Selasa, 07 April 2020

Aisyah dan Pandemi Corona


Pertama kali mendengar lagu Aisyah Istri Rasulullah di wag dosen Fakultas Ushuluddin UIN Bandung 3 hari lalu. Saya melihat video yang dikirimkan hanya setengah saja karena merasa tidak nyaman. Video lagu tersebut dibuat dengan setting di dalam mobil dimana seorang suami menyetir sambil menikmati nyanyian empat istrinya yang cantik. Tidak hanya melihat videonya, saat menyimak syairnya juga bikin tambah tidak nyaman.  

Saya berpikir kenapa saya tidak nyaman?  Jangan jangan saya termasuk orang yang julid yang tidak suka dengan istri Nabinya sendiri. Bukan, bukan itu pointnya menurut saya. Ini lebih kepada ketidaksetujuan setting video dan syair yang dilantunkan.  

Saat saya berselancar di youtube untuk melihat berbagai versi lagu ini, saya bersyukur ternyata versi video yang lain lebih banyak dan bagus dari pada yang pertama saya tonton. Namun tetap saja syairnya membuat saya terganggu.

Ternyata bukan hanya saya yang terganggu banyak pihak juga mengeluhkan hal yang sama. Dari beberapa teman dosen laki-laki, para aktifis perempuan bahkan Buya Yahya pendiri Pondok Pesantren al-Bahjah mengatakan tidak tega membaca syairnya. Buya berkata agar sebaiknya tidak hanya menonjolkan fisiknya saja, melainkan hal baik yang lain dari Aisyah misalkan kecerdasannya.

Perempuan mulia yang dihormati umat Islam saja keunggulannya bisa direduksi hanya lewat fisiknya apalagi perempuan biasa. Teringat dengan Ngaji Kesetaraan Gender Islam dengan ibu Nur Rofiah terkait tiga tingkatan kesadaran tentang kemanusiaan perempuan. Tingkat terendah menganggap bahwa yang dianggap manusia itu hanya laki-laki. Perempuan bukan manusia sehingga diperlakukan sebagaimana hewan atau bahkan benda mati. Perempuan hanya merupakan alat pemenuhan naluri seks dalam peradaban Yunani. Dalam Peradaban Romawi perempuan sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya, setelah menikah di bawah kekuasaan suaminya. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh. Termasuk dalam peradaban Arab Jahiliah dimana perempuan dikubur hidup-hidup sejak bayi karena dianggap memalukan keluarga dan bisa diwariskan seperti properti bila suaminya meninggal dunia.

Tingkat kesadaran kedua, perempuan juga manusia, namun laki-laki menjadi standar kemanusiaan perempuan. Nilai perempuan ditentukan oleh sejauh mana ia memberi manfaat pada laki-laki. Hal ini bisa melahirkan stigmatisasi pada perempuan. Misalnya perempuan sebagai sumber fitnah (kekacauan). Sebagai sumber fitnah, maka dia tidak layak ada di wilayah publik misalnya untuk bekerja. Kalau pun terpaksa bekerja, maka berbagai aturan dikenakan pada perempuan. Bila terjadi perkosaan misalnya, ini terjadi karena perempuan memakai baju mini. Kalaupun sudah menutup seluruh tubuh, prilaku perempuanlah yang dianggap mengundang pemerkosa laki-laki. Intinya, ketika laki-laki melakukan tindakan yang salah dan membahayakan perempuan, kesalahan ada pada perempuan. Jadi laki-laki memperkosa bukan karena kegagalan mereka mengendalikan diri.  

Tingkat kesadaran tentang kemanusiaan perempuan yang ketiga adalah perempuan dan laki-laki sama-sama menjadi standar kemanusiaan. Standar kemanusiaan mereka sama sambil memperhatikan kebutuhan khas perempuan. Dalam tingkat kesadaran ini perbedaan perempuan dan laki-laki tidak secara negatif dipandang sebagai sumber konflik. Melainkan dipandang sebagai modal sosial untuk maju bersama sebagai manusia.

Kekuatan atau kelebihan manusia baik perempuan dan laki-laki sangat beragam. Baik dari fisik, keilmuan, kekayaan, kedudukan, keimanan dan lain-lain. Selain itu kekuatan dan kelebihan juga dinamis. Jenis kelamin tertentu tidak selalu lebih unggul dari pada jenis kelamin lainnya sepanjang usia kehidupan.

Meskipun beragam dan dinamis, namun kelebihan itu prinsipnya adalah sama. Pertama, setiap pihak sama-sama mempunyai kewajiban mewujudkan atau memelihara kebaikan dan menolak atau mengatasi keburukan dalam kehidupan bersama. Kedua, kelebihan pihak manapun atas lainnya tidak menjadi alasan untuk melakukan penindasan. Sebaliknya kekurangan pihak mana pun tidak menjadi alasan untuk ditindas. Ketiga, siapa pun yang lebih kuat dalam hal apapun mempunyai kewajiban untuk memastikan pihak yang lebih lemah diperlakukan secara manusiawi.

Lagu Aisyah Istri Rasulullah menurut saya lebih dekat dengan tingkat kedua terkait kesadaran kemanusiaan perempuan. Nilai perempuan ditentukan oleh sejauh mana ia memberi manfaat pada laki-laki.  Syairnya terlihat bias gender dimana nilai perempuan hanya sebatas keunggulan fisik semata dengan kulit putih berseri. Bagaimana dengan kulit sawo matang yang dimiliki kebanyakan perempuan Indonesia? Pantas saja produk pemutih tetap diminati. Bahkan dalam rumpian sebuah wag yang saya ikuti meskipun bercanda, tinggal di rumah karena pandemi Corona dianggap efektif untuk memutihkan kulit, padahal bisa jadi menurunkan imunitas karena kekurangan vitamin D3 karena tidak pernah terkena sinar matahari.

Nilai perempuan menurut lagu ini juga terkait dengan kemampuannya menyenangkan pasangannya untuk bermanja dan hal-hal romantis lainnya. Ini terjadi karena Aisyah selama menikah dengan Rasulullah saw tidak pernah melahirkan dan tidak disibukan dengan mengurus dan membesarkan anak. Bagimana dengan kami emak-emak yang memiliki banyak anak? Terlebih setiap saat kumpul di rumah dan tidak bisa bergerak bebas seperti biasa. Ayah, ibu dan  anak kumpul terus di rumah. Bila tidak disikapi dan dimaknai dengan baik saya pikir bisa bikin jenuh dan bete. Dalam kondisi seperti ini butuh kewarasan dan strategi yang baik agar romantisme tetap terjaga. Ini adalah perjuangan.

Relasi suami-istri dengan romantisme yang saling berkejaran yang digambarkan dalam syair lagi ini semakin tidak relevan dengan kondisi real keluarga di Indonesia. Kondisi real keluarga menurut PEKKA menunjukan bahwa hampir 25% keluarga di Indonesia dikepalai perempuan dengan 6 variasi formasi keluarga yaitu ibu dengan anak, nenek dengan cucu, perempuan dengan saudaranya, perempuan dengan keponakannya, perempuan hidup dengan teman perempuannya.

Selain itu, pandemi Corona tidak hanya mengancam kesehatan dan nyawa manusia tetapi juga turut memberi tekanan sosial dan ekonomi. Kebijakan pembatasan sosial di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, memaksa banyak orang bekerja di rumah atau bahkan kehilangan pekerjaan. Hal ini memungkinkan terjadi tindak kekerasan karena tekanan atas kebutuhan ekonomi disatukan dengan stres yang tinggi karena terjebak di rumah. Lagi-lagi perempuan dan anak menjadi pihak yang terancam karena situasi ini. Inilah alasan kenapa saya tidak nyaman dengan lagu Aisyah Istri Rasulullah.


Blue Diamond 6 April 2020


Minggu, 05 April 2020

Corona dan Pilihan Makna


Hari minggu kini terasa seperti hari yang lainnya. Tidak ada yang istimewa. Tetap di rumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Sesekali online untuk hiburan juga untuk memastikan informasi terbaru yang berkembang di negri ini.  

Hari ini saya sempat ke swalayan terdekat untuk membeli sembako di rumah yang sudah mulai habis. Keluar rumah saat ini menjadi pengalaman yang lumayan menegangkan. Menggunakan masker dan sarung tangan sebagai upaya kewaspadaan mencegah penularan Corona. Tentunya mencegah penularan lebih baik dari pada mengobati yang sudah terjangkiti. Entah sampai kapan kondisi seperti ini akan kami jalani.

Ke luar rumah dan beraktifitas sosial di tempat publik menjadi hal yang dirindukan banyak orang saat ini. Hal ini bisa menjadi kebahagiaan. Bahagia karena bisa jalan-jalan dan ngobrol bareng teman teman. Bahagia karena bisa cuci mata di mall. Bahagia karena bisa mengajar di kelas. Bahagia karena bisa meneliti di lapangan serta bahagia-bahagia yang  lain terkait aktifitas sosial di tempat publik yang hari ini tidak bisa dilakukan.

Bagaimana jika aktifitas sosial di tempat publik itu terus terusan dilakukan? Apakah masih bahagia? Saya pikir belum tentu. Manusia tidak melulu bahagia dengan berada di luar rumah atau di dalam rumah. Kebahagiaan kita terletak pada keberhasilan kita mendapatkan sebanyak mungkin makna positif dari hidup yang dijalani. Defisit makna hidup merupakan sumber kesengsaraan.

Makna positif dalam hidup ternyata tidak tersaji begitu saja. Meskipun kita percaya bahwa sesungguhnya kehidupan di muka bumi ciptaan Allah ini dipenuhi makna positif, terkadang kita harus mencarinya. Bila kita gagal menemukannya bukan saja hidup akan terasa hampa, bisa juga makna negatif menyeruak merusak kebahagiaan hidup kita.

Mendapatkan makna yang kita butuhkan sering kali hanya dengan menggeser sudut pandang kita terhadap semua persoalan. Sebagaimana yang pernah dikisahkan oleh Victor Frankl seorang psikolog yang terkenal dengan metode Logoterapinya. Ia menuturkan bahwa pada suatu hari di tempat praktiknya, datanglah seorang lelaki tua yang terlihat sangat sedih. Ini terlihat dari raut muka dan bahasa tubuhnya. Ia bercerita bahwa sedang merasakan kesedihan yang luar biasa karena kematian istri yang dicintainya. Istri yang mendampinginya puluhan tahun dalam suka maupun duka. Ia merasa bahwa hidupnya tidak memiliki makna lagi. Kalau saja bisa, ia ingin mati menyusul istrinya.

Menyimak hal itu, Victor Frankl bertanya kepada lelaki tua tersebut, “Coba Anda bayangkan, apa yang terjadi jika istri Anda selalu bersama Anda, hingga Anda mati meninggalkannya? Memang Anda tak akan mengalami kesedihan luar biasa seperti yang Anda rasakan saat ini? Kira-kira apa yang terjadi dengan istri Anda jika Anda yang lebih dahulu meninggalkannya? Lelaki itu terhenyak sambil berkata, “Jika itu yang terjadi maka istri saya akan menanggung kesedihan yang luar biasa karena saya tinggalkan. Victor Frankl berkata, “Kematian istri Anda lebih dahulu dan kesepian yang Anda rasakan sekarang sebagai akibatnya, sesungguhnya bermakna bahwa Anda telah menyelamatkan istri Anda dari mengalami kesedihan yang luar biasa seperti yang Anda rasakan saat ini.

Mendengar dan merenungkan ucapan Victor Frankl tersebut, tiba-tiba sebuah kesadaran menelusup masuk ke dalam hati lelaki tua tersebut. Ia sadar kesedihan yang dia rasakan sekarang memiliki makna positif yang tak terkira besarnya. Yaitu menyelamatkan istrinya dari keseedihan yang luar biasa kalau saja ia lebih dahulu meninggal dunia. Lelaki itu pulang dengan bahagia bertolak belakang dengan kondisi awal saat ia datang.

Situasi apa yang membedakan ketika lelaki tua itu datang dan pergi? Sesungguhnya tak ada perubahan riil apapun yang dihadapinya. Namun, sebelumnya ia datang dengan kehampaan makna hidup, maka sekarang ia pergi dengan penuh makna hidup. Hasil yang luar biasa ini terjadi hanya karena Victor Frankl mampu mengajak lelaku tua tadi sedikit menggeser sudut pandang dari kematian istrinya.

Hari ini kondisi riil yang kita hadapi bersama adalah selalu berada di rumah kecuali untuk kebutuhan yang sangat mendesak. Ini memang harus dilakukan untuk memutus penyebaran virus Corona. Bahagia atau tidaknya kita tak kurang dan tak lebih dari persoalan keberadaan atau absenya makna dalam apa saja yang kita lakukan dan kita hadapi.

Betapapun kita percaya sesungguhnya Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan kita, namun tetap, terkadang kita harus mencari makna tersebut. Kebahagiaan kita sesungguhnya dipertaruhkan di sini. Hal ini sangat tergantung dengan pilihan kita akan makna. Bila ada kemauan tidak akan pernah ada jalan buntu. Seburuk apapun kondisi dunia karena virus Corona, orang yang memiliki sikap positif dalam memandang hidup pasti akan menemukan makna dan berpeluang untuk bahagia. Sementara yang cenderung negatif, sesungghnya sedang menjerumuskan dirinya ke dalam kesengsaraan yang dipilihnya sendiri. Pilihan ada di tangan anda!


Blue Diamond 5 April 2020

Sabtu, 04 April 2020

Penggorengan Gosong


Penggorengan tampak gosong setelah anak-anak menggoreng ayam lumur kesukaan mereka. Api yang terlalu besar dan bumbu yang mengandung sedikit gula menjadikannya lengket mengerak hitam. Tidak hanya permukaannya saja yang hitam, apalagi bagian bawahnya. Saking sempitnya waktu untuk di dapur kemarin, membuat saya tidak mencuci dengan baik penggorengan tersebut.

Sebenarnya niat untuk membuat penggorengan tadi kinclong sudah ada beberapa bulan yang lalu. Saya sudah membeli alat pembersih yang dijual di pasar pagi hari minggu. Kata penjualnya ini efektif membersihkan. Saya juga sudah membawa batu apung pemberian paman untuk membersihkan semua penggorengan dan panci di rumah. Namun belum punya waktu yang pas dan tenaga yang pas.

Musibah berjamaah korona yang melanda dunia ini membuat saya memiliki waktu yang pas dan tenaga yang pas. Ahirnya niat itu saya wujudkan hari ini. Saya awali dengan membayangkan bahagianya memiliki penggorengan dan panci-panci yang kinclong. Kemudian saya gosok perlahan menggunakan alat pembersih, menggunakan abu gosok tak lupa juga sabun pencuci piring.

Kerak hitam yang menempel cukup bandel. Rasa hawatir tidak bisa bersih menyelinap hadir. Saya tepis dengan rasa bahagia memiliki penggorengan kinclong. Karena saat ada rasa hawatir menghampiri, maka kekuatan semesta yang mewujudkan keinginan kita akan berkurang. Saya stel bahagianya dengan senyum sambil mencuci dan menyanyi. Ahirnya taraa...penggorengan itu berpenampilan sesuai dengan yang diharapkan.

Setelah selesai mencuci saya merenung. Penggorengan yang penuh jelaga tadi tak ubahnya seperti hati manusia yang tiap hari bersalah dan melakukan dosa. Ahirnya mengerak hitam. Sulit memang membersihkannya. Butuh alat husus, perlakuan husus dan waktu husus. Tapi yakinlah selama niat membersihkan ada, kemudian kita langkahkan maka pada ahirnya bisa bersih juga. Selama Allah masih memberi usia pada seorang manusia, maka ia masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Memperbaiki diri sebagai bentuk proses membersihkan jiwa kita yang tak luput dari kesalahan merupakan perjuangan melawan hawa nafsu. Yahya ibn Muaz Al-Razi berkata, “Berjuang melawan nafsumu dengan pedang pendisiplinan-diri. Ada empat cara pendisiplinan diri, yaitu: menyedikitkan makan, menahan tidur, membatasi ucapan dan bersabar terhadap perbuatan orang lain yang menyakitkan.

Menyedikitkan makan dapat mengalahkan hawa nafsu. Menahan tidur dapat menjernihkan keinginan. Membatasi ucapan dapat menyelamatkan dari mala petaka. Bersabar terhadap gangguan orang lain akan membawa keberhasilan mencapai cita-cita. Sebab tidak ada yang paling sulit bagi seorang manusia selain bersikap santun ketika dihina dan bersabar terhadap hal yang menyakitkan.

Kondisi WFH (Work From Home) membuat beberapa dari kita memperbanyak makan. Bila Rasulullah saw sedikit makan, maka kita sedikit-sedikit makan. Bila Rasulullah saw sedikit tidur, maka kita sedikit sedikit tidur. Bila Rasulullah sedikit bicara, maka kita sedikit sedikit bicara. Bila Rasulullah bersabar dengan perbuatan orang lain yang menyakitkan, maka kita masih sering terpancing untuk membalasnya dengan perbuatan serupa. Lu jual gue beli! Kalau kamu menghina saya maka saya pun akan menghina kamu. Api dibalas dengan api. Sehinga membakar semua kebaikan yang sudah kita lakukan.

Ampuni kami ya Rabb...izinkan dalam kondisi musibah berjamaah ini menjadi waktu kami memperbaiki diri. Menyadarkan kami bahwa Engkaulah pemilik segala kuasa. Semua hal berubah bila Engkau berkehendak. Lindungi bangsa ini dari segala marabahaya. Atas kuasa-Mu jadikan korona hanya berkunjung sebentar saja. Ya Rahman, ya Rahim, ya Mujiba Sailiin.

Blue Diamond 4 April 2020  

Jumat, 03 April 2020

Cicing di Imah

Terpat tiga minggu bekerja di rumah. Setelah pandemi korona menyebar di seluruh dunia. Sebuah musibah berjamaah yang menjadikan aktifitas sosial secara fisik bisa menjadi media virus tersebut menjangkiti manusia.

Sebelum pandemi ini hadir, lima bula ritme kerja saya di kampus cukup padat. Memulai kerja jam 7.30 pagi dan selesai kerja jam 16.00 sore. Bahkan seringnya saya pulang lebih dari itu karena rapat atau berbagai urusan yang memang harus segera diselesaikan terkait amanah yang baru saya emban.

Dua dari tiga anakku ada di pesantren. Sehingga ritme kerja yang padat cukup bisa diatasi. Si kecil yang tinggal di rumah bersama kami setelah sekolah TK kadang bermain di rumah Budenya atau di Day Care sekolahnya atau juga kami bawa ke kampus gantian. Tergantung kondisi dan kemauan putra kami. ,

Corona mengubah semuanya. Kami berlima kini berkumpul di rumah. Banyak waktu kami habiskan bersama. Tidak hanya sebagai dosen, kini saya bekerja sebagai juru masak, guru bimbel, guru TK dan berbagai pekerjaan rumah lainnya.

Perlu sekitar dua minggu bagi saya untuk bisa beradaptasi. Pekerjaan rumah sangat menyita energi dan pikiran. Tidak seperti sebelumnya dimana tinggal di rumah adalah hiburan bagi saya. Memasak dan melayani semua anggota keluarga adalah hal yang menyenangkan, karena selingan dari aktifitas kerja di kampus.

Sekarang rasa lelah dan jenuh mulai menghampiri, Dua minggu saya mencoba untuk bisa mengurus keluarga bekerjasama dengan suami, juga tetap beraktifitas mengajar Online. Bimbingan skripsi, sidang komprehensif, bimbingan tahfidz, sidang proposal skripsi, rapat pimpinan, berbagai pelatihan lainnya.


Saya keteteran, karena memang bukan tipe yang selalu online. Slow respon dengan berbagai hal yang membutuhkan respon segera. Dunia online memang mengganggu privasi sampai hal yang paling dasar. Tapi inilah yang harus dihadapi di masa musibah pandemi korona.

Minggu ketiga sudah mulai agak terbiasa. Sistem pembelajaran e-learning UIN Bandung sudah bisa diakses sehingga saya bisa menjalankan monitoring perkuliahan di jurusan AFI. Semua perkuliahan online kemarin sudah dilaporkan tiap kelas ke jurusan. Kami harus merekapnya karena media yang dipakai cukup beragam dan ini merepotkan. Dengan adanya pembelajaran e-learning ini, kami bisa mengawasi dengan baik karena sistem sudah mengabadikan apa yang sudah disampaikan tiap dosen.

Untuk pekerjaan rumah, saya masih belum menemukan hal yang membuatnya menyenangkan dan efektif. Ini mungkin terkait diri saya yang terbiasa bekerja di kampus untuk belajar dan mengajar. Bahkan waktu sekolah pesantren dulu, bila di rumah saya sengaja membaca buku di kamar agar tidak diminta membantu ibu bekerja di dapur. Ibu saya seorang guru, sangat menghargai aktifitas anaknya belajar dan membaca buku sehingga tidak akan mengganggu. Sehingga meski saya sudah menjalani pernikahan hampir 19 tahun, tapi untuk urusan pekerjaan rumah masih belum klik.

Menulis di blog ini kembali saya lakukan untuk bisa berefleksi dan tetap menjaga kewarasan saya. Menorehkan jejak yang entah berarti atau pun tidak. Cicing di Imah membuat aktifitas fisik saya lebih banyak dari biasanya. Menerima apa adanya. Menjalani sebisa yang dilakukan. Mengamini hidup ini apapun yang terjadi.

Blue Diamond 3 April 2020

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...