Persahabatan part-1

0 Comments

Gemercik hujan tengah malam ini masih hadir. Setelah tadi sore hujan turun dengan derasnya membasahi Bandung Timur. Suasana malam ini cukup hening membuat saya ingin kembali berlatih menulis. Sebuah tulisan sudah selesai kemudian saya kirimkan pada mentor menulis. Semoga saya bisa mengikuti arahan-arahannya. 

Mata ini rupanya belum mau terpejam. Sehingga saya memutuskan untuk melanjutkan menulis di blog. Sebuah tema belum terpikir sampai paragraf yang saya tulis ini. Biarlah...menulis ya menulis saja dulu. Semoga ditengah perjalanan ada satu tema yang bisa saya tuliskan. 


Manusia manapun di muka bumi ini tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan orang lain. Meski orang tersebut menyangkal bawa ia membutuhkan orang lain, tetap saja kenyataanya dia bisa hadir di muka bumi ini karena jasa manusia yang lain. Bahkan setelah nyawa lepas dari badan pun, ia membutuhkan orang lain mengurusi mayatnya. Jadi mengapa ada orang yang suka mengambil jarak dengan orang lain dan mengabaikannya?

Memang hak seseorang bersikap seperti apa pun pada yang lain. Kita pun memiliki pilihan bebas untuk mensikapi kelakuannya. Hal baik yang terpikir saat ini ialah setiap orang pasti memiliki alasan atas sikap dan tindakan yang dilakukannya. Jadi respon baik atau buruk dari luar tidak akan mempengaruhi kondisi mental kita. Bukti bahwa kita tidak terpengaruh ialah tetap merespon positif apapun yang ditemui.

Kita tidak bisa memaksakan kepada orang lain untuk menyukai kita. Agar bisa akrab atau mungkin bersahabat dengannya. Semuanya terjadi mengalir begitu saja. Biasanya orang yang memiliki banyak persamaan cenderung bisa bersama dan bersahabat. Benarkah persamaan bisa menyatukan seseorang dalam sebuah persahabatan? Apa kegunaan yang bisa ditarik dari yang sama? Kalau begitu yang berlawananlah yang akan bersahabat? Tapi tidak mungkin kiranya yang baik akan rela bersahabat dengan yang jahat. Prinsipnya yang sama tidak bisa menjadi sahabat yang sama, dan yang saling berlawanan juga tidak saling menjadi sahabat.

Kalau begitu, sebenarnya siapakah subjek dan objek persahabatan? Dengan berasumsi bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa bersahabat dengan kejahatan, Sokrates menyimpulkan, “hanya apa yang tidak baik dan tidak jahat yang bisa bersahabat dengan kebaikan dan hanya dengan dia” [216e]. Lebih lanjut, Sokrates mempermudah jalan berpikir kita dengan kiasan tubuh, penyakit, obat/tabib, dan kesehatan. Sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat-obatan/tabib karena (διά, dia) suatu penyakit, “apa yang tidak baik dan tidak jahat menjadi sahabat kebaikan akibat hadirnya kejahatan” (διά το κακόν, dia to kakon) [217b]—dengan catatan bahwa hadirnya kejahatan itu belum telanjur menjadikannya benar-benar jahat. Dialog tentang persahabatan ini bisa kita temukan dalam buku Lysis karangan Platon yang diterjemahkan oleh A.Setyo Wibowo. 

Haduh...ngantuk mulai menyerang, tapi tanggung banget baru saja tema tentang persahabatan ala Platon muncul. To be contiued aja deh...besok semoga bisa dilanjutkan



Lysis awalnya mengamini argumen Sokrates bahwa yang sama bersahabat dengan yang sama. Namun, yang sama toh tidak bisa menarik kegunaan apa pun dari yang sama—maka, untuk apa saling bersahabat? Kalau begitu, yang saling berlawananlah yang saling bersahabat. Akan tetapi, tidak mungkin kiranya orang baik akan rela bersahabat dengan orang jahat—maka argumen kedua juga ditolak. Jadi, prinsipnya, “Yang sama tidak bisa menjadi sahabat yang sama, dan yang saling berlawanan juga tidak saling menjadi sahabat.” [216b]. Kalau begitu, sebenarnya (si)apakah subjek dan objek persahabatan? Dengan berasumsi bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa bersahabat dengan kejahatan, Sokrates menyimpulkan, “hanya apa yang tidak baik dan tidak jahat yang bisa bersahabat dengan kebaikan dan hanya dengan dia” [216e]. Lebih lanjut, Sokrates mempermudah jalan berpikir kita dengan kiasan tubuh, penyakit, obat/tabib, dan kesehatan. Sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat-obatan/tabib karena (διά, dia) suatu penyakit, “apa yang tidak baik dan tidak jahat menjadi sahabat kebaikan akibat hadirnya kejahatan” (διά το κακόν, dia to kakon) [217b]—dengan catatan bahwa hadirnya kejahatan itu belum telanjur menjadikannya benar-benar jahat. Maka, kejahatan adalah causa efficiens persahabatan. Mengenai causa finalis persahabatan, Sokrates menegaskan bahwa sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat/tabib demi (ένεκα, heneka) kesehatan yang adalah kebaikan, “seseorang menjadi sahabat bagi sahabatnya demi mendapatkan sahabat [lain]” [219b]. Celakanya, jika prinsip ini diteruskan maka persahabatan akan memiliki tingkat-tingkat obyek tanpa akhir. Maka, perlu ada sahabat pertama (προτον φιλον, proton philon) yang menjadi cakrawala dan “dicintai (menjadi objek persahabatan) bukan demi persahabatan dengan sesuatu” [220b]. Proton philon itu tak lain adalah Kebaikan. Nah, inilah persahabatan segitiga à la Platon: selain menjalin hubungan resiprokal (timbal balik) satu sama lain, sepasang sahabat juga memiliki aspirasi yang sama terhadap Kebaikan. Kebaikan menjadi pihak ketiga yang dicintai secara sepihak (nonresiprokal) oleh masing-masing sahabat. Dengan demikian, secara unik Kebaikan memperkokoh suatu persahabatan antardua orang tetapi sekaligus membuat ikatan itu relatif; tidak niscaya kekal. Sejalan dengan prinsip ini, tawuran antargeng adalah contoh sempurna untuk persahabatan yang berlandaskan bukan Kebaikan, melainkan thumos (θυμος) belaka—aku membela sahabatku dari musuh hanya karena harga diri atau gengsi. Pertanyaannya sekarang: mengapa kita bisa beraspirasi pada Kebaikan? Sokrates dan Lysis sepakat bahwa bukan karena kejahatan, melainkan karena nafsulah (epithumia) kita dapat menghasrati Kebaikan. Jadi, kejahatan (hal eksternal) sebagai sumber aspirasi terhadap Kebaikan akhirnya ditolak dan digantikan nafsu/hasrat (hal internal). Dan, oleh karena nafsu menghasrati Kebaikan, menurut Sokrates kita pun sesungguhnya seketurunan (oικείον, oikeion) dengan Kebaikan, bahkan lebih seketurunan daripada dengan orangtua sendiri. Hanya dengan beraspirasi pada Kebaikanlah jiwa seseorang menemukan relasi seketurunan dengan obyek persahabatan miliknya yang paling khas (oikeion).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hireka.eric/persahabatan-a-la-platon_54ff5809a33311c44f50f969

Lysis awalnya mengamini argumen Sokrates bahwa yang sama bersahabat dengan yang sama. Namun, yang sama toh tidak bisa menarik kegunaan apa pun dari yang sama—maka, untuk apa saling bersahabat? Kalau begitu, yang saling berlawananlah yang saling bersahabat. Akan tetapi, tidak mungkin kiranya orang baik akan rela bersahabat dengan orang jahat—maka argumen kedua juga ditolak. Jadi, prinsipnya, “Yang sama tidak bisa menjadi sahabat yang sama, dan yang saling berlawanan juga tidak saling menjadi sahabat.” [216b]. Kalau begitu, sebenarnya (si)apakah subjek dan objek persahabatan? Dengan berasumsi bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa bersahabat dengan kejahatan, Sokrates menyimpulkan, “hanya apa yang tidak baik dan tidak jahat yang bisa bersahabat dengan kebaikan dan hanya dengan dia” [216e]. Lebih lanjut, Sokrates mempermudah jalan berpikir kita dengan kiasan tubuh, penyakit, obat/tabib, dan kesehatan. Sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat-obatan/tabib karena (διά, dia) suatu penyakit, “apa yang tidak baik dan tidak jahat menjadi sahabat kebaikan akibat hadirnya kejahatan” (διά το κακόν, dia to kakon) [217b]—dengan catatan bahwa hadirnya kejahatan itu belum telanjur menjadikannya benar-benar jahat. Maka, kejahatan adalah causa efficiens persahabatan. Mengenai causa finalis persahabatan, Sokrates menegaskan bahwa sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat/tabib demi (ένεκα, heneka) kesehatan yang adalah kebaikan, “seseorang menjadi sahabat bagi sahabatnya demi mendapatkan sahabat [lain]” [219b]. Celakanya, jika prinsip ini diteruskan maka persahabatan akan memiliki tingkat-tingkat obyek tanpa akhir. Maka, perlu ada sahabat pertama (προτον φιλον, proton philon) yang menjadi cakrawala dan “dicintai (menjadi objek persahabatan) bukan demi persahabatan dengan sesuatu” [220b]. Proton philon itu tak lain adalah Kebaikan. Nah, inilah persahabatan segitiga à la Platon: selain menjalin hubungan resiprokal (timbal balik) satu sama lain, sepasang sahabat juga memiliki aspirasi yang sama terhadap Kebaikan. Kebaikan menjadi pihak ketiga yang dicintai secara sepihak (nonresiprokal) oleh masing-masing sahabat. Dengan demikian, secara unik Kebaikan memperkokoh suatu persahabatan antardua orang tetapi sekaligus membuat ikatan itu relatif; tidak niscaya kekal. Sejalan dengan prinsip ini, tawuran antargeng adalah contoh sempurna untuk persahabatan yang berlandaskan bukan Kebaikan, melainkan thumos (θυμος) belaka—aku membela sahabatku dari musuh hanya karena harga diri atau gengsi. Pertanyaannya sekarang: mengapa kita bisa beraspirasi pada Kebaikan? Sokrates dan Lysis sepakat bahwa bukan karena kejahatan, melainkan karena nafsulah (epithumia) kita dapat menghasrati Kebaikan. Jadi, kejahatan (hal eksternal) sebagai sumber aspirasi terhadap Kebaikan akhirnya ditolak dan digantikan nafsu/hasrat (hal internal). Dan, oleh karena nafsu menghasrati Kebaikan, menurut Sokrates kita pun sesungguhnya seketurunan (oικείον, oikeion) dengan Kebaikan, bahkan lebih seketurunan daripada dengan orangtua sendiri. Hanya dengan beraspirasi pada Kebaikanlah jiwa seseorang menemukan relasi seketurunan dengan obyek persahabatan miliknya yang paling khas (oikeion).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hireka.eric/persahabatan-a-la-platon_54ff5809a33311c44f50f969
Lysis awalnya mengamini argumen Sokrates bahwa yang sama bersahabat dengan yang sama. Namun, yang sama toh tidak bisa menarik kegunaan apa pun dari yang sama—maka, untuk apa saling bersahabat? Kalau begitu, yang saling berlawananlah yang saling bersahabat. Akan tetapi, tidak mungkin kiranya orang baik akan rela bersahabat dengan orang jahat—maka argumen kedua juga ditolak. Jadi, prinsipnya, “Yang sama tidak bisa menjadi sahabat yang sama, dan yang saling berlawanan juga tidak saling menjadi sahabat.” [216b]. Kalau begitu, sebenarnya (si)apakah subjek dan objek persahabatan? Dengan berasumsi bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa bersahabat dengan kejahatan, Sokrates menyimpulkan, “hanya apa yang tidak baik dan tidak jahat yang bisa bersahabat dengan kebaikan dan hanya dengan dia” [216e]. Lebih lanjut, Sokrates mempermudah jalan berpikir kita dengan kiasan tubuh, penyakit, obat/tabib, dan kesehatan. Sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat-obatan/tabib karena (διά, dia) suatu penyakit, “apa yang tidak baik dan tidak jahat menjadi sahabat kebaikan akibat hadirnya kejahatan” (διά το κακόν, dia to kakon) [217b]—dengan catatan bahwa hadirnya kejahatan itu belum telanjur menjadikannya benar-benar jahat. Maka, kejahatan adalah causa efficiens persahabatan. Mengenai causa finalis persahabatan, Sokrates menegaskan bahwa sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat/tabib demi (ένεκα, heneka) kesehatan yang adalah kebaikan, “seseorang menjadi sahabat bagi sahabatnya demi mendapatkan sahabat [lain]” [219b]. Celakanya, jika prinsip ini diteruskan maka persahabatan akan memiliki tingkat-tingkat obyek tanpa akhir. Maka, perlu ada sahabat pertama (προτον φιλον, proton philon) yang menjadi cakrawala dan “dicintai (menjadi objek persahabatan) bukan demi persahabatan dengan sesuatu” [220b]. Proton philon itu tak lain adalah Kebaikan. Nah, inilah persahabatan segitiga à la Platon: selain menjalin hubungan resiprokal (timbal balik) satu sama lain, sepasang sahabat juga memiliki aspirasi yang sama terhadap Kebaikan. Kebaikan menjadi pihak ketiga yang dicintai secara sepihak (nonresiprokal) oleh masing-masing sahabat. Dengan demikian, secara unik Kebaikan memperkokoh suatu persahabatan antardua orang tetapi sekaligus membuat ikatan itu relatif; tidak niscaya kekal. Sejalan dengan prinsip ini, tawuran antargeng adalah contoh sempurna untuk persahabatan yang berlandaskan bukan Kebaikan, melainkan thumos (θυμος) belaka—aku membela sahabatku dari musuh hanya karena harga diri atau gengsi. Pertanyaannya sekarang: mengapa kita bisa beraspirasi pada Kebaikan? Sokrates dan Lysis sepakat bahwa bukan karena kejahatan, melainkan karena nafsulah (epithumia) kita dapat menghasrati Kebaikan. Jadi, kejahatan (hal eksternal) sebagai sumber aspirasi terhadap Kebaikan akhirnya ditolak dan digantikan nafsu/hasrat (hal internal). Dan, oleh karena nafsu menghasrati Kebaikan, menurut Sokrates kita pun sesungguhnya seketurunan (oικείον, oikeion) dengan Kebaikan, bahkan lebih seketurunan daripada dengan orangtua sendiri. Hanya dengan beraspirasi pada Kebaikanlah jiwa seseorang menemukan relasi seketurunan dengan obyek persahabatan miliknya yang paling khas (oikeion).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hireka.eric/persahabatan-a-la-platon_54ff5809a33311c44f50f969
Lysis awalnya mengamini argumen Sokrates bahwa yang sama bersahabat dengan yang sama. Namun, yang sama toh tidak bisa menarik kegunaan apa pun dari yang sama—maka, untuk apa saling bersahabat? Kalau begitu, yang saling berlawananlah yang saling bersahabat. Akan tetapi, tidak mungkin kiranya orang baik akan rela bersahabat dengan orang jahat—maka argumen kedua juga ditolak. Jadi, prinsipnya, “Yang sama tidak bisa menjadi sahabat yang sama, dan yang saling berlawanan juga tidak saling menjadi sahabat.” [216b]. Kalau begitu, sebenarnya (si)apakah subjek dan objek persahabatan? Dengan berasumsi bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa bersahabat dengan kejahatan, Sokrates menyimpulkan, “hanya apa yang tidak baik dan tidak jahat yang bisa bersahabat dengan kebaikan dan hanya dengan dia” [216e]. Lebih lanjut, Sokrates mempermudah jalan berpikir kita dengan kiasan tubuh, penyakit, obat/tabib, dan kesehatan. Sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat-obatan/tabib karena (διά, dia) suatu penyakit, “apa yang tidak baik dan tidak jahat menjadi sahabat kebaikan akibat hadirnya kejahatan” (διά το κακόν, dia to kakon) [217b]—dengan catatan bahwa hadirnya kejahatan itu belum telanjur menjadikannya benar-benar jahat. Maka, kejahatan adalah causa efficiens persahabatan. Mengenai causa finalis persahabatan, Sokrates menegaskan bahwa sebagaimana tubuh bersahabat dengan obat/tabib demi (ένεκα, heneka) kesehatan yang adalah kebaikan, “seseorang menjadi sahabat bagi sahabatnya demi mendapatkan sahabat [lain]” [219b]. Celakanya, jika prinsip ini diteruskan maka persahabatan akan memiliki tingkat-tingkat obyek tanpa akhir. Maka, perlu ada sahabat pertama (προτον φιλον, proton philon) yang menjadi cakrawala dan “dicintai (menjadi objek persahabatan) bukan demi persahabatan dengan sesuatu” [220b]. Proton philon itu tak lain adalah Kebaikan. Nah, inilah persahabatan segitiga à la Platon: selain menjalin hubungan resiprokal (timbal balik) satu sama lain, sepasang sahabat juga memiliki aspirasi yang sama terhadap Kebaikan. Kebaikan menjadi pihak ketiga yang dicintai secara sepihak (nonresiprokal) oleh masing-masing sahabat. Dengan demikian, secara unik Kebaikan memperkokoh suatu persahabatan antardua orang tetapi sekaligus membuat ikatan itu relatif; tidak niscaya kekal. Sejalan dengan prinsip ini, tawuran antargeng adalah contoh sempurna untuk persahabatan yang berlandaskan bukan Kebaikan, melainkan thumos (θυμος) belaka—aku membela sahabatku dari musuh hanya karena harga diri atau gengsi. Pertanyaannya sekarang: mengapa kita bisa beraspirasi pada Kebaikan? Sokrates dan Lysis sepakat bahwa bukan karena kejahatan, melainkan karena nafsulah (epithumia) kita dapat menghasrati Kebaikan. Jadi, kejahatan (hal eksternal) sebagai sumber aspirasi terhadap Kebaikan akhirnya ditolak dan digantikan nafsu/hasrat (hal internal). Dan, oleh karena nafsu menghasrati Kebaikan, menurut Sokrates kita pun sesungguhnya seketurunan (oικείον, oikeion) dengan Kebaikan, bahkan lebih seketurunan daripada dengan orangtua sendiri. Hanya dengan beraspirasi pada Kebaikanlah jiwa seseorang menemukan relasi seketurunan dengan obyek persahabatan miliknya yang paling khas (oikeion).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hireka.eric/persahabatan-a-la-platondalam bukunya Lysis yang diterjemahkan oleh A.Setyo wibowo


You may also like

Tidak ada komentar: