Yuk Bersihkan Septik Tank Emosi Kita

0 Comments
Adakah manusia di dunia ini yang tidak menghasilkan sampah?  Manusia dari bayi sampai manusia yang udzur pasti menghasilkan sampah setiap harinya. Bayi baru lahir menghasilkan sampah minimal dari proses pencernaa tubuhnya. Apalagi kalau gaya hidup orang tuanya yang instan dengan memakaikan diapers atau memberikan susu formula, tentu sampah yang dihasilkannya lebih banyak lagi.  Semua manusia menghasilkan sampah.

Sampah yang dibicarakan di atas adalah sampah material yang nampak. Bagaimana dengan sampah emosi yang tak kasat mata? Sebagai mahluk individu dan sosial yang memiliki perasaan, manusia kerap mengalami dan menghadapi berbagai kejadian yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Ini bisa dikatakan masalah karena ada kesenjangan antara yang diharapkan dan yang terjadi. Masalah ini memunculkan  emosi negatif. Emosi negatif ini terus menumpuk bertahun tahun tanpa disadari  menjadi sumber penyakit dan bau seperti sampah. 

Sampah emosi yang menumpuk bertahun tahun ini semakin betah dengan banyaknya informasi negatif yang kita konsumsi. Informasi kriminal, informasi tentang kejelekan orang lain, informasi tentang bobroknya institusi tempat kita bekerja, serta berbagai informasi negatif lain yang hari ini sangat mudah kita temukan. Bagaimana sebenarnya dampak dari sampah emosi yang menumpuk dan tidak dibersihkan ini?

Sebuah cerita ilustatif mungkin akan mempermudah kita menyadari bahayanya menumpuk sampah emosi. Cerita ini bermula dari seorang guru yang menugaskan murid-muridnya untuk membawa satu kantong plastik besar dan mengisinya dengan tomat. Tomat-tomat tersebut mewakili setiap orang yang pernah menyakiti hati mereka. Setiap tomat dinamai dengan nama orang yang menyakiti dan semua dimasukan ke dalam kantong.

Beberapa murid memasukan banyak tomat, sebagian membawa sedikit. Para murid harus membawa kantong yang berisi tomat tersebut kemanapun mereka pergi. Menemani saat pulang, bermain, belajar, dibawa lagi ke sekolah, diletakan disamping bantal mereka tidur, pokoknya, kantong tomat itu tidak boleh jauh dari mereka.

Makin hari, makin banyak murid yang mengernyitkan hidung karena tomat-tomat tersebut mengeluarkan aroma busuk. “Apakah kalian telah memaafkan nama-nama yang kalian tulis pada tomat tersebut? Tanya sang guru.

Para murid kebanyakan sepakat untuk belum memaafkan nama-nama yang telah menyakiti mereka. “Jika demikian, kalian tetap harus membawa tomat itu kemanapun kalian pergi”.

Hari demi hari berlalu. Bau busuk yang dikeluarkan tomat-tomat itu semaki menjadi. Banyak dari mereka menjadi mual, pusing dan tidak nafsu makan karenanya. Ahirnya mereka membuang tomat-tomat tersebut ke tempat sampah. Dengan asumsi mereka juga memaafkan nama-nama yang mereka tulis di atas kulit tomat.

“Nah, muridku, sakit hati yang kalian tanam sama seperti tomat-tomat itu. Semakin kalian banyak sakit hati dan tidak memafkan maka semakin berat kalian melangkah. Semakin hari sakit hati dan tidak memaafkan itu akan membusuk dan meracuni pikiran kalian”, ujar sang guru.

Karena itu sekalipun kalian menyimpan sakit hati pada orang lain karena perilaku mereka, maafkanlah mereka dan lupakan yang pernah mereka lakukan. Sakit hati itu sama seperti tomat-tomat busuk, kalian bisa membuangnya ke tempat sampah.

Sampah emosi yang menumpuk karena sakit hati ini berakibat langsung pada kesehatan kita secara fisik. Gangguan kesehatan ini sering disebut dengan psikosomatis. Penyakit fisik yang diakibatkan oleh pikiran negatif atau masalah emosi seperti stress, kecewa, depresi, rasa berdosa dan emosi negatif lainnya.

Ketika kita stress maka hormon noradrenalin diproduksi otak kita. Ketika kita takut, adrenalin yang akan muncul. Hormon merupakan zat penyampai pesan pada tingkat sel. Artinya zat-zat ini yang menyampaikan perintah dari otak kepada tiap-tiap sel. Misalnya, pesan “marah” yang disampaikan tubuh akan bereaksi melalui ketegangan dan aktifitas. Kedua zat ini berguna untuk mempertahankan hidup namun disisi lain sangat beracun. Jika seseorang terus menerus naik darah dan didera stres hebat, dia dapat jatuh sakit karena keracunan noradrenalin, cepat tua dan meninggal dini. (Shigeo Haruyama, The Miracle of Endorphin, 31: 2014)

Kematian merupakah hal yang niscaya bagi setiap manusia. Tidak ada yang meragukan hal itu. Saat ini kita masih diberikan kesempatan hidup.  Alangkah ruginya bila dalam menjalani hidup tumpukan sampah emosi mengganggu kita. Menurut Faiz Zainuddin, ada 5 sumber penderitaan hidup yang menjadi sampah emosi sehingga seseorang menjadi tidak bahagia.

1    Menyesali masa lalu.
2    Tidak menerima kondisi saat ini.
3    Khawatir terhadap masa depan.
4    Terlalu mendengarkan omongan orang lain.
5    Tidak mau memaafkan.

Kira-kira dari 5 hal ini kita masih memiliki berapa? Kalau masih ada semoga dengan hadirnya bulan Ramadhan kita bisa membersihkan sampah-sampah emosi sampai ke dasarnya. Cara membersihkannya seperti kita akan membersihkan septik tank. Tau kan septik tank? Ya...kita harus membuka penutupnya sebelum membersihkannya. Pasti bau menyengat keluar. Kita harus tetap menghadapinya. Mengakui bahwa tumpukan sampah emosi itu ada dan ridha dengan perasaan apapun yang muncul, kemudian memasrahkan agar Allah kiranya membantu kita membersihkan sampah emosi tersebut. Prosedur ini dalam terapi SEFT disebut Personal Peace Prosedur (3P). Proses bagaimana 3P tidak akan saya share pada tulisan kali ini karena selain panjang, juga prosedur ini harus dipraktikan. Mumpung bulan Ramadhan...bersih bersih sampah emosi yuuk!

Sumber Bacaan:
Ahmad Faiz Zainuddi, SEFT for Healing+Succes+Happiness+Greatness, Jakarta: Afzan Publishing, 2011)

Shigeo Haruyama, The Miracle of Endorphin, (Bandung: Mizan, 2014)


You may also like

Tidak ada komentar: