Abaikan Dirimu!

0 Comments
Saya saat ini sedang mengikuti mentoring menulis online dengan Brili Agung. Kenapa dengan dia? karena dia terlebih dahulu menfollow twitter saya dengan account mentor menulis. Terus terang saya jadi penasaran kenapa dia memfollow saya. Berangkat dari rasa penasaran ahirnya saya mencari tahu tentangnya. Tepat sekali rupanya saya memang sedang memerlukan seorang mentor menulis karena sudah banyak tulisan yang saya posting namun banyak gejenya. Ahirnya memutuskan untuk ikut mentoring online dengannya.

Hari ini memasuki hari ke 17 mengikuti mentoring online. Semakin saya bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa saya malah merasa semakin tidak jelas dengan arah tulisan saya. Mau dibawa kemana? Siapa yang akan jadi pembaca. Maukah mereka membaca tulisan panjang dengan bahasa ilmiah yang njlmet? Kenapa terjadi seperti ini?

Ahirnya malam ini saya memutuskan untuk tetap menulis dan mengirimkan PR sesuai dengan ketentuan peserta menulis online. Setelah gugur kewajiban, saya kembali berefleksi. Kenapa malah ketidak jelasan dalam proses menulis buku best seller ini saya rasakan?
https://moslemalfaruq.files.wordpress.com/2014/01/best_wallpaper_nko_26.jpg


Saya ahirnya membuka briliagung.com untuk melihat bentuk tulisannya seperti apa sih? Mencoba mengosongkan gelas diri ini agar bisa melihat petunjuk yang benar. Ya ada beberapa hal yang saya dapatkan dari sana. Pertama dari tulisannya Brili Agung tentang 4 Rumus Pertanyaan yang akan menjadikan tulisan efektif dan mematikan.

Pertanyaan pertama tentang siapa yang akan membaca buku yang saya tulis memang belum jelas. Apakah remaja? Dewasa muda? Ibu-ibu? Aktivis sosial? Akademisi? Atau siapa?. Kedua pertanyaan tentang tujuan menulis. Kalau tujuan sebenarnya saya sudah punya sih, tujuan saya menulis buku best seller ini ialah agar perempuan korban yang masih berjatuhan saat ini bisa dilindungi dan berdaya.

Pertanyaan ketiga tentang aksi pembaca yang diharapkan ialah para pembaca bisa peduli kepada perempuan korban dengan melindungi dan membantu mereka berdaya. Selain juga menjadikan diri mereka berdaya lebih dahulu.

Pertanyaan keempat inilah yang tidak terpikir oleh saya. Kesan apa yang saya inginkan dengan tulisan yang saya buat? Kesan yang tampak dari tulisan saya katanya seperti membenci dan menyalahkan laki-laki. Padahal bukan itu kesan yang saya harapkan. Saya ingin pembaca memiliki kesan pada saya sebagai perempuan yang peduli dengan ketidakadilan.

Selain itu juga mungkin, saya belum bisa mengabaikan diri saya. Teringat sebuah perkataan Platon dalam Arete: Hidup Sukses menurut Platon. Bila ingin sukses dalam hidup atau apapun, seseorang harus mengabaikan diri. Berani mengabaikan diri menurut Platon diterjemahkan oleh A.Setyo Wibowo dengan: 1) mengabaikan kesuksesan-kesuksesan yang pernah dimiliki, 2) selalu terbuka pada hal baru (tidak bersikukuh pada pengetahuan atau anggapan-anggapan atau keyakinan-keyakinan yang dimiliki) 3)berani keluar dari zona nyaman.

Jangankan dalam menulis bahkan dalam ilmu sekeras fisika atau matematika pun orang harus berani  “mempertanyakan rumus-rumus” yang selama ini dianggap benar oleh kebanyakan orang. Bila kita mengikuti penelitan tentang “God’s Particle”, di situ kita berhadapan dengan orang-orang yang dijiwai semangat “mencari tahu” dan siap meruntuhkan teori apa pun yang selama ini mereka pegang sendiri !

Ya terimakasih Brili semoga PR ke depan bisa lebih baik lagi.


You may also like

Tidak ada komentar: