Poligami dan Perempuan Sunda

0 Comments


Hari gini masih ngomongin poligami? Apa tidak bosan?. Sudahlah! Poligami kan boleh dalam Islam. Jadi biarkan saja bila ada yang memilih melakukannya. Biarkan juga apa bila ada orang yang memilih monogami. Toh sebelum Rasulullah poligami, ia melakukan monogami dengan Khadijah sampai istri tercintanya itu meninggal dunia. Artinya Rasulullah melakukan dua duanya. Gitu aja kok repot!

Memang bila berbicara tentang poligami, dua kubu mendukung dan menolak akan selalu berhadapan. Dalam tulisan kali ini, penulis tidak ingin terlalu berkutat membahas dua kubu tersebut. Penulis lebih tertarik untuk membicarakan praktek poligami terkait dengan perempuan Sunda. Memang bagaimana hubungan praktek poligami dengan perempuan Sunda?.

Sunda sebagai sebuah peradaban telah lama dikenal dengan budaya masyarakatnya yang cukup moderat dan toleran. Siger tengah merupakan falsafah budaya sunda yang mempromosikan nilai nilai moderatisme tersebut. Siger tengah artinya posisi tengah, tidak ekstrim kanan atau ekstrim kiri. Sunda juga dikenal dengan budayanya yang sangat ramah dan santun; hormat ka saluhureun nyaah ka sahandapeun jeung someah ka sasama (menghormati yang lebih dewasa, menyayangi yang lebih kecil dan santun kepada yang seusia), serta someah hade ka semah (santun, baik terhadap tamu).

Berbicara tentang perempuan dalam budaya Sunda tidak bisa dilepaskan dengan relasi perempuan dan lelaki yang ada dalam masyarakatnya. Relasi antara lelaki dan perempuan dalam budaya Sunda memang lebih sejajar dibandingkan dengan budaya Jawa. Dalam surat-surat Kartini terhadap Abendanon, ia juga memuji budaya Sunda yang begitu terbuka terhadap perempuan. Bahkan pendidikan perempuan berupa sekolah di wilayah Sunda sudah ada lebih dulu dari pada di Jawa dengan berdirinya Sakola Kautamian Istri yang didirikan oleh Dewi Sartika.

Perempuan Sunda dalam kajian antropologi mendapatkan citra yang sangat positif. Perempuan dalam budaya sunda begitu dihormati. Seperti sosok Sunan Ambu- guru minda dalam cerita Legenda Lutung Kasarung menjadi tokoh sentral yang membuka dan mengahiri cerita. Selain juga dalam cerita itu ada tokoh Purbasari yang juga memiliki kepribadian kuat yang memukau.

Perempuan Sunda memiliki harga diri yang baik karena budaya Sunda memang menempatkan diri mereka dalam posisi yang terhormat. Karena punya posisi tawar yang baik maka perempuan Sunda biasanya tidak suka diperlakukan tidak adil, sehingga melawan bila diperlakukan dengan kekerasan. Salah satu lagu Sunda yang berjudul Cikapundung bisa menggambarkan prinsip perempuan sunda.

Cikapundung cikapundung walungan di kota Bandung.
Kota kembang kota midang kota pang bangbrang ka bingung
Cikapundung cikapundung walungan di kota Bandung
Lamun akang tos teu suka tong nyiksa anak mitoha
Meureun abdi ngusap birit batan daek ngudar gelung
Aduh bapa aduh ema abdi mah alim dicandung

Lagu ini menunjukan bahwa bagi perempuan Sunda, poligami sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender merupakan sebuah hal yang tidak disukai. Meureun abdi ngusap birit batan daek ngudar gelung (lebih baik bercerai dari pada harus berbagi dengan perempuan lain). Ini menunjukan harga diri perempuan Sunda yang kuat. Bahkan perempuan Sunda ada yang berkali kali bercerai dan kembali menikah bila sebuah pernikahan tidak sesuai dengan harapannya. Perkawinan monogami lebih dipilih dalam budaya Sunda.

Budaya ini mengendap di alam bawah sadar semua masyarakat Sunda. Sehingga pada saat ada Kiai Sunda Poligami (Aa Gym), maka serentak masyarakat Sunda kebanyakan jadi tidak simpatik. Bisnis dan pengajian miliknya nyaris tidak memiliki jamaah lagi sampai sekarang. Meski belakangan praktik poligami kembali dilakukannya, namun tidak bisa mengembalikan karisma dan pengaruh Kiai ini seperti sebelumnya. Bandingkan dengan praktik poligami yang dilakukan Kiai di wilayah Jawa. Banyak Kiai yang berpoligami namun masyarakat tidak menganggap itu masalah, bahkan banyak orang tua yang menawarkan anak gadisnya untuk dipoligami Kiai untuk mengangkat derajat keluarga.

Citra perempuan Sunda yang positif dan memiliki posisi yang kuat sehingga mampu memutuskan apa yang diinginkannya termasuk menolak poligami, ternyata tidak sepenuhnya diamini oleh semua pihak. Contohnya tulisan majalah Male Imporium(ME) No. 49 Edisi Februari 2005 yang disebar luaskan dalam Portal CBN (CyberMan) online, 5 maret 2005 menjelaskan versi negative dari perempuan Sunda yang.Pertama, bahwa dibalik kecantikan perempuan Sunda itu, katanya, tersembunyi berbagai sifat negatif, mulai dari pemalas, suka bersolek, dan bergaya seperti orang-orang kaya, sampai selalu mengandalkan pendapatan dari suaminya.

Kedua ME juga memperbandingkan perempuan sunda dengan suku Jawa. Menurutnya bahwa perempuan Jawa itu senang bekerja, dan bekerja sebagai sebuah kehormatan, lain halnya dengan perempuan Sunda. Ketiga ada sinyalemen bahwa perempuan Sunda lebih suka menjual dirinya untuk mendapatkan sesuatu yang tak halal dari pada harus bekerja. (lebih lanjut baca HU Pikiran Rakyat 20/5/2006).

Dua kutub positif dan negatif merupakan keniscayaan yang tidak terelakan. Apakah itu tentang poligami maupun citra perempuan sunda. Dari kontroversi tersebut, dinamika pemikiran dan pemaknaan ulang akan sebuah fenomena akan terus berjalan. Kita bisa memilih ada di kutub mana yang terdekat dengan pemahaman kita. Citra perempuan Sunda yang positif dan negatif yang dijelaskan sebelumnya sebenarnya memperlihatkan betapa perempuan Sunda memiliki bargaining position yang baik sehingga mampu mensiasati kondisi untuk kepentingannya. Hal inilah yang penulis tidak sepakati. Karena sekali lagi meski sebuah tujuan itu mulia bila dilakukan dengan proses yang buruk, maka hasilnya tidak jauh dari proses yang dilakukan. Hal yang saya sepakati dari perempuan Sunda adalah menolak poligami!

Catt:
Repost tulisan Jadoel tersemangati mengajar mata kuliah Studi Budaya Sunda di semester ini...pengalaman baru yang mengasyikan. Membuat mata enggan berkedip saat membaca lembar demi lembar sejarah Sunda yang asyiknya melebihi sinetron bahkan Drama Korea hahaha...


You may also like

Tidak ada komentar: