Minggu, 31 Juli 2016

Kenapa berpakaian lebar menjuntai berbahaya?


Pernah mendengar ada kecelakaan karena pakaian masuk ke jari-jari motor? Sepertinya kejadian ini ada di sekitar kita. Saya sendiri pernah mengalaminya sampai dua kali meski tidak sampai kecelakaan. Kenapa berpakaian lebar menjuntai berbahaya saat naik motor?

Pakaian lebar menjuntai saat ini tengah menjadi trend di kalangan perempuan Indonesia. Modelnya bermacam macam. Mulai dari rok lebar, gamis lebar sampai kerudung lebar besar yang hampir menutupi seluruh tubuh. Istilah yang sering dipakai untuk busana lebar menjuntai ini ialah “jilbab syar’i”.

Gaya busana “jilbab syar’i” ini menjadi salah satu pilihan di antara berbagai pilihan berbusana bagi muslimah. Bukan berarti gaya yang lain tidak syar’i, namun istilah ini dipakai untuk jenis pakaian lebar menjuntai. Istilah “jilbab syar’i” juga mendongkrak penjualan pakaian lebar menjuntai. Apalagi dengan penambahan label dan sertifikasi halal membuat pakaian lebar menjuntai menjadi pilihan banyak muslimah di Indonesia.

Sebenarnya tidak bermasalah muslimah menggunakan pakaian lebar menjuntai ini. Namun bila dihubungkan dengan naik motor, tentu ada hal lain yang perlu diperhatikan. Saat naik motor, apakah dengan menjadi pengemudi atau yang dibonceng keduanya memiliki resiko yang sama. Resikonya ialah apabila terjadi sesuatu, maka tubuh kita langsung berhadapan dengan hal tersebut. Tidak ada penghalang yang lain. Berbeda halnya bila kita naik kendaraan lain seperti mobil.

Pakaian lebar menjuntai dengan kerudung yang juga lebar dan besar bisa menutupi lampu sen belakang. Lampu sen ini sangat penting untuk memberitahu pengemudi lain di belakang kita akan belok ke kanan atau ke kiri motor yang kita pakai. Bila terjadi kesalah pahaman, kecelakaan bisa saja terjadi. 

http://www.datdut.com/wp-content/uploads/2016/05/jilbaber-motor.jpg


Salah satu syarat berkendaraan motor aman ialah membuat pengendara lain melihat kita. Hal ini bisa dilakukan dengan memakai helm dan jaket yang berwarna cerah. Ini bertujuan agar pengendara yang lain mengetahui keberadaan kita. Menggunakan jaket gelap atau hitam saja tidak disarankan, apalagi pakaian lebar menjuntai yang menutupi lampu sen yang bisa mengakibatkan kecelakaan.

Hal lain yang sering terjadi pada pengendara motor perempuan dengan pakaian lebar menjuntai, ialah masuknya pakaian ke dalam jari-jari motor. Resiko yang paling kecil ialah pakaian lebar menjuntai yang kita miliki menjadi bolong-bolong dan sobek. Sayang sekali kalau baju yang masih bagus sudah tidak bisa dipakai lagi. Apalagi bila itu pakaian baru yang kita sukai, tentu bisa membuat kita kecewa.

Resiko lain bila pakaian lebar menjuntai kita masuk ke dalam jari jari ialah terjatuh dari motor. Hal ini terjadi pada salah satu ibu tetangga kami di Bantarwaru Majalengka yang terjatuh bersama suaminya dari motor ketika silaturrahim lebaran. Akibat jatuh ini, selain baju barunya sudah tidak bisa dipakai lagi karena harus digunting agar bisa lepas dari jari-jari motor, ia juga mengalami koma. Tulang belakangnya terkena cedera yang sangat hebat akibat terjatuh, belum bisa dipastikan apa yang akan terjadi bila ibu tersebut sadar. Resiko cedera tulang belakang ini bisa menimbulkan nyeri yang hebat, susah mengontrol buang air besar dan kecil sampai bisa mengakibatkan kelumpuhan. Lebih jauh lagi tentu resiko kematian.

Menggunakan pakaian merupakan pilihan setiap orang termasuk muslimah. Jangan hanya karena trend yang ada, kita begitu saja menerima dan memakainya dalam berbagai situasi dan kondisi. Apalagi merasa diri lebih baik dari muslimah lain karena label dan sertifikasi “syar’i” pada pakaian yang dikenakan. Karena bisa jadi pilihan tersebut berbahaya pada kondisi tertentu seperti yang sudah kita bicarakan di atas.

Beragamnya gaya muslimah berpakaian terkait dengan pemaknaan kata “jilbab” dalam al-Qur’an. Prof.Dr.Ashgar Ali Engineer, pemikir muslim dari India menyatakan bahwa alasan memaknai jilbab itu terkait penafsiran al-Qur’an surat an-Nur ayat 31 yaitu pada penggalan ayat wa laa yubdiina ziinatahunna illa ma zhahara minha (dan hendaklah mereka tidak menampakan perhiasan mereka kecuali apa-apa yang biasa nampak daripadanya. Apa yang dimaksud dengan “perhiasan” atau “apa-apa yang biasa nampak dari padanya?. Penafsiran dua hal ini sangat beragam dan menjadi alasan muslimah menggunakan pakaiannya. Atau barangkali teks al-Qur’an tidak selalu jadi alasan seseorang menentukan pendapat maupun sikap hanya ikut-ikutan trend saja?

Bila kita memaknai teks keagamaan yang menjadi dasarnya adalah wahyu, sesungguhnya interpretasinya merupakan sesuatu yang nisbi karena relativitas pendapat kita. Syariat bukanlah ruang yang hampa penafsiran. Oleh karenanya penerapannya sangat terkait dengan konteks ruang dan waktu, sehingga sangat mungkin ditafsirkan secara berbeda. Termasuk memaknai jilbab ke dalam berpakaian pun menjadi beragam. Ad diinu waahid, wasy-syariiatu mukhtalifah (agama itu satu dan syariatnya bisa beragam). Namun muaranya tetap sama yaitu kemaslahatan umat dan terealisasinya nilai-nilai agama yaitu kesetaraan maupun penghargaan atas hak-hak manusia. Perbedaanlah yang sesungguhnya memperkaya kehidupan kemanusiaan. Tak heran, nabi Muhammad, saw bersabda: “Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat. (HR. Baihaqi dalam Risalah Asy’ariyah). Jadi pakaian panjang menjuntai harus dihindari saat berkendara motor karena masih banyak gaya berpakaian syar’i lain yang aman.

Rabu, 27 Juli 2016

Selalu Antara Engkau dan Tuhan

Orang kerap kali tak bernalar, tak logis dan egois
Biar begitu, maafkanlah mereka

Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif egois
Biar begitu, tetaplah bersikap baik

Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu
Biar begitu, tetaplah bersikap baik

Bila engkau sukses, engkau akan mendapati teman-teman palsu dan teman-teman sejati
Biar begitu, tetaplah meraih sukses

Apa yang engkau bangun bertahun tahun, mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam
Biar begitu, tetaplah meraih sukses

Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri dan dengki
Biar begitu, tetaplah lakukan kebaikan

Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup
Biar begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik

Ketahuilah, pada ahirnya
Sesungguhnya ini semua adalah antara engkau dan Tuhan
Tidak pernah antara engkau dan mereka.



Puisi yang dibuat bunda Theresa di atas sangat dalam. Saat pertamakali membacanya, saya tertegun betapa saya selalu disibukan dengan orang lain karena mereka tidak merespon sama dengan apa yang saya lakukan. Pernahkan Anda mengalami apa yang saya alami? Atau bahkan kebaikan yang kita lakukan disalahpahami bahkan diresponi dengan hal negatif?

Istilah lo jual gue beli  masih menjadi hal yang dominan dalam masyarakat kita. Kita bersikap dan bertindak sesuai respon orang lain. Bila orang lain baik maka kita akan bersikap baik. Demikian sebaliknya, bila orang lain bersikap tidak baik kita pun merespon dengan hal yang sama.

Bila merenungkan puisi di atas betapa dangkalnya pola pikir yang masih kita miliki. Betapa kekanakannya sikap hidup yang selama ini dijalani. Pantas saja bila saat ini penyakit-penyakit sosial di masyarakat semakin akut. Rupanya Tuhan/Allah sebagai sesuatu yang harus diutamakan dan dicintai sudah ditinggalkan dan diganti. Padahal inilah inti dari ajaran Islam.

Inti ajaran Islam terdapat dalam kalimat Tauhid, Laa ilaha Illallah tidak ada Ilah selain Allah. Laa yang berarti tidak, adalah penafian yang berlaku selama-lamanya. Apa yang ditiadakan /dinafikan? Adalah hal-hal selain Allah yang menjadikan seseorang lalai dalam mengingat-Nya. Setelah semuanya hilang hanya satu yang harus ditetapkan Illallah. Hanya Allah satu-satunya alasan. Hanya Allah satu-satunya tujuan. Hanya Allah satu-satunya yang diutamakan.

Allah berasal dari bahada Arab yaitu Ilah. Ilah secara bahasa adalah sesuatu yang dicintai, sesuatu yang diutamakan, sesuatu yang dipuja, sesuatu yang ditaati dan ini bisa berarti apa saja. Ia bisa berarti harta benda, jabatan, lawan jenis, anak, ilmu, kekuasaan, penilaian orang dan lain-lain selain Allah. Bila Ilah sudah diawali dengan alif lam ma’rifat menjadi Allah, maka akan bermakna khusus dan ini hanya ditujuan untuk Allah Rabbul ‘Alamin. Pencipta semua makhluk dan seluruh alam. Allah yang inilah yang harus dicintai, diutamakan, dipuja dan ditaati selainnya harus dinafikan. Apapun yang ada di dunia ini hanyalah sarana untuk mendekatkan seseorang kepada Allah, bukan tujuan. Mereka semua tidak ada apa-apanya dibandingkan denganNya.

Mengapa sang  Pencipta ingin dikenal dengan sebutan Allah? Karena rasa cintanya kepada seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi dan di antara keduanya. Seluruh makhluk yang penah ada Ia cintai tanpa syarat. Siapa pun dia, darimana asalnya, seperti apun kondisinya. Ia memberikan cintanya berupa rahman (kasih sayang) kepada siapa pun yang dia kehendaki. Pada saat seorang manusia mendekati-Nya sejengkal, maka Ia akan mendekatinya sehasta. Jika seorang manusia mendekati-Nya sehasta, maka Ia akan mendekatinya sedepa. Pada saat seorang manusa mendekati-Nya dengan berjalan, maka Ia akan mendekatinya dengan berlari. Betapa besar rasa cintanya kepada tiap manusia. Kenapa pula banyak manusia yang berpaling dari cintaNya?

Pada saat seseorang mencintai sesuatu, maka ia akan menjadi budaknya. Sesuatu tersebut adalah tujuannya. Hati seseorang yang mencintai akan mengharapkan balasan seperti apa yang telah dirasakannya. Padahal belum tentu sesuatu tersebut sesuai dengan harapan. Bila tak sesuai dengan harapan maka seseorang akan mengalami rasa sakit yang dalam. Itulah akibat dari menomorsatukan hal lain selain Allah.

Puisi Bunda Theresa menarik kita kembali memeriksa Tauhid dalam diri. Sudahkan kita menjadikanNya sebagai satu-satunya alasan hidup di dunia ini? Sudahkah Ia kita jadikan sebagai satu satunya tujuan dalam hidup ini? Sudahkan sikap dan tindakan kita terbebas dari apapun respon orang lain? Bila belum, mari sama-sama kita perbaiki. Semoga titik awal berangkat ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit dalam diri juga dalam kehidupan masyarakat yang kita tempati.

Minggu, 24 Juli 2016

Waktu Mengular atau Mengulat?


Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukan dalam kebaikan, pasti akan tersibukan dalam hal yang sia-sia. (Al-Jawaabul Kaafi Ibnu Qayyim)

Petikan nasihat di atas berasal dari hadis Nabi Muhammad saw.  Dimana menurut Ibnu Qayyim, Imam Syafii pernah mendapatkan nasihat hadis tersebut dari orang Sufi. Nasihat yang tak lekang dimakan usia. Nasihat yang akan selalu berguna bagi siapa saja yang merenungkan hidupnya. Kenapa waktu diibaratkan pedang ya?

Pedang merupakan alat yang bisa digunakan untuk hal yang bermanfaat maupun hal jahat. Pedang bisa sangat berguna bagi seseorang untuk berbagai kebutuhan dalam hidup. Menebas semak-semak saat menerobos hutan. Mempertahankan diri dari serangan binatang berbahaya, bahkan bisa menjadi senjata untuk melindungi diri dari usaha melenyapkan nyawa kita. 

Hal jahat pun bisa dilakukan dengan sebatang pedang. Untuk menyakiti binatang demi kesenangan pribadi misalnya. Merusak sarana publik karena sakit hati tidak dilibatkan dalam sebuah program. Atau bahkan bisa digunakan untuk membunuh manusia yang lain.

Sebagai sebuah alat, pedang memiliki kesamaan dengan waktu. Waktu pun bisa digunakan untuk hal yang bermanfaat maupun hal jahat. Waktu bagi seorang ibu yang sedang memanggang kue di oven sangat penting. Bila kurang atau lebih menggunakan sesuai aturannya, maka kue yang dihasilkan tidak akan maksimal. Waktu juga sangat berharga bagi seorang pedagang. Kehilangan beberapa menit saja saat janji dengan klien bisa berujung kerugian. Apalagi waktu bagi seorang penjinak bom. Ia merupakan hal yang sangat  bernilai. Setiap detik bernilai nyawa. Tidak maksimal dalam menggunakannya, maka habislah dia dan orang-orang disekitarnya.  

Selain dari kegunaannya, waktu merupakan hal yang tidak bisa diulang. Bila ia sudah berjalan, maka tidak akan ada yang bisa menghentikannya kecuali oleh Allah yang Maha Kuasa. Detik ini berbeda dari detik sebelumnya, juga detik yang akan datang. Baru kemarin menjadi anak, kemudian remaja, lalu beranjak dewasa muda, perlahan menua dan ahirnya dihentikan oleh kematian.

Bisa jadi ada dari kita berkata “Baru saja kemarin kita puasa Ramadhan, terus Iedul Fitri sekarang sudah bulan Syawal lagi. Bahkan Syawal sudah juga berjalan lebih setengahnya dan akan meninggalkan kita. Waktu berjalan sangat cepat namun apa yang kita dapat?”

Sejatinya bila waktu kita gunakan dengan baik di Ramadhan dan Iedul Fitri kemarin,  maka benarlah Syawal kita. Syawal bermakna menaik/meningkat. Bila hari ini biasa-biasa saja bahkan mengalami penurunan spiritual dan ritual dari sebelumnya, jangan jangan puasa kita seperti puasanya ular. 

Bagaimana puasanya ular? Ular berpuasa sekitar 2 sampai 3 minggu tergantung besar kecilnya mangsa yang ia makan. Sebelum puasa ular melata, setelah puasa tetap melata. Sebelum puasa lidah ular bercabang dua, setelah puasa tetap bercabang dua. Meski selama puasa ular akan berganti kulitnya karena suhu tubuhnya meningkat, namun kulit dan coraknya tetap seperti semula. Tidak ada yang berubah akibat dari puasanya ular.

Berbeda halnya dengan puasanya ulat. Ulat berpuasa sekitar 15-20 hari. Sebelum berpuasa ia berjalan menggunakan perutnya, setelah berpuasa ia terbang dengan sayapnya. Sebelum puasa bentuknya menyeramkan, setelah puasa bentuknya indah memesona. Sebelum puasa ia rakus memakan daun-daun disekitarnya, setelah berpuasa ia bermanfaat bagi sesama dengan membantu penyerbukan bunga. 

Mereka yang menggunakan waktunya dengan baik pada puasa Ramadhan kemarin, akan seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan bermanfaat. Syawal yang hari ini ditemui betul-betul menjadi Syawal sebenarnya. Menaiknya spiritual dan ritual pada sang pencipta.  

Perkataan seorang Sufi Hasan Al-Basri kiranya bisa menjadi renungan untuk kita dalam menggunakan waktu. “Di antara tanda Allah berpaling dari seorang hamba, Allah menjadikannya sibuk dalam hal yang sia-sia sebagai tanda Allah menelantarkannya”. Bila waktu kita pergunakan untuk hal yang sia-sia, maka Allah akan berpaling dari kita. Maka, Bila ingin merasakan tatapan dan senyumanNya hari ini di dunia dan kelak di ahirat nanti, berbuatlah kebaikan dimanapun dan kapanpun juga. Mari Mengulat! Wallahu ‘alam.

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...