Madrasah Bisnis Muda Mulia

0 Comments

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan! Kembali perkataan ini mengemuka setelah hampir sebulan ini memasuki sebuah komunitas entrepreneur muda. Komunitas Muda Mulia. Sebuah komunitas yang ingin menjadikan masa muda mereka menjadi sholih, berlimpah dan manfaat. Saya menyadari bahwa usia saya disini di atas rata rata, bahkan sosok leader komunitas ini yaitu Rendy Saputra lebih muda 7 tahun. Tapi pengalaman hidup dan kedalaman pemahamannya tak usah diragukan.

Tidak hanya saya yang berusia di atas rata-rata, ternyata dalam program Madrasah Bisnis Muda Mulia dengan programnya The Runners saya bertemu dengan beberapa sahabat yang seusia bahkan ada yang di atas. Kami berbincang tentang kenapa komunitas seperti ini baru ada saat kami sudah emak emak? Di awal kami kuliah tahun 97-98 yang ngtrend saat itu ya demonstrasi. Sehingga saya dan beberapa teman kerjaannya merancang aksi demonstrasi dan sesekali orasi dengan gemetaran sambil pegang teks hehehe.

Setelah sebulan ikut beberapa program mulai dari Training Muda Mulia, Workshop Cara Benar Jadi Pengusaha, dan The Runners (Pertemuan ke-1 dari 20 pertemuan), semakin terlihat bahwa meski secara biologis usia kami lebih tua, tapi dalam hal entrepreneur kami masih Andilau (Antara dilemma dan galau) hihihi…belum jelas apa sebetulnya berlian yang dimiliki dan bagaimana cara menjualnya.

Mungkin ada yang bertanya kenapa sudah emak-emak, sudah memiliki pekerjaan kok mau masuk ke dalam komunitas seperti ini? Apa cuma sekedar iseng aja? Tentu jawabannya TIDAK ISENG. Keluarga kecil saya saat ini sedang terkena masalah financial karena hasrat entrepreneur yang tidak ditunjang oleh ilmu yang benar. Ahir tahun 2012 ini beberapa investor yang kami yakinkan untuk investasi di sebuah perusahaan Logam Mulia minta uangnya dikembalikan. Padahal dana di perusahaan dikunci sampai ahir 2013. Karena kami yang meyakinkan mereka untuk investasi, maka kamilah yang terus diburu dan dikejar kejar untuk bertanggung jawab (kayak buronan aja yah…).

Rasa tanggung jawab ini membuat saya dan suami berfikir keras dan berusaha keluar dari zona nyaman. Kami berniat mengembalikan semua dana investor meski bukan kami yang menikmati. Kalau pun nanti perusahaan mengembalikan itu bonus saja tidak terlalu diharapkan. Yang jelas saat ini kami benar benar membutuhkan tangan Allah untuk bekerja agar bisa terbebas dari berbagai tekanan.

Sebuah masalah terjadi karena kapasitas diri tidak mampu menghadapi tekanan. Saat ini berbagai permasalahan menerpa keluarga kecil kami. Tentu yang harus ditambah adalah kapasitas diri agar bisa menghadapi tekanan apapun. Untuk meningkatkan kapasitas diri inilah sebuah komunitas produktif kami cari dan masuki. Agar bisa belajar dari berbagai pengalaman orang lain.

Madrasah Bisnis Muda Mulia merupakan komunitas yang tepat. Di sini banyak pengusaha pengusaha muda yang sudah mengambil jalan sesat seperti yang kami lakukan, sehingga ada dalam masalah yang lebih dahsyat dari yang kami hadapi. Di antara mereka tetap bisa tersenyum dan berdiri tegak karena merasa bahwa Allah selalu bersama mereka dan terus berusaha menyelesaikan berbagai persoalan dengan besar hati. Bahkan leader komunitas ini pun katanya dahulu pernah ada dalam kondisi seperti ini dan bisa bangkit meraih kesuksesan.

Ada satu konsep pemahaman integrasi yang dijelaskan oleh Rendy Saputra yang begitu berkesan bagi saya. Dimana seseorang akan sukses dalam bisnis bila sukses secara pribadi, keluarga dan aktifitas socialnya. Keempat himpunan itu beririsan dan berhubungan, mempengaruhi satu sama lain. Nah sebaliknya apabila bisnisnya berantakan, bisa dipastikan ada masalah dalam pribadi orang tersebut, keluarga atau aktifitas sosialnya.


Saya merenungkan hal ini dan mengaitkan dengan masalah  financial keluarga kecil kami. Masalah ini memang tidak saya ketahui sebelum banyak para investor langsung berbicara dengan saya (baik yang sopan maupun tidak). Karena selama ini saya tidak mengurusi urusan bisnis hanya konsen mengajar dan mengurus keluarga.  Tentu hal ini membuat saya shock karena tidak tahu apa-apa namun menanggung akibatnya. 

Perenungan saya tentang konsep integrasi ini sampai pada satu titik bahwa saya harus membantu suami agar keluarga kecil kami bisa kembali bahkan mungkin meraih kesuksesan dan keberkahan jauh lebih baik dari hari ini. Karena kalau ingin menyerah dan tak mau tahu dengan kondisi yang ada tentu sangat mudah. Sebagai ibu yang bekerja saya bisa mandiri secara financial. Hal ini bukan menjadikan saya tidak peduli, bahkan sebaliknya menjadi kekuatan untuk menopang dan mensupport terus agar sayap kami berdua bisa terbang melesat menuju kondisi yang diharapkan. 

Teringat perkataan Allah dalam Qur’an  bahwa ‘Hunna libasullakum wa antum libasu la hunna. Dimana suami merupakan pakaian untuk istri dan istri pakaian untuk suami. Keduanya saling menutupi dan melengkapi kelemahan masing-masing. Seperti fungsi pakaian yang menutupi aurat dan menjadikan manusia bermartabat dan indah. Semoga kami berdua bisa semakin memperbaiki relasi yang ada, saling support secara spiritual untuk lebih taat padaNya dan menjadikan musibah ini sebagai momentum untuk lebih baik lagi. 

Salon Perceka 9 Januari 2013 setelah treatmen massage, scrub dan masker  seluruh badan....tiba-tiba hasrat nulis kembali datang hehehe....






You may also like

Tidak ada komentar: