Selasa, 26 Februari 2013

Enam Formula Kebangkitan



Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu

Masih ingat lagu band Rumors yang berjudul Butiran Debu di atas? Hampir semua anak muda Indonesia tau dan hafal lagu ini. Lagu ini sempat merajai di setiap acara musik baik di televisi maupun radio sampai ahir 2012 lalu. Hal ini terbukti pada saat training Muda Mulia angkatan ke-4 tanggal 2 Desember 2012 lalu, saat MC meminta peserta untuk mengangkat telepon genggam yang berisi lagu ini, hampir ¾ peserta yang hadir melakukannya. Bahkan tidak hanya remaja yang menggemari lagu ini, dewasa dan anak-anak pun menyukainya.

Coba perhatikan lirik lagu ini, tak usah keseluruhan cukup reff nya saja seperti yang tertulis di atas. Kira-kira manusia seperti apa yang terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi? Manusia seperti apa pula yang bisa tenggelam dalam luka dalam? Manusia bagaimana yang tak tau arah jalan pulang? Manusia bagaimana yang tanpa kehadiran orang lain merasa seperti butiran debu? Alay banget kan? Mungkin semakin alay semakin laku saat ini. Tapi tanpa sadar sugesti negatif masuk ke alam bawah sadar dan membuat seseorang semakin lemah dan galau bila menyanyikan lagu ini (pengalaman hehehe).

Setiap manusia di muka bumi pasti berhadapan dengan berbagai permasalahan dalam hidup. Satu permasalahan selesai, muncul permasalahan yang lain. Berjalin berkelindan, hilir mudik, timbul tenggelam, datang pergi terus menerus selama ia masih menghembuskan nafas di muka bumi ini. Ini sudah menjadi sunnatullah menemani perjalanan setiap manusia. Agar lagu 'Butiran Debu' di atas tidak menjadi sugesti negatif yang pada ahirnya memperburuk keadaan, bagaimana sebetulnya kunci agar kita bisa kembali bangkit dalam menghadapi berbagai persoalan?

Kita bisa belajar dari seorang pemuda yang sedang ada dalam kesulitan. Pemuda  ini bertemu dengan Rasulullah SAW lantas bercerita bahwa ia sedang ada dalam lilitan hutang dan minta nasihat serta do’a. Rasulullah SAW mendoakan dalam sebuah hadis shohih yang tertulis dalan Kitab Shohih Bukhari no 6369. Hadis ini diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a yaitu:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran, belitan hutang dan penindasan orang.” (HR. Bukhari)

Ternyata Rasulullah tidak langsung mendo’akan apa yang diminta oleh pemuda tersebut. Sebelumnya ada 6 hal yang ia do’akan yaitu berlindung dari 1) kegalauan, 2) kesedihan, 3)kelemahan, 4) kemalasan, 5)kepengecutan, 6) kekikiran.  Kenapa tidak to the point? Kenapa pula 6 hal ini yang dipanjatkan? Ternyata ia sangat paham kondisi psikologis orang yang ada dalam lilitan masalah apapun itu termasuk masalah hutang. Pada saat seseorang terkena masalah awalnya akan galau, bila ia diam saja maka galau tersebut akan meningkat menjadi sedih. Saat seseorang sedih, ia akan menjadi lemah dan tak berdaya melakukan usaha apapun. Saat seseorang lemah, maka ia semakin malas berusaha karena merasa usahanya sia sia. Setelah lemah ia akan menjadi pengecut tidak berani menghadapi permasalahan, bahkan kalau bisa menghindar dan lari sejauh mungkin. Dalam kondisi seperti ini dia akan menjadi orang yang kikir. Kikir memberikan bantuan pada orang lain, apakah berupa hal material, tenaga, pikiran berupa nasihat dan lain-lain. Hal ini terjadi karena ia merasa bahwa dirinyalah yang penuh dengan masalah dan seharusnya ditolong.

Sehingga formula do’a Rasulullah ini bila dituliskan seperti ini:
1.       Berlindung dari kegalauan/gelisah (الهَمِّ) berarti seseorang harus berusaha melawannya dengan Ketenangan (As-Sakinah). Dimana sakinah bisa didapatkan bila kita dari awal menerima dan membenarkan bahwa permasalahan tersebut menimpa kita. Selanjutnya mulai menuliskan agar kita bisa realistis berapa jumlah yang harus kita pertanggungjawabkan. Selanjutnya kita belah menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah menyelesaikannya.
2.       Berlindung dari Kesedihan (الحَزَنِ) berarti seseorang harus melawannya dengan Kebahagiaan. Bahagia ternyata bisa kita pilih dan ciptakan. Meski berbagai permasalahan menghadang, kita bisa memutuskan diri untuk tetap tersenyum, menikmati, menghayati dan merasakan kebahagiaannya kapanpun kita mau. Ternyata efek dari senyum dan memprogram diri untuk bahagia merupakan ekspresi dari rasa syukur. Bukankah Allah berfirman dalam qur’an bahwa ia akan menambah nikmat hamba yang bersyukur? So...tarik bibir anda ke kanan dan kiri apapun yang terjadi. Dijamin anda terlihat lucu dan bisa bikin ketawa...saat itu oksitoksin dan endorfin bisa keluar dan bikin kita sehat dan awet muda. Saat kondisi seperti ini biasanya solusi dari berbagai permasalahan mulai terlihat.
3.       Berlindung dari kelemahan (العَجْزِ) berarti seseorang harus melawannya dengan Kekuatan. Setelah seseorang bisa memiliki ketenangan dan kebahagiaan, biasanya ia mulai merasakan bahwa ada kekuatan yang menggerakan dirinya. Kekuatan yang menggerakan seluruh alam semesta. Hal ini harus diusahakan dengan terus meningkatkan kapasitas diri.  Meningkatkan kapasitas diri dengan membaca buku, mengikuti pelatihan dan pendidikan, belajar pada pengalaman orang lain dan hal positif lainnya yang membuat kapasitas seseorang meningkat dan ahirnya memiliki kekuatan untuk bangkit.
4.       Berlindung dari kemalasan (الكَسَل) berarti seseorang harus melawannya dengan menjadi orang yang Rajin/bersungguh sungguh. Meski seseorang sudah memiliki ketenangan, merasakan kebahagiaan dan memiliki kekuatan karena kapasitasnya meningkat, tetap saja tidak ada artinya bila malas. Kemalasan terjadi karena sesorang tidak memiliki alasan yang kuat serta tujuan/target yang jelas. Dream it (mimpikan) bisa dijadikan sebagai pijakan pertama, selanjutnya Desain it (rencanakan) kemudian dilanjutkan dengan Do it (lakukan) sekarang juga.
5.       Berlindung dari kepengecutan ( الجُبْن) berarti seseorang harus melawannya dengan menjadi Berani. Keberanian menghadapi apapun yang terjadi. Berani bertanggung jawab. Berani dengan resiko apapun karena apa yang dilakukan merupakan sebuah upaya untuk bisa keluar dari permasalahan. Apapun hasilnya Ia melihat proses yang dilakukan seorang manusia. Tak ada satupun yang sia sia di mataNya. Keberanian ini muncul karena seseorang sudah memiliki ketenangan, merasakan kebahagiaan, memiliki kekuatan dan bersungguh sungguh dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya.
6.       Berlindung dari kekikiran (البُخْل) berarti seseorang harus melawannya dengan menjadi Pemurah. Menjadi pemurah tidak melulu harus dengan memberikan harta kita. Tenaga dan nasihat yang baik juga bisa kita berikan pada orang lain. Pada saat kita membantu orang lain pada dasarnya kita sedang membantu diri sendiri. 10 orang kaya di dunia saat ini adalah orang-orang yang pemurah. Mereka tidak segan segan mengeluarkan hartanya, tenaganya dan pikirannya untuk membantu orang lain. Ternyata Kekayaannya, kekuatannya dan ilmu mereka tidak pernah berkurang, malah semakin bertambah dan berkah.

Setelah mendoakan dengan 6 formula kebangkitan di atas, barulah Rasulullah berdoa agar pemuda tersebut bisa keluar dari lilitan hutang dan penindasan orang lain.  Sangat rasional dan tahapannya formula ini bisa diterapkan bila kita ada dalam kondisi seperti pemuda tersebut. Semoga kita bisa menjadi pemuda yang bisa mengguncangkan dunia karena prestasi, karya  dan harta yang bermanfaat bagi sesama. Terhindar dari kondisi alay seperti lagu di atas. Salam Muda Mulia!

Blue Diamond 25 Februari 2013
Refleksi The Runners pertemuan ke-3 by Rendy Saputra. Sebenarnya ini materi pengajian The Runners karena materi sesungguhnya adalah Preview Financial Literacy yang jlimeet met met met tapi asyiiik. Ditulis di detik terahir karena hari besok sudah akan masuk pertemuan ke-4. Penulis bertekad akan merefleksikan seluruh pertemuan (20), semoga bisa istiqamah dan bisa berefek positif khususnya pada diri dan keluarga penulis.Aaamiiin


Jumat, 22 Februari 2013

Seksualitas Perempuan itu Aktif?


Jum’at pagi sambil ngopi asyiknya kembali ngomongin tema yang sexy. Tema ini diperbincangkan mulai dari warung kopi, sampai rumor tingkat politisi. Meski masuk kewilayah pribadi dan dibicarakan sembunyi sembunyi tetap saja menarik hati. Ya...apalagi kalau bukan tema tentang seksualitas manusia. Tema ini selalu diproduksi oleh masyarakat dalam bentuk wacana. Kali ini penulis bermaksud sedikit mengupas seksualitas dalam Islam. Hal ini dilakukan terkait tugas sekolah yang sedang dijalankan, juga sebagai sebuah usaha memahami hasil bacaan agar bisa melihat benang merahnya, semoga juga bisa sedikit berbagi.

Oke deh...kita mulai ya, di dunia Muslim, isu seksualitas diperbincangkan secara ambigu. Ia sering dibicarakan dengan penuh apresiasi, tetapi dalam waktu yang sama juga sangat tertutup dan konservatif. Keadaan ini muncul sebagai konsekuensi dari dua pola keberagamaan Islam, yaitu pola keberagamaan Islam Ideal dan Islam sejarah. Islam sejarah sering dipengaruhi oleh ideologi-ideologi yang bias gender. Sementara Islam ideal menghendaki kesetaraan, keadilan dan kemaslahatan.

Islam mengapresiasi seksualitas sebagai fitrah manusia. Baik laki-laki maupun perempuan keduanya harus mengelola secara sehat dan sebaik baiknya. Dalam bahasa agama, seks merupakan anugerah Tuhan. Islam tidak mengajarkan selibat dan asketisisme. Hasrat seksual harus dipenuhi sepanjang manusia membutuhkannya. Meskipun demikian, Islam hanya mengabsahkan hubungan seks melalui ritual pernikahan. Islam tidak membenarkan promiskuitas (free sex).

Al-Qur’an sebetulnya tidak secara spesifik menjelaskan perihal seksualitas. Tetapi al-Qur’an tidak menghindar dari pembicaraan ini. Dalam beberapa ayatnya, al-Qur’an secara gamblang membicarakan dan menjelaskan jenis kelamin sebagai kenyataan (sunnatullah) seksual, tetapi pembicaraannya lebih cenderung kepada relasi seksual suami-istri ketimbang seks sebagai hak individu. Karenanya, pembicaraan nikah sebagai pelembagaan relasi social-seksual memperoleh penjelasan yang cukup lengkap dibanding dengan seksual sebagai hak setiap orang.

Pembicaraan seksualitas dalam Islam juga tidak bisa lepas dari sunnah Nabi SAW. Pengalaman praktis Nabi dengan persoalan seksualitas terjadi saat Nabi SAW melangsungkan pernikahan dengan Khadijah. Pernikahan ini menunjukan sebuah fenomena keaktifan seksual perempuan, sesuatu yang selama ini disalahpahami oleh kalangan Islam. Khadijahlah yang melamar Nabi SAW. Bahkan sejarah Islam mencatat bahwa Nabi SAW tidak hanya menerima pinangan dari Khadijah melainkan dari perempuan perempuan yang lain (Syafiq Hasyim, 2001:207). Fenomena yang begitu jelas dan  nyata ini sering tidak bisa dipahami oleh umat Islam, sehingga masih menempatkan seksualitas perempuan pada posisi yang pasif.

Seksualitas perempuan yang aktif dijelaskan Ghazali pada penekanan diferensiasi seksualita laki-laki dan perempuan tentang ekspresi seksualitas phallic perempuan yang tidak tertandingi yaitu ejakulasi perempuan. Pandangan ini mereduksi perbedaan perbedaan antara kedua jenis kelamin tersebut kepada suatu perbedaan pola ejakulasi yang sederhana, dimana perempuan lebih lambat dari laki-laki.

Perbedaan pola ejakulasi antara kedua jenis kelamin merupakan sumber kemarahan (bagi perempuan) kapan saja laki-laki mencapai ejakulasinya sebelum perempuan-ejakulasi perempuan jauh lebih lambat. Selama proses tersebut dorongan seksual perempuan berkembang semakin kuat, sehingga meninggalkan dorongan sebelum dia mencapai kenikmatan (puncaknya) akan membahayakan dirinya. (Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin hal 50)

Disinilah menurut Mernissi seorang feminis muslim Maroko Islam sangat jauh berbeda dalam menjelaskan nuansa  tempat tidur dengan Freud yang menjelaskan bahwa hubungan seks menyerupai tempat pertempuran dari pada tempat mencari kenikmatan. Bagi Ghazali, dalam hubungan seksual, tidak ada agresor atau pun korban, tetapi keduanya merupakan satu pasangan yang bekerja sama untuk saling memberikan kenikmatan.

Freud menjelaskan bahwa anak perempuan akan menjadi seorang perempuan manakala clitorisnya bertindak seperti lempengan kayu cemara yang digunakan untuk menyulut kayu yang keras (Sigmund Freud, Sexuality and The Psychology of Love, 1963:190). Ia menambahkan bahwa proses ini berlangsung beberapa waktu. Selama proses ini seorang istri muda tetap bersifat anestetik. Anesthetia ini mungkin menjadi permanen jika clitoris menolak kemampuannya untuk mendapat rangsangan. Oleh sebab itu Freudian (perempuan dalam konsep Freud) dihadapkan dengan lawan jenisnya  cenderung ke arah frigiditas (tidak bergairah, pasif).

Berbeda dengan perempuan Freudian yang dingin dan pasif, tuntutan seksualitas perempuan Ghazalian benar benar tampak sangat besar. Keharusan laki-laki untuk memuaskan mereka menjadi kewajiban sosial yang mendesak. Kepuasan perempuan merupakan kewajiban laki-laki. Tatanan sosial akan mantap jika perempuan membatasi dirinya terhadap suaminya dan tidak menciptakan kekacauan (fitnah) dengan menggoda laki-laki lain untuk berhubungan seks.

Bila Freud mengaggap bahwa tindakan coital (masuknya penis ke dalam vagina), terutama penyatuan organ organ genital merupakan hal yang terpenting dalam hubungan seks (Sigmund Freud, Three Contribution, hal 14) dan menganggap tidak perlu adanya pemanasan, sebaliknya, Ghazali mengajurkan adanya pemanasan (fore play), terutama untuk kepentingan perempuan. Sebagai sebuah kewajiban mu’min (suami). Karena kenikmatan perempuan memerlukan suatu pelekatan pada tahapan tahapan perantara. Maka seorang mu’min (suami) harus menundukan kenikmatannya sendiri yang secara mendasar hanya bisa diterpenuhi melalui penyatuan genital (bersenggama).

Nabi bersabda :Janganlah seseorang diantara kamu menggauli istrinya seperti binatang buas (yang menerkam mangsanya). Sebagai permulaan bagi persetubuhan, seharusnya ada suatu ’utusan; antara kamu dan dia. Para sahabat bertanya: ’utusan macam apakah ya Rasulullah. Nabi SAW menjawab; ’ciuman-ciuman dan kata kata manis. Hadis dalam (Ghazali, Ihya Ulumuddin hal 50)

Teori Muslim memandang instink dasar sebagai energi yang yang harus digunakan secara konstruktif bagi kehendak Allah dan ummat-Nya jika masyarakat hidup sesuai dengan hukum hukumNya. Seksualitas bukanlah suatu bahaya. Sebaliknya ia memiliki tiga fungsi yang amat penting. Pertama ia memungkinkan manusia untuk melestarikan diri mereka dimuka bumi sebagai syarat mutlak jika tatanan sosial ingin tetap ada dan berlangsung.  Kedua ia merupakan suatu ’rasa pembuka’ dari kenikmatan kenikmatan yang disediakan manusia di syurga dan demikian menjadi motivasi setiap manusia untuk mentaati aturanNya di muka bumi. Ketiga kepuasan seksual sangat penting bagi upaya intelektual. Wallahu’alam.

Blue Diamond 22 Februari 2013. Efek malam jum'at lagi hehehehe

Senin, 18 Februari 2013

Perempuan Over Stock Saat Ini!



“Perempuan itu over stock saat ini, jadi wajar kalau banyak laki-laki ingin menyelamatkan mereka dengan poligami”. Perkataan ini keluar dari mulut teman penulis. Haduh! Lagi lagi ngomongin poligami. Sebuah topic perbincangan yang sangat sensitive. Perbincangan yang tidak disukai perempuan, namun sebaliknya disukai lelaki. Tulisan ini kembali tidak akan menyoroti tentang poligami, namun ingin mencoba memeriksa benarkah perempuan over stock di Indonesia?

Over stock perempuan ini dihembuskan beragam. Mulai dari 4 perempuan berbanding 1 laki-laki, 7 perempuan berbanding 1 laki-laki, 10 perempuan perempuan berbanding 1 laki-laki. Hembusan ini tidak mengenal tingkatan pendidikan. Mulai yang tidak sekolah sampai yang sekolah tinggi. Pokoknya jumlah perempuan di Indonesia ini lebih banyak sehingga mereka banyak yang nganggur dan tidak memiliki pasangan.

Seharusnya pada saat kita mengatakan sesuatu itu over stock atau tidak, tentu yang harus dilihat dan diperiksa jumlah stocknya itu sendiri. Untuk melihat jumlah stock manusia Indonesia tentu BPS (Badan Pusat Statistik) Indonesia adalah lembaga yang representative. Bagaimana sebetulnya hasil sensus terahir jumlah perempuan dibanding laki-laki di Indonesia? Hal ini dilakukan agar pada saat kita mengeluarkan statmen yang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan tertentu, alasan ini bisa dibuktikan kebenaranya. Bukan sebuah alasan yang tidak berdasar.
Sensus penduduk terahir di Indonesia hasilnya dipublikasikan BPS pada Agustus 2010 yang berjumlah total 237,641,326 jiwa. Perbandingan jumlah penduduk laki laki ialah: penduduk laki-laki Indonesia sebanyak 119,630,913 jiwa dan perempuan sebanyak 118,010,413 jiwa. Seks Rasio adalah 101, berarti terdapat 101 laki-laki untuk setiap 100 perempuan. (http://sp2010.bps.go.id/)
Nah ternyata kalau kita melihat data ini, ternyata omongan teman saya di atas sangat tidak berdasar. Bahkan data memperlihatkan bahwa saat ini jumlah laki-laki di Indonesia lebih banyak dari jumlah perempuan. Omongan teman saya ini herannya justru banyak diamini oleh perempuan juga. Mereka menjadi resah saat melihat temannya sudah memiliki pasangan sedangkan mereka belum. Lalu menganggap hal ini diakibatkan karena perempuan itu over stock dan laki-laki semakin sedikit.
Sebenarnya tidak hanya Indonesia yang memiliki jumlah penduduk perempuan lebih sedikit dari laki-laki. Beberapa negara yang lain juga seperti di China, Asia dan Afrika jumlah angka rasio perempuannya hanya 98 sementara laki-laki 100.(Jurnal Perempuan Edisi 71 November 2011,hlm 88). Hal ini terjadi karena ternyata angka harapan hidup perempuan di negar-negara tersebut rendah dan banyak perempuan yang mati secara dini akibat terabaikannya kesehatan dan nutrisi yang juga korban bias gender sebelum janin bayi perempuan lahir.
Akar hilangnya perempuan di negara berkembang menurut Amartya Sen dalam The Frontline, “Many Faces of Gender Inequality” pada tanggal 27 Oktober 2011 karena masih kuatnya system patriarki (system yang mengutamakan laki-laki) yang mengakar pada tradisi social dan agama. Dalam tulisan ini Sen menjelaskan tingginya angka penyakit dan kematian perempuan  disebabkan pada kegagalan pemberian pertolongan medis, suplai untuk kesehatan, reproduksi, pelayanan makanan dan social.
Tesis yang dikeluarkan Sen sebenarnya agak mirip dengan realitas empirik di Indonesia dimana AKI (Angka Kematian Ibu) di Indonesia masih tinggi. AKI di Indonesia saat ini tertinggi di Asia Tenggara yaitu 228/100.000 kelahiran (versi pemerintah), 450/100.000 kelahiran (versi WHO). Kenapa hal ini terjadi? Tentu banyak hal yang mengakibatkannya. Hal ini sudah pernah penulis bahas dalam artikel Episode Terahir Kartini.
Hal lain yang bisa ditambahkan dan baru saja penulis temukan ialah ternyata alokasi anggaran untuk perempuan sangat kecil bila dibandingkan anggaran untuk hal lain yang tidak terlalu substansial. Sebagai contoh laporan yang diliput Oleh Eko Bambang Subiyantoro dalam Jurnal Perempuan Online : Berita Perempuan terlihat jelas bagaimana alokasi APBD daerah (cf. Surabaya, Bantul, Surakarta, dan daerah lain) tidak berpihak kepada perempuan. Simaklah berita berikut : Anggaran Klub Sepak Bola Persis 3 Milyar, Anggaran Ibu Hamil 154 juta (cf APBD Pemkot Surakarta). APBD Bantul 2006: Anggaran Pendampingan KTP (Kekerasan Terhadap Perempuan) 2 Juta, Bantuan Haji 300 juta. Dari berbagai laporan dareah tersebut nasib perempuan Indonesia jelas-jelas sedang terancam.
Setelah melihat data dan fakta yang telah dikemukakan di atas, masihkah menganggap perempuan over stock? Anggapan seperti ini justru semakin mengabaikan perempuan, sehingga tidak hanya berdampak pada mental perempuan itu sendiri. Lebih jauh berdampak pada, kesehatan, kesejahteraan bahkan kelangsungan hidup seorang perempuan. Padahal dari rahim perempuan yang sehatlah regenerasi kehidupan manusia akan berlangsung dengan baik.



Jumat, 15 Februari 2013

Nafsu Perempuan itu 9

Nafsu perempuan itu 9 dan akalnya 1 sedangkan laki laki sebaliknya, nafsunya 1 dan akalnya 9. Ungkapan ini cukup dikenal luas dikalangan umat muslim. Bahkan konon kabarnya berasal dari hadis Rasulullah. Kali ini  penulis tidak sempat menelusuri kitab hadis untuk membahas bagaimana sebenarnya kualitas dari hadis ini. Apakah shahih dan bisa dijadikan landasan hukum syara atau dha'if (lemah) sehingga tidak layak. Atau malah ia bukan hadis hanya pernyataan yang disepakati masyarakat muslim saja. 
https://s3shopback.s3.amazonaws.com/id/wp-content/uploads/2016/04/girls-839809_1920.jpg

Terlepas dari shahih tidaknya hadis ini, tetap saja memiliki efek dalam realitas keberagamaan dan keseharian muslim. Logikanya kalau memang hadis ini benar, tentu perempuan yang memiliki nafsu 9 akan dengan mudah tergoda dan melakukan berbagai cara untuk melihat dan menundukan lelaki ganteng, sexy dan six pack misalnya. Tapi hal ini sangat langka dalam realitas. Yang kebanyakan terjadi adalah bahwa lelaki lah yang banyak tergoda untuk melihat dan menundukan perempuan yang menarik hatinya. Bahkan sudah menjadi pemahaman yang umum pula bahwa lelaki agresif dan perempuan pasif. 

Menurut Mernissi seorang feminis muslim Maroko dalam bukunya Beyond The Veil konsep bahwa nafsu perempuan 9 dan akalnya 1 ini menunjukan bahwa seksualitas perempuan dalam Islam itu bersifat aktif. Dalam buku ini Mernissi mengutip lalu mengkritisi Ghazali bahwa perempuan memiliki kekuatan destruktif dalam sebuah peradaban sehingga harus dikontrol untuk mencegah lelaki melalaikan tugas tugas sosial keagamaanya. Cara pengontrolannya ialah dengan pengucilan, pencadaran dan pemisahan ruang berdasarkan jenis kelamin. 

Masalah ini juga dibahas oleh Qasim Amin yang menemukan logika terbalik dalam pemahaman seksualitas tentang perempuan dalam Islam. Qasim Amin mengajukan pertanyaan Siapa dan terhadap apa? Kalau lelaki memiliki akal 9 dan nafsu 1 kenapa pula dikhawatirkan dia tergoda oleh perempuan cantik? Kenapa pula muncul konsep fitnah dalam Islam yang diterjemahkan sebagai kekacauan yang disebabkan oleh gangguan seksual yang ditimbulkan oleh kaum perempuan?. Qasim Amin mempertanyakan siapa sebenarnya yang dilindungi dengan cara pemingitan?

"jika yang ditakutkan lelaki adalah bahwa perempuan tergoda oleh daya tarik kejantananya, mengapa mereka tidak menerapkan cadar bagi diri mereka sendiri? Apakah lelaki berfikir bahwa kemampuan mereka untuk melawan godaan lebih lemah dari perempuan? Apakah lelaki dipandang kurang mampu dari perempuan untuk menguasai diri mereka dan menolak dorongan seksualnya? Dengan mencegah perempuan untuk memperlihatkan diri mereka tanpa cadar memperlihatkan ketakutan lelaki akan kehilangan penguasaan terhadap akal sehat mereka, sehingga mudah terjatuh kepada perangkap fitnah, kapan saja mereka dihadapkan dengan perempuan yang tidak bercadar. (Qasim Amin, The Liberation of Women, 1928:65)

Kesimpulan Qasim Amin jika lelaki adalah mahluk yang lemah bila berhadapan dengan perempuan cantik maka seharusnya kelompok yang lemah inilah yang harus dilindungi dan merekalah yang seharusnya menutupi dirinya (bercadar? hehehehe). Beberapa alasan perempuan tidak boleh mempimpin dalam ritual keagaamaan dalam Islam juga terkait bahwa tubuh perempuan akan mengganggu konsentrasi dalam beribadah. Kenapa melihat perempuan sebagai mahluk sensual kalau begitu? Bisakah melihat perempuan dengan netral? Jadi siapa sebenarnya yang bermasalah?

 Penulis jadi teringat perkataan para aktifis perempuan di Indonesia terkait rok mini yang mengatakan bahwa yang perlu diurusi adalah otak para lelaki yang mesum dan ngeres karena kalau  otaknya lempeng dan ajeg, dia tidak akan mau mengganggu perempuan apalagi memperkosa. Karena bagi manusia yang memiliki otak yang ajeg, tidak dibenarkan melakukan kekerasan dan pemaksaan terhadap manusia yang lain. Bagi manusia yang memiliki otak ngeres dan bengkok meski perempuan sudah dibungkus rapi (emang lontong?)  bila memang berniat memperkosa ya dia akan melakukannya. Berapa banyak perempuan berbusana rapi dan berjilbab yang juga jadi korban perkosaan. Artinya yang substansial bukan pada rok mini atau busana tertutupnya melainkan konsep seksualitas yang ada dalam kepala setiap lelaki dan perempuan.

 Pemahaman yang menyalahkan otak mesum dan bengkok lelaki seolah benar, namun apakah mudah memperbaiki sesuatu yang berada di luar diri kita (perempuan) sebagai upaya mencegah tindak kekerasan seksual? Padahal konsep seksualitas bahwa lelaki mendominasi dan perempuan didominasi sudah berurat akar sepanjang sejarah manusia? Menurut hemat penulis, selain mengurusi dan mencoba mengubah konsep seksualitas yang ada, usaha perlindungan diri dengan memakai pakaian santun, tidak keluar di jam jam yang rawan sendirian kecuali untuk hal yang sangat urgent masih harus dilakukan. Berpakaian santun juga bukan sebuah kerugian bagi seorang perempuan bukan? 

Seksualitas memang tidak melulu tentang aktifitas seksual. Ia merupakan konsep dan kontruksi sosial terhadap nilai dan perilaku yang berkaitan dengan seks, maka konsep seksualitas akan berbeda menurut tempat dan waktu. Perbedaan ini bukan hanya dalam makna seksualitas antar kebudayaan, tetapi juga dalam pemaknaan yang ada dalam budaya itu sendiri. Hal ini dalam penuturan Saptari sebagaimana yang dikutipnya dari Truongh karena diskursus seksualitas mengatur tiga dimensi kehidupan manusia.

Pertama, dimensi biologis yaitu yang menyangkut kegiatan seks sebagai kenikmatan biologis atau untuk mendapatkan keturunan. Kedua, dimensi sosial yang meliputi hubungan-hubungan antara individu yang melakukan hubungan seks secara sah atau tidak sah (menurut ukuran masyarakat yang bersangkutan). Ketiga, dimensi subjektif yang berhubungan dengan kesadaran individu terhadap seksual diri sendiri atau kelompok (Truongh, Thanh-Dam, Seks, Uang dan Kekuasaan : Pariwisata dan Pelacuran di Asia Tenggara, 1992: xxiii)

Dengan batasan yang begitu luas, seksualitas menjadi sebuah diskursus yang menyangkut perilaku jenis kelamin sekaligus sebagai seperangkat gagasan yang membentuk norma. Keduanya saling berhubungan satu sama lain. Pemahaman seksualitas perempuan yang aktif dalam Islam sehingga dihawatirkan terjadi destruksi dalam sebuah peradaban karena fitnah perempuan mengakibatkan tubuh perempuan dikenai aturan aturan yang ketat merupakan sebuah logika terbalik. Kenapa hal ini terjadi? karena para penafsir, ulama, cendekiawan hampir semua berjenis kelamin lelaki dan tentu saja alam bawah sadarnya berkerja untuk kepentingan jenis kelamin ini. Karenanya bagi kaum perempuan, mari menulis agar pengalaman dan pengetahuan kita bisa jadi sumber pengetahuan dan bisa memberi wacana lain agar kehidupan ini lebih seimbang. 

Blue Diamond 15 Februari 2012....Efek Malam Jum'at hehehe...lahir deh tulisan ini






Rabu, 13 Februari 2013

13 Februari 13

Endorfin mengalir melukis cerah
Kuas menari tanpa beban
Mewarnai kanvas pasrah
Dibingkai niat kesejatian

Hari berjalan amat perlahan
Gelak tawa satukan kepingan
Mengais remahan terlupakan
Kau, aku juga Engkau

Cukup sedikit hujan
Agar pelangi itu datang
Tak perlu berlebihan
Karena ibu tak mampu lagi mengandung
Kali ini

Kapan?
Itu saja yang kau tanyakan
Selama kita menuju
Mari nikmati dan hayati
Finish itu ada

Kepakan sayap kita senada
Meski tak semanis Habibi Ainun
Namun tak mengurangi rasa
Karena kita adalah kita
Sepasang pecinta biasa
Berharap luar biasa


Blue diamond menjelang Valentine...buat kita Hannah & Hakim

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...