Syawwal untuk Tata

0 Comments
Setiap kali menyaksikan prosesi akad nikah, selalu saja hati ini bergetar. Apalagi bila pernikahan yang disaksikan merupakan pernikahan orang orang yang saya sayangi. Seperti pernikahan sahabat terbaik saya hari ini yaitu Muntadhiroh al-Chujjah atau yang biasa disebut Tata. Air mata haru dan bahagia tanpa terasa mengalir membasahi pipi. Penantiannya akan saat membahagiakan ini berahir sudah. Bentangan samudra kehidupan ke depan menanti untuk dijalani. Semoga keluarga sakinah mawaddah warahmah akan menghiasi pernikahannya.
 
Tata  merupakan sosok sahabat yang selalu mengingatkan saya akan nilai kejujuran dan keikhlasan. Mendahului berbuat kebaikan selalu dilakukannya, sehingga nyaris saya tidak diberikan kesempatan untuk berbuat baik terlebih dahulu kepadanya. Tak terasa sudah 6 tahun kami menjalin persahabatan dan sepanjang itu pula tata tak henti hentinya terus berbuat kebaikan. Perjanjian agung yang mengikatnya hari ini semoga semakin meningkatkannya menjadi manusia yang mencintaiNya dan dicintaiNya.

Prosesi pernikahan Tata yang terjadi pada bulan Syawwal ini, mengingatkan saya pada pernikahan Ali r.a dan Sayidah Fatimah putri Rasulullah yang juga terjadi bulan Syawwal. Syawwal menurut akar katanya berarti naik, ringan, atau membawa (mengandung). Disebut demikian karena dahulu, ketika bulan-bulan hijriyah masih ‘disesuaikan’ dengan musim (praktek interkalasi), suhu meningkat karena berada pada musim panas seperti halnya Ramadhan. 

Bulan Syawwal sebagai kelanjutan dari Bulan Ramadhan, jika dilihat dari akar kata di atas, yakni naik yang bermakna juga peningkatan. Setelah sebulan penuh kaum muslim menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan yang mengharapkan meraih derajat taqwa, maka dengan bersambung Bulan Syawwal, maka makna itu diuji agar terjadi peningkatan. Seolah-olah nama bulan ini mengingatkan bagi siapapun, bahwa seharusnya setelah menjadi bertaqwa maka seseorang atau sekelompok orang harus menampakkan diri, ada peningkatan kualitas hidupnya.

Setidak-tidaknya ketika memasuki Bulan Syawwal, ada harapan agar terjadi peningkatan kualitas. Kualitas ketaqwaan dan kedekatan dengan sang maha Kuasa. Kedua hal ini terlihat dengan tindakan yang dilakukan (amal shaleh). Akhlak muslim setelah berpuasa sebulan penuh terlihat nyata dengan semaraknya tempat tempat ibadah karena jamaahnya meningkat, orang-orang yang kesusahan bisa tersenyum karena semakin banyak yang peduli dengan mereka karena munculnya kesadaran membayar infaq dan shadaqoh. Sehingga bulan Syawwal menjadi bulan yang indah karena dihiasi akhlaq mulia kedekatan dengan sang pencipta yang diwujudkan dengan berbagi kepada sesama.

Namun keindahan ini tampaknya belum terlihat. Malah kalau kita saksikan masih banyak kaum muslim yang hanya sekedar menjalankan tradisi pada tanggal 1 Syawwal atau hari Lebaran. Lebaran di Indonesia dengan tradisi mudiknya sepertinya menjadi hal wajib yang mau tidak mau harus dilakukan. Banyak orang memaksakan diri untuk bisa mudik ke kampung halaman. Sampai di kampung halaman kadang yang terjadi adalah ajang pamer apa yang sudah dihasilkan selama ini. Ukuran sukses atau tidaknya seseorang diukur dengan apa yang terlihat saat lebaran. Bahkan ada cerita salah satu ibu korban trafficking yang pernah didampingi yang mengatakan bahwa keluarga tidak peduli anak perempuannya lebaran kemarin dan lebaran sekarang berganti laki-laki (entah suami atau bukan) yang penting bisa pulang bermobil dan membagi-bagikan uang hasil kerjanya. 

Ah...kalau diceritakan sisi 'Namun' di sini tentu masih banyak yang menyesakkan hati kita. Karena hari ini hari yang bahagia kita lanjutkan saja dengan hal yang indah. Seperti indahnya hubungan yang baru saja sah hari ini antara sahabat saya Tata dan suaminya. Sekali lagi saya ucapkan selamat dan turut berbahagia...semoga kita bisa meningkatkan amal shaleh kita di bulan Syawwal ini sebagai hasil perjuangan selama sebulan shaum Ramadhan. Barakallahu laka wa baraka alaika wa ja'ala bainakuma fi khairin.




You may also like

Tidak ada komentar: