

Tidak hanya saya yang berusia di atas rata-rata, ternyata dalam program Madrasah Bisnis Muda Mulia dengan programnya The Runners saya bertemu dengan beberapa sahabat yang seusia bahkan ada yang di atas. Kami berbincang tentang kenapa komunitas seperti ini baru ada saat kami sudah emak emak? Di awal kami kuliah tahun 97-98 yang ngtrend saat itu ya demonstrasi. Sehingga saya dan beberapa teman kerjaannya merancang aksi demonstrasi dan sesekali orasi dengan gemetaran sambil pegang teks hehehe.

Setelah sebulan ikut beberapa program mulai dari Training Muda Mulia, Workshop Cara Benar Jadi Pengusaha, dan The Runners (Pertemuan ke-1 dari 20 pertemuan), semakin terlihat bahwa meski secara biologis usia kami lebih tua, tapi dalam hal entrepreneur kami masih Andilau (Antara dilemma dan galau) hihihi…belum jelas apa sebetulnya berlian yang dimiliki dan bagaimana cara menjualnya.

Mungkin ada yang bertanya kenapa sudah emak-emak, sudah memiliki pekerjaan kok mau masuk ke dalam komunitas seperti ini? Apa cuma sekedar iseng aja? Tentu jawabannya TIDAK ISENG. Keluarga kecil saya saat ini sedang terkena masalah financial karena hasrat entrepreneur yang tidak ditunjang oleh ilmu yang benar. Ahir tahun 2012 ini beberapa investor yang kami yakinkan untuk investasi di sebuah perusahaan Logam Mulia minta uangnya dikembalikan. Padahal dana di perusahaan dikunci sampai ahir 2013. Karena kami yang meyakinkan mereka untuk investasi, maka kamilah yang terus diburu dan dikejar kejar untuk bertanggung jawab (kayak buronan aja yah…).

Rasa tanggung jawab ini membuat saya dan suami berfikir keras dan berusaha keluar dari zona nyaman. Kami berniat mengembalikan semua dana investor meski bukan kami yang menikmati. Kalau pun nanti perusahaan mengembalikan itu bonus saja tidak terlalu diharapkan. Yang jelas saat ini kami benar benar membutuhkan tangan Allah untuk bekerja agar bisa terbebas dari berbagai tekanan.

Sebuah masalah terjadi karena kapasitas diri tidak mampu menghadapi tekanan. Saat ini berbagai permasalahan menerpa keluarga kecil kami. Tentu yang harus ditambah adalah kapasitas diri agar bisa menghadapi tekanan apapun. Untuk meningkatkan kapasitas diri inilah sebuah komunitas produktif kami cari dan masuki. Agar bisa belajar dari berbagai pengalaman orang lain.

Madrasah Bisnis Muda Mulia merupakan komunitas yang tepat. Di sini banyak pengusaha pengusaha muda yang sudah mengambil jalan sesat seperti yang kami lakukan, sehingga ada dalam masalah yang lebih dahsyat dari yang kami hadapi. Di antara mereka tetap bisa tersenyum dan berdiri tegak karena merasa bahwa Allah selalu bersama mereka dan terus berusaha menyelesaikan berbagai persoalan dengan besar hati. Bahkan leader komunitas ini pun katanya dahulu pernah ada dalam kondisi seperti ini dan bisa bangkit meraih kesuksesan.

Ada satu konsep pemahaman integrasi yang dijelaskan oleh Rendy Saputra yang begitu berkesan bagi saya. Dimana seseorang akan sukses dalam bisnis bila sukses secara pribadi, keluarga dan aktifitas socialnya. Keempat himpunan itu beririsan dan berhubungan, mempengaruhi satu sama lain. Nah sebaliknya apabila bisnisnya berantakan, bisa dipastikan ada masalah dalam pribadi orang tersebut, keluarga atau aktifitas sosialnya.


Saya merenungkan hal ini dan mengaitkan dengan masalah  financial keluarga kecil kami. Masalah ini memang tidak saya ketahui sebelum banyak para investor langsung berbicara dengan saya (baik yang sopan maupun tidak). Karena selama ini saya tidak mengurusi urusan bisnis hanya konsen mengajar dan mengurus keluarga.  Tentu hal ini membuat saya shock karena tidak tahu apa-apa namun menanggung akibatnya. 

Perenungan saya tentang konsep integrasi ini sampai pada satu titik bahwa saya harus membantu suami agar keluarga kecil kami bisa kembali bahkan mungkin meraih kesuksesan dan keberkahan jauh lebih baik dari hari ini. Karena kalau ingin menyerah dan tak mau tahu dengan kondisi yang ada tentu sangat mudah. Sebagai ibu yang bekerja saya bisa mandiri secara financial. Hal ini bukan menjadikan saya tidak peduli, bahkan sebaliknya menjadi kekuatan untuk menopang dan mensupport terus agar sayap kami berdua bisa terbang melesat menuju kondisi yang diharapkan. 

Teringat perkataan Allah dalam Qur’an  bahwa ‘Hunna libasullakum wa antum libasu la hunna. Dimana suami merupakan pakaian untuk istri dan istri pakaian untuk suami. Keduanya saling menutupi dan melengkapi kelemahan masing-masing. Seperti fungsi pakaian yang menutupi aurat dan menjadikan manusia bermartabat dan indah. Semoga kami berdua bisa semakin memperbaiki relasi yang ada, saling support secara spiritual untuk lebih taat padaNya dan menjadikan musibah ini sebagai momentum untuk lebih baik lagi. 

Salon Perceka 9 Januari 2013 setelah treatmen massage, scrub dan masker  seluruh badan....tiba-tiba hasrat nulis kembali datang hehehe....




Sabtu, 05 Januari 2013

Dua Pertemuan

Semua gambar tlah terhapus
Jejakpun pupus
Satu harap tak terputus
Bisa terus menapaki garis lurus.

Pesona kuat erat mencengkram benak
Disetiap langkah selalu ada
Mata terpejam semakin nyata
Teduh...satu kata tentangnya

Dua pertemuan
Majlis ilmu berbicara Idea
Keberanian yang sempurna di atas segala beda
Serupa pelangi mendekati sang Maha.

Atas dasar apa terjadi?
Tak satupun logika menjelaskannya
Menelusup tiba tiba di tengah pengorbanan tanpa harap
Hanya Ia menjadi sandaran.

Mengalir sampai hilir
Jalani untaian takdir
Bila saat itu tiba
Keindahan wajahNyalah yang menyapa.

(Tol Cipularang 4 Januari 2013)

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...