Sabtu, 28 Juli 2018

Mari Bercinta!




Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa. Dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia (Khalil Gibran)

Bagimana pendapat Anda dengan ungkapan puitis Khalil Gibran tentang cinta di atas? Setujukah? Atau Anda merasa ungkapan di atas terlalu mengada-ada? Bukankah juga ada peribahasa jawa “Witing tresno jalaran soko kulino” yang bermakna cinta hadir karena terbiasa.

Bila kita perhatikan, keduanya memiliki sisi yang positif. Cinta merupakan anak/hasil dari kecocokan jiwa. Kecocokan jiwa mungkin saja tumbuh di awal pertemuan dan semakin menguat dalam perjalanannya, atau bisa saja awalnya belum hadir namun seiring waktu ia tumbuh. Terbiasa bertemu, terbiasa bersama-sama, kalaupun belum tumbuh maka ia akan tumbuh sedikit demi sedikit pada ahirnya terdapat kecocokan jiwa.

Cinta adalah sumber energy dalam kehidupan. Ia mampu membawa pemiliknya pada puncak kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Lalai dalam merawat dan menjaganya dapat menimbulkan malapetaka. Malapetaka terhadap keluarga, masyarakat maupun lingkungan hidup yang kita tempati.

Mencintai Pasangan
Cinta merupakan pekerjaan hati atau perasaan yang perlu terus dipupuk dan dipelihara agar tetap hadir. Cinta yang dibiarkan tak terawat ibarat tanaman yang kering, gersang, lama-lama akan mati. Merawat cinta harus merupakan keinginan dari dua belah pihak suami dan istri. Bila hanya sebelah pihak saja tentu seperti bertepuk sebelah  tangan lama-lama akan capek sendiri dan mungkin terhenti sampai disitu.

Suami dan istri dalam al-quran diibaratkan pakaian satu sama lain. Mereka (istri) itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka) (QS. al-Baqarah(2): 187) Pakaian fungsi utamanya adalah menutupi aurat, menjadikan tubuh terlihat indah dan pelindung dari segala hal yang bisa merusak tubuh. Demikian pula halnya peran suami dan istri dalam kehidupan. Kekurangan suami dilengkapi oleh kelebihan istri dan kekurangan istri dilengkapi oleh kelebihan suami. Pernikahan menjadikan hidup manusia menjadi indah dan lengkap, melindungi manusia dari perbuatan yang merugikan dirinya sendiri.

Suami/istri dalam al-quran memakai kata jauz yang berarti pasangan.  Pasangan merupakan kata yang menggambarkan 2 hal yang bila disatukan menjadi satu dalam sebuah fungsi. Kedua hal tersebut tidaklah sama, sebagai contoh sepatu. Ada sepatu kanan dan kiri. Sepatu kanan berbeda dengan sepatu kiri. Agar seseorang bisa berjalan dengan baik maka antara sepatu kanan dan kiri mesti dipakai bergantian. Bila kanan ke depan berarti kiri harus ke belakang demikian sebaliknya secara bergantian. Kalau sepatu kanan terus yang ada di depan, bisa dipastikan langkahnya tidak akan harmonis bahkan mungkin akan terjatuh. Karenanya bisa diibaratkan bahwa suami dan istri adalah mitra sejajar yang bersinergis satu sama lain untuk menuju satu tujuan.   

Untuk merawat cinta tentu kita perlu mengekspresikannya. Bila kita melihat perjalanan Ibrahim a.s. dalam mencintai Allah kita akan melihat betapa ekspresi cinta dalam bentuk pengorbanan masih dibutuhkan untuk menunjukan cinta kepada Allah, padahal  kurang apa Ibrahim dalam beribadah kepada-Nya, sehingga ia dijuluki sebagai Kekasih Allah (Khalilullah). Apalagi kita sebagai manusia biasa  tentu mengekspresikan cinta adalah hal yang sangat penting.

Bentuk ekspresi cinta diantaranya adalah: pertama  cinta itu harus benar-benar ada di dalam hati, sebab kalau kita tidak merasakannya berarti kita berbohong. Kedua, cinta itu muncul dalam bentuk perhatian dan tindakan aktif pada pasangan. Ketiga  cinta juga perlu dihidupkan dalam bentuk suasana, yaitu romantisme. Ekspresi cinta dalam bentuk lisan, tulisan, sikap atau dalam bentuk apapun akan mempunyai peneguhan yang akan melahirkan efek kenyamanan psikologis pada pasangan. Ekspresi cinta bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja asal sesuai dengan batasan syariat dan norma yang berlaku.

Mencintai Anak
Selain kepada pasangan, tentu kita juga memiliki perasaan cinta kepada anak-anak. Baik anak-anak yang kita lahirkan, maupun anak-anak ada di lingkungan kita yang bisa kita cintai kapan pun.  Cinta yang tumbuh merupakan cinta tanpa pamrih.  Cinta ini membuat perjalanan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan, menyusui sampai mengasuh dan mendidiknya bukanlah hal yang susah dan memberatkan tapi merupakan hal yang menyenangkan.  Seorang anak sebenarnya tidak berhutang apapun kepada ibunya. Apa yang dilakukan ibunya untuknya, sesungguhnya akan kembali kepada diri ibu itu sendiri. Karena sebenarnya mengandung, melahirkan, menyusui, merupakan potensi seorang ibu. Potensi ini bisa diambil atau tidak itu tergantung ibu tersebut. Kalau pun potensi tersebut tidak dipilih, seorang perempuan bisa menjadi ibu dari anak-anak lain yang memang membutuhkan kasih sayang. Anak korban kekerasan yang tidak memiliki keluarga, anak-anak jalanan yang terlantar maupun anak-anak yang menderita lainnya.

Kalau misalkan seorang anak diberikan pertanyaan apakah sebenarnya ia mau dilahirkan dari seorang ibu A atau seorang ibu B? belum tentu ia menjawab ya. Mungkin sebenarnya kalau bisa memilih ia ingin terlahir dari ibu C. Siapa tahu? Seorang anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke muka bumi ini. Ia hadir karena orang tuanya dan ketentuan Allah.

Ekspresi cinta kasih yang diberikan kepada seorang anak bukan dilihat dari hal yang bisa diukur dengan panca indra saja, tetapi lebih dari itu, pemenuhan kebutuhan psikis, intelektual dan spiritual juga harus senantiasa dihadirkan. Seorang ibu adalah sekolah pertama buat anaknya. Biasanya manusia yang paling dekat bagi seorang anak di awal kehidupannya adalah seorang ibu. Karenanya seorang perempuan sejatinya harus mempersiapkan diri untuk mengemban fungsi ini.

Mencintai Lingkungan
Mencintai lingkungan yang ditempati adalah hal yang mutlak dan perlu. Tanpa cinta yang ditumbuhkan kepada lingkungan yang ditempati, maka yang hadir adalah sikap semena-mena dan merusak. Padahal hal inilah yang merugikan manusia itu sendiri. Lingkungan memiliki pengertian yang luas. Ia tidak saja bermakna alam yang ditempati, melainkan juga hewan, tumbuh-tumbuhan, masyarakat, norma atau aturan hidup dan segala hal yang berpengaruh pada kehidupan manusia.

Deklarasi Rio Jeneiro Brasil tahun 1992 tentang lingkungan dan pembangunan sendiri dalam prinsip ke-20 menyatakan bahwa “Perempuan berperan sangat penting dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pembangunan. Karenanya, partisipasi mereka secara utuh guna perwujudan pembangunan berkesinambungan sangat penting.” Peran perempuan yang vital dalam pengelolaan lingkungan hidup ini sangat berkaitan erat dengan  pemberdayaan perempuan.

Pengoptimalan peran perempuan dalam mencintai lingkungan merupakan suatu hal yang mutlak dikarenakan beberapa faktor. Pertama jumlah perempuan hampir sama banyak dari laki-laki. Data BPS 2017 tentang jumlah penduduk Indonesia ialah 261,9 juta jiwa.  Jumlah penduduk perempuan sebanyak 130.3 juta orang atau 49,66 persen. Sedangkan penduduk laki-laki mencapai 50,34 persen setara dengan 131,6 jiwa. Karenanya, sangat penting jika perempuan dilibatkan dalam sesuatu yang berkaitan dengan dirinya dan lingkungannya. Kedua, secara psikologis pada umumnya jiwa perempuan lebih peka dan sensitive ketimbang laki-laki baik terhadap sesuatu yang baru maupun terhadap berbagai perubahan.

Jika perubahan adalah sebuah usaha untuk menjadi lebih baik, maka perempuan mesti tampil di barisan terdepan dalam setiap usaha pembaharuan. Sementara itu sensitifitas dan kepekaan yang dimiliki perempuan merupakan modal penting dalam menumbuhkan kepedulian dan kebersamaan.  Ini berarti akan menjadi modal penting dalam upaya menumbuhkan kesadaran melestarikan lingkungan.

Ketiga jiwa keibuan sangat identik dengan kemampuan dan kerelaan mendidik dan pendidikan adalah kunci utama dalam perubahan sikap. Karena itu perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam kaitannya dengan keinginan merubah pola pikir dan perilaku masyarakat ke arah yang positif salah satunya tentang pelestarian lingkungan.

Keempat, kesabaran dan keprihatinan perempuan pada umumnya lebih tinggi   dari laki-laki. Perlu disadari, jalan menuju perubahan sangat rentan dengan berbagai tantangan dan hambatan. Semua hal itu membutuhkan kesabaran dan kebersahajaan dalam menghadapinya. Berarti perempuan dinilai memiliki potensi yang lebih besar dalam pengendali program pelestarian lingkungan di masyarakat.

Kelima, secara sosiologis dapat dipahami bahwa ibu atau perempuan adalah orang yang paling mengerti kondisi dan kebutuhan keluarganya. Dalam skala yang lebih luas berarti yang paling mengerti akan kondisi dan kebutuhan masyarakatnya. Lebih jauh, mereka pula lah yang paling sensitive terhadap berbagai hal yang menimpa masyarakatnya. Jika hal ini dapat diterima, maka tentu saja mereka pulalah yang paling bertanggungjawab terhadap masyarakatnya.

Bila bagian terkecil dari masyarakat yaitu keluarga penuh dengan cinta, suami-istri serta anak-anak memiliki kecocokan jiwa, maka lingkungan yang ditinggalipun akan bahagia. Perubahan-perubahan sosial   apapun bisa dihadapi dengan waspada. Termasuk perubahan iklim yang tidak terduga. Semua hal dijadikan tantangan untuk menumbuhkan dan membuktikan cinta. Mari bercinta!


Note: Tulisan Ini Recycle dari Tulisan Penulis berjudul Februari Merah Jambu Bagi Seorang Perempuan di Kompasiana tahun 2010.  

Rabu, 25 Juli 2018

Mau Mengubah Kemalangan Menjadi Keberuntungan?


Pada suatu hari Nabi Isa as melakukan perjalanan bersama para sahabatnya (hawariyyin). Di tengah perjalanan mereka melihat bangkai anjing yang telah mati berhari hari. Seorang sahabat berkata, “betapa baunya bangkai anjing ini. Sahabat yang lain ada yang mengatakan, “betapa rusaknya bangkai anjing ini. Ada pula yang berkata “lihat betapa menjijikannya rupa bangkai ini”. Hampir semua sahabat yang ada mencela bangkai anjing tersebut. Namun, Nabi Isa as berkata, “betapa putih dan rapi giginya”. (Habib Noval dalam bukunya Secangkir Kopi Hikmah).

Kisah ini menurut saya luar biasa. Bangkai merupakan tubuh hewan yang mati membusuk. Biasanya berbau menyengat dan dipenuhi oleh berbagai macam hewan pengurai seperti belatung dan serangga lainnya. Wajar bila para Sahabat Nabi Isa as mengeluarkan perkataan seperti kisah di atas. Mungkin kita pun akan bereaksi sama. Yang luar biasa dalam kisah ini menurut saya adalah perkataan Nabi Isa as yang bisa melihat hal baik dalam sesuatu hal yang ada dalam kondisi terburuk. Ya point inilah yang kali ini akan saya bicarakan dan dikaitkan dengan bagaimana hal tersebut bisa mendatangkan keberuntungan.

Melihat hal baik dalam kondisi terburuk apapun memang merupakan sebuah pilihan. Ini menurut saya pilihan yang tepat. Karena bila kita melihat sebaliknya, kondisi buruk tersebut tetap tidak berubah, bahkan secara psikologis kita akan semakin lemah dan terpuruk. Saat secara psikologis kita terpuruk dengan munculnya berbagai emosi negatif  maka fisik kita pun akan mengalami banyak masalah kesehatan. Hal inilah yang disebut psikosomatis.

Penelitian Edward E. Smith dkk tentang hubungan antara fisik dan emosional sangat erat sekali. Penelitian ini dilakukan tahun 2011  dengan 40 responden yang mengalami patah hati selama 6 bulan terahir. Dua rangkaian percobaan dilakukan untuk melihat hubungan tersebut. Pada percobaan pertama, responden diperintahkan untuk memandang foto mantan atau orang yang membuat patah hati untuk mengukur rasa sakit psikis. Perlakuan ini bermaksud memunculkan efek penolakan di pikiran responden. Pada percobaan kedua, mereka diberi rangsang panas di lengan sebagai parameter rasa sakit fisik.

Hasil percobaan di atas menunjukan jaringan di bawah otak yang merespon rangsang sensorik sakit fisik (korteks somatosensoris sekunder dan insula posterior dorsal) aktif pada percobaan pertama. Pengukuran oleh MRI menyatakan rasa sakit psikis akibat penolakan mantan setara dengan rasa sakit akibat kulit terbakar. Artinya otak merespon sakit rasa sakit psikis serupa dengan respon rasa sakit fisik di tubuh kita. Semakin banyak emosi negatif mempengaruhi kita, maka semakin banyak pula otak kita merasakan sakit dan ini melemahkan kesehatan.

Psikis bermasalah, fisik bermasalah, kedua hal ini juga berkaitan erat dengan keberuntungan seseorang. Orang yang selalu melihat hal buruk dengan mengeluh pada kondisi yang dihadapinya biasanya memang selalu sial. Ini merupakan salah satu hasil yang ditemukan dalam penelitian Richard Wiseman yang ditulisnya dalam buku Luck Factor. Penelitian di Inggris ini membandingkan orang yang selalu sial dan orang yang selalu beruntung selama 8 tahun.

Kebalikan dari melihat hal buruk ialah melihat hal baik dalam kondisi apapun. Mengubah kemalangan menjadi keberuntungan. Ini adalah formula keempat dalam Luck Factor nya Richard Wiseman. Kondisi buruk bisa saja dialami siapapun. Kondisi buruk ini, hanya berlangsung sesaat saja pada orang-orang beruntung. Saat dia terjatuh, maka ia bisa bangkit lagi. Semakin sering terjatuh semakin sering ia berhasil bangun lagi. Proses ini akan semakin menguatkan hidupnya. Seperti boneka Daruma dari Jepang yang selalu bangun lagi bila kita jatuhkan.

Cerita Bernie Eccelestone pendiri dan CEO Formula One (F1) Group kiranya bisa memperlihatkan kita bagaimana formula kemalangan berubah menjadi kemujuran. Suatu hari, Bernie berjalan keluar kantornya di Knightsbridge. Saat melewati tempat yang sepi beberapa orang menghadang. Mengepung Bernie, memukulnya habis habisan sampai babak belur. Mata kanannya bengkak dan menghitam. Ia dirampok. Semua barang berharganya diambil perampok termasuk jam tangan mewah Hublot yang berharga 4 miliar rupiah.

Mengalami kondisi buruk seperti itu, Bernie ternyata tidak marah-marah kepada Polisi dan memindahkan energi negatif pada orang sekelilingnya. Yang ia lakukan cukup sederhana dan aneh. Ia meminta orang untuk memfoto wajahnya yang babak belur. Mencetaknya dan mengirimkannya kepada CEO Hublot, Jean Claude Biver. Tidak lupa ia menuliskan pesan “See what people will do for a Hublot”. Ini komplain yang sederhana namun tajam.

Jean Claude Biver ketika mendapatkan komplain ternyata tidak bersikap negatif dan panik. Tidak berusaha mati-matian menutupi komplain ini. Ia malah meminta izin kepada Bernie untuk memasang fotonya yang babak belur, sekaligus meminta agar Hublot menjadi jam resmi dari Formula 1. Apa jadinya? Setelah iklan itu diluncurkan hasil penjualan jam tangan Hublot meroket. Bernie pun semakin terkenal karena menjadi bintang iklan dan mendapatkan uang yang tidak sedikit dari kejadian ini.

Apa yang dilakukan Bernie merupakan langkah pertama dari formula mengubah kemalangan menjadi keberuntungan. Langkah ini ialah melihat sisi positif dari hal buruk yang dialami. Langkah kedua adalah meyakini bahwa hal buruk yang terjadi saat ini, dalam jangka panjang akan menjadi kebaikan. Dalam buku Luck Factor banyak diceritakan bagaimana berbagai percobaan dilakukan kepada orang yang beruntung dan  sial ternyata memiliki pola yang sama. Orang yang beruntung memiliki keyakinan bahwa hal buruk yang dialami tidak pernah berlangsung lama dan dia bersyukur hal lebih buruk tidak menimpanya. Orang sial kebalikannya.

Langkah ketiga ialah tidak lama merenungi nasib buruk yang dialami. Ia akan bangkit dan berusaha keluar dari keterpurukan. Orang yang beruntung memiliki kecerdasan mengatasi kesulitan (Adversity Quotient/AQ). Ia tidak mudah menyerah dalam menghadapi kondisi seburuk apapun dan memiliki daya tahan hebat.

Ketiga langkah ini ada dalam formula ke 4 Luck Facktor yang bisa dipelajari dan diikuti oleh siapapun yang ingin menjadi orang yang beruntung dalam hidupnya. Keberuntungan sesungguhnya bukan hanya merupakan suatu kejadian kebetulan. Terlalu banyak data dalam penelitian Richard Wiseman yang menunjukan bahwa orang yang secara konsisten ‘menjemput’ keberuntungan maka ia bisa beruntung dalam hidupnya. Menjemput keberuntungan atau kesialan pada ahirnya merupakan sebuah pilihan. Semuanya dikembalikan kepada kita yang menjalani hidup. Kisah luar biasa yang mengawali tulisan ini bisa menginspirasi kita untuk selalu melihat hal baik dalam kondisi terburuk sekalipun. Inspirasi ini sejalan dengan Luck Factor yaitu mengubah kemalangan menjadi keberuntungan. Jadi siapkan diri kita menjemput keberuntungan .


Minggu, 22 Juli 2018

Hindari Sindrom Sangkuriang!


Sangkuriang menendang perahu yang hampir selesai. Perahu yang akan dipakai mengarungi danau buatannya bersama Dayang Sumbi sebagai syarat pernikahan mereka. Perahu ini konon berubah menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Parahu. Kenapa Sangkuriang menendang perahu tersebut? Ia jengkel tidak bisa menikah dengan Dayang Sumbi karena ayam sudah berkokok dan ia tidak bisa membuat perahu dan danau dalam waktu semalam.


Kisah Sangkuriang ini kini banyak dikuti oleh berbagai kalangan. Mulai dari siswa, mahasiswa, guru, dosen dan profesi lainnya yang menyelesaikan tugas dalam waktu semalam. Istilah yang kadang suka dipakai ialah SKS (Sistem Kebut Semalam).  Kali ini saya menyebutnya dengan Sindrom Sangkuriang. Kenapa seseorang seringkali mengidap Sindrom Sangkuriang?

Sindrom menurut kamus besar bahasa Indonesia merupakan himpunan gejala yang terjadi serentak dan menandai ketidaknormalan tertentu. Ia biasanya terjadi berulang membentuk pola yang sama dan dapat diidentifikasi. Sindrom Sangkuriang menurut saya berupa gejala menunda mengerjakan tugas dengan berbagai alasan dan baru akan diselesaikan dalam pada waktu yang mepet hehehe....

Kenapa banyak orang mengidap Sindrom ini? Diantaranya adalah karena suka menunda-nunda pekerjaan atau procrastination.  Beberapa penyebab suka menunda-nunda pekerjaan diantaranya karena pekerjaan tersebut belum dimengerti dengan baik apakah karena kurangnya informasi yang kita miliki atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat kita. Selain itu menunda pekerjaan juga bisa terjadi karena seseorang memiliki standar yang cukup sulit untuk diraih. Orang seperti ini suka disebut sebagai perfectionis. Hal ini mengakibatkan menurunnya semangat untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan.

Hal lain penyebab suka menunda nunda pekerjaan yang merupakan akar dari Sindrom Sangkuriang ialah tidak memiliki kemampuan atau keterampilan dalam mengerjakan sebuah tugas sehingga ingin menghindari tugas tersebut atau bahkan tidak mengerjakannya sama sekali. Kecemasan juga bisa mengakibatkan seseorang menunda nunda sebuah tugas. Pada saat kita mencoba sesuatu tugas baru, kita cenderung berbuat kesalahan dan lambat dalam mengerjakannya. Hal ini bisa mengakibatkan kita menghindarinya. Selain itu penilaian orang lain terhadap tugas yang kita buat juga bisa membuat kita cemas dan pada ahirnya tidak mengerjakannya.

Pekerjaan berupa tugas, mau tidak mau harus kita selesaikan juga. Menunda-nunda membuat pekerjaan tersebut semakin sulit dan lama selesai. Muncul rasa cemas, hawatir bahkan stress bisa melanda orang tersebut. Sangat menyesakan dada dan rasanya sangat tidak enak. Seperti orang yang memiliki bisul bernanah. Kemanapun ia pergi rasa sakit dan tidak nyaman selalu menemani. Solusinya hanya satu, pecahkan bisulnya dan obati. Selesaikan pekerjaan tersebut semampu yang bisa kita lakukan.

Agar terhindar dari Sindrom Sangkuriang maka kita harus menghindari menunda nunda pekerjaan. Beberapa hal yang bisa kita lakukan diantaranya: Pertama kita memfokuskan pada satu hal yang harus dilakukan cepat dengan membuat komitmen tenggang waktunya. Tugas yang besar kita bagi bagi pada pekerjaan pekerjaan kecil yang bisa kita lakukan. Kedua mulai sekarang juga. Apa yang bisa kita lakukan untuk pekerjaan tersebut maka lakukan saja. Ketiga ialah lima menit ajaib, sekali kita memulai sesuatu kita lebih mungkin menyelesaikannya. Meski mungkin yang baru kita lakukan adalah mengidentifikasi masalah kenapa kita belum juga mengerjakan tugas tersebut. Mengidentifikasi ketakutan bisa membantu seseorang menyadari bahwa yang ditakutkan tak seburuk yang dipikirkan.

Keempat andalkan jam produktif. Jam produktif adalah waktu dimana kita bisa berfikir dengan jernih dan bisa menyelesaikan pekerjaan kita. Ada yang memiliki jam produktif malam hari setelah semua anggota keluarga beristirahat sehingga bebas dari gangguan ini biasanya dimiliki ibu-ibu. Ada yang memiliki jam produktif setelah shalat subuh, atau bahkan ada yang memiliki jam produktif di pagi hari, tinggal disesuaikan saja sesuai dengan ritme hidup kita masing-masing. Kelima lepaskan beberapa hal dengan membuat daftar agar yang dilakukan hanya tugas yang benar benar harus dilakukan. Misalnya saat kita mulai mengetik, tiba tiba terlihat notifikasi email atau pesan di medsos. Kita berusaha menjawabnya segera padahal bisa jadi mengalihkan perhatian dan membuat pekerjaan yang kita lakukan semakin lama selesai. Abaikan dulu itu semua kecuali panggilan telfon yang biasanya dilakukan seseorang untuk kondisi yang sangat penting.

Keenam kita memaafkan penundaan yang dilakukan dimasa lalu. Penundaan di masa lalu bisa memunculkan perasaan bersalah pada diri. Sehingga kita tidak yakin bahwa kita mampu berubah ke arah lebih baik dengan menjadi orang yang lebih bertanggung jawab. Bahkan lebih parah bisa menguras energi saat ini dan membuat kita stuck (berhenti) melakukan sesuatu karena tidak percaya pada diri sendiri. Yang   terahir atau ketujuh kita jadikan proses menyelesaikan tugas tersebut jadi menyenangkan. Dengan diawali pikiran bahwa kita bisa mengerjakannya. Dalam prosesnya kita bisa minta teman dekat kita, atau bisa pasangan atau anak kita untuk memiliki janji bahwa kalau tidak bisa mengerjakannya kita akan mentraktir mereka, atau mengerjakan tugas disuasana dan lokassi yang berbeda, atau sesuatu hal yang menyenangkan lainnya pokoknya apapun itu yang terpenting mengerjakan tugas dengan menyenangkan.

Ketujuh formula di atas bisa jadi berpengaruh baik bagi sebagian orang bisa juga tidak. Nah bagi yang memang tidak bisa dan masih suka melakukan Sindrom Sangkuriang dengan mengerjakan tugas selalu sistem kebut satu malam, maka ada hal lain yang bisa kita lakukan. Pada saat terdesak atau kepepet, maka adrenalin kita melonjak tinggi. Jantung berdetak lebih cepat dan biasanya panca indra bisa jadi lebih awas. Untuk melonjakan adrenalin ini kita bisa mengkondisikan pikiran kita bahwa bila tidak selesai tugas tersebut maka akan ada bahaya yang kita hadapi. Apakah berupa murka guru dan dosen sehingga nilai tidak keluar dan tidak lulus, tulisan yang sudah lelah ditulis tidak bisa dimuat karena melewati deadline, dilaporkan pada yang berwajib, uang tidak cair dan berhadapan dengan debt kolektor, uang dapur tidak ada sehingga anak-anak tidak bisa makan dan sekolah. Pokoknya hal apapun yang bisa membuat adrenalin kita melonjak naik dan membuat kita mau tidak mau mengerjakan tugas tersebut. Tapi Alangkah lelahnya bila Sindrom Sangkuriang ini menjadi sebuah kebiasaan. Kita bisa cepat tua dan tidak bisa menjalani hidup ini dengan bahagia. Jadi...katakan tidak pada Sindrom Sangkuriang yuuk

Note: Thanks to teh Irma atas obrolannya sepanjang bis menuju ACRP Diktis 18-19 juli 2018

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...