Saling Memaafkan Yuuk!

3 Comments
Butiran air mata menetes di pipinya yang muda. Sesekali ia berkata, "ia bu saya minta maaf, saya sudah keliru". Kejadian seperti ini merupakan peristiwa yang tidak menyenangkan buat saya. Meski tidak menyenangkan, saya tetap menghadapinya untuk kemudian memaafkannya.

Ya perempuan muda itu adalah mahasiswi yang saya ajar semester lalu. Ia seorang mahasiswi yang aktif dalam perkuliahan. Suka bertanya dan mengajukan pendapatnya. Terus terang saya lebih bersemangat mengajar bila mahasiswa aktif dalam proses perkuliahan. Karena termasuk mahasiswi yang menonjol, otomatis saya kenal dan hafal dengannya.

Perkuliahan dijalaninya sesuai dengan peraturan kampus. Tiba masanya kami melaksanakan Ujian Ahir Semester (UAS). Saat UAS tiba, dia tidak hadir tanpa konfirmasi resmi, hanya pesannya saja kepada temannya mengabarkan kepada saya bahwa ia sedang sakit. Peraturan yang berlaku terkait kehadiran UAS bila mahasiswa sakit, maka kabar sakitnya itu harus menyertakan surat keterangan sakit dari dokter. Surat tersebut boleh menyusul yang terpenting dosen yang bersangkutan mengetahui.

Tiga minggu setelah UAS, saya ahirnya memberikan ujian susulan kepada beberapa mahasiswa agar semua urusan semester ini selesai. Mahasiswi yang saya ceritakan ini tidak sekalipun menghubungi saya dari sejak absennya mengikuti UAS. Dia hanya menitip pesan pada teman yang ujian susulan bahwa ia ingin juga ikut. Atas dasar kemanusiaan, saya mengizinkannya untuk mengikuti UAS susulan. Saat hari H ujian susulan, semua mahasiswa yang akan mengikuti sudah hadir tinggal mahasiswi tersebut. Saya meminta semua menunggu kehadiran mahasiswi tersebut karena menurut teman pondok pesantrennya dia sudah berangkat menuju kampus. Hal ini karena saya meminta salah seorang mahasiswi yang juga ikut ujian susulan menghubunginya. Sekitar satu jam kami menunggu ia tak kunjung datang. Ahirnya UAS susulan berlangsung tanpa kehadiran dan konfirmasi darinya.

Semester ganjil sudah akan dimulai. Minggu ini merupakan minggu perwalian/bimbingan dan penandatanganan KRS. Selasa pagi sampai siang, saya menerima mahasiswa bimbingan. Saat waktu istirahat dzhuhur, saya bergegas pulang ke rumah untuk menemui bayi saya. Saat mengeluarkan motor dari tempat parkir, tiba-tiba mahasiswi yang menjadi tokoh utama dalam tulisan ini menyapa saya dengan cerianya. Ia mencium tangan saya dan berkata "ibu...gimana nih nilai saya tidak keluar, kapan saya bisa UAS?.  Gubrak!!! tanpa ada konfirmasi satu sms pun dari sejak UAS resmi yang dia tidak hadir dengan entengnya dia bertanya seperti itu. Bertanya dalam kondisi saya akan bergegas menemui bayi saya. Bertanya tanpa introspeksi diri bahwa banyak pihak sudah direpotkan dengan ulahnya. Saat itu saya sangat marah, saya tarik nafas dan berkata, "urusan semester lalu sudah selesai. Saya sekarang bergegas pulang ke rumah". Mahasiswi itu berkata "saya sakit bu, jadi pas UAS gak bisa ikut, pas susulan juga tiba-tiba saya ditelfon ibu saya untuk pulang. Jadi saya segera pulang ke rumah". Segera saya meninggalkannya, hawatir kalau marah saya berkata yang tidak baik.

Malam harinya saya menghubungi temannya lewat facebook agar dia bertemu dengan saya husus untuk membicarakan betapa kelirunya kelakukan yang sudah dia buat. Bagaimana pun juga saya bukan temannya, melainkan dosennya atau orang tua baginya di kampus ini. Bukan sekedar nilai mata kuliah,  ada hal yang lebih penting dari itu. Bagaimana seorang memiliki etika berhadapan dengan orang yang lebih tua, bagaimana mengikuti aturan kampus yang berlaku, bagaimana melihat situasi dan kondisi orang yang diajak berbicara. Bagaimana keridhoan seorang pengajar/guru/dosen itu bisa mempengaruhi keberkahannya dalam hidup.

Pembicaraan kami ditutup dengan deraian air matanya. Saya masih memberikan kesempatan dan memaafkan apa yang sudah terjadi semester lalu. Semoga saja setelah kejadian ini, dia semakin dewasa dan mampu menempatkan diri dalam kondisi apapun. Pribahasa Sunda berbicara 'basa mah teu meuli' artinya berbahasa yang baik itu tidak usah beli. Tinggal kita punya kemauan atau tidak berkata baik dan menempatkannya dalam kondisi yang tepat. Karena gratis, maka pribahasa ini juga bermakna jangan pelit untuk berbicara perkataan yang baik dengan memberikan jawaban atau konfirmasi sesuai dengan kebutuhan.

Setelah ia keluar dari ruangan dosen, saya sedikit merenung dan bernostalgia. Ya mungkin dulu saat mahasiswi, saya  juga pernah seperti itu. Berbicara, bertindak dan bersikap seenaknya. Mungkin ada beberapa guru/dosen yang pernah tersinggung dengan apa yang sudah saya lakukan sedangkan saya tidak menyadarinya. Bahkan sampai saat ini, dimana saya pun masih ada dalam posisi mahasiswi yang belum juga beres kuliah, mungkin juga perkataan, tindakan atau sikap saya ada yang kurang berkenan bagi pembimbing/promotor tugas ahir. Saya mohonkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya bila ternyata kekeliruan itu juga saya lakukan. Semua hal menjadi indah bila kita saling memaafkan untuk terus memperbaiki diri.







You may also like

3 komentar:

  1. aamiin ...
    terimakasih ibu, dengan tulisan ibu ini, saya sebagai seorang maba (mahasiswa baru),saya mendapatkan beberapa gambaran tentang perkuliahan. dan bagaimana pentingnya minta maaf dan memafkan. :) good luck bu, buat sidang tertutupnya (y) :)

    BalasHapus
  2. Iya makasih yaaa. Sudah membaca blog ini

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus