Minggu, 17 April 2016

Abaikan Dirimu!

Saya saat ini sedang mengikuti mentoring menulis online dengan Brili Agung. Kenapa dengan dia? karena dia terlebih dahulu menfollow twitter saya dengan account mentor menulis. Terus terang saya jadi penasaran kenapa dia memfollow saya. Berangkat dari rasa penasaran ahirnya saya mencari tahu tentangnya. Tepat sekali rupanya saya memang sedang memerlukan seorang mentor menulis karena sudah banyak tulisan yang saya posting namun banyak gejenya. Ahirnya memutuskan untuk ikut mentoring online dengannya.

Hari ini memasuki hari ke 17 mengikuti mentoring online. Semakin saya bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa saya malah merasa semakin tidak jelas dengan arah tulisan saya. Mau dibawa kemana? Siapa yang akan jadi pembaca. Maukah mereka membaca tulisan panjang dengan bahasa ilmiah yang njlmet? Kenapa terjadi seperti ini?

Ahirnya malam ini saya memutuskan untuk tetap menulis dan mengirimkan PR sesuai dengan ketentuan peserta menulis online. Setelah gugur kewajiban, saya kembali berefleksi. Kenapa malah ketidak jelasan dalam proses menulis buku best seller ini saya rasakan?
https://moslemalfaruq.files.wordpress.com/2014/01/best_wallpaper_nko_26.jpg


Saya ahirnya membuka briliagung.com untuk melihat bentuk tulisannya seperti apa sih? Mencoba mengosongkan gelas diri ini agar bisa melihat petunjuk yang benar. Ya ada beberapa hal yang saya dapatkan dari sana. Pertama dari tulisannya Brili Agung tentang 4 Rumus Pertanyaan yang akan menjadikan tulisan efektif dan mematikan.

Pertanyaan pertama tentang siapa yang akan membaca buku yang saya tulis memang belum jelas. Apakah remaja? Dewasa muda? Ibu-ibu? Aktivis sosial? Akademisi? Atau siapa?. Kedua pertanyaan tentang tujuan menulis. Kalau tujuan sebenarnya saya sudah punya sih, tujuan saya menulis buku best seller ini ialah agar perempuan korban yang masih berjatuhan saat ini bisa dilindungi dan berdaya.

Pertanyaan ketiga tentang aksi pembaca yang diharapkan ialah para pembaca bisa peduli kepada perempuan korban dengan melindungi dan membantu mereka berdaya. Selain juga menjadikan diri mereka berdaya lebih dahulu.

Pertanyaan keempat inilah yang tidak terpikir oleh saya. Kesan apa yang saya inginkan dengan tulisan yang saya buat? Kesan yang tampak dari tulisan saya katanya seperti membenci dan menyalahkan laki-laki. Padahal bukan itu kesan yang saya harapkan. Saya ingin pembaca memiliki kesan pada saya sebagai perempuan yang peduli dengan ketidakadilan.

Selain itu juga mungkin, saya belum bisa mengabaikan diri saya. Teringat sebuah perkataan Platon dalam Arete: Hidup Sukses menurut Platon. Bila ingin sukses dalam hidup atau apapun, seseorang harus mengabaikan diri. Berani mengabaikan diri menurut Platon diterjemahkan oleh A.Setyo Wibowo dengan: 1) mengabaikan kesuksesan-kesuksesan yang pernah dimiliki, 2) selalu terbuka pada hal baru (tidak bersikukuh pada pengetahuan atau anggapan-anggapan atau keyakinan-keyakinan yang dimiliki) 3)berani keluar dari zona nyaman.

Jangankan dalam menulis bahkan dalam ilmu sekeras fisika atau matematika pun orang harus berani  “mempertanyakan rumus-rumus” yang selama ini dianggap benar oleh kebanyakan orang. Bila kita mengikuti penelitan tentang “God’s Particle”, di situ kita berhadapan dengan orang-orang yang dijiwai semangat “mencari tahu” dan siap meruntuhkan teori apa pun yang selama ini mereka pegang sendiri !

Ya terimakasih Brili semoga PR ke depan bisa lebih baik lagi.

Sabtu, 09 April 2016

Persahabatan part-1


Gemercik hujan tengah malam ini masih hadir. Setelah tadi sore hujan turun dengan derasnya membasahi Bandung Timur. Suasana malam ini cukup hening membuat saya ingin kembali berlatih menulis. Sebuah tulisan sudah selesai kemudian saya kirimkan pada mentor menulis. Semoga saya bisa mengikuti arahan-arahannya. 

Mata ini rupanya belum mau terpejam. Sehingga saya memutuskan untuk melanjutkan menulis di blog. Sebuah tema belum terpikir sampai paragraf yang saya tulis ini. Biarlah...menulis ya menulis saja dulu. Semoga ditengah perjalanan ada satu tema yang bisa saya tuliskan. 


Manusia manapun di muka bumi ini tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan orang lain. Meski orang tersebut menyangkal bawa ia membutuhkan orang lain, tetap saja kenyataanya dia bisa hadir di muka bumi ini karena jasa manusia yang lain. Bahkan setelah nyawa lepas dari badan pun, ia membutuhkan orang lain mengurusi mayatnya. Jadi mengapa ada orang yang suka mengambil jarak dengan orang lain dan mengabaikannya?

Memang hak seseorang bersikap seperti apa pun pada yang lain. Kita pun memiliki pilihan bebas untuk mensikapi kelakuannya. Hal baik yang terpikir saat ini ialah setiap orang pasti memiliki alasan atas sikap dan tindakan yang dilakukannya. Jadi respon baik atau buruk dari luar tidak akan mempengaruhi kondisi mental kita. Bukti bahwa kita tidak terpengaruh ialah tetap merespon positif apapun yang ditemui.

Kita tidak bisa memaksakan kepada orang lain untuk menyukai kita. Agar bisa akrab atau mungkin bersahabat dengannya. Semuanya terjadi mengalir begitu saja. Biasanya orang yang memiliki banyak persamaan cenderung bisa bersama dan bersahabat. Benarkah persamaan bisa menyatukan seseorang dalam sebuah persahabatan? Apa kegunaan yang bisa ditarik dari yang sama? Kalau begitu yang berlawananlah yang akan bersahabat? Tapi tidak mungkin kiranya yang baik akan rela bersahabat dengan yang jahat. Prinsipnya yang sama tidak bisa menjadi sahabat yang sama, dan yang saling berlawanan juga tidak saling menjadi sahabat.

Kalau begitu, sebenarnya siapakah subjek dan objek persahabatan? Dengan berasumsi bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa bersahabat dengan kejahatan, Sokrates menyimpulkan, “hanya apa yang tidak baik dan tidak jahat yang bisa bersahabat dengan kebaikan dan hanya dengan dia” [216e]. Lebih lanjut, Sokrates mempermudah jalan berpikir kita dengan kiasan tubuh, penyakit, obat/tabib, dan kesehatan. Sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat-obatan/tabib karena (διά, dia) suatu penyakit, “apa yang tidak baik dan tidak jahat menjadi sahabat kebaikan akibat hadirnya kejahatan” (διά το κακόν, dia to kakon) [217b]—dengan catatan bahwa hadirnya kejahatan itu belum telanjur menjadikannya benar-benar jahat. Dialog tentang persahabatan ini bisa kita temukan dalam buku Lysis karangan Platon yang diterjemahkan oleh A.Setyo Wibowo. 

Haduh...ngantuk mulai menyerang, tapi tanggung banget baru saja tema tentang persahabatan ala Platon muncul. To be contiued aja deh...besok semoga bisa dilanjutkan



Lysis awalnya mengamini argumen Sokrates bahwa yang sama bersahabat dengan yang sama. Namun, yang sama toh tidak bisa menarik kegunaan apa pun dari yang sama—maka, untuk apa saling bersahabat? Kalau begitu, yang saling berlawananlah yang saling bersahabat. Akan tetapi, tidak mungkin kiranya orang baik akan rela bersahabat dengan orang jahat—maka argumen kedua juga ditolak. Jadi, prinsipnya, “Yang sama tidak bisa menjadi sahabat yang sama, dan yang saling berlawanan juga tidak saling menjadi sahabat.” [216b]. Kalau begitu, sebenarnya (si)apakah subjek dan objek persahabatan? Dengan berasumsi bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa bersahabat dengan kejahatan, Sokrates menyimpulkan, “hanya apa yang tidak baik dan tidak jahat yang bisa bersahabat dengan kebaikan dan hanya dengan dia” [216e]. Lebih lanjut, Sokrates mempermudah jalan berpikir kita dengan kiasan tubuh, penyakit, obat/tabib, dan kesehatan. Sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat-obatan/tabib karena (διά, dia) suatu penyakit, “apa yang tidak baik dan tidak jahat menjadi sahabat kebaikan akibat hadirnya kejahatan” (διά το κακόν, dia to kakon) [217b]—dengan catatan bahwa hadirnya kejahatan itu belum telanjur menjadikannya benar-benar jahat. Maka, kejahatan adalah causa efficiens persahabatan. Mengenai causa finalis persahabatan, Sokrates menegaskan bahwa sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat/tabib demi (ένεκα, heneka) kesehatan yang adalah kebaikan, “seseorang menjadi sahabat bagi sahabatnya demi mendapatkan sahabat [lain]” [219b]. Celakanya, jika prinsip ini diteruskan maka persahabatan akan memiliki tingkat-tingkat obyek tanpa akhir. Maka, perlu ada sahabat pertama (προτον φιλον, proton philon) yang menjadi cakrawala dan “dicintai (menjadi objek persahabatan) bukan demi persahabatan dengan sesuatu” [220b]. Proton philon itu tak lain adalah Kebaikan. Nah, inilah persahabatan segitiga à la Platon: selain menjalin hubungan resiprokal (timbal balik) satu sama lain, sepasang sahabat juga memiliki aspirasi yang sama terhadap Kebaikan. Kebaikan menjadi pihak ketiga yang dicintai secara sepihak (nonresiprokal) oleh masing-masing sahabat. Dengan demikian, secara unik Kebaikan memperkokoh suatu persahabatan antardua orang tetapi sekaligus membuat ikatan itu relatif; tidak niscaya kekal. Sejalan dengan prinsip ini, tawuran antargeng adalah contoh sempurna untuk persahabatan yang berlandaskan bukan Kebaikan, melainkan thumos (θυμος) belaka—aku membela sahabatku dari musuh hanya karena harga diri atau gengsi. Pertanyaannya sekarang: mengapa kita bisa beraspirasi pada Kebaikan? Sokrates dan Lysis sepakat bahwa bukan karena kejahatan, melainkan karena nafsulah (epithumia) kita dapat menghasrati Kebaikan. Jadi, kejahatan (hal eksternal) sebagai sumber aspirasi terhadap Kebaikan akhirnya ditolak dan digantikan nafsu/hasrat (hal internal). Dan, oleh karena nafsu menghasrati Kebaikan, menurut Sokrates kita pun sesungguhnya seketurunan (oικείον, oikeion) dengan Kebaikan, bahkan lebih seketurunan daripada dengan orangtua sendiri. Hanya dengan beraspirasi pada Kebaikanlah jiwa seseorang menemukan relasi seketurunan dengan obyek persahabatan miliknya yang paling khas (oikeion).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hireka.eric/persahabatan-a-la-platon_54ff5809a33311c44f50f969

Lysis awalnya mengamini argumen Sokrates bahwa yang sama bersahabat dengan yang sama. Namun, yang sama toh tidak bisa menarik kegunaan apa pun dari yang sama—maka, untuk apa saling bersahabat? Kalau begitu, yang saling berlawananlah yang saling bersahabat. Akan tetapi, tidak mungkin kiranya orang baik akan rela bersahabat dengan orang jahat—maka argumen kedua juga ditolak. Jadi, prinsipnya, “Yang sama tidak bisa menjadi sahabat yang sama, dan yang saling berlawanan juga tidak saling menjadi sahabat.” [216b]. Kalau begitu, sebenarnya (si)apakah subjek dan objek persahabatan? Dengan berasumsi bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa bersahabat dengan kejahatan, Sokrates menyimpulkan, “hanya apa yang tidak baik dan tidak jahat yang bisa bersahabat dengan kebaikan dan hanya dengan dia” [216e]. Lebih lanjut, Sokrates mempermudah jalan berpikir kita dengan kiasan tubuh, penyakit, obat/tabib, dan kesehatan. Sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat-obatan/tabib karena (διά, dia) suatu penyakit, “apa yang tidak baik dan tidak jahat menjadi sahabat kebaikan akibat hadirnya kejahatan” (διά το κακόν, dia to kakon) [217b]—dengan catatan bahwa hadirnya kejahatan itu belum telanjur menjadikannya benar-benar jahat. Maka, kejahatan adalah causa efficiens persahabatan. Mengenai causa finalis persahabatan, Sokrates menegaskan bahwa sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat/tabib demi (ένεκα, heneka) kesehatan yang adalah kebaikan, “seseorang menjadi sahabat bagi sahabatnya demi mendapatkan sahabat [lain]” [219b]. Celakanya, jika prinsip ini diteruskan maka persahabatan akan memiliki tingkat-tingkat obyek tanpa akhir. Maka, perlu ada sahabat pertama (προτον φιλον, proton philon) yang menjadi cakrawala dan “dicintai (menjadi objek persahabatan) bukan demi persahabatan dengan sesuatu” [220b]. Proton philon itu tak lain adalah Kebaikan. Nah, inilah persahabatan segitiga à la Platon: selain menjalin hubungan resiprokal (timbal balik) satu sama lain, sepasang sahabat juga memiliki aspirasi yang sama terhadap Kebaikan. Kebaikan menjadi pihak ketiga yang dicintai secara sepihak (nonresiprokal) oleh masing-masing sahabat. Dengan demikian, secara unik Kebaikan memperkokoh suatu persahabatan antardua orang tetapi sekaligus membuat ikatan itu relatif; tidak niscaya kekal. Sejalan dengan prinsip ini, tawuran antargeng adalah contoh sempurna untuk persahabatan yang berlandaskan bukan Kebaikan, melainkan thumos (θυμος) belaka—aku membela sahabatku dari musuh hanya karena harga diri atau gengsi. Pertanyaannya sekarang: mengapa kita bisa beraspirasi pada Kebaikan? Sokrates dan Lysis sepakat bahwa bukan karena kejahatan, melainkan karena nafsulah (epithumia) kita dapat menghasrati Kebaikan. Jadi, kejahatan (hal eksternal) sebagai sumber aspirasi terhadap Kebaikan akhirnya ditolak dan digantikan nafsu/hasrat (hal internal). Dan, oleh karena nafsu menghasrati Kebaikan, menurut Sokrates kita pun sesungguhnya seketurunan (oικείον, oikeion) dengan Kebaikan, bahkan lebih seketurunan daripada dengan orangtua sendiri. Hanya dengan beraspirasi pada Kebaikanlah jiwa seseorang menemukan relasi seketurunan dengan obyek persahabatan miliknya yang paling khas (oikeion).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hireka.eric/persahabatan-a-la-platon_54ff5809a33311c44f50f969
Lysis awalnya mengamini argumen Sokrates bahwa yang sama bersahabat dengan yang sama. Namun, yang sama toh tidak bisa menarik kegunaan apa pun dari yang sama—maka, untuk apa saling bersahabat? Kalau begitu, yang saling berlawananlah yang saling bersahabat. Akan tetapi, tidak mungkin kiranya orang baik akan rela bersahabat dengan orang jahat—maka argumen kedua juga ditolak. Jadi, prinsipnya, “Yang sama tidak bisa menjadi sahabat yang sama, dan yang saling berlawanan juga tidak saling menjadi sahabat.” [216b]. Kalau begitu, sebenarnya (si)apakah subjek dan objek persahabatan? Dengan berasumsi bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa bersahabat dengan kejahatan, Sokrates menyimpulkan, “hanya apa yang tidak baik dan tidak jahat yang bisa bersahabat dengan kebaikan dan hanya dengan dia” [216e]. Lebih lanjut, Sokrates mempermudah jalan berpikir kita dengan kiasan tubuh, penyakit, obat/tabib, dan kesehatan. Sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat-obatan/tabib karena (διά, dia) suatu penyakit, “apa yang tidak baik dan tidak jahat menjadi sahabat kebaikan akibat hadirnya kejahatan” (διά το κακόν, dia to kakon) [217b]—dengan catatan bahwa hadirnya kejahatan itu belum telanjur menjadikannya benar-benar jahat. Maka, kejahatan adalah causa efficiens persahabatan. Mengenai causa finalis persahabatan, Sokrates menegaskan bahwa sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat/tabib demi (ένεκα, heneka) kesehatan yang adalah kebaikan, “seseorang menjadi sahabat bagi sahabatnya demi mendapatkan sahabat [lain]” [219b]. Celakanya, jika prinsip ini diteruskan maka persahabatan akan memiliki tingkat-tingkat obyek tanpa akhir. Maka, perlu ada sahabat pertama (προτον φιλον, proton philon) yang menjadi cakrawala dan “dicintai (menjadi objek persahabatan) bukan demi persahabatan dengan sesuatu” [220b]. Proton philon itu tak lain adalah Kebaikan. Nah, inilah persahabatan segitiga à la Platon: selain menjalin hubungan resiprokal (timbal balik) satu sama lain, sepasang sahabat juga memiliki aspirasi yang sama terhadap Kebaikan. Kebaikan menjadi pihak ketiga yang dicintai secara sepihak (nonresiprokal) oleh masing-masing sahabat. Dengan demikian, secara unik Kebaikan memperkokoh suatu persahabatan antardua orang tetapi sekaligus membuat ikatan itu relatif; tidak niscaya kekal. Sejalan dengan prinsip ini, tawuran antargeng adalah contoh sempurna untuk persahabatan yang berlandaskan bukan Kebaikan, melainkan thumos (θυμος) belaka—aku membela sahabatku dari musuh hanya karena harga diri atau gengsi. Pertanyaannya sekarang: mengapa kita bisa beraspirasi pada Kebaikan? Sokrates dan Lysis sepakat bahwa bukan karena kejahatan, melainkan karena nafsulah (epithumia) kita dapat menghasrati Kebaikan. Jadi, kejahatan (hal eksternal) sebagai sumber aspirasi terhadap Kebaikan akhirnya ditolak dan digantikan nafsu/hasrat (hal internal). Dan, oleh karena nafsu menghasrati Kebaikan, menurut Sokrates kita pun sesungguhnya seketurunan (oικείον, oikeion) dengan Kebaikan, bahkan lebih seketurunan daripada dengan orangtua sendiri. Hanya dengan beraspirasi pada Kebaikanlah jiwa seseorang menemukan relasi seketurunan dengan obyek persahabatan miliknya yang paling khas (oikeion).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hireka.eric/persahabatan-a-la-platon_54ff5809a33311c44f50f969
Lysis awalnya mengamini argumen Sokrates bahwa yang sama bersahabat dengan yang sama. Namun, yang sama toh tidak bisa menarik kegunaan apa pun dari yang sama—maka, untuk apa saling bersahabat? Kalau begitu, yang saling berlawananlah yang saling bersahabat. Akan tetapi, tidak mungkin kiranya orang baik akan rela bersahabat dengan orang jahat—maka argumen kedua juga ditolak. Jadi, prinsipnya, “Yang sama tidak bisa menjadi sahabat yang sama, dan yang saling berlawanan juga tidak saling menjadi sahabat.” [216b]. Kalau begitu, sebenarnya (si)apakah subjek dan objek persahabatan? Dengan berasumsi bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa bersahabat dengan kejahatan, Sokrates menyimpulkan, “hanya apa yang tidak baik dan tidak jahat yang bisa bersahabat dengan kebaikan dan hanya dengan dia” [216e]. Lebih lanjut, Sokrates mempermudah jalan berpikir kita dengan kiasan tubuh, penyakit, obat/tabib, dan kesehatan. Sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat-obatan/tabib karena (διά, dia) suatu penyakit, “apa yang tidak baik dan tidak jahat menjadi sahabat kebaikan akibat hadirnya kejahatan” (διά το κακόν, dia to kakon) [217b]—dengan catatan bahwa hadirnya kejahatan itu belum telanjur menjadikannya benar-benar jahat. Maka, kejahatan adalah causa efficiens persahabatan. Mengenai causa finalis persahabatan, Sokrates menegaskan bahwa sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat/tabib demi (ένεκα, heneka) kesehatan yang adalah kebaikan, “seseorang menjadi sahabat bagi sahabatnya demi mendapatkan sahabat [lain]” [219b]. Celakanya, jika prinsip ini diteruskan maka persahabatan akan memiliki tingkat-tingkat obyek tanpa akhir. Maka, perlu ada sahabat pertama (προτον φιλον, proton philon) yang menjadi cakrawala dan “dicintai (menjadi objek persahabatan) bukan demi persahabatan dengan sesuatu” [220b]. Proton philon itu tak lain adalah Kebaikan. Nah, inilah persahabatan segitiga à la Platon: selain menjalin hubungan resiprokal (timbal balik) satu sama lain, sepasang sahabat juga memiliki aspirasi yang sama terhadap Kebaikan. Kebaikan menjadi pihak ketiga yang dicintai secara sepihak (nonresiprokal) oleh masing-masing sahabat. Dengan demikian, secara unik Kebaikan memperkokoh suatu persahabatan antardua orang tetapi sekaligus membuat ikatan itu relatif; tidak niscaya kekal. Sejalan dengan prinsip ini, tawuran antargeng adalah contoh sempurna untuk persahabatan yang berlandaskan bukan Kebaikan, melainkan thumos (θυμος) belaka—aku membela sahabatku dari musuh hanya karena harga diri atau gengsi. Pertanyaannya sekarang: mengapa kita bisa beraspirasi pada Kebaikan? Sokrates dan Lysis sepakat bahwa bukan karena kejahatan, melainkan karena nafsulah (epithumia) kita dapat menghasrati Kebaikan. Jadi, kejahatan (hal eksternal) sebagai sumber aspirasi terhadap Kebaikan akhirnya ditolak dan digantikan nafsu/hasrat (hal internal). Dan, oleh karena nafsu menghasrati Kebaikan, menurut Sokrates kita pun sesungguhnya seketurunan (oικείον, oikeion) dengan Kebaikan, bahkan lebih seketurunan daripada dengan orangtua sendiri. Hanya dengan beraspirasi pada Kebaikanlah jiwa seseorang menemukan relasi seketurunan dengan obyek persahabatan miliknya yang paling khas (oikeion).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hireka.eric/persahabatan-a-la-platondalam bukunya Lysis yang diterjemahkan oleh A.Setyo wibowo

Rabu, 06 April 2016

Tangisan Bayi Kucing

Suara bayi kucing itu sudah dua hari terdengar. Terus mengeong tanpa henti dari pagi sampai malam hari. Sepertinya usianya baru dua minggu. Seseorang telah membuangnya dekat rumah kami. Kami menyimpannya dalam sebuah kardus di pos kamling depan rumah. Suaranya begitu memilukan. Seolah memanggil-manggil ibunya dan ingin menyusu. Hati saya semakin terenyuh mendengarnya ketika menyusui anak kami. Mungkin ibu kucing pun kebingungan dan sedih kehilangan anaknya. Ah...siapa sih manusia yang tega memisahkan ibu dan anak meski hanya seekor kucing?

Rasa tidak ingin kehilangan dan berpisah dengan buah hati memang naluri alamiah seorang ibu. Naluri inilah yang melindungi bayi sebagai mahluk lemah tak berdaya. Hal ini memang terjadi pada kebanyakan ibu. Namun tidak pada ibu teman saya. Ia dibuang di pinggir jalan oleh orang tuanya saat seumur bayi kucing di atas. Disimpan begitu saja dalam sebuah kardus, hanya karena memiliki kekurangan berupa telapak kaki yang terbalik sejak lahir. 

Beruntungnya ia karena Allah masih menggerakan hati sepasang suami-istri miskin yang menemukannya untuk mengurusnya. Ia bercerita, kalau saja terlambat beberapa menit saja ditemukan mungkin ratusan semut sudah membunuhnya saat itu. Sejak saat itu sepasang suami-istri itulah yang ia kenal sebagai ayah dan ibunya, sedangkan masa lalu dan siapa orang tua kandungnya sampai saat ini masih gelap. Ia pun memutuskan untuk tidak mencarinya karena baginya peristiwa pembuangan dirinya cukup membuatnya menutup lembaran masa lalu serapat-rapatnya.

Usia teman saya terpaut hanya satu tahun saja. Dia lebih muda dari saya. Tapi perjalanan hidupnya begitu kaya dan menjadikannya perempuan setegar karang. Perempuan yang dengan keterbatasannya bisa terus berbagi, menjaga dan melindungi manusia-manusia lemah dan terbuang. 

Pendidikannya tidak tinggi, bahkan SD saja tidak tamat. Tapi bila ia berbicara disebuah forum apakah resmi atau tidak, semua orang akan tersentak karena retorika yang menyengat. Retorika yang tidak mungkin dimiliki seorang yang hanya lulusan SD saja. Awalnya saya sangsi dengan pengakuan tentang jenjang pendidikan yang dimilikinya. Tapi setelah ia bercerita panjang lebar dan deretan buku yang tersusun rapi di kamarnya saya menjadi percaya bahwa teman saya ini merupakan lulusan dari universitas kehidupan. Pembimbingnya langsung adalah Tuhan.

Banyak hal yang membuat saya kagum darinya. Diantaranya adalah keyakinan bahwa Allah maha pemberi rizki. Dia bukan seorang yang memiliki pekerjaan tetap seperti saya. Tentu saja hampir tidak pernah mendapatkan gaji rutin. Tapi sikapnya yang ringan tangan dan selalu menganggap Allah maha Pemurah menjadikan rizki selalu berdatangan menemuinya. 

Hampir bisa dipastikan dia jarang memegang uang. Namun yang pasti setiap kali ia membutuhkan maka Allah menyediakan untuknya. Sebuah rumah besar di pusat kota saat ini sudah menjadi miliknya. Rumah yang saya taksir mungkin seharga 5M lebih. Istimewanya rumah itu bisa didatangi siapapun yang membutuhkan tempat tinggal. Siapapun boleh makan disana. Dia merangkul semua pihak yang lemah dan terbuang.

Terinspirasi darinya tentu saja. Rasa malu juga ada. Betapa hampir 37 tahun saya cenderung mengutamakan diri saya sendiri. Belum bisa berbuat banyak untuk kemaslahatan manusia. Saya merasa sebagai manusia yang senantiasa diberikan keberuntungan dan kebahagiaan dalam hidup. Namun apa yang sudah saya lakukan dan buktikan kepada sang Pencipta bahwa saya berterimakasih padanya? Mungkin nyaris nol...belum apa-apa. Karenanya saya ingin berusaha memantaskan diri dihadapanNya. Belajar banyak dari teman saya dan sedikit demi sedikit berusaha mewujudkan mimpi saya memiliki pusat perlindungan perempuan dan anak sebagai tempat mengamalkan ilmu dan berbagi kepada sesama. 

Terimakasih Temanku

Catt: tulisan ini saya dedikaskan kepada teman saya aktivis Sekolah Hijau.

Kamu Konsisten Gak?

Menjadi orang yang istiqomah merupakan hal yang didambakan siapapun. Meski sedikit demi sedikit maka lama-lama akan menjadi bukit. Itu kata peribahasa yang cukup populer untuk menyemangati agar seseorang bisa konsisten dalam melakukan berbagai hal. Hal inilah yang masih sulit buat saya dalam menjalani apa pun.

Moody dan angin-anginan selalu saja terjadi. Berbagai buku, pelatihan dan jenjang pendidikan terus ditapaki, namun menjaga konsistensi masih merupakan hal yang belum juga bisa dilakukan. Jangan-jangan konsistensi bagi saya bukan pada hal teknis? Atau bisa juga konsistensi sebenarnya bisa bermakna banyak hal, tidak melulu pada ritual fisik. Bagaimana jika itu ada pada dataran prinsip? Bagaimana jika itu ada dalam dataran mental? Lantas apa juga hubungannya dengan komitmen dan konsekuen?

Menurut KBBI Konsistens berarti: tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; 2 selaras; sesuai: perbuatan hendaknya dengan ucapan. Konsisten dapat berarti sifat yang selalu memegang teguh pada prinsip yang telah di canangkan dalam diri seseorang. Menurut saya sepertinya konsisten lebih pada kondisi mental seseorang dalam menjalankan prinsip hidupnya. 

Konsisten merupakan sebuah kondisi ajeg dimana hal itu terjadi karena seseorang memiliki fondasi yang kuat melakukan sesuatu. Fondasi ini biasanya merupakan hal primordial. Bisa berupa agama dan keyakinan, nasionalisme atau bisa juga kesukuan. Hal ini menjadi alasan kuat kenapa seseorang melakukan sesuatu (strong why). Strong Why ini menjadi daya dorong seseorang dari dalam dirinya memegang prinsip hidup. Menjadi bagian yang tak terlihat namun sangat menentukan hidup seseorang.

Sebuah prinsip saja tentunya tidak cukup. Seseorang harus terikat dengan prinsip yang dia pegang. Hal ini sepertinnya dekat dengan pengertian komitmen. Dimana menurut KBBI komitmen berarti : perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Sedangkan menurut Rizal Panggabean, komitmen merupakan proses atau mekanisme yang lumrah terjadi dalam hidup kita. Selanjutnya komitmen juga merupakan langkah atau tindakan yang kita ambil untuk menopang suatu pilihan tindakan tertentu, sehingga pilihan tindakan itu dapat kita jalankan dengan mantap dan sepenuh hati.

Sebagai contoh seseorang memutuskan untuk menjadi penulis sebagai bentuk penghambaan kepada sang Pencipta. Kemudian ia akan mengambil tindakan seperti (1) rajin berlatih menulis, (2) rajin membaca sebagai bekal bisa menulis, (3) melatih skill menulis dengan mengikuti berbagai pelatihan menulis (4) rajin mengirimkan tulisan di media masa. Tindakan 1,2,3,4 dengan demikian merupakan komitmen.

Sebuah konsistensi tidak mungkin tercapai tanpa sebuah komitmen. Untuk itulah komitmen yang berupa janji terhadap diri sendiri untuk mengerjakan sesuatu harus ditentukan. Agar tidak frustasi memang sebaiknya dengan janji yang mudah dan sederhana dahulu agar bisa dilaksanakan. Saat dilakukan, rasa lega dan bahagia bisa kita peroleh. Kemudian muncul penghormatan kepada diri sendiri dan kepercayaan diri mulai hadir. Setelah itu komitmen bisa ditambah sedikit demi sedikit.

Komitmen bisa dilakukan bila seseorang konsekuen dengan apa yang sudah direncanakannya. Menurut KBBI konsekuen berarti : sesuai dengan apa yang telah dikatakan atau diperbuat; berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah diputuskan. Keputusan sadar yang didorong dengan sebuah alasan kuat (strong why) dan kejelasan bagaimana melakukan sesuatu tersebut (how to) akan mempermudah seseorang konsekuen.

Ketiga kata yang memiliki nafas yang sama yaitu konsisten, komitmen dan konsekuen menurut saya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya merupakan unsur yang padu yang tidak berupa garis linear akan tetapi berupa siklus yang terus bergerak.  Untuk konsisten seseorang butuh komitmen juga konsekuen dalam menjalankannya. Hal inilah barangkali yang disebut dengan sosok manusia yang memiliki integitas. Dimana pikiran, ucapan dan tindakannya senantiasa selaras.

Ah...lagi-lagi mudah bila sekedar diucapkan. Apakah juga mudah untuk dipikirkan dan dilaksanakan? Kalau kita berpikir mudah dan bisa, tentu itulah yang terjadi. Sebaliknya bila berpikir sulit, maka itulah yang terjadi. Bukankah Allah ada dalam sangkaan hambaNya? Karenanya mari kita pikirkan dan rasakan bahwa hal ini mudah. Bukankah rasamu adalah do'amu? Karena hati berbicara lebih keras dari ucapan bahkan tindakan. Yuk ah...kita stel hatinya bahwa dengan pertolonganNya kita merasa bahagia bisa menjalankan berbagai hal yang menjadi komitmen kita dengan penuh konsistensi dan konsekuen menjalankan apa yang sudah direncanakan.

Catt: ini merupakan proses menasihati diri untuk menjadi manusia lebih baik lagi. Lebih baik bukan dibandingkan dengan orang lain. Lebih baik dengan diri sendiri yang telah lalu. Diri yang terus menjadi. Mendekatkan diri pada Ilahi.


Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...