Selasa, 30 Mei 2017

Yuk Bersihkan Septik Tank Emosi Kita

Adakah manusia di dunia ini yang tidak menghasilkan sampah?  Manusia dari bayi sampai manusia yang udzur pasti menghasilkan sampah setiap harinya. Bayi baru lahir menghasilkan sampah minimal dari proses pencernaa tubuhnya. Apalagi kalau gaya hidup orang tuanya yang instan dengan memakaikan diapers atau memberikan susu formula, tentu sampah yang dihasilkannya lebih banyak lagi.  Semua manusia menghasilkan sampah.

Sampah yang dibicarakan di atas adalah sampah material yang nampak. Bagaimana dengan sampah emosi yang tak kasat mata? Sebagai mahluk individu dan sosial yang memiliki perasaan, manusia kerap mengalami dan menghadapi berbagai kejadian yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Ini bisa dikatakan masalah karena ada kesenjangan antara yang diharapkan dan yang terjadi. Masalah ini memunculkan  emosi negatif. Emosi negatif ini terus menumpuk bertahun tahun tanpa disadari  menjadi sumber penyakit dan bau seperti sampah. 

Sampah emosi yang menumpuk bertahun tahun ini semakin betah dengan banyaknya informasi negatif yang kita konsumsi. Informasi kriminal, informasi tentang kejelekan orang lain, informasi tentang bobroknya institusi tempat kita bekerja, serta berbagai informasi negatif lain yang hari ini sangat mudah kita temukan. Bagaimana sebenarnya dampak dari sampah emosi yang menumpuk dan tidak dibersihkan ini?

Sebuah cerita ilustatif mungkin akan mempermudah kita menyadari bahayanya menumpuk sampah emosi. Cerita ini bermula dari seorang guru yang menugaskan murid-muridnya untuk membawa satu kantong plastik besar dan mengisinya dengan tomat. Tomat-tomat tersebut mewakili setiap orang yang pernah menyakiti hati mereka. Setiap tomat dinamai dengan nama orang yang menyakiti dan semua dimasukan ke dalam kantong.

Beberapa murid memasukan banyak tomat, sebagian membawa sedikit. Para murid harus membawa kantong yang berisi tomat tersebut kemanapun mereka pergi. Menemani saat pulang, bermain, belajar, dibawa lagi ke sekolah, diletakan disamping bantal mereka tidur, pokoknya, kantong tomat itu tidak boleh jauh dari mereka.

Makin hari, makin banyak murid yang mengernyitkan hidung karena tomat-tomat tersebut mengeluarkan aroma busuk. “Apakah kalian telah memaafkan nama-nama yang kalian tulis pada tomat tersebut? Tanya sang guru.

Para murid kebanyakan sepakat untuk belum memaafkan nama-nama yang telah menyakiti mereka. “Jika demikian, kalian tetap harus membawa tomat itu kemanapun kalian pergi”.

Hari demi hari berlalu. Bau busuk yang dikeluarkan tomat-tomat itu semaki menjadi. Banyak dari mereka menjadi mual, pusing dan tidak nafsu makan karenanya. Ahirnya mereka membuang tomat-tomat tersebut ke tempat sampah. Dengan asumsi mereka juga memaafkan nama-nama yang mereka tulis di atas kulit tomat.

“Nah, muridku, sakit hati yang kalian tanam sama seperti tomat-tomat itu. Semakin kalian banyak sakit hati dan tidak memafkan maka semakin berat kalian melangkah. Semakin hari sakit hati dan tidak memaafkan itu akan membusuk dan meracuni pikiran kalian”, ujar sang guru.

Karena itu sekalipun kalian menyimpan sakit hati pada orang lain karena perilaku mereka, maafkanlah mereka dan lupakan yang pernah mereka lakukan. Sakit hati itu sama seperti tomat-tomat busuk, kalian bisa membuangnya ke tempat sampah.

Sampah emosi yang menumpuk karena sakit hati ini berakibat langsung pada kesehatan kita secara fisik. Gangguan kesehatan ini sering disebut dengan psikosomatis. Penyakit fisik yang diakibatkan oleh pikiran negatif atau masalah emosi seperti stress, kecewa, depresi, rasa berdosa dan emosi negatif lainnya.

Ketika kita stress maka hormon noradrenalin diproduksi otak kita. Ketika kita takut, adrenalin yang akan muncul. Hormon merupakan zat penyampai pesan pada tingkat sel. Artinya zat-zat ini yang menyampaikan perintah dari otak kepada tiap-tiap sel. Misalnya, pesan “marah” yang disampaikan tubuh akan bereaksi melalui ketegangan dan aktifitas. Kedua zat ini berguna untuk mempertahankan hidup namun disisi lain sangat beracun. Jika seseorang terus menerus naik darah dan didera stres hebat, dia dapat jatuh sakit karena keracunan noradrenalin, cepat tua dan meninggal dini. (Shigeo Haruyama, The Miracle of Endorphin, 31: 2014)

Kematian merupakah hal yang niscaya bagi setiap manusia. Tidak ada yang meragukan hal itu. Saat ini kita masih diberikan kesempatan hidup.  Alangkah ruginya bila dalam menjalani hidup tumpukan sampah emosi mengganggu kita. Menurut Faiz Zainuddin, ada 5 sumber penderitaan hidup yang menjadi sampah emosi sehingga seseorang menjadi tidak bahagia.

1    Menyesali masa lalu.
2    Tidak menerima kondisi saat ini.
3    Khawatir terhadap masa depan.
4    Terlalu mendengarkan omongan orang lain.
5    Tidak mau memaafkan.

Kira-kira dari 5 hal ini kita masih memiliki berapa? Kalau masih ada semoga dengan hadirnya bulan Ramadhan kita bisa membersihkan sampah-sampah emosi sampai ke dasarnya. Cara membersihkannya seperti kita akan membersihkan septik tank. Tau kan septik tank? Ya...kita harus membuka penutupnya sebelum membersihkannya. Pasti bau menyengat keluar. Kita harus tetap menghadapinya. Mengakui bahwa tumpukan sampah emosi itu ada dan ridha dengan perasaan apapun yang muncul, kemudian memasrahkan agar Allah kiranya membantu kita membersihkan sampah emosi tersebut. Prosedur ini dalam terapi SEFT disebut Personal Peace Prosedur (3P). Proses bagaimana 3P tidak akan saya share pada tulisan kali ini karena selain panjang, juga prosedur ini harus dipraktikan. Mumpung bulan Ramadhan...bersih bersih sampah emosi yuuk!

Sumber Bacaan:
Ahmad Faiz Zainuddi, SEFT for Healing+Succes+Happiness+Greatness, Jakarta: Afzan Publishing, 2011)

Shigeo Haruyama, The Miracle of Endorphin, (Bandung: Mizan, 2014)

Minggu, 28 Mei 2017

Ayah! Jangan dulu nikahkan anak perempuan kita.

Perempuan muda berusia 17 tahun di hadapan saya memiliki sorot mata yang tajam dan indah. Sebagai perempuan tatar Sunda, NN mewarisi kulit bersih seperti kebanyakan nenek moyangnya. Dari gaya bicaranya, saya membayangkan dia sebagai seorang murid smu yang cerdas. Namun sayang, kehadiran seorang anak kecil berusia dua tahun melunturkan bayangan saya. Anak kecil tersebut adalah anaknya.

Fenomena di atas hari ini masih bisa kita jumpai diberbagai pelosok negri ini. Pernikahan usia anak di Indonesia menempati urutan kedua tertinggi se-Asia Tenggara. Hal ini merupakan hasil penelitian Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia tahun 2015. Ada sekitar 2 juta dari 7,3 perempuan Indonesia di bawah umur 15 tahun sudah menikah dan putus sekolah. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 3 juta orang di tahun 2030. (Kompas (Jakarta,  20 Juni 2015)

Sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki penduduk terbanyak mencapai 46,71 juta jiwa (BPS Jabar 2015), Jawa Barat juga memiliki jumlah pernikahan anak perempuan yang tinggi. Hasil Penelitian Ikatan Sosiologi Indonesia menunjukan bahwa perkawinan usia anak di Jawa Barat menempati peringkat tertinggi yaitu dari 1000 penduduk usia 15-19 tahun terdapat 126 orang yang sudah melahirkan dan kawin muda. Hal ini menunjukan ada 12,6% remaja di Jawa Barat Menikah di usia 15-19 tahun. (Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) Jawa Barat 2015)

Angka pernikahan anak yang tinggi di Jawa Barat diantaranya terdapat di kabupaten Garut. Humas Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Garut, Ahmad Sanusi, mengatakan, Angka perceraian di wilayah Kabupaten Garut selama 2015 meningkat sekitar 2,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Total se-Kabupaten Garut, angka perceraian tahun ini mencapai 2.966 kasus. Itu baru jumlah yang masuk daftar di PA, belum termasuk yang tidak terdaftar. Menurut Ahmad, tingginya kasus perceraian di Garut disebabkan banyaknya pernikahan usia anak, karena sebagian besar pasangan yang mengajukan perceraian berada di bawah usia 20 tahun.( http://www.mimbar-rakyat.com/detail/angka-perceraian-2015-di-garut-meningkat/)

Bila ditelusuri, tentu terdapat beragam alasan kenapa pernikahan anak ini masih berlangsung dan tetap dipraktikkan oleh masyarakat. Diantaranya karena  pertama: alasan ekonomi; karena dengan menikahnya anak perempuan otomatis beban keluarga pindah dari pundak orang tua ke pundak suami. Dalam pandangan masyarakat status anak merupakan ‘tanggung jawab orang tua’, sementara status istri merupakan ‘tanggung jawab suami’. Kedua: anak perempuan adalah aset yang dapat menyelamatkan orang tua dari himpitan ekonomi maupun jeratan hutang. Kisah Sitti Nurbaya maupun kejadian yang menimpa Lutviana Ulfa yang dinikahi Syeikh Puji saat berusia 12 tahun setidaknya menunjukan motivasi ini. Setidaknya, keberadaan anak perempuan tersebut tak lagi menjadi bebannya. Demikian, tak jarang kasus ‘trafficking’ (penjualan orang) melibatkan orang tua baik secara langsung maupun tak langsung. Alasan ketiga: menghindarkan anak dari pergaulan bebas (free sex). Keempat: mengikuti sunnah Rasul, entah motivasi yang dilakukan oleh pelaku pernikahan anak ini benar atau tidak, namun seringkali mereka menggunakan rujukan pernikahan nabi dengan Aisyah yang ketika dinikahi berusia 6 tahun dan hidup bersama Nabi ketika berusia 9 tahun. Ini sering dijadikan sandaran untuk melakukan pernikahan dini. Alasan terahir yaitu kelima: orang tua memiliki “hak” paksa untuk menjodohkan ataupun mengawinkan anaknya. Dalam Islam, dikenal istilah Wali Mujbir. (Swara Rahima No.38 Th.XII Mei 2012)

Orang tua merasa hawatir dengan pola pergaulan anakknya yang masih remaja, cenderung segera menikahkan anaknya bila diketahui si anak tersebut memiliki pacar atau teman dekat. Alasan inilah yang dikemukakan orang tua NN saat memutuskan menikahkan anaknya saat menginjak kelas 3 smp. Saat saya tanya apakah NN sudah berpacaran saat itu? Orang tuanya menjawab belum, hanya hampir setiap malam minggu banyak pemuda bedatangan berkunjung ke rumah mereka dan ini begitu mengawatirkannya.

Kekhawatir anaknya berbuat zina ataupun mengalami KTD (Kehamilan Tidak Direncanakan) atau juga karena hamil sebelum menikah yang seringkali diistilahkan dengan MBA (married by accident) orang tua NN sebenarnya cukup meragukan bagi saya. NN bercerita selama ia sekolah di SMP ia tidak memiliki teman dekat laki-laki. Ia cukup dekat dengan wali kelasnya seorang guru perempuan yang ia kagumi. Ia beberapakali meraih juara pidato bahasa Inggris juga cerdas cermat tingkat kecamatan.

Dari penuturannya tanpa didampingi orang tuanya, dia bercerita bahwa alasan sebenarnya mungkin lebih kepada faktor ekonomi. Ayahnya yang hanya seorang petani penggarap begitu menghawatirkan masa depan mereka. Maka saat ada seorang sarjana di kampungnya yang tertarik padanya, ayahnya langsung berinisiatif menikahkan mereka. Wali kelasnya sebenarnya sudah berusaha menyadarkan ayah NN apakah dengan berkunjung ke rumah maupun mengundang orang tua ke sekolah. Namun ayahnya perpegang teguh dengan pendapatnya karena bapak adalah wali mujbir berhak menikahkan anaknya.

Mandat orang tua yang sebenarnya lebih bermakna untuk berinisiatif menjodohkan anaknya dengan seseorang, berubah menjadi ‘otoritas’ yang mewajibkan si anak menikah dengan seseorang yang merupakan pilihan orang tuanya. Di sini praktik ijbar, berkembang menjadi ikrah. Sebuah bentuk pemaksaan kehendak yang sebenarnya di tentang oleh Islam.

Pemahaman terhadap ajaran agama seperti inilah menjadi salah satu pemicu praktik menikahkan paksa anak perempuan, seakan-akan sah menurut pandangan agama. Sebagaimana dalam pemahaman masyarakat Islam, seorang ayah atau kakek memiliki hak istimewa untuk memaksa anak atau cucu perempuannya untuk menikah. Hak ini ada dalam konsep ijbar dalam fikih perkawinan Islam. Hak Ijbar  ini sering kali dianggap sebagai dasar atas pembenaran praktik kawin paksa. Sehingga tidak heran jika praktik kawin paksa terus berlangsung dengan mengatasnamakan agama.

Pernikahan yang dilakukan secara paksa dalam usia muda ternyata berdampak pada keberlangsungan relasi suami istri dalam rumah tangga. Pernikahan seperti ini disinyalir menjadi salah satu penyebab tingginya angka perceraian. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni (2004) dan Neny Umi Halimah (2000) menunjukan adanya keterkaitan yang erat antara perceraian dengan kawin paksa. Keterkaitan ini ikut menyumbang berbagai implikasi yang merugikan perempuan, seperti kekerasan dalam rumah tangga, kesehatan reproduksi dan pelanggaran hak-hak perempuan lainnya yang seharusnya dilindungi oleh keluarga terdekat.

Angka Kematian Ibu (AKI) karena pernikahan usia muda juga cukup tinggi. Hal ini terjadi karena secara kesehatan reproduksi, sang ibu dengan usia anak belum siap untuk melahirkan. Data UNFA 2004 di bawah ini memperlihatkan hal tersebut. AKI pada ibu usia 15-19 tahun di Indonesia mencapai 1100/100.000 kelahiran. Angka yang sangat mengerikan.


Beberapa data empiris di atas setidaknya menjadi bukti implikasi konkrit kawin paksa bagi kehidupan anak perempuan. Kawin paksa yang terjadi pada anak perempuan ini masih terus berlangsung dan terjadi di tengah masyarakat Indonesia yang sangat kuat didominasi sistim patriarkhi. Hal inilah yang membuat masa depan NN juga anak perempuan lain yang dinikahkan secara paksa menjadi buram dan membahayakan.

Fenomena NN hanya satu dari dua juta anak perempuan Indonesia yang dinikahkan di bawah usia 15 tahun dan putus sekolah. Saat diajak berefleksi dengan membayangkan jika waktu bisa diputar ulang dan boleh memilih, apa yang akan dilakukannya?  Ia menjawab bahwa ia ingin bisa terus bersekolah menuntut ilmu setinggi yang diinginkan. “Jangan ada lagi anak perempuan seperti saya teh, kalo terjadi sama anak saya, saya akan bilang...Ayah jangan nikahkan dulu anak perempuan kita”.  






Tontonlah Filem India sekarang, sebelum menjadi sangat bagus

“Tontonlah Filem India sekarang, sebelum menjadi sangat bagus”. Bagi yang tidak tahu dan sangat jarang menonton filem India, mungkin perkataan ini sangat mengherankan. Apanya yang bagus dari filem India? Bukannya di dalam filemnya banyak yang lebay? Lagi serius joget, lagi tegang joget, apalagi lagi sedih atau sedang jatuh cinta. Pokoknya sangat tidak logis deh, selain juga durasi waktu filem yang sangat panjang dan kadang berputar-putar.



Perkataan di atas adalah perkataan pak Budhi Muanawar Rachman saat kegiatan Workshop Living Values Education – Nonton Filem India dan Diskusi buku dan Belajar Toleransi dari Filem India. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Mahfud Ikhwan penulis buku “Aku dan Filem India Melawan Dunia. Sebelum dilakukan diskusi buku, tiga filem India diputar sejak tanggal 23 Mei- 24 Mei 2017 pukul 12.30. Filem India yang ditonton ialah PK, Gandi dan Oh My God. Setelah itu diskusi buku dimulai pukul 13.30 WIB sampai 15.30 WIB.

Diskusi filem yang diselelenggarakan di Aula Fakultas UshuluddinUIN Sunan Gunung Djati Bandung ini merupakan kerja sama jurusan Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Gunung Djati, S2 Religious Studies, PUSAM dan The Asia Fondation. Sekitar 150 orang memenuhi ruangan mayoritas dari mereka adalah mahasiwa fakultas Ushuluddin. Ada beberapa unsur dosen, peserta umum dan trainer LVE Jakarta yang sengaja menghadirinya.

Budhi Munawar Rachman menuturkan bahwa dia baru saja 3 bulan bertaubat dan mau menonton filem India setelah membaca bukunya Mahfud Ikhwan. Ternyata banyak hal positif yang bisa diambil pelajaran dari filem India. Perlu waktu 35 tahun baginya untuk hal ini. Sejak SMP sahabatnya merupakan penggemar filem India dan baru saat ini memahami kenapa sahabatnya menggemari filem India.

Sebelum Budhi Munawar Rachman, Mahfudz Ikhwan membahas buku tentang filem India yang ditulisnya. Menurutnya dalam filem India dia menemukan keIndonesiaan. Filem India banyak mengangkat realitas masyarakat apa adanya. Berbeda dengan filem atau sinetron Indonesia yang kebanyakan seperti dongeng dan tidak berpijak pada realitas masyarakat sebenarnya. Selain itu dalam filem India banyak hal bisa didialogkan dan berani. Mendialogkan agama dengan kekuasaan, agama dengan politik, agama dengan ekonomi dan banyak hal lainnya yang ini jarang ada dalam filem Indonesia.

Filem India yaitu “Mother India” sejak tahun 1958 sudah meraih Penghargaan Film Terbaik Filmfare dan dinominasikan dalam kategori Film Berbahasa Asing Terbaik pada Penghargaan Oscar ke-31. Sutradara filem ini Mehboob Khan seorang muslim. Muslim dalam filem india banyak menempati peran yang sangat penting, apakah sebagai penulis filem, sutradara maupun pemain.  

Produksi filem India sangat produktif, tidak kurang dalam satu tahun sekitar 1600 filem dihasilkan. Tidak usah dibandingkan dengan Indonesia yang hanya bisa memproduksi puluhan filem saja dalam satu tahun. Hollywood pusat filem dunia saja hanya mampu menghasilkan sekitar 600 filem dalam setahun. Produktifitas ini berpengaruh terhadap munculnya filem-filem berkualitas dan dari sini banyak nilai positif dalam kehidupan bisa kita temukan.

Akar realitas masyarakat India banyak memiliki kesamaan dengan Indonesia tutur Mahfudz Ikhwan. Akar kebinekaan merupakan fondasi yang sejak lama dimiliki oleh kedua negara. Dalam filem India, aktor muslim biasanya akan berperan sebagai non muslim. Sedangkan untuk tokoh-tokoh muslim dalam filem India, biasanya diperankan oleh non muslim. Toleransi yang menghargai perbedaan sudah sejak lama ada di India. Kerja sama lintas agama sudah menjadi hal biasa di sini.

Selain menunjukan bagaimana nilai toleransi begitu kental dalam filem India, khususnya dari filem Ashoka, Akbar dan  Gandi, Budhi Munawar Rachman juga memperihatkan bagaimana multikultural hadir di tengah masyarakat India. Bagaimana cara berpakaian, warna pakaian, ritual keagamaan dan keseharian masyarakat India begitu beragam. Unity true Diversity, kesatuan lewat keberagaman.

Hal yang juga dipaparkan ialah bagaimana sikap muslim di India dan penganut lainnya yang tidak toleran, sehingga kekerasan atas nama agama itu juga ada. Hal ini bisa dilihat dari filem PK yang kontroversial. Realitas kekerasan ini memang ada di masyarakat India juga di Indonesia. Filem yang berlatar belakang realitas kekerasan seperti trafficking, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap perempuan bahkan filem tentang menggugat Tuhan berani disajikan sineas India bukan hanya filem tentang percintaan dan kebahagiaan.

Mahfud Ikhwan sebagai penggemar filem India berani mempertanggung jawabkan kegemarannya lewat buku. Dua jilid buku tentang filem India berhasil ia tuliskan. Buku ini bersumber dari blog pribadinya “Dushman Dunya Ka; Aku dan Filem India Melawan Dunia. Lebih dari 50 tulisan yang ada mengalir, renyah, asik namun kritis dan dalam. Bukan tulisan sembarangan, sehingga seorang Budhi Munawar Rachman saja bisa bertobat setelah membaca buku ini.  

Belajar lewat filem memang mengasyikan. Kita tidak merasa digurui, bahkan bisa larut dalam alur cerita yang dimainkan. Filem merupakan perca dari kehidupan sebenarnya. Untuk menjadikannya utuh maka diperlukan filem-filem lain untuk menyusunnya. Seperti filem Gandi yang memiliki banyak versi. Menonton versi yang berbeda akan semakin mendekatkan kita pada sosok Gandi. Tulisan juga berperan melengkapinya seperti autobiografi dan catatan sejarah tentangnya.

Stigma filem India di Indonesia seperti filem porno. Banyak yang menyukainya namun malu mengakuinya. Nah agar tidak seperti itu, maka selektiflah memilih filem India yang akan ditonton. Banyak filem India yang berkualitas dihasilkan, juga banyak nilai yang bisa kita pelajari. Untuk itu saya sepakat dengan perkataan Budhi Munawar Rachman di awal tulisan ini. Selamat menonton Filem India!

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...